293
Bab 293.
******
Pagi telah tiba, suasana dingin masih ku rasakan. Aku kesiangan bangunnya. Hingga aku tidak sempat menunaikan tugasku sebagai muslim. Ada rasa sesal dalam hati, tidak bisa ku abaikan rasa bersalah yang amat besar.
Pakiranku belum kumpul. Namun aku bisa rasakan ada tangan kokoh memelukku hangat. Aku tahu siapa pemilik tangan berbulu yang tidak begitu banyak tapi mampu membuat getar getar indah di hati. Mas Kharisma karena aku tidur membelakanginya, entah kapan sudah ada, tidur dengan memelukku. Pelan, aku balik tubuhku, menatapi wajah tegasnya yang kokoh, kumis, dagu, sungguh sempurna sebagai laki laki yang cukup umur untuk menikah. Ada senyum yang menghias ketika ku menatap wajahnya dalam tidur damainya. Hingga aku pun teringat hal tadi malam, dia bertemu dengan orang tuanya, membelaku dari mereka. Ah, rasanya aku bahagia jika memang itu tulus dari hatinya. Dengan senyum tipis, ku cium lembut pipi kanannya cukup lama. Karena keadaannya setengah telanjang hanya memakai celana bola saja. Senyumku makin mengembang untuk mengerjainya, bukannya untuk mempermainkan perasaannya. Bibirnya kini jadi sasaran ku...
Ku lumat pelan. Sungguh nikmat...
"Hmm,,, kamu mulai nakal ya dek" lirihnya, baru saja bangun, mengumpulkan jiwanya yang tercecer.
"Mas,,,"
"Hmmm,,," gumamnya, pelan.
"Ada apa dek?" Nada ucapnya penasaran.
Ingin aku membahas hal yang tadi malam ku lihat. Urung, karena aku tak ingin merusak suasana pagi ini. Lebih baik aku bermanja saja denganya. Moodku sedang membaik saat ini, terlebih keadaan rumah sepi.
"Jangan nakal. Kamu binal banget dek" mas Kharisma hanya cengengesan menanggapi sikapku pagi ini. Entah mengapa, perasaanku sedang mengebu gebu. Tatkala ku usap penuh kelembutan dada bidang yang menggepak eksotic, menyusuri sampai kebawah perut datarnya. Jiwaku dan anganku langsung melambung, melayang layang ke awan. Aku ingin momen seperti ini tidak akan pernah berakhir, ingin ku hentikan waktu cukup lama agar aku bisa lebih lama bersama.
Tubuhnya langsung beraksi tatkala sentuhan ku mengelus elus lembut perutnya berulang kali, sangat sensitif sekali. Tapi, semua yang ku cium serta ku lumat bibirnya maka tidak butuh waktu lama mereka langsung crot. Apa begitu dahsyatnya ciumku hingga membuat langsung ngecrot tak terkendali.
Kini, mas Kharisma menciumi pipiku, mengecup leherku pelan, hingga ku rasakan sedotan lembut.
Cuuupppp,,,
Membekas. Melambungkan anganku.
Tentu hal itu sangat berpengaruh untuk syaraf ditubuhku. Tentu saja ada yang meledak ledak dalam tubuhku. Mengalir deras, tak terkendali.
Turun kedadaku, di endusnya, timbul rasa geli geli nikmat, diperlakukan sangat lembut, penuh rasa.
Kecupan kecupan lembut mendarat didadaku, rasanya tak bisa ku lukisan dengan kata kata, terasa begitu nikmat tiada tara.
Tanganku tak tinggal diam dengan aksinya, yang memperlakukan lembut.
Ku susupkan kebalik celana kolor nya, maka kutemukan onggokan daging yang kenyal sedang berdiri gagah. Ku elus lembut, hingga hembusan nafasnya tersendat, tak hanya itu saja, dia nampak mengecup di beberapa bagian dadaku. Membuat kami berdua sama sama beraksi.
Bisa ku rasakan, kini kontolnya sudah tak biasa lagi, diameternya juga panjangnya sudah berbeda dari pertama aku merasakannya. Walaupun mungkin warnanya masih sama, kecoklatan. Manis, juga menimbulkan letupan rasa yang membahagiakan.
Tangan satunya membuka dan membuang kolornya hingga kini keadaan seperti bayi besar. Tersenyum menampakan barisan giginya yang rapi dan putih.
Dalam pandanganku, makin macho dan sempurna, dada gempal, perut rata, kontol ngaceng sempurna. Sudah ada percum diujungnya yang meleleh seperti es krim. Jembutnya juga agak tebal hitam, keriting. Menambah kegagahan kontolnya yang seperti tonggak.
"Hmmm,,,, oughhhh,,,," dengusnya pelan, saat ujung kontolnya ku emut.
Selanjutnya...
