283.
Bab 283.
*****
Ku hembuskan nafas pelan...
"Entahlah?" jawabku singkat. Entah bagaimana persepsi Ferdy bisa seperti itu.
Untuk beberapa saat aku terdiam begitupun Ferdy juga sama sama diam. Sepertinya Ferdy merenung, memikirkan sesuatu, entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Apa yang selama ini Alex lakukan padamu selama ini? Apa dia banyak berkorban untuk mu, semisalnya dia pernah menolongmu, atau sebaliknya kau pernah menolongnya? Biasanya, jika orang yang pernah kita selamatkan maka akan tubuhnya perasaannya secara perlahan lahan hingga hal itu menjadi pupuk yang ampuh untuk menumbuhkan benih cinta"
"Apa? Kau sudah gila Fer"
"Apa yang ku katakan salah? Alex tidak mungkin datang kesini jika tanpa alasan Bening. Kau tahu itu kan. Atau kau sengaja pura pura amnesia"
"Iya, aku pernah mengalaminya Fer, bahkan aku telah kehilangan kemampuanku. Aku tidak bisa menggunakan ilmu penjerat mimpi ku lagi. Ilmu milik ku telah disegel seseorang saat aku sedang dalam keadaan koma"
"Aku tidak percaya. Coba lakukan, aku ingin melihatnya?"
"Bukan waktu itu aku pernah bilang padamu?"
"Iya, aku hanya ingin membuktikannya"
"Baiklah jika kau tidak percaya. Coba kau lihat"
Ku coba untuk pusatkan pikiranku, aku ingin melakukan sesuatu yang selama ini ku lakukan...
Cetek, cetek, cetek,,,
Ku hentikan jariku, tapi tidak ada reaksinya sama sekali.
Cetek, cetek, cetek,,,
Ku lakukan dua kali tapi hasilnya tetap sama.
"Kau percaya sekarang kan Fer, kalau aku tidak bohong. Bahkan gelang pengikat jiwa pun tidak berfungsi"
"Apa katamu, gelang pengikat jiwa? Mana Bening? Kau pasti sedang berhalusinasi?"
"Ak-aku,,," tentu aku bingung untuk menjelaskannya. Terlebih lagi gelang ku itu tidak terlihat oleh mata biasa, bahkan sampai saat ini pun gelang itu tidak bisa dilihat oleh siapapun. Simbah kakung benar benar ampuh membuat gelang yang ku pakai tidak bisa terlihat oleh mata biasa.
Gelang yang ku kenakan tidak ada yang tahu karena dirahasiakan, supaya tidak jadi bahan perembutan jika ada yang melihatnya karena gelang itu sangat unik sekali, selain berwarna kekuningan juga ada bunga kenangan yang masih kuncup serta menebar aroma bunga kenanga.
"Sebenarnya gelang itu sedang ku pakai, tapi tidak dilihat mata biasa karena simbah kakung telah membuatnya tak terlihat"
"O, begitu ya"
"Fer dengar, aku kesini sebenarnya mau tanya tentang kecurigaan Riko ke kamu. Tapi aku ingin dengar kejelasannya sama karena Riko itu kekeh banget. Katanya kamu maksud terselubung dengan kamu bantu aku dan keluarga selama ini" belum juga aku selesai Ferdy sudah misuh misuh duluan.
"Bangke! Jancuk tuh orang. Aku bantu simbah putri karena sudah ku anggap nenekku sendiri. Aku tidak ada pamrih apapun terlebih lagi maksud terselubung. Dasar! Benar benar tuh orang ya!" Geramnya.
Ferdy lalu terdiam...
"Maaf Fer, tapi itu yang Riko katakan. Aku tidak bermaksud menghasut maupun mengadu domba mu dengan Riko"
"Kok kamu bisa menerima dan berteman dengan sepicik Riko. Kok kamu tahan. Benar benar tuh manusia biang kerok. Kalau bukan temanmu sudah aku habisi dia!" Sampai kepalkan tinjunya. Dada gempalnya bergemuruh. Perut ratanya tampak kembang kempis menahan amarah di hatinya.
"Bahkan Riko pernah mengutara CINTA -nya pada ku, bukan hanya sekali bahkan aku lupa untuk menghitungnya-"
"A-pa,,,? Ja-jadi,,, Riko pernah mengatakan perasaannya ke kamu, kalau Riko itu CIN- CIN- TA sama- kamu ?"
Ku anggukan kepalaku, membenarkan. Tidak ku jawab tapi gestur ku sudah mengatakan iya.
"Bening, aku sarankan buat kamu untuk ngejahuin manusia macam dia? Kamu akan menyesal nantinya"
"Aku berusaha. Tapi masalahnya orang tuaku, hingga sampai saat ini kekeh untuk mengabdi dirumahnya keluarga Sanjaya"
"Kalau orang tuamu diperingatkan tidak bisa, ya sudah, kamu gak usah pedulikan nasib mereka Bening"
"Fer, bagaimanapun mereka berdua orang tuaku. Aku harus peduli dengan mereka berdua apapun keadaanya" suaranya agak tinggi.
