296. Kenangan ditempat yang sama.

 Bab 296. Kenangan ditempat yang sama.


★★★★★


Setelah berada didalam, aku pun menemui simbah putri yang sedang ngobrol sama mas Surya sedang Riko hanya diam merenung dalam keadaan tiduran terlentang karena ada selang infus ditangannya.


Tentu mas Surya yang menjaga jika Riko butuh apa apa, tidak mungkin simbah putri yang direpotkan.


"Le,,, ada apa kok mau pulang?"


Saat aku pamitan pada beliau. Aku tidak bisa menjelaskan, terlebih maksud simbah putri semuanya suruh berkumpul disini, biar rame.


"Mau mancing di kali macak mbah putri jawab mas Kharisma.


Simbah putri juga menatapku sejenak, sembari menarik nafas ringan. Kini beralih ke mas Kharisma yang tersenyum dipaksakan. Mas Surya dan Riko hanya diam menatap.


Aku berlalu menuju keluar...


"Le nanti setelah magrib ngirim lagi" sayup sayup ku dengar pesan simbah putri pada mas kharisma.


Sampai diluar ku lihat Alex dan Angga datang membawa motor.


"Mau kemana mas?" Tanya Angga, tidak juga dengan Alex hanya diam pasif saja.


"Mau pulang Ga, mau mancing" datang dari arah belakang mas Kharisma menjawabnya.


"Ngapain tuh bocah kelihatanya ngambek mas Kharisma?" tanya Alex hanya dibalas dengan endikan bahu.


Aku sudah di motor kalau gak cepat maka aku yang akan pulang...


"Cipok aja mas, pasti juga sembur entar" ledek Alex bercanda. Aku melotot kearahnya.


Datang mendekat, tentu Alex tahu konsekuensinya sekalipun banyak orang yang lalu lalang, bahkan ada yang sedang duduk di ayunan, bahkan dikursi panjang.


"Lo ngomong apa barusan,,, ULANGI!" gertakku tidak main main menatapnya dalam dalam dan tajam. Tentu yang ada disitu mendengarnya, tak ada yang berani mencegahku berbuat itu.


Bahkan ku raih kerah bajunya, ingin ku angkat. Tapi ku cengkram kuat. "Jika bukan disini, sudah habis gue lumat Lo! Jangan pernah main main ama gue, ingat itu Lo baik baik" ancamku sambil ku dekat di telinganya, sambil ku jilati kupingnya. Dengan perkataan lo-gue karena aku sudah pada puncaknya.


Alex bagai patung beku ditempatnya, setelah aku gegas berlalu, kini ada di dekat mas Kharisma menghidupkan motornya.


Alex bergeming ditempatnya dengan muka pucat tak dialiri darah. Aku tersenyum sinis, penuh arti kearahnya. Dia tidak akan pernah berani macam macam lagi dengan ku karena ancamanku. Biar itu jadi pelajaran buat dia karena dia anggap selama ini aku bisa dipermainkan.


Angga terbengong menatap kepergianku bersama mas Kharisma. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya di tempat bidan Nur Yanti.


"Dek, kamu apakah sampai Alex mukanya pucat seperti itu?"


Aku masih diam kan celotehnya...


"Dek, kamu masih marah ya sama aku?" tanyanya kembali. Padahal dia sangat penasaran dengan apa yang telah ku lakukan pada Alex itu hanyalah suatu gertakan saja karena tadi bercanda kelewatan terlebih didepan orang banyak, ditambah lagi mood dan emosiku sedang naik maka sebagai pelampiasan kemarahanku.


Kini ada rasa sesal setelah apa yang ku lakukan pada Alex tadi, aku bahkan sampai kepikiran kemana mana. Bagaimana keadaan Alex saat ini.


"Sudahlah, jangan tanya hal yang penting!" dengusku agak jengkel karena turut campur urusanku.


Kini telah sampai dirumah....


Aku langsung kebelakang lewat samping untuk ngecek sapi sapi dikandang.


Keadaan aman aman saja...


Ku tarik nafas lega. Setidaknya rumputnya masih banyak untuk tiga hari kedepan.


Mas Kharisma membawa cangkul, aku tahu kalau mau cari cacing untuk umpan mancing.


