300. Berangsur membaik

 Bab 300. Berangsur membaik


★★★★★


Malam ini aku putuskan untuk pulang bersama mas Kharisma, kasihan Alex dirumah sendirian.


Sedangkan Ferdy menginap bersama yang lainnya.


Tentu simbah putri belum akan pulang jika keadaan Riko belum pulih sepenuhnya.


Walaupun kelihatannya keadaan Riko sudah agak membaik namun masih menunggu tes selanjutnya apakah Riko masih ada perawatan lanjutan atau tidak, karena masih pengecekan tes ulang darahnya. Karena masih besok hasilnya keluar. Karena ditempatnya bidan Nur itu sarana agak terbatas. Jika pun ada tes itu tempat sangat jauh. Berada di desa PURWODADI.


Maka aku pun pamit sama simbah putri juga sama yang lainnya. Termasuk Ferdy dan Riko walaupun masih ada ganjalan dihatiku. Secepatnya aku ingin selesai dan biasa jika mereka berdua ingin inisiatif untuk memperbaikinya.


Aku tunggu....


"Iya Le. Oiya, besok ngirim lagi, tolong buatkan sayur asem, kayaknya seger" titah simbah putri padaku.


"Iya mbah, nanti aku masakan" jawabku.


"Jangan pedes pedes ya" pintanya lagi berpesan.


"Iya mbah, aku tahu selera mbah putri seperti apa?" Aku hanya tersenyum saja.


"Ayo mas pulang" ajakku,  setelah itu aku pun berlalu. Aku juga dapat tatapan tajam dari Riko juga Ferdy, yang lainnya cuma biasa.


Sesampainya diluar...


"Dek kamu hebat, tau selera mbah putri" ujar mas Kharisms.memujiku  setelah tadi ada didalam  diam menjeda, tanpa bicara sama sekali.


Sebenarnya ada beberapa orang diluar yang sempat memperhatikan ku.


Mas Kharisma dibelakang membuntutiku. Namun, aku bersikap biasa hanya ku anggukan kepala sebagai sapaan. Hanya mas Kharisma yang menyapa dengan bahasa Jawa.


"Monggo bapak bapak,,," sapanya karena sebagian laki laki yang sudah berumur.


Aku menunggu sejenak....


Jrengggggg.....


Sampailah kami dirumah terasa sunyi.


Entah Alex sudah tidur apa belum?


Pulang hanya tangan kosong.


Mas Kharisma langsung menuju kesamping untuk memasukan motor.


Langsung ditutup dan kunci...


Aku sudah menutup pintu juga dari depan, karena niat awalnya tidak nginap.


Duduk santai dikursi diruang tengah, malam makin beranjak. Tapi aku tidak merasa ngantuk.


Mas Kharisma datang langsung duduk didekat, bahkan sudah melepas atasannya hingga toples.


Bahkan tangannya diangkat sambil hembuskan nafas dalam dalam. Aroma menguar dari keteknya yang berbulu. Baunya bikin aku melayang layang. Ingin rasanya aku DUSEL diketeknya yang membikin pikiranku tak menentu.  Nafsuku juga naik dengan drastis.


"Mas,,," kataku lirih karena mas Kharisma tampak santai. Kipas angin dinyalakan dalam mode sedang hingga suasana tambah dingin tapi beda dengan mas Kharisma yang kegerahan padahal malam makin beranjak.


"Iya dek, kenapa?" jawabnya santai. Aku sudah panas dingin dibuatnya tapi tanggapannya begitu santai.


"Ah, gak jadi,,," padahal aku sudah mupeng dengan keadaannya.


"Kok gak jadi dek?" Ada rasa bimbang.


"Aku tidur duluan ya,,, kalau mas mau begadang" tandasku tak ingin nantinya pikiran mas Kharisma berharap.


"Gak dek, aku mau juga. Besok keladang kan,,," pungkasnya. Aku berjalan mematikan tv serta kipas anginnya padahal suasana kini makin dingin.


Diluar angin berkesiuran, akan turun hujan.


Aku tidak mau hal yang dulu kejadian ku alami lagi, mati lampu.


"Mas apa malam ini akan turun hujan lagi ya?"


"Mungkin dek"


"Berarti gak bisa nampas pagi. Kalau sore males aku"


"Kamu gak usah keladang, biar aku saja sama yang lainnya saja"


"Tapi aku ingin ke ladang mas, lama gak keladang, kangen suasana nya, ingin digigit nyamuk nakal"


"Hayo,,, mulai ya,,," mas Kharisma menaikan alisnya.


