279.

 Bab 279.


*****


Tentu saja aku sangat terkejut mendengar penjelasan dari mas Kharisma.


"Ap- apa A-BA-DI?" ulasku tak percaya mendengarnya.


"Iya, itulah sebabnya ibu sangat menginginkan kitab ilmu penjerat mimpi supaya ibu dan ayah hidup abadi. Aku tidak sengaja mendengarnya, dua kali berturut turut ketika aku ingin mengutarakan maksudku untuk pergi ke Sumatera untuk menumui simbah putri. Bahkan juga tentang niatku. Semula ibu menolak, melarang ku tapi aku bersikeras untuk tetap pergi tapi dengan satu syarat jika aku aku memenuhi permintaannya, bahkan aku tidak percaya kalau tidak mendengarnya sendiri kalau ibu dan ayah akan mencelakaimu serta mengambil paksa ilmu penjerat mimpi yang kamu miliki dengan cara paksa. Makanya sekarang mereka sedang bertapa di ALAS ROBAN untuk cari WANGSIT, bagaimana caranya mengambil ilmu penjerat mimpi dari tubuhnya. Kini, orang tuaku sudah bertapa selama 30 hari dan akan mencapai pada 40 hari. Jika mereka berhasil maka dunia bisa akan ada huru hara. Jika dalam tapa 40 hari maka orang tuaku akan bertapa di Alas roban sampai berhasil"


"Ya Alloh, benarkah itu mas" mas Kharisma hanya mengedipkan mata serta mengangguk lemah.


"Tapi ada sesuatu yang penting dan sangat rahasia yang ingin aku katakan padamu. Ini mengenai,,," ucapan mas Kharisma terhenti saat tubuh Riko menggeliat. Dia menatap tajam kearah Riko seperti ada maksud yang disembunyikan. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang akan dikatakannya. Karena berkali kali menatap kearah Riko curiga. Ada apa sebenarnya dengan Riko sampai mas Kharisma tidak berani mengungkapnya didepan Riko?.


"Dek, aku mau sholat dulu ya" kemudian mas Kharisma bergegas turun disaat itulah Riko membuka matanya. Seperti agak kaget.


Lalu bertanya....


"Kharisma semalam tidur disini?"


"Aku juga baru tahu saat aku bangun tadi" jawabku. Aku berkata jujur. Tapi, entahlah Riko percaya atau tidak.


"Tadi Kharisma ngomong apa? Kayak penting gitu?"


Aku tidak tahu apakah Riko tahu soal yang diceritakan oleh mas Kharisma karena saat aku ngobrol dengannya Riko masih terlelap saat mas Kharisma akan cerita sesuatu Riko lalu terbangun.


"Entahlah, aku tidak tahu kok ?" kilahku, menutupi. Sekilas Riko dengan tatapan tajam padaku.


"Benar seperti itu?" Sepertinya belum percaya.


"Buat apa aku bohong?"


"Hmm,,,"


"Keadaanmu sudah membaik"


Riko mengangguk pelan, karena bibitnya sudah terlihat alami.


Lalu ku periksa....


Ku sentuh dahinya untuk memastikannya. Syukurlah,  dia baik baik saja. Ternyata memang benar jika Riko ternyata alergi atau tidak tahan dengan air hujan hingga menyebabkan dia demam.


Dan lebih untuk memastikan kalau dia benar benar sembuh, ada satu cara yang jitu. Yaitu dengan....


He he heeee...


"Heh, kenapa malah senyum senyum?" tampak Riko curiga denganku. Tapi, tidak mungkin aku akan mengungkapkannya.


"Husssh, diem" ku hentikan dia supaya jangan banyak protes. Ku sekusupkan telapak tanganku dibalik selimutnya, mencari celah. Akhirnya...


KETEMU....


Kontolnya dalam keadaan tegang saat aku memastikan keadaanya, bahkan ada lendirnya diatasnya. Ternyata lagi true on berat. Buktinya ada tandanya air madzi. Kini tanpa ragu lagi ku nyatakan Riko memang sudah sembuh.


Kini ku tarik lagi tanganku karena Riko merek melek keenakan saat ku obok obok kontolnya yang tegang.


"Kamu kenapa? Aneh banget sikapmu?" tanya Riko penasaran.


Kasihan akhirnya aku jelaskan...


