282.
Bab 282.
*****
Tak bisa ku menolaknya, bahkan pelukannya sangat erat, seolah baru kali ini bertemu, rindu yang telah menggunung. Hingga kini telah membucah.
"Be-Bening,,, aku sangat kangen padamu. Aku tidak bisa melupakanmu selama ini. Aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk mengekspresikan perasaanku saat ini" tubuh Ferdy sampai berguncang, dadanya bergemuruh menahan isak yang mendalam.
Aku membiarkan Ferdy menjadi tenang, karena perasaannya saat ini campur aduk.
Pelukkannya masih erat, bahu kokohnya terguncang, sepertinya perasaan nya belum reda.
"Fer, tenang. Ada apa sebenarnya dengan kamu?"
Setelah keadaannya mereda.
Ku lihat matanya merah, nafasnya masih agak tersendat. Aku tersenyum melihatnya. Cukup lama dia tidak melihat rasa rindunya sudah memuncak.
"Badan gede gitu kok cengeng?" ujarku bercanda.
"Abisnya lama aku gak ketemu sama kamu. Kangen tahu. Apa kamu gak kangen sama aku"
"Kangen. Tapi aku banyak tugas, Fer. Kamu tahu sendiri sekolah elite itu seperti apa. Harus ekstra belajarnya. Banyak eskulnya, pulangnya juga sampai sore. Sekolah disini mah enak, jam 12 udah pulang" kilahku. Ferdy tidak tahu kalau selama disana aku selalu didera banyak masalah hingga untuk berpikir saja kadang sangat sulit sekali. Maka dari itu disini aku ingin menenangkan diriku walaupun mungkin akan ada sedikit masalah.
"Pantes, aku tunggu dirumah kamu gak datang datang, Fer"
"Kamu pasti melupakan aku"
"Kok kamu ngomong gitu Fer. Bagiku kamu best friend ku. Selama aku disana juga mikirin kebersamaan kita disini, termasuk kamu. Ada rasa sesal yang terselip. Aku kangen kampung halamanku. Rindu masa masa kita kumpul. Tidak pernah ada masalah, jika pun ada pasti akan berlalu dan baikan kembali. Tidak seperti saat pertama aku kesana, kamu pasti tahu kisahku kan"
"Kenapa kamu tetap bertahan disana jika kamu ada masalah?. Bahkan kamu sampai nangis seperti ini"
Tentu saja air mataku tak bisa ku tahan. Kisahku telah ku ceritakan pada Ferdy, bahkan jika ada kesempatan aku chat Ferdy untuk aku ceritakan apa yang terjadi.
"Tidak semudah itu Fer. Tentu ada alasan yang sangat memberatku. Aku tidak mudah untuk lari dari tanggung jawabku. Terlebih orang tuaku disana, bekerja untuk memperbaiki ekonomi keluarga"
"Iya, sampai rumah di Tugu Mulyo ditinggalkan. Simbah juga ditinggalkan sendirian. Sudah tahu simbah putri tinggal sebatang kara, tapi orang tuamu tidak kasihan melihat keadaannya"
"Mungkin ada alasannya Fer. Aku bahkan telah membujuk ibu dan ayah hanya untuk sekedar menjenguk, tapi dengan halus menolaknya. Bahkan berkali kali aku coba memaksa, tapi alasannya klasik, yaitu hanya ingin membalas budi, hutang kita karena aku pernah kecelakaan sampai membuatku koma"
"Tapi seenggaknya kan bisa jenguk walaupun beberapa hari kan. Masa gak boleh sama bossnya. Aku merasa ada yang aneh dengan orang tuamu?"
Tentu aku dipaksa berpikir mengenai yang telah disampaikan oleh Ferdy ada benar juga. Karena melihat sikap orang tuaku yang berubah itu jadi tanda tanya. Tapi, aku melihat tidak ada hal aneh, menurutku. Tapi, Ferdy seperti curiga. Atau memang kedua orang tuaku kena ilmu sihir atau ilmu yang membuat mereka lupa akan kampung halaman. Bisa saja hal itu terjadi.
"Kenapa? Kamu berpikir kalau ucapanku benar. Kalau memang mereka itu tahu keadaan orang tuanya tinggal satu, tentu mereka akan memilih untuk sekedar menjenguk. Tapi apa? Mereka tidak peduli sama simbah putri yang kini sebatang kara?"
