298. Pembuktian.

 Bab 298. Pembuktian.


★★★★


Ku renggut begitu saja handuk yang melilit dipinggangnya hingga langsung melorot kebawah tanpa menyembunyikan kontolnya yang ngaceng maksimal.


Bahkan tampak berkedut kedut, sekali bahkan terlihat sedikit cairan bening diujung pas lubangnya.


Berarti tadi Alex sempat terangsang hebat saat memelukku hangat bahkan menciumi tengkukku berkali kali...


Menjilati kupingku, hangat dengan hembusan nafasnya yang hangat pula.


Bukan hanya itu saja, perlakuannya sungguh sangat lembut, pengertian juga sangat begitu berbeda, seakan aku kekasih nya.


Tatapan Alex sendu, pasrah, mau apa apain juga mau.


Nafasnya terlihat terengah engah ...


Kini giliranku yang mengerjainya, aku lihat bagaimana reaksinya?


Maka aku pun mendekatinya, ku kecup bibirnya yang sedikit terbuka. Langsung ku lumat dalam dalam...


Tubuhnya langsung menegang, kelojotan. Seperti cacing kepanasan...


'Sebenarnya apa yang terjadi? Apa ini perasaanku saja bahwa orang orang disekitarku seperti memiliki ilmu magic, entah itu apa tadi?


Yang jelas Alex tadi kelihatan aneh, jelas jelas aku melihat kontol nya ngaceng, mas Kharisma lihat cuma biasa saja. Itu pasti ada hal aneh terjadi dengannya.


Atau itu hanya perasaanku saja pada Alex.


"Oughhhh,,, hesshhhhh,,, awww,,," tubuh Alex makin menegang hebat. Sudah beberapa hari tidak dikeluarkan. Mengejan hebat sampai otot otot ditubuhnya bertonjolan makin membuat seksi. Matanya merem melek saat ku karaoke kontolnya penuh semangat.


"Hmmm,,," gumamku, masih bersemangat mengoralnya.


Tegangan nya makin kuat bahkan nampak mengenang, merah. Uratnya makin nyata menyembul.


"Ahkkkk,,, ouugh, oughhh,,, yeah,,,," desah tertahan Alex menghentak lebih dalam hingga kontolnya makin dihujam lebih dalam ke mulut. Detik selanjutnya...


Croootttttt....


Beberapa kali pejuhnya berhamburan dalam kerongkonganku, tertelan semua tanpa sisa, itu sangat banyak.


Titik keringat membahasi tubuhnya yang telanjang, mencoba mengendalikan nafasnya yang ngos ngosan.


Aku pun berdiri dengan rasa puas. Alex tampak tersenyum penuh kepuasan, tersenyum penuh arti.


Kini nafasnya sudah tenang...


Menatapku penuh arti.


"Terima kasih Bening"


"Buat apa?" Ku lap mulutku yang sedikit belepotan air liurku juga sedikit pejuhnya.


Kontolnya masih ngaceng sempurna. Pantang kendur. Namun aku tidak peduli akan hal itu. Sepertinya Alex belum puas jika hanya sekali....


Itu terlihat jelas dari sorot matanya yang mengisyaratkan hal tersebut.


"Bening,,," ucapnya. Kini memelukku penuh kehangatan. Sangat berbeda sekali pelukannya kali ini. Aku tidak dapat berkata apa apa.


Bergeming ditempat. Aku diam membisu...


"Aku merindukan mu Bening, sungguh aku merindukanmu" desahnya pelan. Menangkap wajahku. Menatapi ku tajam, ada senyum terukir diwajah tampannya.


Ku kedipkan mataku, tanda aku berkata iya padanya kalau dia ungkapkan perasaannya padaku.


"Terima kasih Bening" ucapnya lagi.


Kenapa Alex mengatakan seperti hal yang lainnya, Riko, mas Surya, mas Kharisma, jika pun Angga bukan saudaraku tentu akan mengatakan hal yang sama.


"Alex sudah meluknya" pungkasku.


"Bening aku,,,?" Alex hanya menatapku ragu.


Apa yang mau dikatakannya?.


Ingatanku kembali ke masalalu dimana saat aku koma, melihat masa depan.


Ku lepaskan pelukanku. Alex termangu ditempatnya, menatapku heran...


Heran?


"Bening ada apa?" tanya Alex bingung melihatku terdiam.


"Hmmmm,,,," ku desah pelan. Berat. Namun, apa yang ku lakukan? Apa aku harus mengatakannya terus terang? Apa mungkin Alex akan percaya padaku?.


Tidak ada salahnya ku mencoba....


"Katakan Bening?" Kini Alex membenahi keadaannya. Memakai handuknya, bahkan mengambil pakaian yang telah disiapkannya. Telah tapi menatapku ditempatnya.


"Aku tak pernah berharap. Jika semuanya harus terlambat itu sudah suratan takdir. Aku tidak bisa berbuat apa apa. Itu terserah padamu Al" kata ku, ku akhiri.


