281.
Bab 281.
*****
Wajah Riko berubah seketika dengan ulasanku mengenai apa yang ku pikirkan, kalau memang Riko punya keinginan untuk memiliki Ilmu Penjerat mimpi bahkan kini kemampuanku masih di SEGEL oleh seseorang, bahkan ku cari serta ingin ku lihat dimasa lalu tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku hanya bisa pasrah saja dengan keadaanku. Toh, aku bisa lega saat aku memiliki kemampuan untuk bisa melihat kedepan karena itu untuk aku bisa menghindari masalah yang akan terjadi, paling tidak bisa meminimalisir bahaya yang akan terjadi serta menimpaku. Aku bersyukur dibalik tersegelnya ilmu penjerat mimpi ku tapi Alloh memberiku mempuan yang juga luar biasa sebagai penangkal. Walaupun menurutku aku lebih suka dengan kemampuanku yang ku miliki.
"Apa maksudmu Bening?" ulasnya. Bertanya dengan apa yang ku katanya. Tinggal menjawab iya atau tidak kenapa harus menanyakan maksudnya padaku.
"Tidak perlu ku ulangi lagi. Kamu pasti mengerti, bukan Riko. Semua yang ada disini semua saudaraku. Hanya Alex dan kamu saja yang bukan. Tidak semua keluargaku memiliki ilmu tersebut. Terlebih lagi, selama ini budeku saja ingin memiliki dan menguasainya tapi karena budeku bukan pewaris syahnya, maka tidak bisa mendapatkannya. Bahkan dengan berbagai cara budeku ibu dari mas Kharisma dan Mas Surya ingin menguasainya. Kitab ilmu penjerat mimpi telah musnah didunia mimpi. Kamu tahu siapa yang menghancurkannya?. Secara tidak langsung mas Kharisma lah yang telah memusnahkan kitab ilmu penjerat mimpi ketika mas Kharisma merebutnya dari tangan Simbah Kakung" angan menerawang pada kejadian yang pernah ku lalui. Hal itu sungguh sangat menyakitkan. Aku hampir tidak mampu untuk memaafkan nya. Tapi setelah melihat kesungguhannya serta rasa penyesalan yang begitu tulus membuatku tidak bisa untuk tidak memaafkan nya. Terlebih mas Kharisma saudaraku sendiri.
"Bukankah Ferdy juga bukan saudaramu?" Protesnya.
"Memang benar. Ferdy bukan saudaraku, tapi tetangga baik bagiku. Orang yang banyak berkorban bagi keluarga ini. Membantu dengan tulus"
"Oiya, benarkah itu. Apa memang benar jika Ferdy itu tulus tidak ada embel-embel apapun, rasanya aku tak percaya jika memang Ferdy itu benar-benar tulus untuk membantumu. Terlebih ini zaman modern serta keadaan juga sangat mendesak"
"Apa maksudmu Rik? Bahwa Ferdy itu punya maksud terselubung, maksud mu begitu?"
"Bisa jadi. Apa memang Ferdy itu tulus? Aku kurang yakin"
"Apa yang membuatmu mencurigainya, Rik? Ferdy itu teman sekaligus sahabatku dari kecil. Aku tahu watak dan sifatnya seperti apa?"
"Bisa saja kan pikirannya berubah jahat. Apa kamu bisa pastikan hal itu jika Ferdy itu tidak pikiran licik?"
Aku terdiam dengan perkataan Riko. Entah mengapa Riko sampai punya pemikiran sampai sejauh itu. Padahal selama ini aku percaya dengan Ferdy karena ku tahu kalau Ferdy itu tulus. Selama ini tidak pernah menuntut ku.
'Ah, sebaiknya aku menemuinya dan membahasnya dirumahnya. Aku tahu kalau Ferdy pasti sedang dirumahnya' kata kata dalam hatiku sambil memikirkan jalan yang terbaik. Aku tidak mau jika hasutan Riko dapat mempengaruhiku.
"Bagaimana Bening?"
Ku gelengkan kepalaku sebagai jawaban. Aku tak ingin membahas lebih jauh tentang kecurigaan Riko pada Ferdy.
"Baiklah, akan ku selesaikan ini. Aku pastikan kalau tuduhanmu itu tidak beralasan Rik"
"Kamu mau kemana Bening?"
Karena aku beranjak dari tempatku, tujuan ku kerumahnya Ferdy. Aku tidak mau hal ini terus berlarut larut.
