285.
Bab 285.
*****
Wajah Ferdy terlihat kikuk ketika Riko menatapnya dengan tatapan selidik. Tegang, tentu pasti ada.
Namun, aku hanya pura pura masa bodoh.
"Kamu sudah gak apa apa Rik" tanyaku melihat keadaan Riko yang memang kurang baik tapi sudah mandi serta terlihat segar walaupun wajahnya terlihat gak enak karena sakit bukan hal lain.
"Aku mau mandi dulu, Bening, Riko" kata Ferdy hanya nyengir lalu nyelonong pergi.
Riko masih saja berdiri diambang pintu. Entah siapa yang memberinya ijin buat masuk kesini terlebih ke kamar pribadi tentu tidak akan sembarang orang untuk masuk, lebih ini kamar. Rumah orang lagi.
Semua pertanyaan itu muncul didalam benakku hingga aku tak mungkin akan mengatakannya, nanti malah akan timbul cekcok dengan Riko terlebih saat ini kurang stabil emosinya.
Keadaannya kurang sehat.
Lebih baik aku diam saja, pura pura cuek dari pada nantinya dia marah terlebih lagi lihat Ferdy yang telanjang dada hanya memakai handuk dalam keadaan berantakan tentu hal itu bikin panas hati Riko.
Riko nampak kesal, itu terlihat sekali dari raut wajahnya...
Aku coba tersenyum tanpa menyapanya, itu lebih baik biar gak ada debat. Aku sudah capek selalu debat dengannya. Saatnya untuk tenang.
Aku pun mundur dengan mengabaikannya dari cuma dipangangi saja, jadi tak enak.
"Mau kemana?" Katanya jutek.
Apa juga mataku, tadi pasti ujung ujungnya gak enak.
"Rik,,,!" suaraku ku tekan. Supaya Riko tidak marah marah disini. Sambil ku delikan mata.
"Bukan urusanmu. Dari pada kau terus menuduhku. Buat apa kamu kesini" tanyaku cuek, masuk lalu duduk di pinggir ranjang. Riko agak ragu untuk nyusul ke dalam. Aku memang sudah terbiasa kerumah ini bahkan kekamarnya Ferdy. Seperti sumur juga kamar mandi pasti ada diluar rumah kalau tidak ada didekat dapur.
Sampai kapan Riko akan berdiri disitu. Walaupun aku tahu Riko udah kenal baik kedua orang tua Ferdy.
Perlahan akhirnya Riko masuk serta duduk didekatku.
Lagi, Riko bergeming ditempatnya, menatapku sesekali, menarik nafas berat.
Sepertinya ingin mengatakan sesuatu?.
"Bening, maaf kan aku,,," akhirnya meluncur kata katanya. Basi. Itu yang bisa ku uraikan. Apa tidak ada pembahasan lain selain kata "MAAF".
Sudah beberapa kali kata maaf meluncur dari bibirnya yang tak bertulang, seolah itu hal biasa terlebih terhadap kesalahan yang dilakukannya.
Ku anggukan kepala, tanda ungkapan aku terima. Tapi kini ada dekatku. Senyumnya mengembang saat aku memaafkan. Tidak terduga Riko mendekat lalu mencium bibirku membuatku bergeming. Mataku langsung membulat mendapatkan perlakuan tak terduga. Terlalu agresif....
"R-RRR- iikkk,,," suaraku tertahan. Saat ia memilin pelan penuh perasaan, membuatku terbuai oleh suasana. Salivanya menerobos, mencari hingga tertaut, aku pun tak tinggal diam. Wajahku ditakupnya, melumatku intens. Kali ini Riko sangat agresif bagai singa kelaparan.
Saat mataku melihatnya ternyata mata Riko terpejam rapat, sama sama menikmati lumatan serta pilinan yang tak biasa. Cukup lama, seolah berhenti cukup lama.
"Ahhhh,,,," hempas nafas Riko berat. Terengah. Mengisi oksigen banyak banyak karena dadanya kosong. Aku ambil kesempatan hal yang sama, tak ingin mati karena kekurangan udara.
Ada titik keringat dikeningnya. Aku tersenyum menatapnya penuh arti.
"Aku tidak mau kehilanganmu, Bening" lirihnya.
"Aku bukan type yang kamu harap. Takut kamu akan kecewa padaku. Carilah pasangan hidupmu, untuk masa depanmu"
"Kenapa? Kamu tidak percaya dengan perasaanku"
"Itulah hal yang ku takutkan. Kamu akan kecewa padaku, nanti"
"Aku tau, aku terluka melihatmu bersama dengan laki laki lain. Sangat terluka tapi raca cintaku padamu terlalu BESAR"
"Kau tahu bagaimana perasaanku selama ini padam, bukan"
"Iya, aku tahu. Aku juga pernah membuatku sakit hati. Saat itu aku tidak bisa membendung perasaanku"
"Aku tidak mengingat hal itu, Rik. Hanya saja, aku tidak ingin menghancurkan masa depanmu, hidupmu, serta kelangsungan garis keturunanmu, nanti"
"Keluarga Sanjaya bukan hanya aku saja. Ada kakak perempuan ku, Zsayefu. Kini dia hamil anak kedua"
"Ck, kenapa sih kamu keras kepala Rik. Dulu kau begitu mencintai Raya, tapi kini kenapa berubah?"
