290
Bab 290.
*****
Dot, DOT, dooottttt,,,,
Deru suara motor Yamaha tuji terdengar bising, aku tahu siapa yang bawa, pasti mas Surya dan Angga. Benar dugaanku. Dibelakang....
Kami yang sitegang menatap kearah datangnya motor, ternyata benar dugaanku kalau mas Surya bonceng Angga. Ada simbah putri yang dibonceng Alex dibelakangnya.
Ternyata masih hidup manusia, Alex. Panjang umur berada disini. Kemana saja tadi, sore baru kelihatan batang hidungnya, nyengir lagi, seperti orang sinting. Sok kegantengan gitu. Lihat aja nanti kalau sampai macam macam disini, maka aku akan beri pelajaran yang sesuai. Sekarang dia bisa tenang tenang gitu. Sekilas ku tatap tajam.
Tentu mas Kharisma tidak lagi menanyakan, atau protes tentang kenekatanku untuk balik ke Jakarta secepatnya.
"Le- bagaimana keadaan nak Riko?" tanya simbah putri setelah turun dari motor, diparkir dekat motor yang ku bawa bersama mas Kharisma. Menatap kami berdua secara bergantian. Tentu aku tidak menjelaskan masih kesal dengan mas Kharisma.
Mereka yang datang, mendekat ingin tahu info lebih lanjut tentang Riko.
Ku lihat ditangan simbah putri ada sebotol Aqua kecil ramuan herbal yang dibuatnya, berwarna kuning kehitaman pekat, pasti itu cacing kalung dicampur kunyit serta daun Dadap srep ditambah madu. Itu obat TYPUS paling AMPUH untuk mengobati penyakit itu sekalipun sudah AKUT. Rasanya sudah bisa ku ketahui, bagaimana rasa dari ramuan yang dibawa oleh simbah putri yang akan diberikan pada Riko, nanti, untuk diminum. Aku bergidik geli membayangkan obat herbal itu yang rasanya gak enak banget.
"Sudah mendingan mbah putri" yang menjawab mas Kharisma. Sebenarnya aku ingin segera pergi dari sini, rasanya aku sudah suntuk disini. Tapi aku tak merasa gak enak dengan- terutama mbah putri, takutnya punya persepsi salah terhadapku.
"Mbah putri masuk saja. Tadi belum dikasih obat karena Riko belum sadar " jelas mas Kharisma lagi.
Sebenarnya aku ingin menyatakan, 'PAMIT'- Ku lihat wajah mas Kharisma terlihat CEMAS.
Mas Surya dan Angga menatapku jeli, tahu aku sedang tidak baik, tapi hanya diam.
"Le- ada apa?" Tanya simbah putri tentang keadaanku.
"Mbah putri, aku mau pulang dulu, mandi. Nanti kesini lagi, mbah dan yang lainnya nunggu" terangku mencari alasan supaya aku bisa pulang, secepatnya, malah.
Mbah putri tentu tidak memberi alasan kalau aku punya keinginan. Terlebih mencegah ku untuk tetap disini. Namun, dibalik tatapan wanita yang sudah cukup berpelangan dalam bidang kehidupan tentu merasakan sesuatu yang kurang baik. Harap maklum.
"Mau sama siapa le-? Atau kamu akan sendirian. Mas- mu juga belum mandi, kenapa gak bareng sekalian. Sapi-nya tadi belum dikasih makan malam, juga hadiah di diangi, kan sekarang banyak nyamuk, kasihan sapinya kalau harus dirubungi oleh nyamuk" titahnya.
Tak bisa aku menolaknya, alasannya sangat tepat terlebih dirumah tidak ada siapa siapa, Ferdy juga ada sedikit masalah sama aku. Apa mungkin Ferdy nanti kerumah. Mas Kharisma hanya tampak tersenyum penuh arti karena simbah putri yang meminta. Ku hembuskan nafas berat. Rasanya aku sudah malas dan lelah berhadapan dengan masalah.
"Le- kenapa, kamu kelihatan gak suka? Ingat Le-, kita semua saudara, simbah tidak mau lagi kehilangan mereka,,," muka mbah putri terlihat sedih. Aku tak tega, jadinya. Selama ini beliau selalu didera masalah yang bertubi tubi, kehilangan simbah kakung.
"Iya mbah putri" angguku lesu tidak bisa berbuat apa apa. Biar semua mengalir apa adanya.
