30. Terbongkar.

 30. Terbongkar...


★★★★


Cetek cetek cetek,,,,,


Ku jentikan jariku tiga kali, suasana mendadak sunyi karena hal itulah yang ku inginkan.


Karena aku menunggu cukup lama tak kunjung lelap akhirnya berbuat sesuatu supaya nanti aku tidak terganggu.


Aku turun dari bad dan melihat keadaan terutama pintu. Aku pun menguncinya rapat agar supaya tidak terganggu.


Ku cari tempat untuk melakukan ritual?


Kini aku duduk bersila dengan nyaman.


____________


"Be- Bening,,, ap- apa yang akan kamu lakukan?" Mukanya langsung memucat melihat kehadiranku di alam mimpi.


Aku hanya tersenyum ramah padanya supaya Riko tidak perlu takut.


"Riko, aku hanya ingin mengajakmu untuk menemui seseorang" balasku kemudian karena Riko nampak ragu serta ketakutan.


"Siapa?" kini sikapnya telah tenang tidak seperti diawal dengan sangat ketakutan saat ku temui.


"Nanti kamu akan tau. Satu hal yang harus kamu lakukan. Jangan sekali kali kamu bicara ketika aku tidak mengijinkanmu untuk bicara. Kamu bisa melakukannya kan?" tanyaku karena Riko seperti mempertimbangkan.


"Baiklah"


"Pejamkan matamu" perintahku ke Riko seperti akan protes tapi hanya nurut saja. Ku harap Riko tidak melanggar apa yang ku katakan.


Dengan senyum aku akan membawa kehadapan orang yang berinisial D?


Aku belum berani tertindak jauh jika aku belum punya alasan yang kuat.


"Hey kamu?" sapa orang yang berinisial D. Wajah terkejutnya menatapku tak percaya. Dia belum menyadari kehadiran Riko didekatku.


Syukurlah Riko mengindahkan permintaanku.


Ku lirik Riko hanya terkesan penasaran karena penasaran dengan orang yang sedang memakai topeng dengan karakter mata bundar besar serta bibir dower merah menatap kearahku tak percaya.


"Kau Bening kan? Apa mau mu datang kesini?" tanyanya gugup karena dia tidak bisa menyembunyikan rasa kegugupannya karena tidak menyangka aku bakal menemuinya dalam mimpi.


"Benar. Kami hanya ingin melihat wajahmu itu saja" balasku tenang walaupun orang yang dihadapanku seperti menghadapi malaikat maut.


"Apa urusanmu!"


"Tidak ada. Kami hanya ingin tau" jawabku cepat. Dia terlihat keheranan.


"Apa maksudmu kami? Kamu hanya sendirian kan?" ulasnya tak percaya memperhatikanku dengan seksama. Seperti mencari sesuatu hingga apa yang dicarinya tidak ada.


"Perlihatkan wajahmu!" paksaku, suaraku bergetar karena dia seperti memancing emosiku. Tapi, masih ku tahan demi tercapainya rencana.


Untung aku membawa Riko kedunia mimpi hingga aku merasa aman terlebih kamarnya sudah ku kunci dari dalam. Jadi tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi. Aku bisa tenang dan leluasa menjelajah di alam mimpi.


"Kau bukan siapa siapa. Jadi, aku tidak perlu menurutimu" sikapnya bersikukuh dengan pendiriannya tidak mau melepaskan topeng yang dipakainya.


Wajah Riko sudah memucat sedari tadi, sepertinya apa yang di alaminya telah menggerogoti jiwanya hingga membuatnya terpuruk.


Aku tidak berani berkata untuk sekedar memberinya semangat, sepertinya Riko juga mematuhi apa yang ku perintahkan tadi.


Andai saja Riko membuat satu kesalahan maka semuanya akan jadi runyam, pelakunya tidak diketahui.


Riko sepertinya mengerti apa yang ku pikirkan jadi dia menahan perasaannya, menahan rasa ketakutannya yang luar biasa. Bahkan terlihat tubuhnya bergetar, sepertinya Riko sedang menangisi keadaannya.


Pelaku sepertinya enggan melepaskan topeng, tetap bersikukuh pada pendiriannya.


"Baiklah, terpaksa aku harus bertindak. Maaf,,," geramku dengan menahan emosiku.


Aku mendekatinya dengan tenang sambil tersenyum...


"Aku memang bukan siapa siapa. Tapi, disini aku yang berkuasa!" tegasku dengan senyum dingin kearahnya.


Dia terlihat memucat wajahnya. Dia mungkin menyadari bahwa sekarang keadaanya sedang terancam.


Mungkin tempat ini membuat Riko mengingat sesuatu yang pernah di alaminya hingga membuatnya sadar. Yah, ini dunia mimpi hal yang pernah Riko alami. Kini, kejadiannya seperti terulang kembali.


Tubuhnya terguncang hebat....


Ku genggam erat tangannya supaya untuk menguatkan jiwanya yang benar benar terguncang serta membuat trauma tersendiri.


Ku elus tanganku supaya lebih tenang...