"Jangan sebut nama wanita itu lagi!" Mukanya merah padam menahan emosi.
"Kenapa Rik?"
"Cukup!"
Seketika diam...
"Rik, dengar. Raya itu masih sangat mencintaimu Rik"
"Tapi aku TIDAK!"
Lagi, aku terdiam. Rasanya tidak perlu lagi ada debat.
"Aku tahu hal itu" lirihku.
Riko pun memelukku, lagi. Lebih lama. Ada rasa ketakutanku sendiri...
"Hm, hmmmm,,,," ada deheman sangat dekat.
Aku berusaha untuk melepaskan diri.
Riko tampak santai, masih saja meluk, ingin memperlihatkan pada Ferdy kalau cintanya lebih besar. Pintar sekali Riko memainkan dramanya.
Dengan perlahan dan juga santai melepasnya. Tersenyum penuh kemenangan kearah Ferdy yang masih berbuih tubuhnya selesai mandi, handuk melingkar dipinggang kokohnya.
Tentu aku kikuk, merasa tidak enak dengan tatap Ferdy yang menekanku. Seperti ingin meminta penjelasan.
Deru nafasnya seperti menahan emosi yang setiap detik meledak. Ferdy tampak berusaha tenang tapi aku tahu kalau keadaannya tidak baik baik saja.
Riko seolah merasa tak bersalah, tanpa dosa begitu santai, tersenyum miring kearah Ferdy, mengerling mesum kearah untuk membakar emosi Ferdy.
"Apa kabarmu Riko?" Dengan tenang Ferdy menyapa Riko yang masih duduk didekatku dimana ini kamar pribadi milik Ferdy.
"Baik Fer. Kamu sendiri bagaimana kabarmu?" Itu hanya polesan saja.
"Seperti yang kamu lihat, aku sehat. Tapi tidak baik baik saja" balasnya, dengan menahan perasaannya.
Riko merasa memenangkan keadaan, terlihat sekali Ferdy itu dibakar api cemburu sama Riko karena tadi Riko sengaja melakukannya didepan Ferdy.
"Semalam tidak kerumah kenapa Fer?" Lanjutnya mencari alasan untuk mencairkan suasana yang menegang.
"Aku dengar kamu sakit Rik, makanya aku gak jadi kesana. Aku juga capek, karena aku merasa kurang enak badan, makanya aku cepat tidur " alasan yang masuk akal.
Aku tahu Ferdy tidak enak datang kesana terlebih lagi sedang ramai, tidak ingin menganggu suasana.
"Aku ada sesuatu buat kamu dan kawan kawan"
"Terima kasih"
"Pasti kamu suka" imbuh Riko tak ingin Ferdy muram. Mereda menyinggung terlebih ini kamarnya walaupun dulu sudah kenal dekat dengan Ferdy. Sebenarnya hal itu tidak sopan karena masuk kamar orang yang punya belum memberi ijin terlebih lagi baru datang.
Aku diam saja sedari tadi. Ada keinginan untuk pergi dari sini, aku merasa tidak enak dengan Ferdy, terlebih masih ada Riko. Aku mencari alasan apa supaya aku bisa pergi dari sini, berlama lama membuatku semakin tidak enak.
Seandainya tidak ada Riko mungkin akan lain lagi ceritanya ketika Ferdy habis mandi, mungkin aku akan mengerjainya. Ini ada Riko jadi hal itu urung ku lakukan. Masih ada kesempatan lain kali.
Tampak Ferdy ragu untuk ganti pakaian, biasanya dia cuek sekalipun ada aku, tapi kini ada Riko tentu rasa enak serta canggung pasti ada.
Tadi Riko yang membuat cemburu Ferdy, gimana rasanya jika dia sekarang yang ku buat cemburu. Kalau aku sendiri tidak masalah kalau akan dibuat cemburu, maka aku bisa menjauhinya tentu hal itu tidak ingin terjadi oleh Riko. Makanya dia begitu kukuh mempertahankan perasaannya padaku hingga suatu saat nanti rasa cemburunya membawaku kedalam masalah yang sungguh tidak pernah ku duga seumur hidupku. Membuat Riko gelap mata, serta menjadi seorang pembunuh yang SADIS!.
Komentar
Posting Komentar