301. Tak akan bisa terlupakan seumur hidup.
Bab 301. Tak akan bisa terlupakan seumur hidup.
★★★★★
"Aku ingin mengucapkan selamat malam" tandasnya disertai dengan cengiran.
Tentu aku merasa sangat kecewa atas tindakannya, aku kira dia akan bicara sesuatu hal yang selama ini aku tunggu tunggu tapi ternyata aku salah persepsi.
Dengan ulasan senyum datar ku anggukan kepala, tanda terima kasih atas perhatianku.
Aku kira tadi sudah tidur nyenyak tapi ternyata belum. Kini aku merasakan rasa kecewa. Sambil ku langkahkan kaki ku tepis perasaanku yang tidak mengenak.
Sampai akhirnya ku masuk kamarku, ku dapati mas Kharisma sudah terpejam matanya, dengan dengkuran halus.
Aku pun naik ke ranjang, untuk sejenak ku perhatikan wajah gantengnya, tubuh eksotiknya yang mampu mempesona setiap kaum hawa yang memandangnya.
Ada rasa sedih yang merasuk dalam dadaku hingga menyebabkan rasa perih di mata ini, hingga tak terasa ada genangan air hangat.
Ku rebahkan tubuhku yang merapuh ini di dekatnya. Ku peluk tubuh perkasanya, ku cium pipinya lembut hingga tak terasa air mataku pun luruh, mengenai kulitnya.
Tak ada penolakan dari mas Kharisma sudah tahu siapa berani sejauh itu padanya, pegang tubuhnya disaat sedang toplles. Kalau orang lain tentu saja sudah babak belur ditinju dan dihajar olehnya karena dia tidak suka ada yang menyentuh nya kecuali aku. Orang lain pasti sudah di hujat habis habisan bahkan diolok olok serta dipermalukannya.
Tubuhnya dimiringkan, hingga bibirnya melumat ku pelan.
"Kenapa kamu menangis dek?" Setelah ciumannya lepas, menatapku dengan sendu karena bangun tidur.
"Gak ada apa apa mas" kilahku mencoba untuk menutupinya.
"Kamu dari kamar Alex kan, kamu jangan pernah berharap sama Alex. Dia itu egois sekali. Suatu saat dia pasti akan menyesalinya, percaya sama mas" hiburnya. Entah mengapa mas Kharisma bisa mengatakan hal tersebut. Dia begitu tegar menghadapiku, walaupun dia tahu aku tidak pernah punya rasa terhadapnya, hanya sebagai best friend saja.
Dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu....
"Sudah jangan banyak pikiran. Sini mas peluk" kini mas Kharisma mendekapku dalam pelukan hangatnya. Ku rasakan nyaman tiada beban. Perlahan beban yang ku rasakan ku abaikan karena aku tak ingin terpuruk dan selalu memikirkan kearah sana.
Setiap manusia pasti punya masalah baik itu kecil maupun besar, karena setiap orang kemampuannya berbeda beda.
Bahkan kini tanganku menjalar ke bawah, masuk kedalam celana pendeknya hingga ku dapati kontolnya yang sudah ngaceng maksimal.
"Oughhh,,," lolos dari mulutnya, dengus mas Kharisma pelan, hanya diam saja menikmati sentuhanku dengan mata terpejam.
Sembari aku tersenyum menatapnya yang terpejam matanya...
Dada turun naik, perut ratanya kembang kempis. Aku tahu hasratnya telah memuncak.
"Oughh,,, hah,,," lagi lagi lenguhan jantan keluar dari mulutnya.
Dilorotkan celana serta dilemparkannya entah kenapa kini dalam keadaan telanjang sambil melenguh keenakan.
Sekian lama mas Kharisma tidak keluar pejuhnya...
Tentu hasratnya kian meninggi karena baru bertemu lagi setelah sekian bulan kita tidak pernah bertemu, sekalinya bertemu kini sikapnya lebih dewasa tidak meluap luap.
"Dek, emut yahh,,, mamas sudah gak tahan lagi ingin keluar,,,," desahnya lirih memintaku untuk emut kontolnya yang mana kontolnya bergerak gerak menggemaskan.
Maka dengan senang hati aku melakukannya, memanja benda panjang miliknya yang berurat. Ada kepuasan tersendiri saat aku mengulumnya dengan penuh perasaan, hingga ku rasakan kontolnya licin oleh liurku, makin menghangat dalam mulutku dan makin keras hingga urat uratnya yang menjalari dibatang kerasnya makin menambah kesangaran kontol panjangnya yang kurus.
"Hmmm,,," gumamku menikmatinya.