Orang yang dihadapanku menatapku heran juga curiga karena aku mengabaikannya.


Aku terbawa perasaanku, seperti larut dalam lautan perasaannya Riko.


"Kau tidak bisa memaksaku" dengusnya tersulut emosi. Karena sedari tadi aku menenangkan Riko yang bersedih sekaligus menangis. Walaupun tangisnya tidak seperti cewek, sangat lebay.


Aku maju, karena bagiku ucapannya suatu tantangan. Aku tau kalau Riko pasti menyaksikan semua tindakanku begitu orang yang kini ada dihadapanku.


Dengan tenang aku menggapai topengnya. Dia terlihat terkejut karena apa yang ku lakukan dia tidak menyadarinya.


"Kau telah salah berurusan denganku. Aku SANG PENGUASA MIMPI. Kau bukan siapa siapa disini!" bentakku membuat nyalinya ciut.


Detik selanjutnya, ku renggut paksa topeng yang dikenakannya. Kini topengnya terlepas.


Wajahnya pun kini terlihat sangat jelas. Inilah orang yang berinisial D?


Cetek cetek cetek!


Seketika ku jentikan jariku maka yang terjadi selanjutnya keadaan berubah. Bukan, melainkan sosok yang ada dihadapan ku pun berbeda.


Kali ini yang ku temui berinisial L, keadaan pun sama seperti apa yang ku alami semula pada D yang kini terlihat jelas wajahnya.


Tubuh Riko bergetar hebat menahan gejolak api dendam yang membakar jiwanya karena dia telah mengetahui sosok sebenarnya orang yang berinisial D.


Sedikitpun Riko tidak berkata apa apa, sepertinya dia menuruti permintaanku. Mungkin dia tau konsekuensinya maka dia tidak berani melanggarnya.


Apa yang ku lakukan dengan inisial L pun sama....


Wajahnya yang semula garang kini tidak dialiri darah, pucat.


Bahkan wajahnya terlihat sangat jelas dihadapanku juga Riko.


Sekali lagi ku jentikan jariku tiga kali hingga aku dan Riko telah kembali ke dunia nyata.


Tubuh Riko terguncang hebat dengan kedua tangan mengepal.


"Ternyata kalian yang telah menodaiku. AWAS KALIAN! AKU AKAN CINCANG TUBUH KALIAN HINGGA TAK TERBENTUK!" geramnya penuh emosi dan dendam yang membara.


Aku tau ini masih larut, orang orang dirumah ini sudah terlelap dalam buaian mimpinya masing masing.


Tadi papa, mama Riko pamitan akan mencari tau keberadaan para pelaku yang telah membuat putranya menderita lahir dan batin. Bahkan hingga sampai ini belum ada kabar beritanya.


"Papa, mama!" teriak Riko histeris tapi keadaan kamarnya kedap udara hingga suaranya tidak sampai terdengar dari luar.


"Riko tenanglah. Tenang,,,!" bentakku emosi sekaligus juga sedih karena hanya ini yang bisa ku lakukan supaya Riko tenang tidak histeris.


"Aku tidak tau apa sesungguhnya yang terjadi padamu. Jadi tolong tenanglah" lirihku karena tadi aku juga sempat emosi dengan Riko hingga kini terlihat sudang tenang.


"Pikirkan-"


"Tap- tapi mer- reka telah mencabuliku Bening. Mereka telah menyo-do-mi-ku" jelasnya, dengan tangis yang dalam, air matanya tumpah ruah dengan tubuh terguncang hebat. Jiwanya benar benar terpuruk. Aku tau bagaimana perasaannya saat ini, tapi,,, apa yang bisa ku lakukan, hanya bisa membuatnya tenang.


Kini aku tau apa sesungguhnya yang telah di alami oleh dengan para pelaku berinisial D dan L. Tentu tindakan asusila mereka tidak bisa di maafkan.


"Kalian manusia durjana, laknat. Kalian guru bejat. Kalian iblis!" geram Riko berapi api dengan derai air mata bak air hujan dengan tubuh bergetar dengan amarah memuncak.


Aku biarkan Riko meluapkan kemarahannya, barulah nanti kalau emosinya mereda maka Riko akan tenang kembali, aku menunggu hingga Riko tenang kembali dan itu butuh waktu yang cukup lama. Tapi aku mencoba bersabar sekalipun terkadang aku juga emosi menghadapi sikapnya yang menurutku tidak berubah. Tapi, sudahlah, semuanya sudah terjadi, ibarat nasi sudah menjadi bubur.


"Jadi itu orang-orang yang telah menganiayamu selama ini" terangku setelah Riko tenang dengan masih menangis. Setidaknya sudah bisa menguasai dirinya.


"Dwi setiawan, Lexi Precili aku akan bunuh kalian berdua!" mata Riko terlihat berkilat penuh dendam kesumat.


#bersambung,,,,


******


Akankah Riko membalas dendam kepada mereka berdua?. Yang kini Riko telah tau siapa sebenarnya orang orang yang telah membuat hidupnya hancur.


Ikuti terus kisahnya "Terpesona"


Km 31 mar 2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.