288
Bab 288.
*****
Entah dimana keberadaan Alex saat ini, mungkin cari GEBETAN ataupun TEBAR PESONA disekitaran tempat tinggalku pada cewek cewek disini yang belum terkontaminasi virus BUCIN. Kalau hal itu terjadi maka gadis gadis disini akan terpesona, lalu rusak, diperawani oleh Alex. Kalau sampai hal itu terjadi maka aku akan ambil tindakan sangat TEGAS padanya. Bila perlu aku USIR kalau sampai hal itu dilakukannya. Awas saja!. Rasanya aku sudah geram jika memang itu benar adanya. Tunggu saja apa yang terjadi setelah aku bertemu nanti. Huuffff ....
Harus bersabar menghadapi PEJANTAN UGAL UGALAN itu. Yang kandang bikin tensi naik turun, tapi juga banyak naiknya kalau sikonnya seperti ini.
"Ada yang tahu dimana Alex?. Mas Kharisma, mas Surya, Angga,,," ku tatap satu persatu. Ekspresi biasa dengan gelengkan kepala, tidak tahu.
Bodoh...
Ku cari hpku, ku pencet nomor milik Alex.
Alex dimana saat ini. Apakah dia jujur atau mungkin berbohong.
*Aku lagi main main ditempat orang, hmm,,,* jawabnya diseberang. Seperti ada yang tidak beres dengan Alex.
"Bisa gak. Cepet!"
*Sebentar lagi, bawel banget"
"Kalau gak bisa ku bilangin sebaiknya kamu pulang saja"
*Iya, iya, ini pulang. Huuhhh!*
Sepertinya Alex kesal saat aku paksa dia untuk segera pulang. Terlebih ini hari sudah siang, akan beranjak sore.
Ku matikan tanpa memberi salam juga persetujuan...
"Kemana dek?" Yang bertanya mas Kharisma yang lainya bias saja.
"Gak tahu mas, mungkin cari korban dia? Kalau sampai bikin ulah disini membikin nama buruk, aku gak akan segan segan buat bunuh dia, ku buang ke kali macak!" suaraku meninggi bersungut kesal karena kelakuannya selama ini bermain dengan cewek buat jadi korbannya, itu yang membuat aku khawatir. Jadi aku tidak ingin hal itu terjadi.
"Katanya Riko gak lagi sakit dek" tanya mas Kharisma lagi, aku yang duduk disampingnya aku mengangguk.
"Tapi sudah mendingan. Sebenarnya aku khawatir mas, tapi Riko nya lagi istirahat tadi" jelas ku lagi tentang kondisinya saat ini.
"Gak dibawa ke puskesmas aja mas" Angga ikut menimpali sedari tadi cuma diam memperhatikan.
"Iya, nanti malahrepot" kini mas Surya angkat bicara. Ada motor Yamaha Tuji serta motor cewek juga terlalu bagus yang dulu untuk aku sekolah hingga aku pindah ke Jakarta di ortu kesana. Itupun dengan berat, hingga masalah datang bertubi tubi sampai ku merasa ada penyesalan, hingga akhirnya aku bisa nerima karena ku balas mereka.
"Aku gak mau ngatar" protesku. Bukan tanpa alasan, karena aku tidak ingin dekat lagi. Aku ingin tenang tidak ingin ada masalah lagi. Aku sudah bermasalah dengan Ferdy juga Riko. Tidak ingin menambah lagi.
Semua saling pandang siapa yang akan ngantar Riko, orangnya kan rewelan, belum tentu mau diajak kepuskesmas. Yang jadi masalah jika ngadu keorang tuanya. Urusan bisa runyam.
"Mas Surya" tegasku, karena hanya dia yang cocok buat antar Riko. Tinggal Riko nya mau apa gak. Kalau nanti minta diantar sama aku. Padahal aku malas dekat dengannya.
Lihat saja nanti...
Kini aku mau lihat keadaannya, bila memang harus berobat, karena hujan hujanan.
Aku pun ke kamar diikuti tatapan yang lain.
Siang sudah terik. Karena aku habis bakda duhur mau mancing ke kali macak bareng mas Kharisma, ingin bernostalgia lagi. He he heeee,,,,
Suhu tubuh Riko cukup lumayan panas, harus segera dibawa kepuskesmas, terlebih disini jauh dokternya jadi tidak ada pilihan, toh bidan disini banyak yang cocok karena resep obatnya masih standar bukan dari dokter yang tinggi dosisnya.
"Rik, bangun Rik, kamu harus berobat Rik" tentu aku mengkhawatirkannya.
"Hesshhh,,," desisnya kedinginan yang menyerang. Padahal suhu tubuhnya panas. Mungkin kisaran 37°c.
Ada rasa bingung, tadi sudah debat hebat dengan nya begitupun dengan Ferdy.
Fer,,,
Entah bagaimana nantinya aku bersikap pada nya karena ada sedikit cekcok.
Ada rasa bersalah ku rasa tentang Ferdy. Tapi rasa egoisku tinggi.
Sekali lagi ku bangun Riko. Matanya terbuka, malas. Terlihat sekali sakitnya padahal tadi saat dirumah Ferdy tidak selemah ini. Tapi kenapa sekarang kelihatan parah. Ada yang gak beres.
