299. WAGU...
Bab 299. WAGU...
★★★★★
Ingin aku protes dengan argumennya tadi tapi apa mau dikata, aku tahu tentang keistimewaan ilmu penjerat mimpi yang ku miliki, kalau aku boleh meminta aku tidak ingin jadi pewarisnya bahkan tidak ingin memilikinya.
Aku malah hanya ingin jadi manusia biasa, layaknya yang lainnya biar tidak menanggung beban. Bahkan, seolah ini sangatlah jadi beban hidupku, jika aku bisa ingin melepaskannya.
"Apa mas tahu bagaimana cara orang yang memiliki ilmu seperti bisa mati?" pertanyaan konyol ku layangkan padanya.
Mas Kharisma tersenyum getir...
"Ada. Tapi hal itu sangat menyiksa bagi yang mpu-nya, bahkan sangat menyakitkan"
"Sama saja aku hidup abadi" ulasku. "Tak ada bedanya aku hidup abadi atau tidak bukan. Atau ini juga mengenai rencana bude sama pakde yang tapa Brata di alas Roban untuk mencari sebuah ilmu yang bisa menarik ilmu milik ku?" Imbuhku, bertanya mengenai apa yang ku ketahui.
"Iya. Entah ilmu apa yang nantinya akan menarik ilmu penjerat mimpi?" desahnya pelan. Angannya menerawang jauh, memikirkan apa yang aku katakan.
"Sudahlah dek gak usah kamu pikirkan hal itu. Aku akan melidungimu dari orang tuaku"
"Mas gak perlu menjagaku, jika aku bisa maka aku akan terima kenyataan itu nantinya" balasku dengan tersenyum getir.
"Mau ke puskesmas atau,,,"
"Aku mau lihat keadaan Riko" pungkasku.
"Bersiaplah. Biar yang jaga rumah Alex saja"
"Tapi gak ada temannya mas"
"Alex sudah besar. Dia gak takut..." ujarnya.
"Assalamualaikum,,," ada yang mengucap salam saat aku akan berlalu menuju ke kamarku.
Suaranya begitu khas, aku tahu siapa pemilik suara itu yang tak lain ...
"Mas itu ada orang?"
"Iya dek" kata mas Kharisma tanpa menanyakan perihal tamu yang datang.
Aku pun telah masuk kamar untuk bersiap...
Sesaat aku kembali, ada Ferdy yang sudah rapi bersiap sepertinya ingin menjenguk Riko.
"Mas nanti aku bareng, mau lihat keadaan Riko bagaimana?"
"Iya,,,"
Aku pun berlalu kearah dapur untuk mengambil rantang yang ku persiapkan tadi tanpa menyapa Ferdy yang menatapku canggung.
Salah siapa bikin masalah...
"Sudah dek?"
"Iya mas" jawabku singkat.
Ferdy masih menatapku tidak enak. Aku sama sekali tidak menyapanya.
"Fer, kamu naik motor sendiri ya, tadi Alex pulang bawa motor. Biar dia jaga rumah"
"Sendirian mas"
"Iya, kan Alex sudah gede. Gak usah khawatir, aman kok"
"Ya sudah mas. Gak apa apa. Aku kira bisa boncengan bertiga"
"Dek Bening bawa rantang pasti agak repot jika harus bertiga"
"Iya mas"
"Motornya ada di samping rumah"
Aku pun bergegas kedepan...
"Al aku pergi ya,,," kataku pada Alex yang masih berada dikamar tamu. Tampak dia keluar, dan melihat Ferdy.
"Kamu mau kesana Fer?" sapa Alex melihat Ferdy.
"Iya Lex, ingin tahu keadaan Riko. Kemarin aku belum sempat lihat karena sibuk"
"Iya aku tahu kamu pasti sibuk. Padahal Riko ada kejutan buat kamu dan yang lainnya. Dia mau bagi bagi hadiah loh" ungkap Alex. Tapi tidak dijelaskan.
"Aku kesini Riko sedang dirawat"
"Besok lusa kalau sudah sembuh kamu harus kesini"
"Oke. Terima kasih. Aku minta maaf karena aku belum sempat datang kesini"
"Apa Bening marah sama kamu ya?"
"Iya, dia ngambek sama aku. Aku tidak bisa menjelaskannya padanya. Aku bingung untuk itu Lex"
"Aku tahu itu. Karena ku lihat tadi Bening cuek, dia pasti marah besar padamu, sampai tidak menyapamu. Bening juga pernah seperti itu ke aku. Tapi kamu harus bisa memenangkan hatinya supaya dia bisa kembali kesemula. Jika kamu seperti ini Bening tidak akan pernah memaafkan bahkan untuk selamanya"
"Ingin aku lakukan hal itu. Tapi, aku takut Bening akan semakin marah padaku"
"Kamu bisa mencobanya. Kamu pasti bisa merayunya"
"Bisa saja kamu Lex"
"Percayalah. Aku tahu hati Bening itu seperti apa?"
"Terima kasih sarannya Lex. Aku tinggal"
"Oke,,,"
Ku tunggu mas Kharisma keluar, tadi sempat aku dengar percakapan Alex dan Ferdy. Aku tahu kalau Alex perayu ulung bahkan dia tidak mau aku marah padanya, maka sebisa mungkin membuat keadaanku membaik kembali. Ada saja yang dilakukan oleh Alex untuk membuat moodku kembali.
