284.

Bab 284.


*****


"Ouugggghhhhhh,,,," dengan lenguhan panjang serta nafas tertahan, Ferdy memuncratkan pejuhnya didalam mulutku begitu banyak. Dalam keadaan telanjang bersimbah peluh hingga aroma tubuhnya bertambah jantan. Dia hanya terduduk diam sambil menenangkan nafasnya yang terputus putus dan butuh beberapa waktu untuk menormalkan nya kembali sampai menjadi tenang kembali, menatapku dengan senyuman kepuasan yang tiada T-ara karena mendapat service oral sex yang istimewa dariku.


Ferdy menarikku dalam pelukannya, ku biarkan hal itu mengalir apa adanya.


Detak jantungnya belum juga normal, batangnya masih tegak perkasa dengan urat yang masih menyembul dibatangnya dengan jembut yang tebal.


"Terima kasih Bening" bisiknya.


Perasaan ku tentu merasa ada yang salah, karena selama ini Ferdy tidak pernah melupakanku sekalipun telah menerima dan bersama Latifah.


Hanya anggukan kecil sebagai balasku. Jika pun Ferdy membutuhkan jawaban ku hal itu cukup sebagai perwakilan.


"Bagaimana hubunganmu dengan Latif, berjalan lancarkan? Aku berharap dimasa depan kamu menikahinya sebagai pasangan hidupmu, sebagai ibu yang akan melahirkan benih benih unggul ku"


Perlahan Ferdy melepaskan pelukannya. Terlihat rona kesedihan yang tak bisa ku artikan. Ingin seperti protes.


"Kenapa  Fer? Kamu baik baik saja kan" ku sentuh wajah tegasnya. Ku beri seulas senyum yang ku miliki.


"Bening, aku, sebenarnya tidak bisa melupakanmu. Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu. Jika kamu wanita maka kamu lah orang aku cintai dalam seumur hidupku" Ferdy tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Sekalipun kamu seorang lelaki aku tetap mencintaimu, Bening" kembali rengkuhan hangatnya ku rasakan, tubuh bergetar hebat menahan gemuruh dalam dadanya yang telah ditahannya cukup lama.


"Hushh,, Fer, aku tidak munafik untuk itu. Tapi aku sadar itu memang salah. Namun aku tidak menolak takdirku. Bukannya menolakmu, kamu tahu itu pandangan yang begitu salah dimata masyarakat awam. Kita manusia hidup dengan kodrat masing masing"


"Bening. Aku tidak tahu kedepannya aku harus jalani hari hariku tanpamu dengan beban rasa cintaku ini ke kamu"


"Percayalah Fer, semuanya akan baik baik saja. Aku yakin lambat laun kamu akan bisa melupakanku"


"Jika semudah itu. Jika apa yang kamu katakan itu sesuai kenyataan yang nantinya ku hadapi bisa. Maka aku tidak akan pernah bahagia saat bersama mu"


"Kebahagiaan bukan hanya ada padaku saja, tapi nanti pada pasangan hidupmu"


"Rasa kebahagiaan ku ada bersama mu sejak dulu"


Aku tidak bisa berkata apa apa lagi. Itu hak Ferdy, aku tidak bisa menyalahkan perasaan cintanya padaku. Ternyata begitu banyak orang orang yang terluka karena rasa cintanya padaku bertepuk sebelah tangan.


Saat ini aku berada diambang kebimbangan...


Namun, mengapa baru sekarang hal itu dinyatakan. Tidak sejak dulu sebelum aku mengenal orang orang yang kini berada disini. Tentu akan banyak hati yang tersakiti dan itu aku penyebabnya. Aku tidak pernah menanamkan cinta apapun itu pada mereka. Akan tetapi, merekalah yang menyatakannya itu padaku.


Salahkah aku akan hal itu?


"Ferd, mandilah. Hari apa yang akan kamu lakukan?" Tanyaku saat keadaan tenang. Tentu hal itu untuk membuat suasana tidak lagi melow.


"Entahlah? Terlebih lagi dirumahku ada tiga saudara dan temanmu, juga mungkin ada tempat dihatimu untuk keduanya. Kau akan melupakan aku, pastinya?"


Aku tak percaya jika Ferdy sampai bicara seperti itu...


Ku tatap tajam, dengan rasa tak percaya.


"Kok kamu ngomong kayak gitu Ferd? Aku kesini hanya untuk menemuimu. Kalau aku memilih mereka berdua atau tiga saudaraku, tidak mungkin aku kesini. Keduanya karena aku selalu kepikiran tentang penglihatan ku dimasa depan, itu sangat menggangu. Bahkan aku juga takut hal itu benar benar terjadi"


"Kejadian itu tidak disini kan terjadinya" ku gelengkan kepala ku sebagai jawabnya.


"Di Jakarta kan" ku anggukan kepalaku meng-iya- kan.


"Lalu apa yang kamu takut. Kamu khawatirkan. Selama kejadian itu tidak disini. Maka kamu tidak perlu takut lagi. Takutmu tidak beralasan, bukan. Jika kamu disini hal itu tidak akan pernah terjadi. Kamu aman-"


"Bagaimana nasib kedua orang tuaku?"


