287

 Bab 287.


*****


Bagaimana aku bisa berbohong pada mbah putri, sudah banyak makan asam garam kehidupan yang dilaluinya, tentu akan mudah untuk menebak perasaan seseorang karena itu menurut pengalamannya. 


Aku lagi ada masalah dengan Riko.


Rasanya sulit untuk menyembunyikannya, akan percuma saja.


"Riko kemana mbah?" tanyaku untuk mengalihkan pembahasan karena aku tidak mau larut dalam suasana yang tidak mengenakan terlebih mbah putri makin tahu persoalan yang ku hadapi, nanti.


"Dikamar untuk istirahat. Tadi pamit cari kamu. Saat kembali ku lihat wajahnya muram, seperti ada masalah. Mbah tanya cuma diam saja. Coba kamu tanya ada apa Le?"


Gegas, aku pun ke kamar lihat keadaan Riko karena mbah putri kelihatan khawatir.


"Bikin ulah, lagi" gumamku bersungut dengan kelakuannya. Mendatangi kamar buat istirahat Riko. Ingin lihat keadaannya yang kata simbah putri kelihatan kusut. Salah siapa bikin ulah, kini dapat masalah puyeng, bawa bawa yang lain. Dasar!.


Ku lihat Riko dalam keadaan miring serta diam saja. Tidurlah?


Hati ku mendadak berdebar, ada rasa yang menyeruak. Aku tak ingin egois, tapi ada hal yang membuatku iba padanya. Selama ini banyak hal yang kurang baik yang dilakukanya terhadapku. Haruskah aku memaafkannya? Bahkan, hal itu tidak mungkin aku lupakan seumur hidupku. Aku tak yakin jika bisa nerima Riko ikhlas karena sejak awal aku sangat membencinya. Aku hanya memberinya pelajaran setimpal atas apa yang dilakukannya terhadap, namun akhirnya kini berbalik 180° sikapnya Riko berubah total. Akan tetapi dibaliknya ada hal yang membuatku ketakutan sendiri dengan sikapnya saat ini.


Ragu....


Saat aku duduk didekatnya, bahkan jika pun aku sentuh, bisa. Tidak ku lakukan, jadi tak enak hati ini. Apa yang musti ku lakukan?.


Cukup ada jeda beberap menit aku tatap dia meringkuk ditempat tidur agak kepinggir. Aku yakin dia merasakan kehadiran. Aku diliputi rasa keraguan. Ada rasa salah, tidak terlalu mendalam namun ku tahan perasaan untuk mengajaknya bicara. Tapi, aku tak enak dengan tanggapan simbah putri kalau aku penyebabnya untuk itu aku ini pastikan kalau aku tidak ada sangkut pautnya. Karena sejak awal aku ingin berkunjung kerumah Ferdy tapi Riko muncul. Kini aku malah bermasalah dengan Ferdy, pemicunya Riko. Bahkan tadi Riko mencium serta melumat bibirku penuh nafsu. Hingga hal tak terduga terjadi, baik Ferdy maupun Riko, dengan rasa nikmat yang ku beri.


Rasanya aku tak ingin mengganggunya lagi tidur biar istirahat tenang. Yang tadinya duduk, aku beringsut dari ranjang ingin keluar kamar.


Pass aku berdiri tanganku dicekal...


Kuat, bahkan tak bisa lepas.


Terkejut...


Apa apaan ini maksudnya?


"Lep-lepaskan aku!" seruku tertahan. Ku lihat Riko masih terpejam dalam keadaan terlentang.


"Mau kemana? Disini saja, temani aku. Aku rindu kamu" katanya lirih menarik ku hingga aku jatuh diatas tubuhnya. Matanya terpejam rapat.


Debaran tak menentu timbul dan itu sangat cepat...


Ku tepis sebisa aku bisa, tak ingin memupuk rasa ini hingga subur karena akibatnya akan FATAL.


Ku rasa serta debaran nya begitu terasa. Kini aku didada bidangnya. Jantungnya tak menentu detaknya.


"Rik,,," aku berusaha melepaskan rangkulannya yang kuat diatas tubuh nya.


Ku gigit dadanya karena tidak mengindahkan peringatan ku, bahkan erat peluknya.


"Awwhuuuuhhhhh,,,,!" serunya tertahan dibarengan tertawa lirih.