"Dek ayo berangkat" ajak mas Kharisma yang tampak bersiap diatas motor.
Dari samping Ferdy juga tampak bersiap padahal Ferdy punya motor pribadi sendiri. Tapi entah mengapa suka bawa motor dari sini. Apa tujuannya?
"Ayo mas" ucapku datar.
"Bareng Alex, kenapa dek?"
"Terserah mas saja" balasku datar dan cuek.
"Dek" ujarnya menatapku intens ingin tahu masalahku dari netraku.
"Mas" desahku lirih.
"Ayo mas" ajak Ferdy, deru motor Ferdy didepanku. Mulai menjalankan motornya. Diikuti oleh mas Kharisma.
Tadi hanya memperhatikan ku saja...
Sepertinya tidak dekat sama aku. Syukurlah, jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi.
Disepanjang perjalanan hanya diam saja tanpa ada obrolan karena aku memang tak ingin bicara.
Ferdy kelihatan menungguku, tapi aku tidak peduli, aku langsung masuk mendahuluinya tanpa menyapa atau pun melihatnya. Biar dia tahu rasa. Laki laki tidak punya pendirian. Jangan harap aku bicara padanya. Menyesal aku telah mengenalnya.
Dulu sikap Ferdy tidak seperti itu tapi kini berubah tidak seperti dulu...
"Simbah, makan dulu,,," panggilnya saat aku berada di ruangan rawat Riko.
Riko menatapku....
Mas Surya dan Angga terlihat main ponsel.
"Le kok baru datang,,,?" tanya beliau.
"Sibuk mbah, tadi mancing ikan dikali macak, jadi agak lama" jelas mas Kharisma masuk.
Aku tidak perlu menjelaskan lagi...
"Dapat banyak Le,,,?" tanya simbah lagi, tapi tatapannya kearahku. Aku bergeming saja.
"Lumayan mbah. Ini tadi yang masak dek Bening, disambel sama rebus daun singkong" terang mas Kharisma. Mata simbah berbinar mendengarnya.
Beliau pasti tahu kalau masakanku itu pas dengan seleranya terlebih lagi bawa makananku banyak untuk berlima.
"Lho nak Alex dimana Le?" tanya simbah lagi sambil ku sodorkan makanan yang ku bawa tadi.
Tidak aku jawab, maupun mas Kharisma pun enggan. Setelah melihat isi rantang yang ku berikan, sampai lupa.
"Wah enak tenan iki,,," sorak simbah putri girang. "Le Surya, Angga makan dulu sini" ajak simbah putri.
"Iya mbah aku udah lapar dari tadi" sahut Angga.
"Iyo mbah, aku juga lapar dari tadi" tambah mas Surya.
"Hmm,,, suapin aku ya mbah putri" rajuk Riko kumat manjanya.
"Huh,,, manja!" rutukku, kesal dengan sikap manjanya Riko yang seolah simbah putri itu neneknya sendiri.
"Tole,,,! kan masih sakit nak Riko" bela simbah putri menengahi.
"Iya, maaf mbah" kataku lirih. Tentu aku merasakan tidak enak dengan simbah putri, sekalipun aku tidak suka dengan Riko. Terlebih dengan sikap manjanya yang bikin aku iri. Tapi rasa itu ku tepis, karena Riko mungkin merindukan sosok nenek. Karena mbah kakung juga sangat sayang dengannya. Aku juga heran kenapa beliau berdua begitu sayangnya padahal bertemu juga jarang.
"Le makan lagi sini" tawar simbah putri sama aku dan mas Kharisma.
"Masih kenyang mbah" jawab mas Kharisma. Aku pun hanya mengangguk saja ikut serta.
Bahkan simbah putri juga menyuapi Riko pakai tangan. Sungguh terasa nikmat. Aku pun ingin rasanya merasakan suapan mbah putri. Namun keadaan Riko memang sedang sakit. Walaupun kini sudah agak membaik. Selang infus masih ada ditangannya. Mudah mudahan lusa bisa pulang, walaupun biaya ditanggung oleh Riko.
Kasihan juga simbah putri menunggui Riko terus padahal ingin kumpul dan bercengkrama dengan para cucu cucunya kini harus tertunda dulu.
Selesai makan kini ngobrol bebas satu sama lainnya....
Seperti biasa simbah putri memuji masakan ku juga mas Kharisma atas pancingan ikan sungai yang rasanya lezat beda dengan ikan piaraan.
Bahkan meminta lagi buat mancing lagi kapan kapan...
"Le, Kharisma nanti mancing lagi buat lauk. Uenak tenan" pinta simbah putri.
"Iya mbah putri, tapi ikannya masih banyak. Sebagian di kulkas"
"Oalah, Iyo tenan kui,,,"
"Ya mbah. Tenang, untuk tiga hari masih cukup" terangku membenar.
"Woalah, tenanan Yoan"
Aku dan mas Kharisma tertawa melihat tingkah lucu simbah putri yang lainya hanya bisa senyum simpul.
Rasanya kehangatan ini tak ingin berlalu tanpa ada masalah.
Tapi, setiap masalah pasti sedang menunggu....!
___________
Sl 07/03/2023
Komentar
Posting Komentar