304. S2 Pertengkaran
304. S2, Pertengkaran
★★★★
Akhirnya aku dan mas Kharisma sampai juga, walaupun dalam perjalanan ke puskesmas hanya saling diam dalam pikiran masing masing.
"Alhamdulillah" kataku, karena sampai tujuan dengan selamat.
"Mas kamu yang masuk ya, aku tunggu disini saja" ucapku lagi, itu pasti dengan alasan. Dia nerima rantang yang ku bawa serta air dalam dirigen sedang buat minum serta gelas dalam tas anyam.
Tentu ada pakaian ganti untuk simbah putri dan Riko yang sedang sakit.
"Nanti bagaimana kalau simbah putri tanya tentang kamu dek?".
"Mas kasih alasan apa? Mas pasti bisa. Aku mengandalkan ku".
"Baiklah, mas masuk dulu".
Kemudian mas Kharisma masuk membawa makanan buat sarapan nanti juga buat makan siang. Kalau belum pulang mungkin akan ku kirim lagi nanti.
Aku duduk santai dikursi panjang dan lebar yang telah disediakan. Kursi yang bisa untuk rebahan. Terlebih aku menunggu mas Kharisma didalam, tentu lagi ngobrol dengan yang ada didalam.
Ku lihat mas Surya keluar dari dalam sambil tersenyum menghampiriku. Ku lihat Angga juga mengikutinya dari belakang.
"Dek, apa kabarmu?" dia tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya tapi. Ku lihat kerinduan mendalam dimatanya.
Kini aku teringat kala itu kalau mas Surya itu ada kesepakatan sama pakde Ganjar. Tapi sampai detik ini tidak terjadi suatu hal padaku. Juga, ku teringat bagaimana kematiannya ditangan Riko. Bahkan aku tidak bisa bayangkan jika Riko jadi seorang pembunuh berdarah dingin tak kenal hati bahkan kedua orang tuanya juga jadi korban kebengisannya.
"Baik mas" jawabku singkat. Tidak dengan Angga hanya menatapku, lalu tersenyum. Mungkin lelah menunggui disini, hanya santai, main hp, tidur, itu saja, tidak ada hal lain yang jadi aktivitasnya.
"Mas Bening, aku ikut pulang ya, aku jenuh disini" katanya, terlihat sangat merasa bosan.
"Nanti aku mau kesawah sama mas Kharisma. Ku pulang saja bareng Ferdy, nanti palingan juga kesini. Katanya kemarin bilang gitu".
"Oh, ya sudah" kemudian duduk disebelah kiriku. Merasa jemu. Dengan apa yang dilakukannya selama ini.
"Gimana keadaan mas Surya" tanyaku kembali.
"Kamu lihat sendiri. Bosen. Aku pengen cepat pulang, dek”.
"Nanti sore juga pulang kan Riko".
"Tapi nunggunya kelamaan, dek".
"Dek, ayo pulang" ajak mas Kharisma tiba tiba.
"Ayo. Mas, Angga aku pulang dulu" kataku pada keduanya. Terlihat wajah murung mas Surya tapi wajah Angga terlihat biasa. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Angga. Kalau ekspresi mas Surya sangat kelihatan jelas sekali, gak usah ditebak.
Ku lambaikan tanganku, pada mereka berdua. Tentu dihalaman banyak orang yang melihatnya. Tapi aku tidak peduli.
"Kelihatan kamu sudah membaik dek" tanya mas Kharisma menyelidik.
"Siapa bilang. Mas nya lama didalam" ucapku setelah berada di boncengan.
"Tadi simbah putri nanyain kamu dek, juga Riko. Jadi aku bilang saja kamu diluar".
"Gak ada alasan lain, gitu".
"Gak" gelengnya pelan.
Tapi baru beberapa meter kami jalan dengan naik motor, aku melihat Ferdy dan teman temannya. Niatnya mau lihat keadaan Riko.
"Bening...!" Sapa yang lain padaku. Tapi tidak dengan Ferdy yang masih diam, marah, tanpa ekspresi.
Perasaanku rasanya sakit melihat sikapnya itu. Baik jika itu kemauannya, aku turuti. Jangan harap aku akan bicara lagi padanya terlebih kerumahnya.
Ferdy marah padaku tanpa alasan yang jelas. Dia tidak pernah menjelaskannya padaku, apa apa. Hingga membuatku agak bingung terlebih menilai sikapnya yang akhir akhir ini berubah.