Aku masuk melalui pintu belakang, keadaan dalam rumah sepi karena tidak ada siapapun.


Aku ingin mandi karena agak gerah. Selesai mandi ku tunaikan kewajibanku. Setelah itu santai. Ku lihat makanan masih ada, karena tadi masak di rice cooker. Nanti tinggal bikin lauk dan sayur buat ngirim simbah. Aku berharap mas Surya nanti pulang ambil makanan. Karena banyak yang nungguin.


Ku lihat mas Kharisma masuk dengan senyum...


Seperti nya baru sejadi cari umpan, mempersiapkan peralatan mancing sederhana.


"Dek sudah siap"


Ku anggukan kepalaku. Tadi, aku mau makan tidak berselera. Dikatakan lapar agak, mau makan juga malas.


"Mas mandi dulu, sholat" kataku santai. Aku menunggunya karena aku sudah bersiap.


Kini sudah beres...


Berangkat!


Beberapa saat pun sampai pada tujuan. Selama perjalanan hanya ada diam. Orang orang yang lewat hanya memperhatikan, sesekali hanya disapa oleh mas Kharisma. Aku yang bonceng dibelakang enggan menyapa duluan lagi males.


Kini, telah santai dipinggir kali, sudah memasang kail. Walaupun suasana agak panas tapi terlindungi oleh semak semak belukar, tentu keadaan sedikit agak berbeda, pohonnya sedikit agak tinggi serta lebih rimbun. Pohon buah Rukem masuh masih saja berbuah walaupun tidak lebat. Seperti biasanya pasti ada yang sudah masak. Ku petik beberapa buah Rukem yang matang berwarna merah dari tangkainya. Ku nikmati rasanya yang manis manis asem seperti wajah mas Kharisma hingga timbul senyumanku saat membayangkan wajahnya.


Juga hal dulu pernah terjadi disini sungguh suatu pengalaman yang luar biasa. Kini, hal itu tak ingin ku lakukan. Walaupun perasaanku ingin.


"Dek, kok diam dari tadi. Ku lihat kamu senyum senyum gitu. Ada yang lucu yang kamu ingat?"


Ku gelengkan kepalaku karena aku tak ingin dia tahu apa yang ku pikirkan.


"Mas mau buah ini" tawarku, kualihkan karena tak ingin membahas apa ku pikirkan.


Masih ku nikmati buah yang masam manis itu dengan rasa suka cita, karena di Jakarta tidak akan pernah makan buah seperti ini. Kalau ingat Jakarta aku teringat dengan orang tuaku. Aku ingat janji Riko yang akan membagikan oleh oleh berupa handphone yang tentunya harganya tidak murah pada teman temanku. Tapi kini Riko sedang terbaring sakit karena typusnya kambuh lagi. Untung simbah putri membuatkan herbal hingga kini keadaannya berangsur membaik. Aku yakin penyakit typus Riko tidak akan pernah kambuh lagi.


Ku sodorkan bahkan mulutnya mangap aku masukan dengan tersenyum, lalu mengunyah, sedikit bergidik karena rasa masamnya, membuatku tersenyum geli melihat tingkahnya. Sambil ku gelengkan kepalaku.


"Cemen mas, gitu aja keaseman" kataku karena aku sedang mengerjainya dengan buah yang belum matang beneran.


"KECUT BANGET DEK?" rungutnya. Menatapku curiga.


Aku tak berani berhadapan karena menahan tawa. Hingga aku rasakan tangan kokohnya membalik badanku. Maka meledaklah tawaku...


"Ha ha haaa,,,,?!"


Seolah aku dapat mainan yang sangat menyenangkan, terlebih lagi melihat ekspresinya yang lucu. Antara marah, dongkol juga tersenyum, mau ikut tertawa tapi nggak jadi, hingga yang ada malah kelucu. Tubuhnya, air mukanya masih merasa masam, tentu butuh waktu beberapa saat untuk menghilangkan rasa masam buah itu.


Ekspresinya kini tampak lain. Aku bergidik karena tadi telah meledeknya hingga terdengar,,,


"Awasss,,,, kamu ya dek?"


______________


RB 22/02/2023



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.