297. Sentuhan yang melenakan.

 Bab 297. Sentuhan yang melenakan.


★★★★★★


Tubuhku gemetar menatapnya...


Tatapnya mau menerkamku. Bergidik aku melihatnya...


Seperti singa yang kelaparan membuatku kelabakan.


Pikiranku jadi buntu, bagaimana caraku untuk bisa menghindar.


Ahaaa,,,,? Pikiranku langsung cemerlang. Ku lihat kailnya bergerak gerak cepat.


Dengus nafasnya putus putus. Ku lirik dibawah sudah ada tegang maksimal...


"Massss,,,! Itu,,, kailnya dapat ikan" seruku. Mengalihkan perhatiannya yang tatapannya buas. Tentu saja mas Kharisma kaget hingga kini melihat kearah pancingan yang bergerak gerak, tersendal dari dalam air.


Wajahnya terlihat berseri seri saat gegas kearah kail mengangkatnya....


Wajahnya langsung cerah ...


"Wah besar!' serunya antusias, ketika kailnya dapat ikat sangat cukup lumayan besar.


"Iya mas, makan besar nanti malam..." Timpalku ikut bersemangat. Kami tersenyum saling tertawa bahagia.


Setidaknya aku bisa terhindar dari situasi yang tadi agak horor karena mas Kharisma seperti bernafsu. Setidaknya kali ini tidak karena moodku sedang tidak baik.


Kail sudah dipasang kembali....


Ada kebisuan untuk sejenak, hingga telisik angin menerpa lembut dedaunan, semilir sepoi tak mampu untuk menerpa keringat yang mulai meniti dari pori pori kulit. Matahari kian turun dari puncaknya perlahan lahan. Angin mulai menerpa spoi spoi, sejuk. Hingga keringat yang tadi merembes mulai reda.


Banyak ikan ikan yang didapat. Cukup lumayan untuk dibawa pulang. Tak banyak kata yang terlontar, aku juga enggan untuk menanyakan. Pribadinya atau pun mengenai kedaanku.


Hingga pada akhirnya sesi memancing pun berakhir dengan senyum kepuasan dari hasil yang telah diperoleh.


Alhamdulillah ...!


Hanya rasa syukur yang ku panjatkan dengan rejeki didapat hari ini.


Ku rasa ada sedikit GANJALAN dihatiku, namun hal itu untuk nanti saja.


Dengan menenteng ikan cukup lumayan ditanganku dibonceng mas Kharisma.


Hari mulai sudah beranjak agak sore karena matahari sudah mulai redup. Sebentar lagi akan senja.


Sampai lah kami dirumah yang masih terasa sepi.


Aku tidak tahu apa tadi ada yang pulang buat ngambil makanan atau tidak. Karena sudah lumayan capek tadi mancing di kali macak.


Ikan ikan sudah dibersihkan bersama sama, tinggal untuk memasaknya. Mau di bikin sayur santan indah keburu sore. Gak sempat. Aku harus mandi juga persiapan pasti simbah dan yang lainya pada lapar.


Seharian aku tidak melihat Ferdy bahkan sama sekali tidak ada kabarnya. Apa benar Ferdy marah tidak mau main kerumah lagi. Atau mungkin sangat sibuk...


Liburan kali ini masih panjang, tapi aku merasa tidak betah disini. Lebih baik aku pulang kerumahku sendiri di TG (Tugu Mulyo) walaupun disana tidak ada orang.


Ku dengar deru motor dari luar, entar siapa yang datang...


Selang beberapa detik, masuk Alex sendirian. Lalu mas Surya dan Angga kemana apa gak ikut pulang untuk mandi karena gak bawa saling pakaian.


Aku buru buru kedapur, karena mempersiapkan. Tujuanku hanya untuk menghindari Alex hanya itu. Aku sendiri tidak tahu apa mas Surya dan Angga juga pulang. Tapi jika pulang, pasti mas Kharisma nggak menanyakan tentang keduanya. Pasti langsung menyapa. Ini yang disapa cuma Alex, berarti Alex pulang. Pasti punya alasan jika sampai dia pulang. Aku masih mendengarnya dari arah dapur, pasti terdengar karena rumah ini tidak kedap udara seperti rumah milik Riko maupun Alex.


"Lex, gimana keadaan Riko sekarang?"


"Sudah cukup lumayan membaik mas" jelasnya. Masuk kekamar, keluar dengan keadaan topless hanya menyalurkan handuk dibahunya. Aku mendengar kan nya dari dapur, karena tadi sempat bantu bantu mas Kharisma.


"Bening kemana mas?"


"Siap siap didapur, nanti buat ngirim simbah putri juga yang lainya. Aku kira kamu gak pulang Lex"


"Suntuk mas disana"


Suara mereka menghilang...


