292
Bab 292.
******
Aku merasa dunia menjadi gelap, ruangan pun sama gelapnya hingga aku hanya mengingat ibuku, berteriak memanggilnya karena aku sangat membutuhkan sosok ada didekatku. Karena jika aku didekatnya menjadi tenang.
Gubrakkkk,,,
Pintu kamar dibuka paksa dari luar, ku yakin itu mas Kharisma yang sedang panik karena mati lampu lagi untuk kedua kalinya.
"Dek, dek, kamu kenapa, kamu tidak apa apa?"katanya penuh kepanikan, memeluk ku erat untuk menenangkanku.
"Buka mata mu dek,,," pintanya padaku melihat keadaanku yang terpejam.
Diluar masih terdengar hujan sangat lebat, disertai deru angin yang berkesiuran.
Pelan lahan ku buka mataku disaat aku rasakan hatiku sudah tenang kembali rasa takutku sudah hilang. Keadaan temaram karena hanya nyala lilin yang di hidupkan.
Tapi, yang jadi aneh, kenapa mas Kharisma hanya telanjang dada saja, hingga tubuhnya yang atletis nampak berkilat oleh cahaya lilin yang temaram keadaan makin syahdu. Hatiku makin tentram terlebih lihat senyumnya yang menawan. Membuaiku terlena dalam angan angan.
"Dek maaf, tadi mamas tinggal untuk nutup pintu serta jendela. Keadaan gerah jadi mamas lepas baju. Gak apa apa kan?" Senyumnya penuh arti.
"Gak apa apa mas" gelengku, dengan apa yang dilakukan. Walaupun dadaku berdebar tak menentu. Getaran indah itu merambat sampai merasuk ke relung hatiku.
"Sekarang tidur lah, sepertinya hujan akan berhenti lama" pintanya, hanya ku turuti, masih mendampingiku, memegangi ku supaya aku tidak histeris lagi.
Sedari tadi mas Kharisma yang ngoceh bahkan tak satupun yang ku balas. Kini menatapku dalam diam. Bukannya aku tak peduli tapi tadi itu bikin aku shock. Bukan nya aku CAPER padanya. Karena selama ini ibulah yang menemaniku, mendampingiku dalam setiap masalah yang ku hadapi.
"Maafkan atas sikap mas ya dek" mohonnya. Padahal aku belum sepenuhnya ikhlas. Takutnya nanti diulangi lagi.
"Dek, maafkan mamas ya, mamas janji gak akan bikin kecewa kamu lagi" desahnya berat karena aku tidak berkeming. Aku masih betah dalam dekapannya, ku sembunyikan wajahku di dada bidangnya yang tercium aroma manly.
Ditakupnya wajahku hingga aku pun saling bersitatap dengan mata hitamnya yang tajam, penuh makna.
Bagai tersihir aku mengangguk...
"Tidurlah, supaya hatimu tenang, bangun esok biar bugar, aku akan menemani dan menjagamu" angguknya dengan isyarat sorot matanya dengan senyum menenangkan.
"Terima kasih mas" lirihku, hanya yang bisa ku ungkapkan. Hatiku tenang saat aku dibimbingnya.
"Pejamkan matamu, lupakan semua masalahmu, semuanya pasti akan baik baik saja" sentuhnya pada rambutku, mengecup puncak rambutku lembut lalu ke keningku penuh rasa, makin membuat jiwaku tanpa beban. Perhatiannya, buaiannya sungguh tiada duanya. Tak ada yang seperhatian ini padaku selama ini kecuali mas Kharisma bahkan Riko sekalipun tidak melakukan seperti halnya yang dilakukan mas Kharisma. Baik itu Alex, Angga, mas Surya bahkan Ferdy juga seolah tutup mata, hanya sering menyalahkanku.
Mataku terpejam rapat, ku coba untuk lupakan segala beban serta masalahku...
"Hiks, hik, hiksss,,,"
"Hush, hush, hushhhh,,,," mas Kharisma mencoba menenangkanku dari isakan. Merengkuhku dalam pelukan kan hangatnya, karena diluar masih hujan deras, tapi tidak ada ada deru angin. Masih mati PLN.
Sejenak aku terlena, dalam buaian pelukan serta rasa kantuk yang mendera hingga aku pun terlelap.
Entah berapa lama aku tidur, hingga aku terbangun karena seperti merasakan sesuatu?.
Ternyata benar, mas Kharisma tidak ada didekatku. Tentu aku curiga dengan keadaan ini, tapi lampu belum hidup. Lilinnya sudah diganti. Keadaan sepi, serta hawa dingin sangat terasa.
