289. Rencana mancing di kali gagal.

 Bab 289. Rencana mancing di kali gagal.


★★★★★★★


"Dek, mamas minta maaf ya, rencana buat mancing dikalinya gagal" desah pelan mas Kharisma merasa bersalah dengan keadaan yang terjadi.


"Seharusnya aku mas yang minta maaf. Kalau Riko gak sakit kita bisa mancing di kali" kataku. Menatapnya dengan senyum manisku membuatnya terpana.


"Kamu tadi terlihat begitu panik, kamu ada rasa sama Riko dek"


Ku tatap tajam wajah gantengnya yang eksotis. Karena kulitnya sawo matang, bahkan kontolnya saja panjang kecoklatan dengan kepala warna merah maroon yang menggiurkan. Entah sekian lama aku tidak bertemu apa mamasku ini masih ada menyimpan rasa untukku. Karena ketika dekat seperti ini, dia tampak menarik nafas berkali kali seperti ada ganjalan yang disembunyikannya. Apa dia cari pelampias lain atau tetap setia padaku. Jika memang dia setia tidak cari pelampiasan, tentu dia akan ngocok kontolnya untuk meredakan birahinya. Ah, kenapa aku mikir kearah situ, itu haknya untuk melakukan apapun juga tindakan yang dimaunya. Rasanya aku malu juga enggan jika harus mengungkit yang pribadi seperti itu.


"Ada apa dek, melihatku sebegitunya? Kamu mikir tentang aku ya,,,"


"Ah, eh,,, hmm,,, gak kok" kilahku sekenanya.


"Jangan bohong, aku tahu kok kalau kamu sedang berargumen dalam dirimu, tentang aku kan" tebaknya, bikin aku malu setengah mati.


"Siapa juga. He he heee,,," aku hanya tertawa lirih untuk mengalihkannya.


",,,, Ow, awas ya,,," seperti mengandung ancaman. Tubuhnya ditangkapnya, lalu...


"Ha ha haaa,,, awww, mas geli. Mas jangan,,," seruku sekenanya karena geli yang tak tertahan ketika aku digekitiki olehnya hingga tanpa sadar aku pun memegang bagian bawahnya. Hal itu menyebabkan langsung menghentikan gelitikannya. Ternyata kontolnya udah ngaceng maksimal dibalik celana serta cdnya.


"Dek, dek,,," dia coba hentikan aksiku. Tapi tak ku gubris. Tadi mengerjaiku hingga aku sampai lemas karena tertawa, kini giliranku yang mengerjainya dengan rasa kenikmatan. Terlebih diteras depan rumah kelihatan sepi banget, sehingga aku untuk melancarkan aksiku.


Ku elus elus penuh rasa dibagian atas celananya, mas Kharisma makin mendesah keenakan.


Matanya merem melek menikmati sensasi yang menjalari sekujur tubuhnya. Tak ku sia siakan bibirnya yang sedikit terbuka langsung ku lumat, tentu tidak bisa menghindarinya. Tanganku asik meraba dan mengelus bibirku melumatnya bibirnya yang kemerahan padahal mas Kharisma suka merokok tapi bibirnya tidak hitam. Tentu dia tidak siap apa yang ku lakukan. Reaksi tubuhnya menegang hebat, mengejan karena aku tahu kelemahannya ada pada bibirnya, dia tidak akan kuat menahan muncratan pejuhnya saat bibirnya ku lumat lebih dalam. Aku tidak peduli jikapun dia harus crot dicelananya. Itu akibatnya main main dengan ku, akibat yang harus ditanggungnya.


"Hmmm,,, " gumamnya tak bisa berbuat apa apa, mendorongku pun tak bisa, otaknya sudah buntu. Matanya terpejam rapat, nafasnya tertahan.


Lumatanku makin kuat, detik selanjutnya....


Mata mas Kharisma seperti terbalik. Dan ...


"Oughhhhh,,,," lenguhnya panjang, tertahan.


Matanya menatapku tajam, ku lepas ciumanku dibibirnya, dia nampak menarik nafas dalam dalam. Butuh beberapa saat sampai nafasnya normal kembali.


"Yahh,,," desahnya lirih. Ada suratan kecewa dari pancaran matanya, karena baru saja ngecrot dicelana.


Aku hanya nyengir, tanpa rasa bersalah. Membiarkannya, dan sama sama diam menikmati suasana sore yang akan turun.


"Dek kenapa kamu cium aku" protesnya.


"Aku sudah lama nyimpenya, udah empat bulan lebih, aku gak keluar. Kamu tahukan, aku gak bisa nahan kalau kamu cium. Jadi crot kan,,," lanjutnya, ada rasa kecewa yang dalam yang terasa. Aku bahkan tidak tahu juga sempat bertanya akan hal, kini semua telah dibeberkan nya dihadapanku.


