291. DiSAAT MATI LAMPU.
Bab 291. DiSAAT MATI LAMPU...
★★★★★
Sedikit aku sudah menduga siapa yang datang, dengan malas aku meminta pada mas Kharisma untuk membuka kan pintu walaupun tidak dikunci.
"Mas tolong buka pintunya, lihat siapa yang datang?" Pintaku padanya, asik lihat acara tv, walaupun malas lihat acara tv-nya.
"Iya dek" jawab nya singkat, hanya mengulas senyum menawan.
Diam, tidak ku tanyakan siapa yang datang...
Mas Kharisma datang bersama seseorang yang sangat ku kenal.
Keduanya ngobrol, tadi sebentar Ferdy menatapku. Seperti ingin sesuatu...
"Kok, sepi pada kemana mas Kharisma?" tanya Ferdy memastikan.
"Riko sakit, di infus ditempatnya Bu Nur?" jelasnya. Masih ku dengar percakapan keduanya.
"Kok gak ada kabari aku" rautnya terlihat kecewa, kembali menatap ku aku hanya cuek saja. Dilemparkan kesalahan padaku, aku tak peduli.
"Tadi dadakan, Fer, jadi belum sempat kabar kabar" seperti tahu apa yang ku rasakan, mas Kharisma gak ingin Ferdy menyindirku.
"Nanti aku mau kesana bareng teman teman mas. Kamu Bening,,,?" Kata kata Ferdy menggantung, menyadari kalau aku sedari tadi hanya diam. Ferdy hanya menghembuskan nafas pelan. Ada perasaan tidak enak, karena sedang ada sedikit masalah.
"Gak tahu tuh, lagi ngambek sekarang. Ntar juga baik lagi, kalau dikasih DOT"
Aku mendelik kearahnya. Apa maksudnya dia ngomong gitu, dengan senyum MESUM. O, sekarang aku paham.
"Dek, mau kesana gak buat jenguk Riko" tanya mas Kharisma.
"Mas kesana aja, aku mau dirumah aja, jaga rumah. Lebih tenang" jawabku jutek.
Ferdy tercenung, hanya menatapku dengan menelan ludah.
"Gitu mas, Bening kalau ngambek susah obatnya, butuh waktu ekstra buat dia baik lagi moodnya"
"Udah tahu dari dulu, ngapain bikin masalah" potongku cepat, sebagai bentuk protesku. Lagi, Ferdy hanya terdiam.
"Sudah dek, buat apa diperpanjang" ucap mas Kharisma lembut. Kalau tidak tahu sikon, sudah aku remas kontolnya biar gak asal ngomong. Enak aja ngomong kayak gitu, gak ngerasain dihatiku.
"Mas pernah gak dihianati" dia langsung menggeleng. "Mas pernah gak merasa bersalah berkepanjangan hingga mas berjanji akan memperbaikinya" kali ini dia mengangguk.
"Seperti itulah yang kurasakan saat ini. Tidak ada alasan buat aku untuk memberi alasan lagi" ku rasa itu sudah cukup membungkamnya.
Ku biarkan Ferdy menatapku.
"Kalau seperti itu, sampai kapan?"
"Sama seperti mas melakukan kesalahan ketika mas menyerang simbah kakung" mataku merebak kembali. Ingat kejadian itu membuatku tak bisa memaafkan kesalahan yang dilakukannya, bahkan melihat wajahnya aku tak SUDI.
"Dek, dek,,, aku, aku,,,?" Mas Kharisma terlihat panik. Langsung memelukku untuk menenangkanku. Andai ilmu penjerat mimpi ku ada, tentu saat ini jika aku kalap, aku BUNUH dia.
Hatiku gundah, tidak melihat keadaan, yang terpenting hatiku tenang, tidak meluap. Diusap lembut rambut hingga punggungku, untuk menenangkanku saat aku terisak dalam kepiluan. Kenangan akan simbah kakung begitu membekas. Hingga saat simbah kakung dalam keadaan SEKARAT begitu membekas dipikiranku. Saat keadaannya begitu lemas dan lemah terkena serangan mas Kharisma, hingga aku cengkram kuat punggungnya untuk meredahkan kepedihan.
"Tidak. Banjingan kau Kharisma! Kau yang telah menyebabkan simbah kakung sekarat! Aku benci kau! Aku benci kau!" Ku dorong kuat tubuhnya, hampir membuat keseimbangannya goyah, emosiku memuncak hingga batas kesadaranku hilang.
Tubuhku langsung luruh kebawah, ku bekap wajahku. Menangis sejadi jadinya.
