280.

 Bab 280.


*****


"Maaf,,,!" sekembaliku dari berwudhu diluar karena kamar mandinya berada diluar. Hanya itu yang bisa ku katakan. Aku juga tidak mandi pagi karena udaranya dingin banget, bisa kedinginan bahkan masuk angin. Aku tidak mau merepotkan mbah putri atau siapa pun dirumah ini.


Riko masih saja diam tanpa ekspresi, kelihatan marah atau pun kesal dengan mas Kharisma. Aku tahu itu, jika Riko marah wajar. Memang benar jika Riko itu manja bahkan lemah. Tidak, jangan sampai hal itu terjadi, menyebabkan Riko hilang akal. Apa yang nantinya aku takutkan benar benar akan terjadi. Hal itu aku tidak ingin terjadi.


Wajah Riko terlihat sendu, dalam diam...


"Rik, kamu tidak apa apa kan? Rik, bicaralah, jangan diam saja?" Aku khawatir keadaannya. Saat ini keadaannya sedang labil karena cercaan dari orang sekitarnya.


"Ku harap kamu melupakan ucapan mas Kharisma maupun Alex, anggap saja tidak pernah bicara" pungkasku. Ya Alloh aku sampai lupa melaksanakan tugasku karena ngobrol.


Setelah selesai, serta berdoa kini aku duduk didekatnya. Memperhatikan nya sejenak, menelitinya. Padahal tadi keadaan nya baik baik saja, kini tidak bersemangat.


Sepertinya hari ini akan cerah, walaupun tadi pas aku kesumur, angin masih menerpa dingin, ku lihat di angkasa tampak cerah penuh bintang bintang.


"Aku tidak apa apa" balas Riko singkat karena sedari tadi hanya diam saja. Setelah aku selesai berdoa Riko barulah menyahut.


"Syukurlah" gumamku. Walaupun dalam hatiku masih ragu. Aku tahu karakter dan watak Riko itu seperti apa, tidak mudah melupakan, selalu menyimpan dendam bahkan akan balas dendam kalau hatinya tidak menerima.


"Kenapa, kamu tidak percaya padaku?"


Sepertinya Riko mengetahui perasaanku kalau aku masih ragu.


"Kok kamu bilang seperti itu, Rik?"


"Karena aku tahu, kalau kamu tidak percaya. Aku lihat dari sorot matamu tadi"


"Oiya, berarti kamu kayak mbah dukun dong"


"Gak usah meledek"


"Gitu ngambek"


"Habisnya kamu gak percaya"


"Lupakan. Kamu sudah baikan"


"Ini berkat kamu sama mbah putri yang merawatku. Aku gak melarangmu pegang pegang milikku. Aku mengijinkanmu"


"Tadi aku memastikan. Aku takut keadaanmu makin parah. Aku takut mama mu marah padaku. Kamu tahu sendiri imbasnya"


"Itu tidak akan terjadi"


"Aku percaya sama kamu. Terima kasih"


Riko hanya menanggapi  dengan anggukan kecil tanpa senyum. Aku berharap ucapan tidak berlawana dengan hatinya. Karena ku tahu Riko orangnya keras hati juga keras kepala. Tentu dia itu punya kemauan keras dan apa yang di mau harus dituruti. Di Pangandaran saja punya villa bagus dan mewah itupun didekat pantai. Ku yakin Alex juga memiliki villa karena selama ini Alex selalu mematai mataiku bahkan tahu tentang keberadaanku.


Mungkin di daerah lain ataupun di negara-negara lain keluarga Riko juga memiliki tempat tinggal karena orang tua Riko selalu memaksa Riko untuk liburan ke luar negeri karena yang paling memaksa adalah mamanya yang menginginkan Riko untuk liburan ke sana tidak mengikutiku liburan ke kampung halamanku karena ku tahu mamanya sangat tidak ingin Riko pergi ke kampung halamanku karena pernah suatu kejadian kalau Riko pulang masih dalam keadaan sakit. Itulah yang menyebabkan bu Kinasih sangat melarang Riko untuk datang ke sini namun Riko selalu memaksa dengan alasan ingin menjenguk simbah Putri di kampung karena rasa kangennya yang telah lama dipendamnya terlebih lagi simbah Kakung sudah tidak ada karena telah memaksa hal yang lebih mengejutkan lagi yaitu mengenai cerita simbah putri bahwa beliau selama ini pergi ke alam mimpi untuk menemani simbah kakung di sana. Berarti selama ini Ferdy yang ada di rumah serta yang mengurus rumah ini serta sapi milik simbah Kakung. Sekalipun Ferdy bukanlah saudara kandung namun Ferdy  begitu peduli dengan keluargaku ini. Seandainya tidak ada Ferdy aku tidak tahu bagaimana keadaan rumah ini ditinggal oleh simbah putri ke dunia mimpi bahkan simbah putri berjanji akan mengajak kami untuk datang menemui simbah kakung di alam mimpi.


