286

 Bab 286


*****


"Fer, aku pulang dulu. Nanti malam jadikan datang kerumah juga teman teman bawa, aku mau bagi bagi surprise buat kalian"


"Ok. Terima kasih Riko, aku pasti datang bareng teman temanku. Kamu tenang, gak akan bikin kamu kecewa"


"Aku tunggu. Jangan sampai lupa"


"Tenang, gak akan. Kalau lupa kamu ingatkan aku. Kamu punya nomor wa aku kan"


"Sayangnya aku udah ganti nomor. Maklum, tiap ganti hp baru, nomor juga ikut ganti"


Kemudian Ferdy pun menyebut nomornya sekaligus nomor wa supaya nanti Riko chat kalau lupa.


"Sombong " rutukku. Riko tersenyum miring kearahku. Aku pura pura cuek saja. Biar dia sombong sesukanya, aku juga gak peduli.


"Bening kamu mau disini saja" tatap Riko kearahku sinis. Ferdy belum juga ganti pakaian masih telanjang dada. Bikin gemes ingin aku pelorotkan handuknya ku nikmati kontolnya yang tentu kini sudah bersih dan harum, membayangkan membuat tersenyum sendiri.


"Kumat sintingnya, senyum senyum sendiri gak jelas" sungut Riko padaku.


"Kau yang gak jelas!" Tandasku. "Pulang sana!" Usirku, sekalipun hal itu membuat Ferdy keberatan karena mengusir itu tidak baik.


"Aku akan pulang, tenang saja. Supaya kamu bebas-" menatapku tajam sekilas. Tanpa pamitan ataupun salam. Pintu dibantingnya dengan keras.


Ferdy hanya geleng kepala dengan kelakuan Riko yang arogan.


"Kau lihat sendiri kan kelakuannya kayak apa. Siapa yang akan tahan hadapi orang kayak gitu. Egois terus, tidak tahu sikon. Mentang mentang kaya" sungutku, mengeluarkan kekesalan yang selama ini ku rasakan pada Riko.


"Tapi hatimu mengatakan lain"


Ku tatap Ferdy yang baru saja ngomong seperti. Tidak salah apa yang di tuduhkannya padaku, maksudnya juga apa?.


"Maksudmu apa, Ferd?" Tertegun sejenak, ingin tahu apa yang akan dikatakan selanjutnya.


"Dari kilatan matamu, aku melihat sesuatu yang berbeda"


Hatiku bergemuruh mendengarnya. Aku diam saja, hatiku makin tidak enak.


"Tentu sudah banyak hal yang kau korbankan buat dia sehingga Riko sampai seperti itu"


"Ferd" potongku.


"Seseorang tidak akan berkorban jauh jauh hanya untuk liburan semata kalau bukan ingin perhatian" jelasnya lagi.


"Hanya suatu pengorbanan sangat besar orang itu akan melakukan apa saja untuk menenangkan hatimu" ulasnya lagi menengenai keadaan Riko. Padahal aku tak ingin membahasnya lebih lanjut.


"Mungkin aku salah"


'Kebanyakan omong, sok puitis. Aku kesini bukan untuk dengar ocehan, malah ceramah yang bikin aku sebal dengan sikap Riko!' kata dalam batinku. Kini Ferdy menghadap kearahku. Senyum licik ku ulas.


"Mau apa kamu?" Ferdy ketakutan melihat gelagat yang akan terjadi.


Seetttttt,,,


Tak berpikir ulang, tentu Ferdy tidak menyadari hal itu. Maka kini lepas sudah handuk yang sedari tadi melilit dipinggangnya.


Kontol nya sudah ngacung tegang, entah sejak kapan, mungkin sejak Riko pergi dia jadi sange.


Pintu tentu saja tidak dikunci, tapi aku masa bodoh jika pun ada yang memergokinya bahkan mengetahuinya aku tidak peduli.


Ferdy gelagapan jadinya, dapat serbuanku yang tak terduga.


Ku karaoke kontolnya, yang tadi sudah dua kali ngecrot dan itu banyak banyak seolah seperti lautan isinya.


Tentu Ferdy langsung megap megap tak karuan saat mendapatkan oralan dikontolnya.


Aku bermain cepat dan aku tahu titik titik yang membuatnya langsung crot tak bisa dikendalikan lagi.


"Aaauuuuwwwww,,, haahhhhhhh,,,,!" Dengan hentakan dalam, membuncahlah lahar hangat didalam mulutku. Perutnya kembang kempis, dadanya bergemuruh, detak jantungnya berpacu. Menghentak lebih dalam, tumpah ruah begitu banyak hingga ku telan semuanya sampai habis.


Perlahan ku lepas kulumanku yang masuk dalam mulutku, ku kenyot saat terakhir kepala aku lepas, Ferdy menggelinjang kegelian, antara rasa ngilu campur rasa nikmat yang tiada tara.