"Bukan urusanmu. Kamu istirahat saja dikamar. Simbah putri memasak air buat mandi untukmu"
"Bening, Bening,,, kamu mau kemana?" panggilnya. Aku tidak peduli, ku bergegas pergi dari kamarku dulu meninggalkan Riko sendirian. Karena aku ada urusan dengan Ferdy atas tuduhan yang dilontarkan oleh Riko itu tidak beralasan.
Ku tutup pintunya rapat rapat. Diruang semua pada berkumpul, mereka berempat memandangiku heran. Tak ada yang menanyaiku karena aku hanya diam saja.
"Le, cah bagus mau kemana kelihatan ada hal penting" Simbah putri baru saja dari arah dapur karena tempatnya terpisah.
"Ehmm,,, ini Mbah putri, aku mau kerumahnya Ferdy sebentar"
"Kok kamu mencarinya. Ferdy nanti kesini"
"Ada hal penting yang ingin aku bahas dengannya Mbah putri. Aku pergi dulu Mbah, mumpung Ferdy belum pergi kemana mana? Assalamu'alaikum,,,"
Yang lainnya pada diam sedari dari tadi cuma hanya memperhatikan ku saja.
Hanya sembah Putri saja yang menjawab hingga keadaan terasa hening.
Setelah sampai diluar udara dingin langsung menyapaku, terlebih lagi semalam hujan hingga hampir subuh. Namun, hari ini kelihatannya cerah karena tidak ada awan di angkasa, burung burung juga berkicau riang didahan pepohonan menyambut pagi yang cerah.
Keadaan tentu sepi karena belum ada seorang pun yang pergi keladang, masih bermalas malasan dirumah. Sebagian pergi kesawah untuk mulai tanam padi.
Ku langkahkan kakiku agak cepat supaya aku sampai ke tempat tujuanku ke rumah Ferdy.
Sesampainya di rumahnya keadaan rumah Ferdy nampak begitu sepi, hanya saja di bagian samping pintunya sedikit agak terbuka aku yakin keluarganya masih ada di rumah. Karena pintu depan tertutup akhirnya ku putuskan untuk lewat pintu samping. Kuucapkan salam agar siapa saja yang ada di dalam bisa mendengarkan. Namun setelah beberapa kali ku ucapkan salam tidak ada yang menjawab nya.
Tentu saja aku agak bingung, apakah aku harus berdiam diri di depan pintu atau masuk saja, rasanya tidak sopan jika aku langsung masuk ke dalam rumahnya.
Maka aku putuskan untuk masuk, namun sekali lagi ku ucapkan salam supaya ada yang menyahutnya. Namun hasilnya tetap sama rumah masih saja terasa sepi.
Aku tahu setiap bagian rumah ini di mana letak kamar Ferdy. Aku pun segera menuju kamarnya yang tanpa terkunci rapat, entah apa yang dilakukan oleh Ferdi apa dia ada di kamarnya atau sedang pergi ke mana.
Tok, tok, tok...
Sengaja aku ketuk pintunya tanpa memberi salam karena dari awal tadi aku sudah beberapa kali memberi salam tapi tidak ada yang menjawab nya.
"Siapa?" Ada sahutan dari dalam namun suaranya terdengar agak berat. Entah apa yang sedang dilakukan Ferdy di dalam kamarnya, mungkin ketika aku datang tadi dia tidak mendengar suaraku.
"Aku,,,,"seruku tertahan. Sepertinya Ferdy asing dengar suaraku.
Clekkkk....
Pintu kamarnya terbuka. Nampak Ferdy sedang bertelanjang dada hanya menggunakan kolor saja. Tentu saja mataku langsung berbinar melihat pemandangan yang ada di hadapanku kali ini. Terlebih lagi, dibalik celananya ada yang jendol, aku tahu kalau dia sedang ereksi, efek dari hawa dingin pagi hari ini.
"Eh kamu Bening. Pasti tadi kamu yang salam disamping rumah" Ferdy hanya nyengir saja, kelihatan malu malu.
"Iya, aku pikir dirumah tidak ada siapa siapa, makanya aku masuk kesini? Memangnya pada kemana?"
"Bapak ibu kesawah. Ibu lagi tanam padi. Tadinya aku mau kesawah buat bantu, tapi males. Sudah ada mbakku dan mas ku yang bantu juga para tetangga. Rencana tadi setelah ini aku mau kerumahmu. Tapi kamu malah kesini, apa ada yang penting?. Ayo masuk, masak berdiri disitu saja"
Aku pun masuk. Ferdy langsung mengunci kamarnya.
Hatiku berdebar tak menentu...
Kemudian, Fredy memelukku?.
___________
Km 26/01/2023.
Komentar
Posting Komentar