295
Bab 295.
*****
Tentu aku belum mau interaksi dengan Riko. Terlebih lagi sikap/pandangan nya pada mas Surya membuatku takut.
Tentu saja mas Kharisma belum tahu, atau aku cerita saja pada dia mengenai rasa ketakutanku supaya bebanku serta rasa bersalahku berkurang.
Aku duduk berdua didepan teras rumah, ada kursi panjangnya, ayunan juga ada, itupun ayunan duduk buat orang santai. Tapi lebih santai duduk melihat orang lalu lalang.
"Mas,,," agak sedikit ragu. Harus memulai dari mana.
"Ada apa dek?, ngomong aja" tatapannya penuh selidik.
"Sebelumnya aku minta maaf, tak sengaja aku mencuri dengar mas semalam lagi bicara sama bude dan pakde diruang tengah-"
"Apa?" Kagetnya. Mendengar pernyataanku mengenai apa yang ku lihat dan dengar semalam. Aku ingin tahu apakah mas Kharisma akan jujur atau memilih untuk diam.
"Maaf. Apa benar jika Riko terlibat serta dalang semua yang terjadi padaku?" Mataku mulai mengembun. Karena, tidak semuanya aku mendengarnya dengan jelas.
Mas Kharisma mengangguk pelan, ragu. Bahkan senyum pun tidak sama sekali.
Sungguh aku tidak menyangka dengan semua kejadian yang ku alami.
"Mas,,,!" Suaraku sedikit meninggi. Tentu aku coba menahan emosiku yang meluap. Jika dia tidak mau ngaku aku potong kontolnya biar dia NYAHOK. Ku tatap tajam tanpa berkedip.
"Dek, dek,,, tenang" langsung memegang tanganku. Mendekapku hangat, menenangkanku. Apa yang dilakukannya tidak luput dari pandangan orang orang yang lalu lalang, ada yang duduk santai, juga di ayunan ikut memperhatikan.
"Kenapa sampai bude dan pakde begitu jahat padaku juga keluarga mu?" lirihku dalam isakan. Diusapnya air mataku dengan lembut.
"Aku telah berusaha mencegahnya dek. Semampunya aku usahakan. Ibuku terlalu terobsesi dengan ilmu penjerat mimpi milikmu-"
"Aku tidak menginginkannya mas. Asal mas tahu, aku tidak peduli dengan ilmu ini. Aku ingin hidup normal, hidup bahagia tanpa ada rasa ketakutan yang setiap saat menghantuiku" air mataku makin tak terbendung. Mas Kharisma menatapku iba.
"Andai, aku bisa menghilangkan atau memindahkan ilmu ini, akan aku lakukan. Ilmu ini telah mendarah daging dalam tubuhku" lirihku. Ku usut air mataku yang tadi membanjir.
"Apakah bude dan pakde setelah mendapatkan ilmu penjerat mimpi apa bisa menjamin mereka tidak menganggu kehidupanku juga keluargaku?" Kini tatapanku mengarah padanya. Mulutnya terkunci rapat. Tatapannya sendu.
"Aku tahu, setelah mereka mendapatkan apa yang diinginkan menarik kemungkinan mereka akan menghancurkan aku juga keluargaku. Aku tahu siapa bude Sarinah dan pakde Ganjar. Mereka tidak akan pernah puas sebelum menghancurkan bahkan memusnahkan aku dan keluarga" terangku. Mata mas Kharisma membulat tak percaya.
"Kok kamu ngomong seperti itu dek" katanya dengan rasa tak percaya.
"Lalu apa yang lakukan ketika mas menyerang simbah kakung, apa itu suatu kekhilafan? Tidak bukan! Mas disuruh bude kan untuk mendapatkan kitab ilmu penjerat mimpi, pada akhirnya kitab itu musnah karena ketamakan mu juga keluargamu" jelasku membuat nya terdiam.
"Apa? Benarkan apa yang ku katakan mas. Jika kalian mendapatkan kitab itu, saat ini kita sudah tidak ada didunia ini karena pasti aku juga keluargaku dibunuh melalui mimpi. Karena tidak akan ada yang bisa membuktikannya mengenai itu, bukan" lanjutku. Membuat mas Kharisma lagi lagi terdiam, membisu.
"Bisa saja saat itu hanya berputar putar. Jika sampai kau mendapatkannya? Aku tidak tahu nasib orang orang yang tidak bersalah dan berdosa pasti akan banyak yang jadi korba ilmu penjerat mimpi" pungkasku. Karena mas Kharisma hanya diam saja mendengarnya.