"Aww,,, geli, ngilu..." Protesnya tapi dibiarkannya saja. "Haahhh,,," lenguhnya sesaat, tertawa kecil penuh nikmat.


Setelah itu aku pun berdiri, berjalan keluar kamar tanpa pedulikan keadaan Ferdy yang bengong menatapku dalam kebingungan.


"B-Bening,,, Bening,,,, Bening?" Panggilnya sampai tiga kali, tanpa ku gubris. Bahkan Diam, cuek tanpa ekspresi.


"Jangan pernah bermain main api dengan ku. Tahu rasa!" Gumamku lirih. Lewat pintu belakang, ku dengar langkah cepat Ferdy menyusulku.


Aku sudah sampai diluar rumah, ibu Ferdy datang.


"Bening, kamu baru datang. Mau kemana, kok mau pulang, belum juga ngobrol, pengen tahu keadaanmu, terlebih orang tuamu di Jakarta" diberondong dengan bebera pertanyaan.


"Ferdy dimana?" Tanya ibunya.


"Dikamar bulek, tadi udah ngobrol. Aku pulang dulu ya bulek" tergesa karena tak ingin lebih lama disini.


"Le, kok kamu diam saja ada nak Bening"


Ferdy dibelakangku cuma diam. Aku juga tidak mau melihatnya.


"Nak Bening, terima kasih oleh olehnya kemaren ya"


"Iya Bulek, aku pamit dulu. Assalamualaikum,,," pamitku pada ibunya.  Tak ingin berlama lama.


Secepatnya aku ingin sampai rumah,. Keadaan sudah siang sekali, udara juga gerah padahal tadi pagi dingin. Pantas Ferdy tadi keringatan terus terlebih saat kontol nya muntah pejuh.


Ferdy tak memanggilku karena tadi ada ibunya.  Aku tak melihatnya sama sekali.


Ada nyeri yang terasa saat Ferdy seolah tidak peduli padaku. Ku kira aku NYAMAN BERSAMANYA tapi persepepsiku salah. Mungkin dia merasa bersalah atas pacarnya. Yang dulu suka sama aku. Baiklah, jika memang seperti kenyataannya Ferdy, baiklah aku tidak akan pernah bicara lagi padamu. Aku salah menilaimu selama ini.


Keadaan rumah sepi, entah pada kemana?


Yang ada hanya mbah putri didapur lagi masak untuk makan siang.


"Mbah putri pada kemana?" tanyaku lirih untuk menekan suaraku yang lagi sedih. Tentu hal itu diketahui oleh mbah putri.


"Kamu kenapa le-cah bagus , kok sedih gitu"


Apa kataku, pasti mbah putri menanyakan tentang keadaanku. Kesedihanku pasti sangat kelihatan sekali.


"Kamu dari mana le-cah bagus?" Tambahnya. Tadi aku gak pamit karena buru buru, mbah putri lagi memasak air panas untuk Riko mandi.


"He he heee,,, gak kok, aku gak sedih. Ini, anu- tadi, aku dari rumahnya Ferdy" terangku terbata juga, tapi tak ada yang ku tutupi kecuali pertengkaran kecilku sama Riko terakhir Ferdy. Itu semua karena kesalah pahaman. Jika Ferdy memang seperti itu maka hal yang harus ku lakukan yaitu menghindari nya. Apa itu tidak terlalu kejam dengan apa yang dilakukannya selama ini dirumah ini, membantu tanpa pamrih. Banyak waktu yang diluangkan disini.


"Le-cah bagus, sepandai apa pun kamu menyembunyikan kesedihanmu dari simbah putri, tahu. Katakan ada masalah le-cah bagus, hmmm,,,"


Apa yang harus ku katakan lagi pada simbah putri. Beliau lebih tahu apa yang ku sembunyikan sepandai apa pun telah ku tutupi tetap akan ketahuan.


Air mataku tak bisa ku tahan lagi, simbah putri mendekatiku, mengusap air mataku, merasakan kesedihan yang rasakan.


"Kamu kesini untuk liburan serta bersenang senang bukan. Kenapa kamu biarkan hatimu sedih?. Pilihan banyak, pilih salah satu dan/dari siapa hatimu merasa tentram le-cah bagus" nasehat simbah putri bijak, tidak ingin aku larut dalam kesedihan yang mendalam.


Ku tarik nafas dalam dalam...


'Benar, ucapan simbah putri, aku tidak boleh sedih hanya satu hal yang belum nyata. Hupfff,,,'


Simbah putri menatapku, mengangguk pelan serta tersenyum penuh makna.


"Terima kasih mbah putri"


Ku peluk wanita tua ini yang dapat membuatku tegar dalam jalani hari hariku saat aku berada disini.


"Mbah putri, kemana Riko?"


________________


Sl 07/02/2023



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.