Dasar ya, dalam keadaan seperti ini masih saja bercanda. Gak lucu...


Ku putuskan untuk keluar kamar saja, mood tidak baik baik saja.


Kenapa waktu berjalan melambat, atau hanya perasaanku saja merasa kalau waktu seolah tidak berjalan.


Lagi, ketemu simbah putri sedang STW di ruang tengah ditemani Angga dan mas Surya tampak sudah bersih pun pakaiannya tampak santai. Enggan untuk tanya dari mana.


Simbah putri yang mengerti keadaanku, mungkin yang lain merasa tak enak.


"Bagaimana le-cah bagus?" Tatap mbah putri ingin tahu.


"Tidur mbah" jawabku singkat bersitatap dengan beliau tak ingin ada protes yang gak baik.


Mbah putri menarik nafas pelan, ada sirat kecewa...


"Kamu jujur, tapi ada bumbu bohongnya"


Ku terka juga apa, simbah putri pasti tahu apa yang ku sembunyikan. Ku hembuskan nafas pelan.


"Selesaikan baik baik supaya tidak berlarut larut Le" nasihatnya. Pasti ada maksudnya, tapi aku tak bisa menelaahnya, selama yang cari gara gara Riko dulu. Gensi bila harus aku minta maaf terlebh dahulu pada Riko, akan besar kepala nantinya. Dia kan punya kepala besar bawahnya, he he heee,,,


Tentu simbah putri mengerut memperhatikan ku. Aku berpikir tentang Riko hingga buatku tertawa dalam hati, senyum terukir. Maaf mbah, tak ingin mbah jadi pikiran padaku.


Terlebih lagi aku tidak banyak membantu karena aku berada jauh di Jakarta. Selama ini Ferdy lah yang ada buat bantu simbah putri, merawat sapi sapi juga ternak lain nya serta hewan lainnya.


"Iya mbah" balasku singkat. Diperhatikan oleh Angga dan mas Surya. Tentu tidak tahu apa yang terjadi, juga enggan untuk bertanya.


Keduanya saling pandang, penuh tanya. Hanya diam tanpa berkomentar apa apa.


"Dek" sapa mas Kharisma yang baru datang dari arah dapur karena sumur serta kamar mandi dari arah sana, tersenyum lebar. Ada kerinduan begitu dalam tersirat dari pancaran matanya.


"Mas,,," jawab ku tersenyum renyah. Ingin peluk rasanya, kangenku begitu dalam, tapi disini ada yang lainnya. Jadi perasaan itu ku tahan.


Tempat duduk hanya ada didekat mas Kharisma, aku merasa gak enak dengan yang lainnya juga mbah putri.


Entah mas Kharisma sudah mengutarakan maksudnya pada mbah putri belum, ingin menetap disini. Entah punya maksud atau memang benar benar ingin memperbaiki masalalu.


Akhirnya satu satunya yang ku lakukan duduk didekat mas Kharisma yang kini tersenyum penuh arti, itu hanya sebentar, mungkin takut ketahuan yang lainnya. Aku juga tidak boleh pih pilih disini karena ketiganya saudaraku.


"Dari mana saja mas?" Tanyaku tatapku mengarah padanya.


"Merumput dek, tadi bareng bareng jadinya cepet. Rencananya besok nampak, tadi sekalian lihat karet" jawabnya. Ternyata keadaan sepi pada pergi cari rumput. Kini tanggung jawab kini di pikul oleh mas Kharisma yang niat awalnya ingin tinggal disini.


Kalau Angga dan mas Surya, belum tentu seperti mas Kharisma karena punya kehidupan serta cita cita sendiri.


"Dek tadi aku lihat sungai, kayaknya ikannya banyak. Gimana kalau sore nanti kita mancing, mau?" Ajaknya antusias. Pikiranku sudah tentu ingat kenangan saat aku mancing bersamanya dan suatu hal terjadi dipinggir sungai. Disaat senja hal paling mengesankan terjadi. Cukup indah untuk dikenang bahkan tidak bisa pupus dari pikiran sampai detik ini, wa


Lalu dimana Alex? Pikiran itu muncul tiba tiba.


Sedari tadi pagi saat aku pamit kerumah Ferdy aku tidak melihatnya.


Atau....


_________


Sl 07/02/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.