"Maaf Bening jika membuatmu marah seperti ini"
"Masalahnya, aku merasa kalau ada sesuatu terjadi pada mereka berdua. Seperti kena guna guna hingga apapun yang ku katakan tidak peduli, tidak mau menuruti permintaanku, malah menolak secara halus, bahkan alasannya tidak enak karena hutang budi, itu tidak masuk akal kan"
"Benar tuh. Aku juga khawatir nasib ortumu kedepannya"
"Itulah yang ku takutkan. Jika mereka mau pulang, setidak sebentar saja aku bisa tenang, tidak khawatir atau cemas seperti saat ini. Walaupun mungkin apa yang ku lihat itu belum terjadi"
"Buat jaga jaga supaya kejadian tidak ekstrim seperti yang kamu ceritakan"
Ku memilih untuk diam. Mengingat pada apa yang ku lihatnya. Itu begitu NYATA bahkan hingga sampai saat ini kejadian itu begitu MEMBEKAS.
"Sekarang kamu jangan pikirkan hal itu lagi. Kamu liburan disini untuk tenang kan,,," Ferdy tersenyum cool menampakan giginya yang rapi putih. Kumisnya sangat membuatnya tampan dengan wajah tegasnya.
"Iya, aku kesini untuk liburan"
"Kita,,, maksudku kamu kan tinggal empat bulan lagi sudah tamat. Kamu fokus untuk lulus"
"Terima kasih Fer. Kamu bisa ngertiin aku"
"Karena aku mengenal dari dulu Bening"
"Terima kasih" ku peluk tubuh atletisnya yang topless. Bisa ku rasakan detak jantungnya serta debaran dadanya.
"Iya, iya. Sudah sudah, semuanya akan baik baik saja" lirihnya, merengkuh dalam dekapan hangatnya yang membuat duniaku terbalik.
Aku rasanya sangat tenang dan nyaman dalam pelukan pemuda desa seperti halnya Ferdy yang mampu mengerti dengan perasaanku yang sedang gulana yang ku rasakan saat ini. Walaupun aku tidak menangis hal air mataku saja yang merembes cukup mewakili kesedihanku saat ini.
Tentu Ferdy merasakan air mataku yang hangat didadanya, rengkuhannya makin erat saja, batinku terasa makin nyaman. Andai aku seorang wanita tulen tentu aku ingin dinikahi oleh Ferdy dan hidup bersamanya, menuan bersama untuk selamanya sampai maut menjemput.
"Untuk apa kau menangis seperti. Jika air matamu membuatmu tenang, maka aku akan memeluk seperti ini bahkan jika untuk selamanya, maka akan aku lakukan"
Aku menggeleng kepalaku dengan kekonyolan dibuatnya. Maka yang ku lakukan padanya...
"Aw,,, kau mulai nakal ya. Awas kau, aku gelitik tahu rasa" tubuh Ferdy menggeliat tapi tidak melepaskan rengkuhannya hanya tertawa lirih.
"Kamu sih, selalu nge-gombal" sergahku, ikut tersenyum.
Kini Ferdy menatapku dalam, menatap kedalaman mataku, aku pun melakukan hal sama padanya. Sama sama tersenyum. Kini kening kita bersatu hingga sapuan nafas menderu saling beradu.
"Jangan coba membangunkan singa yang sedang lapar"
"Mana Fer?" Aku pura pura bodoh dengan pernyataannya. Padahal aku tahu dari arti ungkapannya itu.
"Ini,,," tunjuknya kearah bawah. Aku pura pura cuek padahal bisa ku rasakan kalau tuh burung sudah tegang dari aku masuk kedalam bahkan sampai ketika Ferdy peluk aku. Tentu saja ku rasakan desiran yang aneh. Terlebih keadaan rumahnya sepi karena ortunya pergi kesawah.
"Yang nakal siapa coba?" Protesku cuek.
"Ya kamu lah. Makanya kamu harus menjinakannya supaya tidak garang"
"Maunya,,," ku pura pura sewot.
"Ayolah Bening, aku sudah lama tidak melakukannya semenjak kamu datang cepat pergi juga cepat. Aku memendam semua perasaanku hanya untukmu. Yah, hanya untuk mu. Mungkin juga untuk selamanya perasaanku padamu tidak akan pernah berubah"
"Apa apaan kau ini Fer. Kau tidak waras"
"Ya, itu karena kamu Bening. Gegara perasaanku padamu selama ini"
"Dulu aku bilang padamu untuk melupakan aku, menerima Latifah karena aku tidak bisa menjaga"
"Iya aku tahu. Latifah sudah menerimaku, coba untuk melupakanmu, walaupun dibilang itu sangat berat buat dia, tapi dia tetap menerimanya dan kini telah memilihku. Tapi baik aku ataupun Latifah sama sama mencintaimu, mencintai seorang yang bernama BENING RIA SAPUTRA. Kau perlu buktikan. Ini buktinya" Ferdy membuka celana, menunjukan kejantanannya yang tegak sempurna.
______________
Sn 30/01/2023.
Komentar
Posting Komentar