Alex tampak kebingungan. Tadi ku lihat ingin mengatakan sesuatu padaku.


"Katakan yang jelas?" desaknya.


"Tadi apa yang ingin kamu katakan, Al?"


"Aku,,," Alex tampak kikuk.


Benar dugaanku kalau memang Alex ingin mengatakan sesuatu, tapi disembunyikan. Atau mungkin belum saatnya ingin dikatakan, berpikir pikir. Atau memang untuk nanti, atau lusa...


"Kamu jangan mengatakan hal yang misteri, aku tidak mengerti?" ulasnya.


Aku hanya tersenyum datar...


"Apa nantinya kau tidak menyesalinya, Al? Seandainya aku tidak ada didekatmu. Atau jauh dari hidupmu, bahkan aku tiada sekalipun" ungkapku. Dengan lidah kelu, karena aku tahu jika apa yang ku takutkan bakal terjadi. Seakan hal itu pasti terjadi.


Hal yang paling ku takuti kalau hal itu benar benar terjadi...


"Al, berjanjilah. Berjanjilah padaku" mataku sudah terasa panas. Mungkin sudah merah karena terasa perih. Yah, seperih hatiku saat ku rasakan.


Dan hal itu penyebabnya dari mimpi mimpiku selama ini, bahkan jarang ada yang mengetahuinya.


Yang tahu hanyalah mas Kharisma bahkan Riko dalang dibalik semuanya.


Aku tidak menyangka jika Riko-lah yang mengatur nya, dan juga merencanakan semua ini.


Riko bisa jadi seorang pembunuh berdarah dingin dan kejam. Bahkan tega membunuh orang tuanya demi ambisinya.


"Allahu Akbar Allahu Akbar!"


Terdengar adzan isyak berkumdang...


Ternyata aku telah menghabiskan banyak waktukku melakukan enak enak serta ngobrol dengan


Alex.


"Bening mau kemana?" seru Alex. Terlebih lagi tadi tidak ada jawabannya.


Mungkin aku akan mendiamkannya bahkan aku akan menjauhinya supaya yang jadi ketakutanku yang tidak beralasan tidak akan pernah terjadi. Sebaiknya aku lakukan hal itu.


Aku pun keluar dari kamarnya tamu....


"Dek,,," sapa mas Kharisma sepertinya selesai sholat.


"Kenapa kamu terlihat sedih dek? Apa Alex yang membuatmu seperti ini?" tanya mas Kharisma sepertinya ingin memastikan atas apa yang terjadi.


"Jangan salahkan Alex, mas. Alex tidak ada sangkut pautnya dengan yang terjadi padaku"


"Tapi kamu terlihat sangat sedih dek"


"Terima kasih empatinya mas. Ini memang masalahku dengan Alex. Tapi, ada hal yang lebih dari itu, yaitu mengenai apa yang ku lihat dimasa depan. Tapi, Alex tidak menyadari hal itu"


"Alex ada hubungannya dengan semua itu, dek?"


"Iya mas, bahkan Alex juga terseret dalam masalahku. Juga mas Surya. Tapi, tidak dengan kamu mas. Mas sama sekali tidak aku lihat" jelasku.


"Bahkan semuanya akan tiada waktu itu. Makanya aku ragu jika mas mengatakan bahwa pemilik ilmu Penjerat mimpi itu akan hidup abadi" ungkapku menjelaskan. Aku ingin tahu penjelasannya dari mas Kharisma. Apa yang ku takutkan selama ini, bukan tanpa alasan.


"Apa kamu pernah tahu kelanjutannya saat kamu koma?" tanya mas Kharisma memastikan.


Tentu hanya anggukan pelan yang ku berikan...


Mas Kharisma tertawa samar....


Senyum yang penuh misteri.


"Kamu tidak tahu kelanjutannya, bukan. Kenapa hal itu membuatmu risau? Apa yang ku ketahui itu benar. Baik paman, bibi, serta simbah mereka tidak akan pernah mengatakan hal itu bahwa pemilik ilmu penjerat mimpi akan hidup abadi" jelasnya.


Memang benar apa yang dikatakannya bahwa selama ini baik orang tuaku atau pun kedua simbahku tidak pernah mengatakan hal itu.


"Tidak mungkin orang tuaku punya obsesi tentang kitab penjerat mimpi jika ilmu itu tidak memiliki ke istimewaan sama sekali. Lebih baik orang tuaku menguasai ilmu rawa rontek atau pun Pancasona supaya hidupnya abadi. Tapi, ilmu penjerat mimpi itu istimewa bahkan bisa membunuh orang melalui mimpi tanpa ada seorangpun mengetahuinya . Kamu tahu itu kan. Bahkan bisa melanglang kedunia arwah atau pun dunia alam gaib tanpa menanggung resiko. Tidak sama hal nya dengan ilmu meraga sukma yang banyak sekali resikonya" jelasnya. Terdiam...


_____________


Sb 04/03/2023



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.