Keduanya hanya terbengong melihatku HISTERIS. Tak ada yang berani mendekatiku, yang terduduk dibawah dalam isak tangis. Menangisi keadaanku, juga keluargaku.
Ku rasakan sentuhan lembut dipunggung ku, aku tahu itu sentuhan tangan mas Kharisma. Membimbingku untuk berdiri karena lututku goyah, karena tidak kuat menopang tubuhku.
Langsung direngkuhnya tubuh lemahku dalam dekapan kita dan hangatnya tidak peduli ada Ferdy yang terbengong sedari tadi, berdiri memperhatikan.
"Hiks, hiks, hiks,,, maafkan mamas, hingga membuat sesedih ini" bisiknya lirih, penuh penyesalan, ikut menangis. Aku hanya terdiam dalam kebisuan, meredakan perasaanku yang tadi sempat membuncah.
"Fer, jika kamu ingin jenguk Riko, kamu kesana aja, bareng bareng sama temanmu" secara tidak langsung mengusirnya. Aku memilih untuk diam.
"Iya mas, aku balik dulu ambil motor sekalian ngabari temen temen" pamitnya. Kepergian Ferdy keadaan jadi hening sesaat. Tak ada suara. Hanya terdengar suara binatang malam seperti suara jangkrik juga burung hantu, diselingi suara kodok ngorek. Mungkin malam ini akan turun hujan lebat.
Hingga keadaan tenang, kembali normal.
Aku masih diam...
Diajaknya duduk dikursi, dalam kebisuan.
Diluar angin menderu deru, bergemuruh. Suara binatang lenyap entah kemana.
Terlihat ada sinar berkilau, detik selanjutnya terdengar suara dentuman amat keras...
Berlangsung tiga kali, lalu hujan turun rintik rintik selajutnya curahan hujan tumpah ruah dari langit disertai gemuruh angin yang menderu.
Duaaaarrrrrrrrrr,,,,,!!!!
Langsung mati lampu pln-nya ...
Entah akan berapa lama akan berlangsung pln-nya mati?.
Tubuhku gemetar dalam kegelapan, tanganku diraih olehnya dalam diam serta gelap.
Ku rasakan kembali dekapan hangatnya dalam kegelapan dalam rumahnya, aku hanya bisa memejamkan mata karena tak ada hal lain yang bisa ku lakukan. Yang ada rasa ketakutan yang mencekam.
Ku balas pelukan hangatnya, meredakan jiwaku yang rentan. Ku rasakan ketenangan.
"Semuanya akan baik baik saja, dek" bisiknya lirih, suaranya bergetar.
Cukup lama hal itu terjadi, wajahku berada dalam dada bidangnya yang mampu menghangatkan ku, serta jiwa ku. Bagaimana pun aku coba bertahan tapi rasa keharuanku begitu membuncah. Kali ini aku tak ingin menangis lagi, aku tahan sekuat tenaga. Dari rasa ketakutan yang menjalari jiwa dan tubuhku karena kegelapan yang melanda, akibat mati lampu, PLN.
Mas Kharisma begitu pengertian dan perhatian, terlebih dalam keadaanku saat ini. Aku merasa terpuruk oleh keadaan sendiri.
Dalam DILEMA...
Tidak membiarkanku sendiri dalam takut kegelapan.
Byaarrrrr,,,,
Lampu hidup, aku lega, berharap lampu tidak mati lagi. Karena hujan masih mengguyur lebat dilarang ditingkahi angin yang menderu menimbulkan suara yang ganjil. Sekalipun tidak ada guntur lagi yang ada.
Aku pun langsung menepis pelukannya karena kini tidak takut lagi. Pintu sedikit terbuka, gegas aku pun menutupnya serta menguncinya rapat.
"Dek, gak jenguk Riko?" tanya mas Kharisma hanya ku abaikan. Aku merasa tidak enak perasaanku, entah ada kejadian apa lagi.
Gegas, aku masuk kamar, mencari sesuatu, ketemu. Senyum mengembang, lega.
Lilin, aku hidupin karena aku merasa akan ada yang terjadi setelah ini. Mas Kharisma masih diluar, termenung. Karena tadi ku abaikan saja.
Hingga beberapa saat lama, aku merasa gelisah tak menentu. Hatiku tidak enak. Mas Kharisma sepertinya masih bertahan di ruang tengah, dari tadi.
Hingga....
Lappp,,,,
Lampu mati. Keadaan gelap, karena pandanganku belum terbiasa, sampai aku memejamkan.
"Ibu,,,,!?" teriakku ketakutan.
____________
Mg 12/02/2023.
Komentar
Posting Komentar