"Mas mungkin tidak tahu peraturannya, bahwa orang yang bukan pewarisnya hanya bisa menggunakan ilmu itu hanya tiga kali dalam satu bulan karena jika memaksa maka jiwanya akan musnah secara perlahan lahan. Asalkan mas tahu, simbah putri, ibuku, ayahku mereka semua miliki nya, hanya saja mereka mempunyai batasannya. Jika simbah kakung tidak terbatas karena beliau yang selama ini menjaga serta memilikinya. Tapi sayang, kitab itu telah musnah itu semua gara gara mas" terangku panjang lebar. Tentu kali ini mas Kharisma akan berpikir ulang jika menginginkan ilmu penjerat mimpi. Terlebih bude Sarinah dan pakde Ganjar tentu belum mengetahui hal tersebut. Biarlah nanti mas Kharisma yang mengatakan pada orang tuanya karena pasti mereka akan mempercayainya.
"Benarkan itu, dek?"
"Mas pasti tahu kan jika yang memiliki ilmu itu tidak akan pernah punya keturunan" jelasku lagi. Kali ini mas Kharisma bungkam. Biar dia semakin paham karena jarang ada yang tau rahasia ilmu penjerat mimpi yang punya pantangan yang sangat mengerikan. Jika aku memilih aku tidak ingin jadi pewaris syah yang ke tujuh hingga pada akhir nya kitab itu pun musnah.
"Kitab itu telah musnah untuk selama lamanya. Aku juga tidak ingin jadi pewaris syah. Keturunan ke tujuh dari ilmu penjerat mimpi" ulasku, apa yang ku pikirkan kini ku ungkapkan.
"Apa mas tidak ingin menikah untuk selamanya?"
Mas Kharisma hanya gelengkan kepala. Sedari tadi cuma hanya diam saja bahkan sama sekali tidak komen. Hanya desahan pelan dan berat.
"Kenapa diam saja mas? Mas ngak percaya? Atau masih ingin mengambil ilmu itu dari tubuhku. Aku tidak akan keberatan kok mas. Jikapun bude ataupun pakde bahkan keduanya ingin mengambilnya, silahkan" kataku dengan tenang.
Ku lihat mas Kharisma merenungi semua ucapanku, karena apa yang ku katakan benar adanya.
"Baiklah,,, jika mas tidak mau ngomong. Jangan harap aku akan bicara sama mas" ku berdiri akan beranjak dari tempatku. Bermaksud meninggalkannya sendirian.
Saat akan ku langkah kan kakiku. Ku rasakan ada gengaman tangan yang kuat menahan ku ...
"Maafkan mas, dek. Mas gak tahu soal itu. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan, apa aku akan melaksanakan perintah orang tuaku yang salah. Jujur selama ini aku sudah tidak lagi mau ikut urusan orang tuaku" ujarnya, sesekali menatapku. Namun, aku sudah terlanjur kecewa dengan sikapnya tadi. Karena sikapnya sering buat aku MANGKEL dengannya.
Kini giliranku mendiamkannya karena semua sudah ku katakan tidak ada satupun yang terlewat. Sekarang bagaimana sikap mas Kharisma itu terserah dia apa mau menuruti orang tuanya atau memang ingin jadi baik seperti yang ditunjukannya selama ini. Serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Padahal aku sudah menaruh kepercayaan padanya. Dulu pun aku sempat menaruh kepercayaan itu hingga pada akhirnya luntur, bahkan aku sangat membencinya seumur hidup. Perlahan lahan rasa benci ku mulai luntur kembali, aku bisa menerimanya kembali. Jika, melakukan kesalahan lagi, maka aku sudah tidak akan percaya lagi, maka aku akan membencinya seumur hidupku, tak akan pernah ku maafkan.
Aku bergeming ditempatku bahkan masih berduri karena mas Kharisma juga berdiri.
Ku rasa tidak ada yang disampaikan lagi, aku beranjak dari tempatku. Diikuti olehnya dibelakangku. Karena hari beranjak siang. Saatnya untuk pulang, tapi aku mau melihat keadaan Riko dulu, pamitan sama simbah putri juga yang lainya.
Alex dan Angga belum juga kesini, pikirku. Saat aku masuk kedalam, kini mas Kharisma mensejajariku.
"Dek, nanti jadi mancing ke KALI MACAK,,," ucapnya. Aku tak menggubrisnya. Hatiku langsung menghangat.
Ada apa?
Komentar
Posting Komentar