"Kamu harus berobat Rik, tubuh kamu demam" kataku panik lihat keadaannya. Dia malah tersenyum tawar.
"Kamu mengakhawatirkan aku,,," katanya lirih yang mirip desahan. Hal itu membuat iba akan keadaannya yang lemah saat ini. Tadi padahal debat, adu mulut, kenceng, bahkan emosi keadaan baik baik saja. Tapi kini aku kasihan supaya cepat sembuh. Aku tidak akan macam macam buat membuktikan keadaannya saat ini yang benar benar sakit.
"Aku gak akan mati kok" pungkasnya. Aku yang sedih melihat keadaannya, bisa bisanya bercanda disaat seperti ini. Siapa yang gak kesel dengan sikapnya yang sok kuat. Padahal lemas, nahan sakit seperti itu. Bibirnya biru pucat tak dialiri darah.
"Mas, mas, Angga, mbah putri,,,!?" teriakku panik karena mata Riko tampak memutih. Masih saja dia bisa tersenyum dipaksakan.
"Aku senang,,, kamu,,, perhatian padaku,,, seperti ini,,," setelah itu mata Riko terpejam rapat.
"Mas, mas,,, Angga ,,, mbah putri,,,!" teriakku sekali lagi, histeris. Hingga kini mereka yang panggil muncul serta masuk kedalam hingga kamar kini terasa sesak.
"Ada apa,,,?" Hampir berbarengan mereka bertanya. Tapi setelah melihat keadaan Riko mereka terdiam.
Lalu wajah panik terpancar dari mereka yang menatap kearah Riko tak percaya.
"Ya Allah cah bagus,,," jerit simbah putri memeriksa keadaan Riko yang terpejam dengan wajah pucat bibir membiru terkatup rapat.
"Cepat bawa ke puskesmas. Demamnya tinggi!. Surya, Angga kalian cari cacing kalung, cepat! Kharisma, Bening antar Riko, cepat!" teriak mbah putri dalam kepanikan.
"Iya mbah putri" sahut mas Surya dan Angga keluar kamar. Mas Kharisma dan aku mengantar Riko ke puskesmas jaraknya hampir satu kilo meter.
Mas Kharisma mengangkat tubuh Riko juga ku bantu begitu pun simbah putri kalang kabut.
"Bawa motor cewek saja, motor tujinya gak ada joknya" perintah beliau melihat kondisi motor cowoknya gak layak dibawa karena motor buat keladang atau pun kesawah.
Aku tidak tahu mas Surya dan Angga mencari cacing kalung dimana, terlebih kalau musim hujan cari cacing kalung sangat mudah, beda ketika musim kemarau akan sangat sulit untuk mencarinya.
"Biar mbah dirumah mau bikin ramuan untuk penyakit typus nya nak Riko. Kalian bawa saja ke puskesmas bidan Nur Yanti, cepat!" Titah mbah putri karena akan bikin obat herbal racikannya sendiri. Karena kondisi nya Riko perlu penangan medis.
Riko masih dalam keadaan pingsang saat aku dan mas Kharisma membawa nya ke puskesmas.
Setelah periksaan singkat, oleh bidan Nur Yanti akhirnya Riko diputuskan untuk di infus saja melihat kondisi yang kurang baik.
Kini aku duduk diteras depan rumah sekaligus klinik milik bidan Nur Yanti yang sangat luas.
Tentu aku sedikit tenang lihat kondisi Riko sudah dapat penanganan dari Bu Nur.
Kodisi Riko tenang tapi belum sadar juga. Itu lebih baik.
Kami terdiam, untung tidak ada pasien lain, jadi keadaan benar benar tenang. Sesekali mas Kharisma menatapku.
"Kamu kelihatan khawatir banget dek dengan keadaannya?" tanya mas Kharisma didekatku.
"Tentu mas tahu alasan kenapa? Ini menyangkut pekerjaan ibu dan ayah dirumah nya Riko. Bahkan mamanya Riko ngancam kalau sampai terjadi apa apa sama Riko, mamanya terutama tidak akan terima bahkan akan nuntut. Itulah yang ku takutkan mas" tentu aku sedih, ku coba untuk menahan isakku.
"Kenapa sih bulek dan paklek gak pulang aja. Betah banget kerja disana?" Sungutnya menumpahkan rasa kekesalannya. "Mana Riko merepotkan banget disini. Sudah tahu typus, eh malah hujan hujanan sekarang kambuh lagi kan. Seharusnya jangan salahkan air hujan yang jadi penyebabnya. Air hujan itu rihmatal lilngalamin, kok malah menyalah kan air hujan. Harusnya jangan hujan hujanan biar gak sakit. Mana sok kuat. Gak tahunya KO" lanjutnya berapi api.
"Sudahlah mas, semuanya sudah terjadi"
",,, Ooo, gak bisa. Kalau nanti dia sembuh, lihat aja nanti" ancamnya. Entah ancaman apa yang akan dilakukannya pada Riko, nanti.
Keheningan melanda, sejenak....
_________________
Km 09/01/2023.
Komentar
Posting Komentar