"Aku yakin, selama itu tidak ada kamu, orang tuamu tidak akan pernah diusik"


Masuk akal juga penjelasan dari Ferdy. Ternyata benar apa yang dikatakannya.


Lalu...


"Bagaimana kalau orang tuaku nantinya di sandera sebagai umpan?. Mau tidak mau aku juga aku kesana"


"Keputusan ada ditanganmu. Selama kamu mengambaikan hal itu, maka orang yang bersangkutan tidak akan bertindak"


"Benarkah itu Ferd? Riko itu orangnya nekatan. Cara apapun dilakukannya"


"Kalau dia punya perasaan cinta maka tidak akan melakukan hal sembrono"


"Lalu yang kamu lakukan Ferd?"


"Beda,,,"


"Alasan,,,"


Ferdy hanya terkekeh...


"Bilang kamu cemburu, gitu"


"Enak aja kamu" sergah Ferdy. Menyembunyikan perasaannya.


"Kamu enak, banyak yang suka bahkan cinta sama kamu, baik cewek cewek cantik bahkan cowok cowok ganteng semua suka padamu"


"Itu persepsi mu. Kamu belum tahu rasanya diposisiku"


"Harus itu" candanya. Ku anggukan kepalaku.


"Sudah, sudah, semua gak akan kelar. Eh, dari tadi perasaan kamu telanjang terus. Itu batang kenapa masih saja ngaceng gitu"


"Tau, mungkin ada kamu juga dekat ama kamu jadi nih burung gak mau tidur"


"Omes, udah mandi sana"


"Sekali lagi. Please, emut,,,"


"Ferdy,,, aku betot tau rasa kontol kamu" teriakku karena dirumah lagi sepi. Ferdy hanya tertawa terkekeh tak merespon.


"Emang berani" tantangnya sambil mengerling.


"Oh, nantangin aku ya,,," kini malah tubuhnya terlentang pasrah sambil tertawa.  Kontolnya makin ngaceng bahkan tak terkendali.


Maka seperti ancamanku. Maka ku remas kontolnya dengan lembut. Ku gelitik tapi bukanya geli dia malah tertawa lepas.


"Ha ha haaa,,, itu gelitikan apa elusan, gak kerasa banget" ledeknya penuh ejekan.


Merasa tertantang dengan ucapan Ferdy, yang merasa biasa atas apa yang ku lakukan. Maka hal yang tak terduga ku lakukan. Maka kontolnya yang tegang, ku kocok barulah nafas Ferdy kini ngos ngosan. Terlebih lagi saat aku ngemut kontolnya maka tidak pake lama tubuhnya kelojotan hebat. Tidak butuh waktu lama, matanya membalik putih, tubuhnya mengejan hebat.


"Oughhhhh,,, haaahhhhh,,,," seketika pejuhnya muncrat dengan banyak didalam mulutku serta ku telan semuanya tanpa sisa. Tak ada kata lagi dari Ferdy hanya senyum kepuasan yang terpancar dengan rasa terimakasih yang mendalam.  Kini dia bangkit, kontolnya mengkilap akibat oralanku tadi. Masih ngaceng sempurna, mengkilap padahal baru saja keluar pejuhnya sangat banyak. Rasanya belum juga sarapan perutku sudah kenyang dengan proteinnya. He he heeee...


"Ferd,,," ucapku lirih, kerongkongan ku rasa kering harus minum karena rasanya tak nyaman dengan aroma pejuh yang masih ada.


"Iya, Bening, ada apa?" jawabnya lembut seperti pada sang kekasihnya.


"Aku berharap, usai kejadian seperti ini kamu jangan jauhi aku, sedih rasanya jika lakukan itu. Kamu tahu gak ketika dulu kamu menjauhi aku hingga pada saat terakhir kita pisah. Itu sakit sekali rasanya. Makanya aku tidak ingin hal seperti ini terulang supaya hal itu tidak terjadi" ulasnya teringat kejadian yang dulu.


"Aku gak akan muna lagi tentang perasaanku Bening. Aku minta maaf atas kejadian dulu. Aku bodoh, aku buatmu sedih hingga tak sadar aku menjauhinya, hal itu malah membuat batinku tersiksa. Makanya saat terakhir aku ketemu aku minta maaf sama kamu. Kamu gak usah sedih lagi"


"Iya,,," desahku lega. Ku ambil air minum yang tersedia.


Tok, tok, tok,,,,


Pintu kamar diketuk dari luar. Tentu saja membuat Ferdy panik kalang kabut, menyambar handuk yang tergantung dibelakang pintu. Ketika melewatiku kontolnya gondal gandil, lalu turun dengan wajah pucat, takut.


Ku buka pintu, ketika Ferdy memakai handuk untuk menutupi area terlarangnya.


Siapa yang ada didepan pintu kamarnya, tentu saja aku kaget luar luar biasa.


"Riko,,," kataku kikuk. Terlebih Ferdy disampingku kini terlihat biasa.


Riko menatap tajam Ferdy penuh selidik...


Terlebih lagi, melihat Ferdy telanjang dada, memakai handuk yang melilit.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.