294

 Bab 294.


******


Butuh beberapa menit buat ngambil daun singkong di sekitaran rumah.


"Ku rasa ini sudah cukup" gumamku pada diri sendiri. Senyum mengembang.


Gegas, aku masuk kedalam karena, tentu semua sudah siap. Tinggal nanti ngerebus saja hingga matang. Tapi perlu proses dulu di ambil daunnya saja baru nanti direbus hingga matang.


Ku lihat mas Kharisma sibuk, aku tersenyum melihatnya tapi tidak tahu kehadiranku karena banyak diam kelamunnya.


"Mas" panggilnya.


"I-iya,,, ada apa dek?" balasnya lembut. Terlihat gundah. Entah apa yang dipikirannya setelah tadi aku cari daun singkong buat nanti lalapan.


"Sudah, selesai goreng bumbunya mas" tanyaku ku kembali, dia seperti tersadar dengan keadaan.


"Oh, sudah. Itu ada dicobek" jawabnya singkat.


"Mas tolong ini petikin, dipisahkan sama gagangnya ya" pintaku supaya dia tidak melamun. Atau mungkin memikirkan hal semalam.


Ku berikan setumpuk daun singkong yang petik tadi padanya, aku pun melihat nasinya sudah matang belum. Syukurlah, nasinya matang, ternyata mengikuti intruksiku.


Kini aku ngulek sambelnya buat bikin sambel telur balado.


Saat melakukan semua itu hanya ada kebisuan.


Sambal telur balado sudah selesai ku masak, hingga bau harum tercium wangi aromannya bikin nafsu lapar bertambah ingin di isi.


Mas Kharisma sampai menciumi aromanya. "Hmmm,,, enak banget dek" sampai mengelus perutnya, lapar. "Kamu pinter masak dek" pujinya.


Ku persiapkan buat ngirim mbah putri dan yang lain di tempat bidan Bu Nur, diwadah rantang.


Sudah siap antar!


Mbah putri pasti suka, terlebih daun singkongnya empuk, berwarna hijau menyegarkan.


"Mas lapar" kataku, melepar senyum kearahnya. Tanpa sadar mas Kharisma mengangguk.


"Mau bareng atau mas sarapan duluan?"


"Hmmm,,," gumamnya pelan.


"Coba aku banguni mereka, kalau mau. Mas sarapan duluan gih"


Mas Kharisma hanya mengangguk pelan, tersenyum datar menahan rasa laparnya.


Ku tinggal kan sendirian mas Kharisma, mungkin juga sarapan duluan karena tadi ngerasa lapar, aku menuju kekamar tamu untuk membangunkan Alex dan Angga karena kecapekan. Jika pun tidak mau banguni aku biarkan saja sampai mereka bangun sendiri.


Agak ragu, tapi ku lakukan karena kasihan kalau tidak sarapan...


Mereka berdua tidur sebelahan sangat nyenyak, namanya cowok hetero tentu mereka tidak saling peluk, beda jika aku diposisinya pasti akan berebutan buat meluk aku. Kadang, aku heran kenapa suka sekali meluk aku padahal mereka bisa melakukan dengan yang lain seperti hal nya mas Surya yang dengan Cindy, bisa. Entah apa yang telah dilakukan oleh mas Surya pada Cindy laki jadi jadian.


"Al, Angga bangun bangun sudah siap makanannya, ayo bangun,,," panggilku mencoba bangun keduanya. Tentu tak ada reaksi karena ngatuk semalam.


Kalau hanya ucapan tentu tak akan pengaruh buat keduanya karena mereka seperti KEBO (Kerbau) kalau sedang tidur apalagi kalau lagi ngantuk.


"Al bangun,,," ku tepuk lembut wajah gantengnya yang bersih tanpa jerawat. Sebenarnya ada pertanyaan yang masih mengganjal tentangnya. Ku alihkan pada Angga, itu lebih sulit buat bangunin, kata Putri kalau kakaknya itu sangat sulit, itu memang benar, kini aku baru merasakan hal itu kalau omongan Putri itu benar. Begitupun Alex juga sama hingga aku kehabisan akal kalau hanya dibangunkan biasa.


Bila ini nanti tidak bisa maka akan aku biarkan saja sampai mereka berdua bangun sendiri.


"Al, ayo bangun,,," seruku tertahan. Ku tahan rasa jengkelku karena tak ada reaksi. Ku tepuk pipinya lembut, tak ada reaksi juga. Apa benar benar se-ngatuk itu sampai gak bangun.


Ku cubit putingnya dibalik pakaiannya tetap sama tak ada reaksinya. Ku cubit keras, sama bergemingpun tidak.


Matanya tetap terpejam rapat. Maka...


Cuuuuppppppp....


Ku kecup bibirnya karena hanya itu jalan satu satunya yang bisa ku lakukan.


Bibir bawahnya ku lumat dalam,,,


Hmmmm...