"Oughhh,,, yeahhhhh,,, haaahhh,,,!" dengan lenguhan panjangnya, maka pejuhnya pun berhamburan keluar menyemprot deras sampai ada yang langsung tertelan masuk kedalam kerongkongan ku.
Mas Kharisma terengah engah penuh kepuasan, tatapan sendu kearahku.
"Terima kasih dek" ulasnya sembari meredakan desah nafasnya yang belum teratur. Seperti biasanya yang sudah sudah kontolnya pasti masih tetap tegak perkasa. Dia meraih ku dalam pelukannya padahal tubuhnya berkeringat tapi aku suka bau keringatnya karena dia jarang merokok. Pejuhnya juga legit tidak pahit karena kalau seorang perokok maka rasa pejuhnya pahit tidak legit dengan rasa ada manis manisnya.
"Dek mas itu sayang banget sama kamu. Mas itu gak bisa jauh sama kamu, dek"
"Mas kenapa gak nikah aja? Aku gak apa apa mas nikah, terus punya anak, pasti lucu lucu tuh anak anak mas nantinya"
"Kamu ngomong apa to dek. Gak ah, mas gak mau nikah titik. Bahkan selama lamanya"
"Mas, kenapa?"
"Sudahlah dek, jangan maksa mas terus. Sudah ku bilang mas gak akan nikah. Mas cuma sayang sama kamu didunia ini bahkan sampai aku mati sekalipun bahkan jika nanti di akhirat aku akan minta pada Alloh untuk dipertemukan denganmu" tandasnya.
Tidak bisa aku bantah ataupun protes lagi jika mas Kharisma bilang seperti itu. Namun, aku bisa apa, karena itu demi untuk kebaikannya supaya nasibnya tidak sama seperti aku.
Cukup lama aku merenung dalam rengkuhan hangatnya, terasa nyaman dalam pelukannya bahkan aku tak ingin semua cepat berlalu, tidak aku munafik dengan keadaan ini.
Namun kehidupan mas Kharisma harus berjalan serta punya garis keturunan tidak seperti aku karena aku tidak mungkin bermimpi sampai sejauh itu karena aku tidak akan memiliki yang mas Kharisma punyai. Karena ini sudah takdirku untuk tidak punya keturunan untuk selama dan tidak akan bisa nikah karena ilmu yang ku miliki.
"Kenapa kamu melamun dek, apa yang kamu pikirkan? Atau mengenai aku atau keadaanmu"
"Dua duanya" jawabku singkat.
Dia tersenyum melumat bibirku lembut, wajahnya penuh haru menatapku. Ada bulir bening luruh dari wajah tegasnya yang penuh dengan keteduhan saat aku tatap mata elangnya.
Cukup lama lumatannya hingga membuaiku...
"Aku tak ingin menyakiti perasaanmu, walaupun apa yang kamu lakukan sangat menyakiti perasaanku, tapi rasa cintaku mengalahkan itu semua, bahkan aku tak sanggup berpaling darimu dek. Maafkan mas, karena begitu mencintai mu begitu dalam".
Pelukannya makin erat, dada gempalnya bergemuruh memelukku tak ingin melepasku.
Tentu aku dibuatnya bingung.
Aku terlalu egois dengan perasaanku, dengan keadaanku, semuanya. Tapi apa yang harus ku lakukan.
Tidak mungkin aku maksa mas Kharisma buat melupakan aku begitu saja, tidak akan mudah seperti membalikan telapak tangan karena rasa cinta itu tidak ada yang tahu.
Ku usap air matanya yang terus merembes. Ku ciumi wajahnya bertubi tubi hingga dia tersenyum senyum.
"Udah udah dek"
"Kenapa mas?"
"Gimana kalau aku tegang lagi, kan kamu harus tanggung jawab dek"
"Huh, kirain apaan?"
"Nih, liat punya mas belum juga lemes, minta nambah lagi. Emut ya, kalau dua kali pasti nanti bisa bobok tenang"
"Yaudah sini, aku manjain biar nanti keluar. Tapi gak pake lama. Soalnya aku juga mau tidur"
"Iya, nanti juga cepat. Apalagi kalau kamu emut dek, beuh,,, rasanya pengen langsung ngecrot dek"
"Huh, masa mas, perasaan cuma emut doang sampai segitunya"
"Beneran dek, rasanya geli geli nikmat. Tubuhku langsung menegang" jujurnya.
Aku tidak tahu jika emutanku sampai sedasyat itu hingga mas Kharisma saja sampai tidak bisa melupakanku.
Kini, kontolnya sudah didepan mataku...
Hap!?
(SEKIAN,,,)
________
Jm 24/03/2023
Komentar
Posting Komentar