"Ih apa sih mas, gak lah. Aku memang ingin keladang kok"


"Iya deh" desahnya pelan, ada gelisah sedikit kecewa yang dirasa.


Hanya bisa tersenyum melihatnya seperti itu. Setidaknya dia mengingingkan nya malam ini. Bisa apa, moodku belum membaik.


Niatku untuk masuk kamar ku urungkan. Aku ingin mencari, melihat Alex sekedar, karena sedari aku tidak melihatnya. Aku tidak tahu apa Alex bermain main disini dengan mengenal banyak cewek di kampungku. Jika itu terjadi, awas saja. Ku potong burungnya sampai pangkalnya, kata bermonolog dihati.


"Kemana dek?" Tanya mas Kharisma bingung. Tadinya ingin tidur ku urungkan niatku sejenak.


"Sebentar mas, aku ingin lihat Alex apa ada dikamarnya atau sedang keluyuran" jawabku asal. Karena kemarin lusa seharian aku tidak melihatnya. Kalau di puskesmas gak apa apa. Ini menghilang tidak ada kabarnya.


Aku pun melihat dikamar tamu.


Ternyata...


Alex sedang tiduran, entah sudah tidur apa belum, karena hanya memakai celana pendek saja sama seperti hal mas Kharisma.


Tentu hal itu membuat ku berdebar debar melihat tubuhnya yang terpahat sempurna. Entah bagaimana dia punya body sebagus dan sempurna itu, belum lagi kontolnya yang menambah kemachoannya.


Alex bisa dengan mudah dapat cewek yang di mauinya tanpa susah payah dengan rayuan pasti bertekuk lutut, dengan tampang yang dimilikinya. Tapi entah mengapa dia lebih suka mengejarku. Kalau pada kenyataannya dia egois dengan perasaannya.


Syukurlah Alex tidak keluyuran kemana mana, hanya istirahat saja dikamar, sepertinya memang tidurnya nyenyak sekali.


Namun, ada rasa penasaran kenapa Alex hanya tiduran tidak kemana mana, hingga perlahan aku pun mendekatinya.


Ku sentuh bahunya, ada getar getar yang menyergapku. Rasa itu ku tepis karena tak ingin bawa perasaan.


"Al,,, " sapaku pelan, siapa tahu dia memang belum tidur sepenuhnya.


"Hmm,,," gumamnya lirih. Sepertinya memang belum tidur lelap.


"Ada apa?" ucapnya dengan malas, membuka matanya yang benar dia barusan tidur.


"Kamu gak apa apa?"


Alex hanya menggeleng lemah...


"Maaf,,," kataku selanjutnya.


"Aku seharusnya yang meminta maaf. Aku msmh salah" ujarnya dengan suara pelan. Mengusap matanya.


"Kamu baru pulang. Dengan siapa?" Dia mengusap dadanya, lalu kebawah.


"Sama mas Kharisma" jawabku singkat.


"Keadaan Riko bagaimana?"


"Sudah mulai membaik. Besok mungkin sudah bisa pulang. Kamu gak kesana Al untuk melihatnya"


"Besok saja. Aku capek ingin istirahat"


"Ya sudah, aku mau kekamar"


"Kenapa gak tidur disini saja? Aku kangen sama kamu"


"Aku gak enak sama mas Kharisma"


"Kamu sayang padanya"


"Gak, dia mamasku"


"Itu cuma alasanmu"


"Gak usah bicara seperti itu"


"Memang benarkan, kamu sekarang banyak berubah setelah disini"


"Al, aku tak ingin berdebat sama kamu lagi"


"Aku tahu, aku tidak berarti buatmu"


"Kamu salah persepsi"


"Buktinya,,,?"


Seandainya Alex mengatakan cintanya sebelum sebelum semuanya terlambat pasti aku akan senang hati menerimanya.


Mungkin, memang seperti ini jalannya, aku tidak bisa berbuat apa apa...


"Sudahlah Al, aku juga capek, mau istirahat,,," kilahnya karena aku sempat melamun.


"Tunggu Bening" cegahnya hingga langkahku berhenti sejenak.


"Ak- aku,,,?"


Sejenak aku menunggu, Alex terlihat ragu ...


______________


Km 09/03/2023



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.