"Oughhh,,," lenguhnya tertahan. Ada reaksi. Ternyata pancingan ku berhasil. Jika aku kecup cukup lama, tidak menarik kemungkinan dia bakal ngecrot dengan cepat.


"Al bangun" ucapku saat aku lepaskan lumatanku.


"Ahhh,,, anjay!" umpatnya pelan karena tubuhnya bereaksi atas tadi ku lakukan.


Ku rasa cukup pelajaran yang ku berikan. Ketika mata Alex terbuka dengan malas.


"Ada apa, cepat katakan, aku ngatuk" katanya dengan malas.


"Makan, udah siap" jawabku singkat.


"Nanti aja, masih ngatuk" ulasnya, terganggu dengan aksiku.


"Jangan ganggu, lagi" mohonnya.


Ya sudah, lebih baik aku tidak menggangu nya lagi. Begitupun dengan Angga biar nerusin tidurnya. Entah kapan bangun nya lagi karena sepertinya ngatuk juga lelah karena ku lihat tadi tidurnya sangat lelap.


Ada sedikit rasa sesal saat aku bangunkan mereka. Tapi niatku biar mereka makan siang karena hari sudah beranjak siang.


Lebih baik aku makan dulu baru ngirim mbah putri pasti sudah lapar, karena disana sama mas Surya.


Sekembaliku dari banguni mereka ku dapati mas Kharisma duduk termenung, diam tanpa suara menatapku penuh tanya. Tentu aku heran dibuatnya.


"Sudah makan mas?" tanyaku memastikan


Sebagai jawabannya.....


Hanya gelengan lemah yang ku dapatkan.


"Kenapa belum makan? Kenapa tidak makan mas?" Ku berondong pertanyaan bertubi tubi.


"Nunggu kamu dek, biar bareng" katanya lemah, efek lapar.


Ya Tuhan!


"Mas, kenapa harus nunggu aku, kalau lapar ya makan duluan"


Dia menggeleng lagi,,,,


-----------------


Akhirnya ku putuskan untuk ngirim setelah makan siang bareng mas Kharisma, sungguh makan yang ternikmat ku rasakan.


Aku bawa rantang serta bonceng mas Kharisma yang kini tersenyum lebar karena kenyang. Memang kalau urusan perut bikin hati happy.


Banyak hal yang ingin ku tanyakan tapi belum punya kesempatan.


Nanti saja...


Sampailah pada tujuan, aku langsung .masuk karena aku tahu letaknya.


Mbah putri tersenyum lebar menatap kedatanganku bersama mas Kharisma. Tapi tidak dengan Riko yang sudah tersadar, tak senyum padahal seharusnya aku yang membencinya karena ulahnya sekarang aku seperti ini. Ilmu yang ku miliki tersegel. Walaupun itu akibat campur tangan dari bude Sarinah dan pakde Ganjar melalui Ki Ageng Madyo santoso. Jika ilmu kembali akan ku cari dia, akan buat perhitungan dengan manusia itu, pun dengan mereka yang terlibat termasuk Riko dan keluarganya.


Aku tidak takut dengan bude dan pakde ku, akan ku lawan mereka serta ku bikin JERA untuk selamanya.


Ku salimi mbah putri. Ada mas Surya yang sedari tadi menatapku curiga. Apa seperti itu sikapnya, harus curiga pada adiknya sendiri. Aku sudah tidak respek lagi dengannya karena hubungannya dengan Cindy.


Kalau bukan keluarga ku sudah aku DEPAK dia, aku masih jaga perasaan simbah putri.


"Masak apa le- cah bagus?" Setelah ku berikan rantang nya pada beliau yang kelihatan lapar. Mas Surya menatapnya, begitupun Riko yang keadaan mulai membaik. Memang jos bener obat dari simbah putri untuk Riko keadaannya sudah membaik. Kalau biaya hal mudah bagi Riko karena uangnya banyak. Ditangannya masih ada selang infusnya, dan air infusnya berwarna kemerahan.


"Wah mantap Le,,," puji mbah putri padahal belum dicicipi tapi sudah muji. Tadi juga bawa air matang dalam wadah, ada tiga.


"Le makan ya,,," kata mbah putri pada Riko yang masih terbaring.


"Le kamu juga, nih,,," sodor mbah putri pada mas Surya.


Tidak menawariku juga mas Kharisma, diam saja memperhatikan sikap mbah putri.


"Le kamu suapi ya nak Riko" pintanya padaku. Mbah putri tidak sabaran buat makan.


"Mmm,,, enak banget Le, daun singkong nya juga empuk. Pas di lidah ku" lagi lagi memuji masakan. Menyatapnya dengan lahap.


"Iya mbah putri, dek Bening memang pinter masak" puji mas Surya sama lahapnya.


Mata Riko tampak tajam menatap kearah mas Surya. Hal itu membuat pikiranku langsung ingat kejadian masa datang.


Ya Tuhan ...


Tentu saja rasa takut menyelimutiku. Namun, tak ada yang tahu...


_________________


RB 15/02/2023.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.