"Kok kamu nyalahin orang tuaku Fer. Aku berkali kali sudah membujuknya buat pulang bersamaku, tapi mereka menolak nya secara halus. Aku kehabisan akal"
"Aku gak nyalahin ortumu, setidak prihatin melihat keadaan simbah putri yang sendirian. Ini kesannya ortumu sama sekali tidak merasa prihatin. Apa itu bukan keanehan?"
"Sudahlah, aku kesini bukan membahas masalah itu"
"Lalu?"
"Ini masalah yang dituduhkan Riko ke kamu, kalau kamu itu orangnya,,, hmm,,,"
"Aku kenapa? Riko ngomong apa tentang aku Bening?" desak Ferdy terlihat emosi terlebih ini menyangkut Riko.
"Bener bener manusia satu ya, selalu bikin susah saja. Udah manja, lemah lagi. Dia itu biang masalah, kenapa kamu masih baik dan perhatian sama tuh orang?"
"Aku tidak membelanya Fer. Riko itu selalu sendirian dirumahnya, jarang diperhatikan oleh orang tuanya. Mengapa Riko bisa bersikap seperti itu"
"Hingga hampir membuatmu mati, kamu tetap membelanya. Bahkan kamu bilang tadi apa?"
Aku ragu, karena Ferdy begitu sensitif mengenai Riko, entah ada apa dengan Ferdy. Atau dia tahu mengenai sesuatu tentang Riko hingga membuatnya begitu benci dengan Riko.
"Aku hanya meluruskan tentang tuduhan Riko kalau kamu punya maksud tersembunyi, karena membantu keluargaku selama ini"
"Dasar picik sekali manusia arogan itu. Bisa bisa dia menuduhku tanpa alasan seperti itu. Buat apa aku ikhlas membantu simbah mu. Aku ikhlas Bening, ingat itu. Aku tidak ada pamrih apapun. Kamu tahu itu sejak dulu kan. Kamu begitu percaya dengan hasutannya Riko"
"Itu alasan nya kenapa semalam kamu gak datang, karena Riko akan memberi kalian hadiah surprise?"
"Sebenarnya, aku yang akan membelikan hp yang kamu dan teman teman minta. Tapi Riko memaksanya, hingga aku lihat Riko calling seseorang hingga dia bilang beres, begitupun oleh olehnya Riko semua nya yang handle. Aku tidak tahu apa apa. Aku pikir Riko itu baik, aku tidak tahu Riko punya maksud apa?"
"Asal kamu tahu Bening, bahwa Riko itu akan membuat malapetaka besar terhadap kamu dan keluargamu bahkan juga orang lain" sentaknya dengan nada menunggi. Tentu hal itu membuatku sangat terkejut sekali mengingat Ferdy sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan Riko selama ini tapi Ferdy mengetahui banyak tentang Riko. Dari mana dia mengetahui hal itu secara gamblang walaupun aku hanya cerita sekali mengenai apa yang pernah ku lihat di masa depan.
"Dari mana kau tahu Fer?" tanya ku dengan nada heran akan pernyataannya.
"Asal kamu tahu Bening, aku mencari informasi tentang apa yang pernah kau ceritakan dulu. Itu sangat erat kaitannya. Bahkan aku tidak bisa berbuat apa apa hanya sekedar untuk menolongmu, tapi setidaknya kamu bisa meminimalisir akan hal itu supaya tidak membuat mu serta keluarga mu bahaya"
"Andai aku tahu solusinya, mungkin aku bisa cegah hal itu terjadi"
"Kau pasti tahu pemicunya, atau penyebabnya Riko lakukan hal itu kan"
"Iya, akar dari masalah yang nantinya terjadi yaitu Alex"
"ALEX,,,?"
"Ya Alex. Karena yang membuat marah besar yaitu Alex. Tapi, saat ini yang terjadi dengan Alex itu biasa biasa saja, bahkan Alex itu tidak menunjukan perasaannya, bahkan begitu CUEK padaku"
"Ini aneh sekali?" Nampak Ferdy berpikir keras. Mengkaitkan masalah yang ada dan nantinya akan terjadi.
"Apa mungkin Alex itu ada rasa sama kamu, tapi disembunyikannya rapat rapat?"
Ku gelengkan kepalaku pelan...
Tidak mengerti?.
______________
Sb 28/01/2023.
Komentar
Posting Komentar