"Dengarnya Rik, jika seorang laki laki itu benar benar SAKIT, maka KONYOL-nya itu gak bisa bangun kayak punya kamu saat ini. Makanya aku pastikan jika kamu benar benar sakit atau bohongan. Karena aku dulu pernah memastikan kamu ketika kamu sakit dan ternyata bayangmu gak tegang, saat itu kamu benar benar sakit"


"Jadi kamu memastikan jika seorang itu benar benar sakit kamu meriksa dan sentuh pegang batangnya seperti yang barusan kamu lakukan. Enak bener kamu pegang pegang dengan bebas. Aku aja jijik kok pegang batang punya yang lain. Geli, jijik gitu"


"Kalau aku yang melakukannya, kenapa kamu diam saja, Seolah kamu tidak apa apa? Kamu bilang kamu geli, bahkan jijik mengenai itu. Lalu aku apa? Aku seorang laki laki, lalu apa bedanya dengan itu?"


"Jelas beda. Dan alasannya kenapa? Aku sendiri tidak Bening. Aku bingung dengan perasaanku ke kamu"


"Katamu tadi kamu jijik Rik. Lalu apa bedanya?"


"Jelas beda. Tapi, alasannya aku tidak tahu Bening"


"Lalu dengan orang orang yang dulu pernah menyodomimu"


"Cukup! Jangan ulangi lagi. Jangan bahas masalah itu lagi. Aku sudah mengubur masalalu ku itu, PAHAM!"


"Dek, Riko,,, ada apa, kenapa kamu teriak Riko?" Mas Kharisma sudah selesai mandi juga sholat. Begitu terlihat rapi, wangi dan fresh.  Tapi aku dan Riko masih duduk ngobrol.


"Dek, katakan ada apa?"  Ulasnya kembali karena tak ku jawab. Terlebih ini mengenai pribadi Riko, sudah lama berlalu. Walaupun aku tahu dimana tinggalnya pak Lexi dan pak Dwi, mereka berdua sudah ku beri pelajaran. Aku tidak tahu apakah keluarga Sanjaya melupakan mereka atau masih mencari keberadaan keduanya, serta akan menghukumnya sesuai perbuatan mereka. Entahlah, karena sampai detiknya hal itu tidak pernah terjadi. Karena aku tidak sempat mengatakan pada mereka karena sikap mereka terutama Bu Kinasih telah berubah drastis. Ku simpulkan ini juga mengenai penglihatan masa depan yang pernah ku lihat, karena nantinya Riko akan memarahinya mamanya serta akan menembaknya bahkan sampai tega membunuhnya. Tega sekali Riko. Tapi, jika melihat keadaannya saat ini, hal itu sepertinya sangat mustahil. Lalu, apa penyebabnya Riko sampai berbuat seperti itu? Apa pemicunya?. Aku tidak menemukan jawabannya.


"Dek kok diam. Ada apa sebenarnya?" seru mas Kharisma sepertinya sangat khawatir dengan keadaanku. "Riko, katakan kenapa kamu sampai emosi tadi pada Dek Bening, katakan?" Kembali mas Kharisma tegang menatap tajam Riko.


Aku melihat sikapnya jadi bergidik ngeri, mas Kharisma seperti memiliki aura yang lebih kuat saat ini. Tampak lebih mengerikan dari yang dahulu. Bahkan hampir saja aku melupakannya. Butuh waktu aku bisa mengenalinya dan terbiasa.


Ku sentuh lengannya hal itu tentu saja diketahui oleh Riko, hingga tatapannya menajam sebentar tapi tatapan mas Kharisma padanya sungguh tak bisa dikalahkan, hingga membuat Riko KEDER.


"JANGAN PERNAH MEMBUAT MASALAH DAN ULAH DENGAN DEK BENING, URUSANNYA DENGANKU!" tegasnya tidak main main, sampai rahang mengeras.


"Mamas sudahlah. Kenapa pagi pagi sudah ribut?. Mamas tahu gak apa yang mamas lakukan ini?" ku sentuh lengan kokohnya supaya emosinya mereda karena Riko hanya diam saja sedari tadi ketika ditanya.


"Dia pikir, dia itu siapa disini, bentak bentak kamu seenaknya. Bikin emosi. Ditanya mulutnya gak bisa mangap" rutuknya dengan nada kesal. Emosinya mulai turun saat ku tatap kemanik matanya yang jernih seperti lautan biru.


"Mas, ku mohon keluarlah. Riko ingin istirahat" pintaku padanya daripada ujungnya ribut. Sambil ku anggukan kepalaku. Ku tarik tangan kokohnya yang kekar keluar.


"Benar kata Alex, dia itu cowok LEMAH, MANJA lagi!" sungutnya, sekilas menoleh kearah Riko penuh kekesalan. Riko tampak cuek karena dapat belaan dari aku. Karena ujungnya, Riko pasti mengancam ku. Aku tidak mau hal ini jadi pemicu Riko nantinya GELAP MATA.


Hal itu yang aku takutkan selama ini!.


________________


Mg 22/01/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.