"Mungkin, siapapun yang cium aku, aku tidak akan ngalami hal sama seperti kamu cium aku" kata katanya membuatku makin ngerasa bersalah.


Masih untung keadaan lengang, bicara bisa bebas.


"Mas maaf, tadi sebenarnya aku kepikiran hal itu, aku mau tanyakan sama mas, tapi mas selalu gitu. Bikin aku emosi terus, jadi kepaksa kasih pelajaran. Maaf ya mas,,,"


"Sebenarnya aku ingin kasih saat kita mancing di kali. Tapi, sekarang terlanjur, terbuang sia sia" desahnya pelan. Tentu aku makin dirundung rasa bersalah atas apa yang ku lakukan.


"Mas, aku tidak tahu. Maafkan aku mas, ku mohon maafkan aku. Aku gak tahu, aku terbawa suasana, tadi"


"Bahkan aku tidak bisa nyegah apa yang kamu perbuat dek, gak bisa. Sebesar apapun aku berusaha nolak pun aku gak bisa berbuat apa apa, entah kenapa itu terjadi" ujarnya terus mengungkap perasaannya, hingga hal itu makin membuatku terenyuh dalam kesalahan yang dalam.


Aku hanya bisa terdiam, kini. Sesekali ku pejamkan mataku, aku tak berani menatapnya lagi hingga keheningan terasa.


Terkejut, saat tanganku digengam.


Refleks, ku tepis kuat genggamannya hingga lepas, dalam diam. Kini mas Kharisma menatapku dalam kebingungan terlebih air mataku tak bisa ku bendung lagi.


"Iya, mamas memaafkanmu. Karena dengan alasan tidak tahu. Aku belum sempat curhat semua ke kamu, karena kita punya urusan masing masing. Karena kamu ada masalah" suaranya agak tinggi.


Pantas saja, ia terlihat sangat kecewa saat mengantar Riko kesini, ternyata alasannya seperti itu. Mancing di kali macak gagal, karena rencana yang disusunnya matang matang akhirnya pupus ditengah jalan, penyebabnya Riko.


Andai aku tahu, mungkin hal ini tidak akan terjadi.


Lebih baik aku pulang saja, rasanya aku SUNTUK disini, mas Kharisma telah memaafkanku jadi tidak ada ganjalan lagi. Terlebih lagi, ini sudah saat asar jadi aku mau mandi, entah nanti mau nginap disini atau tidur dirumah saja.


Aku berdiri, akan beranjak pergi...


"Dek, mau kemana?" tanya mas Kharisma dengan rasa penyesalan. Dia nampak terdiam, entah apa yang ada didalam hatinya. Mungkin lagi menyalahkan dirinya sendiri.


"Dek pulangnya bareng, to. Nunggu yang lain kesini buat gantian nunggunya" kata katanya memelas, rasanya aku jadi tak tega. Mataku masih basah saat menatapnya, membuatnya terenyuh melihat aksinya yang tak ku buat buat.


"Dek mbokyo Ojo sedih gitu. Mamas ngerasa bersalah"


Ku angkat tanganku...


"Mamas gak usah ngerasa bersalah, aku yang salah telah goda mamas. Tapi, tenang aja, setelah ini dan untuk selanjutnya, mamas gak akan aku ganggu lagi"


Mas Kharisma melongo tak percaya dengar penjelasanku yang spontan terlebih dia tahu apa arti dari ucapanku tidak pernah main main terlebih dibiarkan berlarut larut tentu hal itu akan berlangsung lama.


"Dek, dek, jangan gitu to. Mamas salah, Mamas minta maaf dek. Kamu jangan gitu dek" suaranya sampai serak menahan gejolak dalam dadanya. Lalu, kemudian memeluk merasa tidak enak. Tentu aku dalam rasa bersalah, seakan aku tidak bisa memaafkan kesalahan yang telah ku perbuat. Aku janji tidak akan ganggu dia lagi, supaya aku tidak diliputi rasa bersalah yang kepanjangan.


Ku gelengkan kepala ku...


"Aku ingin segera balik lagi ke Jakarta, mas" keluhku pelan. Rasanya sudah banyak kepahitan serta kesalahan yang ku lakukan disini.


Aku tidak MENAMPIK jika dimanapun aku berada pasti, selalu ada masalah yang datang, entah itu darimana datangnya. Terlebih kini aku bersama saudara saudaraku yang aku ingin tenang dan bahagia. Tapi, rasa kebahagiaan yang ingin ku raih rasa sangat sulit. Kalau seperti ini, aku ingat akan simbah kakung yang kini berada di dunia mimpi, walaupun kesepian tapi simbah kakung bahagia disana karena tidak perlu repot repot lagi, tidak perlu makan, minum, buang air besar atau pun yang lainnya, yang ada hanya kebahagiaan hingga AKHIR ZAMAN.


"Apa dek,,,?" ucapnya dengan rasa tak percaya.


________________


Km 09/02/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.