Untuk bebepa saat kejenuhan melandan. Tentu aku fokus didapur, terlebih lagi setiap aktivitas ke sumur lewat dapur. Apa ini hanya perasaan ku saja yang terlalu fokus. Karena lengang suasana itu jedanya agak lama. Bahkan aku tidak mendengar lagi Alex. Kemana anak itu? Pikirku. Karena tidak kelihatan kelihatan. Aku menunggu juga gak. Tapi, seperti berharap. Tapi, aku diam saja menikmati kerjaanku.


Hampir membuatku terlonjak....


"Bening,,," sapa Alex yang datang kearahku. Tentu aku meredakan debaran dadaku serta detak jantung.


Ku tatap matanya lekat. Dadaku bergemuruh lihat pahatan bagus tubuhnya yang membuat getar jiwaku.


Aku diam membisu, bahkan tidak meresponnya.


Aku pura pura mencuekanngmya saja, pura pura sibuk padahal sudah selesai.


Hingga hal yang tak terduga ku rasakan nyata...


"Al,,,?" Seruku tertahan saat dia memelukku dari belakang. Aku takut kalau mas Kharisma tahu yang dilakukan oleh Alex bikin cemburu.


Hembusan hangat mendirikan bulu romaku membuat perasaanku makin menjadi jadi. Hembusan nafasnya makin menghangat. Menderu. Pikiranku langsung melayang dibuatnya.


Aku terbuai...


"Bening, aku merindukan saat seperti ini bersamamu" lirihnya, berbisik ditelinga ku. Ku rasakan jilatan lembutnya, hingga darahku seketika seperti bolak balik. Nafasnya bahkan sampai tertahan hingga menyebabkanku, tersengal.


"Setan!" gumamku mengumpat. Bisa bisa disaat seperti ini dia mempermainkan ku sejauh ini. Sentuhannya membuatku melayang layang tak menentu.


Hingga menyebabkan memejamkan mata menerima setiap perlakuannya yang membuai. Alex begitu pandai membuatku terbang....


Dia tersenyum miring.


"Bagaimana Bening?" bisiknya lagi dengan hembusan nafas putus putus. Sepertinya juga terbakar gairahnya. Bahkan bisa ku rasakan kalau dibawahnya ada yang keras, mendesak. Bahkan terkadang berkedut. Ketika digeseknya, sedangkan pelukannya membuatku panas dingin.


"Kau,,," aku terengah engah sekaligus geram dibuatnya, atas semua perlakuannya yang meningkatan birahi dalam tubuhku.


"Dek,,," panggil mas Kharisma dadakan.


Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya....


"Alex, kamu masih disini,,," tatap mas Kharisma penuh selidik.


Entah apa sebenarnya terjadi...


Padahal aku mati matian meredakan detak jantungku yang berpacu seperti dikejar kejar anjing gila. Kini, aku harus menghadapi hal yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya.


"Eh mas,,, ya,,, baru mandi tadi" sikap Alex begitu santai.


Aku saja hampir pingsan dibuatnya...


Alex tersenyum penuh arti padaku. Entah aku tidak tahu arti tatapannya yang tampak berbeda...


Bagaimana hal tadi tidak bisa diketahui oleh mas Kharisma jelas jelas apa yang dilakukan oleh Alex itu sungguh nyata. Bahkan Alex masih dalam keadaan terlilit handuk bahkan jika sekali tarik maka lepas dan bugil.


Ku lihat keadaannya biasa saja, jelas tadi ku rasakan sentuhanya, hembusan nafasnya, bahkan kontolnya yang mengeras dibalik handuknya.


Rasa penasaran ku kini makin tinggi terlebih tentang apa sebenarnya terjadi.


Mas Kharisma juga kelihatan bingung...


"Mas kamu urusi ini sebentar ya" ucapku meninggalkannya sendirian didapur nyusul Alex yang tadi langsung berlalu begitu saja.


Bahkan pintu kamar tamu belum sempat ditutupnya. Aku langsung menerobos masuk.


Ku tutup rapat...


Alex tercekat dengan kehadiranku.


Kini aku bersikap biasa saja...


Tapi berbeda dengan sekali dengan Alex yang kini tampak kikuk, bahkan baru saja masuk belum juga pakai pakaian.


Kini terlihat berbeda, karena dibalik handuknya ada yang sangat tegang. Kontolnya tak mampu disembunyikannya.


Ini membuatku bingung, jelas tadi dihadapkan mas Kharisma terlihat biasa saja tapi kini tampak berbeda.


Ku tatap seksama. Dia hanya tersenyum saat tadi ku lihat, penuh arti.


"Ada apa Bening?" kata katanya berat dan hal yang disembunyikan.


Maka....



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.