"Keadaan kamu sudah membaikkan Rik" tanyaku memastikan karena dia merasakan bagaimana rasanya. Karena tadi aku cuma memeriksanya saja.


"Tentu saja. Aku tidak lemah. Hanya saja kelamaan kehujanan" tandasnya. Hal tersebut membuat aku kaget dengan pernyataannya. Terlebih lagi menyangkut mengenai keadaannya yang dianggap lemah oleh Alex maupun mas Kharisma. Sekalipun tadi Riko telah berusaha menyembunyikannya namun akhirnya hal itu diungkapkannya terlihat itu dari kekesalannya yang selama ini dipendam.


"Tapi aku tidak mengatakan hal itu padamu aku tahu kau adalah cowok yang kuat bukan cowok yang seperti apa yang mereka katakan tapi tolong aku mohon padamu kamu jangan ribut-ribut lagi dengan mereka atau siapapun aku tidak ingin hal itu terjadi lagi karena jika itu kau ulangi lagi maka dengan berat hati aku tidak akan pernah kembali ke Jakarta lagi sekalipun kau memaksaku" ungkapku.


"Benarkah itu sekalipun orang tuamu dalam bahaya?"


Tak bisa ku menjawabnya aku hanya menatapnya dengan tatapan tajam karena aku ingin melihat dari manik matanya tentang arti dari pernyataannya yang baru saja tadi diucapkannya apakah itu kebenaran. Tentu hatiku berdebar detak jantungku berpacu karena hal itu mengarah dari apa yang pernah kulihat ke depannya. Namun jika memang itu keinginannya akan aku terima karena menurut mas Kharisma bahwa orang-orang yang memiliki ilmu penjerat mimpi maka dia akan hidup abadi. Tak terkecuali seluruh keluargaku baik itu simbah Putri aku sendiri ataupun kedua orang tuaku namun aku tidak tahu pasti apakah selain keluargaku di luar sana ada yang memiliki ataupun menguasai ilmu penjerat mimpi. Karena dunia ini begitu luasnya membentang.


"Apa maksud mu Rik? Apa kau akan mencampurkan urusan kita dengan orang tuaku?"


"Ak-aku,,, bukan begitu" katanya terbata.


"Lalu apa?. Aku - aku, orang tuaku - orang tuaku Rik, permasalahan kita berbeda kalau kau mencampurkan urusan kita dengan orang tuaku itu beda lagi, mereka tidak ada urusan dengan pribadiku ataupun pribadimu"


Kami saling tatap. Tegang. Hal yang ku takutkan akan terjadi.


"Kenapa tidak ada yang mau mengerti tentang perasaanku selama ini?"


Kini wajah Riko nampak sendu, tatapan tidak lagi tajam.


"Kau tanya padaku?"


Riko menganggukan pelan kepalanya.


"Perjalanan hidup itu masih panjang. Harus mengejar cita cita hingga sukses. Bagiku cita cita bukan hal kau inginkan. Tapi bagiku hal yang sangat berharga. Kalian orang sukses, uang tidak perlu dipusingkan lagi. Tapi bagiku dan keluargaku itu hal yang penting. Aku juga tidak tahu apakah nanti, akhirnya aku akan hidup bahagia atau MATI?" pungkasku, pikiran ku menawang jauh ke antah brantah. Terlebih lagi hal yang ku takutkan selama ini terjadi. Kalau aku berserta keluarga ku akan MATI ditangan Riko.


"Kenapa kamu selalu menyebut hal hal itu. Kau seperti tahu keadaan masa depan yang akan terjadi?"


"Yah, karena aku tahu masa dep-?"


Riko begitu serius menyimaknya. Tapi, aku berhenti untuk melanjutkannya. Biarlah hal itu jadi teka teki bagi Riko. Hingga ingatanku kembali pada paman Syarifudin ketika akan menjelaskan mengetahui penyelidikan selama ini ketempat yang pernah ku ceritakan padanya. Tapi, Riko mencegahku untuk mengetahuinya.


Hingga paman terlihat kecewa dan juga tidak bisa berbuat apa apa. Kini aku dihadapkan pada kenyataan yang mengarah ke hal itu. Jika memang apa yang ku lihat dimasa depan benar benar terjadi, itu sudah menjadi TAKDIR-ku.


'Apa sebenarnya Riko itu ada hubungannya dengan semua hal yang terjadi padaku selama ini?' Kataku dalam hati tidak berani ku ungkapkan


Bahkan tadi mas Kharisma juga akan menjelaskan sesuatu padaku, tapi Riko telah bangun hingga terjadi ribut ribut kecil hingga bikin aku emosi sesaat.


Tentu bagi Riko hal yang mudah untuk mendapatkan apa yang diinginkannya termasuk untuk MEMBUNUH. Jika apa yang diinginkannya tidak tercapai. Riko akan melakukan apa saja yang dianggapnya benar. Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang jadi prioritasnya. Riko itu penuh ambisi.


"Rik, apa kau menginginkan memiliki Ilmu Penjerat Mimpi?"


_________________


Sn 24/01/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.