Aku tak bisa mengontrol diri ku lagi, tubuh telanjangnya sebagai ekspresi diri. Deru nafas masing masing sudah bisa terkontrol lagi.
Pada akhirnya, sebelum semua tuntas...
Tok, tok, tok,,,,
Telonjak....
Pintu rumah diketuk dari luar, entah siapa yang pagi pagi sudah bertandang, atau mungkin itu dari pihak keluarga yang pulang.
Dengan rasa kecewa ku akhiri aksi binal. Terlihat raut kecewa terpancar dari wajah mas Kharisma karena pejuhnya tidak sampai membuncah. Tentu hal itu menjadikannya konyol. Kontolnya nampak mengkilat karena bekas emutanku, padahal tinggal berapa menit lagi mencapai puncak tapi ada gangguan.
Kini mas Kharisma hanya mengenakan kolor saja, bertelanjang dada, keluar dari kamar dengan perasaan dongkol. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang tampak kesal.
Sabar mas!?
Ku ikuti langkahnya dari belakang, menuju kedepan untuk membukakan pintu.
Tok, tok,,,,
Belum tiga kali, pintu sudah dibuka. Diluar terlihat dua wajah orang yang ku kenal yaitu Alex dan Angga yang terlihat lesu. Mungkin tidak bisa tidur semalaman di puskesmas karena hujan mengguyur deras bahkan menjelang subuh masih rintik rintik.
"Kalian pulang, yang lainnya mana?" tanya mas Kharisma dengan santainya seolah biasa saja. Padahal tatapan keduanya meneliti penuh selidik, lalu menyadari keberadaan ku dibelakang. Keduanya terlihat kikuk dengan tatapan tajam ku. Mas Kharisma baru menyadari kalau aku ikut dan berada dibelakangnya.
"Simbah putri dan pak Surya masih nunggu" jawab Alex.
"Iya mas, katanya nanti simbah putri pulang sebentar. Oiya, tadi mbah putri pesan supaya masak nanti untuk ngirim" tambah Angga yang terlihat lelah.
"Keadaan Riko bagaimana, sudah baikan?" selaku diantara kebisuan sesaat. Semua mata langsung menatap ku heran.
"Sudah baikan, itu pun juga berkat obat simbah putri, yang cari cacingnya Angga dan pak Surya" yang menjawab Alex. Lalu nampak menguap begitupun Angga sama sepertinya kelelahan.
"Sudah ya aku mau tidur, ngantuk, selama gak bisa tidur disana" imbuh Alex tapi tidak dengan Angga sepertinya juga ingin berlama lama, terlihat capeknya.
"Lex, tidur diruang tamu" perintah mas Kharisma hanya dibalas dengan anggukan. Angga mengekor dari belakang. Hingga kini hanya tinggal berdua karena Alex dan Angga sudah masuk kamar tamu buat istirahat.
"Dek, mau masak" tanya mas Kharisma. "Aku bantu"
Sebenarnya aku malas buat masak, aku ingin santai dulu. Andai Riko nggak sakit, keadaan tidak akan seperti ini. Lamunku sambil melangkah gontai kearah dapur. Walaupun saat ku lihat magic com ada nasinya, tapi harus diganti yang baru. Karena ada kompor gas, jadi lebih mudah. Semua peralatan disini, Riko yang membelikan semuanya.
Aku mulai mencuci beras, untuk selanjutnya aku nanak di kompor gas, setengah matang baru aku masak di rice cooker supaya cepat, paling lama satu jam kurang udah matang.
Tingga bikin bumbu sayur entah mau masak apa? Aku lihat kulkas, ada telur bebek. Aku masak balado. Nanti, rembus daun singkong aja yang empuk pasti simbah putri suka. Pun yang lainnya. Ku buat pedas, agak manis.
Ku lakukan hanya dengan diam, mas Kharisma cuma dibelakangku diam saja memperhatikan saja. Mungkin aneh, aku bisa selincah ini masak.
"Dek, tadi kok tadi kamu tanya kabarnya Riko" ku hentikan sejenak aktivitasku yang akan mengores bumbu untuk sambal balado.
"Mas, kamu goreng bumbu ini, pertama bawah putih, gantian bawang merah hingga matang, taruk di cobek, lalu cabe goreng hingga matang, tapi pake api sedang. Airnya biarkan mendidih kalau aku kesini bila airnya sudah mendidih kecilkan apinya. Aku tinggal sebentar" terangku, entah nanti dilakukanya apa tidak. Ku lihat menghela nafas dalam dalam. Sambil mengangguk, tersenyum hambar.
"Dek,,," panggil nya aku sudah berlalu tidak mau berlama lama. Aku juga tidak menggubrisnya, urusan perut lebih penting ketimbang yang lainnya.
_______________
Sl 14/02/2023.
Komentar
Posting Komentar