Tertatih, aku turun dari ranjang, ingin mencari keberadaannya karena aku merasa ada sesuatu yang ganjal. Bahkan dengan pelan ku buka pintu kamar supaya tidak menimbulkan suara.
Aku seperti mendengar suara suara orang yang sedang bicara, padahal dirumah ini tidak ada siapa siapa. Entah suara siapa itu? Serta sekarang jam berapa? Hatiku makin berpacu tak menentu saat makin jelas suara suara itu sedang bicara serius.
Setelah ku pastikan, aku sadari sosok mas Kharisma sedang duduk dikursi. Ada dua sosok samar putih dihadapannya, aku berada ditempat persembunyian ku. Aku mendengar perbincangan mereka yang tak serius.
"Le, kamu sudah bicara sama Bening?" Tanya bayangan didepannya. Suaranya begitu jelas, aku sangat mengenalnya.
"Tidak. Belum,,,!" Tegasnya.
"Maksudmu apa Le?" tanya suara perempuan penasaran.
"Ayah, ibu, aku tidak mau berurusan dengan kalian lagi. Masalah ku sudah terlalu banyak. Ku harap kalian tidak mengangguku lagi. Pergilah. Aku ingin hidupku tenang, jika dek Bening tahu kalian menemuiku, aku takut dia marah lagi padaku, tidak mau bicara lagi padaku" aku geli sendiri mendengarnya. Ingin tertawa dengan kelucuan yang terjadi.
"Tapa kami sudah hampir selesai. Tapi belum ada petunjuk. Kami harus bersabar untuk mendapatkan apa yang kami inginkan. Kamu pasti tahu, apa yang kami inginkan, hidup ABADI" terang laki laki, itu suara pakde Ganjar.
"Hanya ilmu penjerat mimpi yang dapat membuat hidup kami abadi. Tidak mungkin Bening akan mau memberikan suka rela ilmu yang dimilikinya" aku masih mendengarkan penjelasan dari bude Sarinah Mukti.
"Ibu, ayah, dek Bening bahkan tidak peduli dengan hidupnya saat ini. Dia sekarang banyak diamnya, aku bahkan sulit untuk mengajaknya bicara. Dia juga tidak meminta jika ilmu itu harus jadi pewarisnya. Terlebih lagi kini ilmu miliknya telah kalian segel. Sekalipun itu campur tangan dari Ki Madyo Santoso, itupun atas permintaan keluarga Sanjaya terutama Riko"
Apa? Rasanya aku tak percaya jika tersegelnya ilmu milikku itu campur tangan dari dukun itu juga Riko dan keluarga terutama Bude dan pakde yang sangat menginginkan Ilmu milikku. Ya Allah, tega sekali mereka mempermainkan hidupku hanya untuk hidup ABADI, tapi mengorbankan jiwa yang lain, terutama aku yang jadi INCARAN mereka. Mas Kharisma benar benar telah berubah bahkan membela. Dia ingin memperbaiki kesalahannya. Tapi orang tuanya sangat TAMAK, hingga hawa nafsu menguasai mereka. Berarti Alex tidak ada hubungannya sama sekali.
"Hanya itu jalan satu satunya yang bisa kami lakukan, Le. Bila perlu kami paksa untuk menyerahkannya. Sekalipun itu nyawanya" kata pakde Ganjar ber api api.
"Iya,,," timpal bude Sarinah dengan tatapan tajam penuh makna.
"Tak ku sangka, demi ambisius kalian ingin mengorbankan nyawa orang orang yang tak berdosa hanya untuk sebuah keabadian. Itu bukan hak kalian. Ingatlah karma Allah itu sangat kejam" ingat mas Kharisma melindungiku. Tapi percu saja karena mereka telah dikuasai nafsu tentu apa yang di inginkan harus di dapat dengan cara apapun agar tujuan tercapai.
Jika keadaan ku tidak seperti ini, tentu aku akan serang mereka berdua, mengusir dari sini bahkan akan ku buat tidak berdaya. Tapi, keadaan ku saat ini sangatlah tidak memungkinkan.
"Ingat Le-, jika tapa kami selesai maka aku akan memintanya paksa sekalipun harus mengorbankan nyawanya Bening, sekalipun" seru bude Sarinah.
Ku lihat tangan mas Kharisma menyapu kearah kedua bayangan yang ada dihadapannya. Seketika dua bayangan itu tanpa bekas, kembali keasalnya.
Akan aku minta penjelasan mengenai ini semua pada mas Kharisma.
Tidak....
_________________
Sn 13/02/2023.
Komentar
Posting Komentar