"Ma, jaga adikmu. Sudah banyak masalah yang dihadapinya, kamu jangan menambah masalah lagi, kasihan adikmu, tujuan kesini mau liburan bersenang senang tapi malah tambah masalahnya. Ya udah, sana pulang, jangan lupa sapi dan hewan yang lainnya, pasti kan semua nya masuk kandang"
"Iya mbah putri" sahut mas Kharisma. Menarik tanganku untuk segera pulang.
Aku tidak memperhatikan yang lainnya lagi, aku larut dalam perasaanku. Bahkan saat tanganku ditarik oleh mas Kharisma seperti tidak merasakan, bahkan saat naik diboncengan hingga berlalu dari pelataran rumah Bu Nur, semuanya tak ku ingat. Aku blank, pikiranku tidak bisa untuk berpikir lagi.
Tersadar saat aku telah sampai diteras rumah yang keadaan mulai Rembang sore.
Gegas, aku masuk kedalam karena waktu sholat asar hampir habis.
Tidak butuh waktu lama aku telah selesai mandi serta menunaikan tugasku.
Aku tidak melihat siapa siapa, begitupun mas Kharisma, entah kemana dia.
Setidaknya keadaan tenang, lengang.
Hari berganti temaram, terdengar suara takhrim dari toa masjid. Nanti malam, malam Selasa.
Ku tutup jendela, juga pintu serta mulai menghidupkan lampu disetiap sudut dan ruangan hingga kini terang oleh lampu. Beberapa saat kemudian, adzan berkumandang. Aku bersiap untuk menunaikan tugasku.
Masih juga mas Kharisma tidak kelihatan batang hidungnya, aku mulai gelisah, kemudian aku mencari kebelakang di sumur.
Baru juga aku keluar, dia sudah nongol diambang pintu dapur selesai mandi. Aku merasa lega melihatnya.
"Ada apa dek, kok gelisah gitu. Cari mamas ya, gak kemana mana kok. Tadi, kasih minum sapi sapi, juga masukin ayam dan entok kekandang" godanya, dia tersenyum simpul. Kayaknya semua yang kulihat hari itu persis orang gila, kerjaan senyum senyum gak jelas.
Wajahnya terlihat segar hingga pancaran aura kegantengannya maksimal. Terlihat cuek dengan keadaan, begitu santainya. Merasa aman dan nyaman tak ada gangguan.
"Mas sembayang gih" kata ku kemudian karena seperti mengulur waktu. Karena magrib itu sedikit, bahkan hanya punya waktu setengah jam-an. Namun tanggapannya berbeda dan bikin aku jadi malu sendiri. Tapi, aku senang kalau dia memang benar benar berubah total. Alhamdulillah ya Alloh....
"Iya dek, aku gak lupa kok. Kamu sudah,,,"
"Sudah" jawabku singkat. Aku kira tadi kemana, terus aku susul dan lihat sudah selesai mandi, ngajak berjamaah. Padahal tadi sempet jengkel, tapi aku gak bisa terus marah padanya, walaupun dia pernah punya kesalahan yang FATAL.
"Padahal mau aku ajak sholat jamaah. Tapi gak apa apa" terlihat rona kecewa.
Berjalan melewatiku dengan santai...
Hatiku cenat cenut tak karuan...
Ku lirik mas Kharisma, serta ku ikuti dari ekor mataku sampai dia masuk kamar.
Ku tutup pintu belakang...
Cukup lama, aku menunggunya. Entah, akan kemana nantinya?
Aku duduk santai diruang tengah, ku nyalakan tv, tapi tidak ada minat untuk melihatnya, hanya untuk mengusir rasa kejenuhan.
Mas Kharisma keluar dari kamar, terlihat ganteng maksimal. Senyum sumringah.
"Dek, makan yuk" ajaknya. Terlihat santai dengan pakaian santai, kaos oblong serta celana berbahan.
Tanpa kata ku iyakan saja...
Makan dalam diam, hingga selesai.
"Dek kenapa diam saja dari tadi?" katanya merasa tak enak dengan keadaan.
"Sariawan!" ketusku.
"Beli adem sari" candanya menimpali.
"Gak lucu" sahutku cepat.
"Dek, gak usah ngambek terus Napa?"
Tak ku gubris, lebih baik diam...
Tok, tok, tok,,,
Pintu rumah, diketuk dari luar.
Kami saling pandang....
____________
Jm 10/02/2023
Komentar
Posting Komentar