Toch, aku disini juga tinggal beberapa hari lagi, setelah itu akan kembali lagi ke Jakarta.
Niatku, setelah lulus nanti aku tidak akan kembali kesini. Aku akan langsung kuliah saja. Tapi, aku tidak tahu harus kuliah dimana, nantinya?.
Aku juga tidak tahu, apakah nantinya masih sekitaran Jakarta ataupun kemana?.
Dulu aku cita cita akan kuliah di Jakarta saja, sekalian dekat dengan orang tuaku, terlebih lagi ada bibi, paman, Angga dan Putri.
Angga katanya mau kuliah manajemen, mungkin ambil jurusan perkantoran, katanya KEREN gitu.
Dulu aku pernah bilang ke Angga mengenai cita citaku. Apakah nanti terwujud atau gak, tinggal niatan ku nanti.
"Kita langsung kesawah saja ya, dek".
"Iya mas" balasku. Lagian ngapain juga kembali kerumah, palingan lihat Alex lagi. Aku ogah lihatnya. Terlebih lagi aku berusaha untuk menghilangkan rasa suntukku.
Tak berapa lama sampailah kami disawah, yang luasnya berhektar hektar, bukan sawah milik keluarga ku saja tapi juga orang lain kalau punya kami hanya setengah hektar kalau gak salah.
Aku di suguhi oleh pemandangan yang menyejukan pandangan mata, semua harapan sawah yang luas ditumbuhi padi yang sedang menghijau laksana nyiur yang sedang melambai.
Diterpa angin, aroma padi pun menguar dan terasa menenangkan jiwa...
Hingga beberapa kali ku hirup aromanya, dan ternyata sangat membuai jiwaku.
"Dek, kamu sedang ngapain?" Tanya mas Kharisma membuyarkan lamunanku yang sedang menikmati udara sejuk pagi hari dibarengi aroma padi.
"Ayo ke gubuk" ajaknya. Tanpa berpikir panjang aku pun hanya ikuti saja jalannya di pematang sawah. Yang disebut GALENGAN (red:bahasa Jawa).
Gubuk mungil nan sederhana berada ditengah sawah, dihamparkan sawah yang begitu luas. Tidak hanya satu, karena setiap sawah milik orang ada gubuknya untuk berteduh, atau sekedar untuk istirahat, berjaga dari hujan, serta terik jika ingin sekedar NGASO (red: bahasa Jawa), istirahat sebentar.
Senyumku melebar, rasanya jiwaku begitu tenang dan damai, terlebih ditemani oleh mas Kharisma seorang pejantan bertubuh atletis berkulit eksotik. Rasanya lelap sudah kebahagiaanku hari ini.
'Ya Tuhan, jika aku boleh meminta satu hal, aku ingin hidup normal seperti ini untuk selamanya' batinku, berharap dalam hati supaya apa yang ku rasakan saat tidak cepat berlalu.
Hamparan padi yang menghijau sungguh suatu pemandangan yang luar biasa, di Jakarta tidak akan pernah hal seperti ini ku temui. Yang ada hanya hiruk pikuk kendaran serta polusi dimana mana.
Semilir angin menerpa sepoi sepoi membuat mata jadi ngantuk.
"Seandai hidup itu tidak ada masalah seperti ini, maka dunia akan tentram dan damai ya dek" kata mas Kharisma disampingku.
"Allah punya kisah sendiri pada setiap insan ciptaan-NYA, itulah namanya hidup. Tidak akan indah jika tidak ada masalah, karena dengan masalah maka manusia akan berpikir. Jika tidak ada masalah, maka tidak akan pernah indah. Contoh saja pelangi, jika cuma hitam saja, atau merah saja tentu tidak indah, makanya ada tujuh warna hingga lengkaplah keindahan itu dan SEMPURNA".
"Kamu puitis dek. Kamu lagi jatuh cinta ya".
"Sama siapa?".
"Siapa tahu? Aku juga gak tahu kamu suka dan cintanya sama siapa? Pastinya bukan aku. Karena aku tahu kamu tidak pernah cinta padaku sejak aku kenal sama kamu dan melihatmu di bus malam itu".
Kenangan itu kembali terulas lagi, bisa bisa aku kenal cowok misterius dan langsung mau di emut kontolnya.
Keesokan harinya aku tidak melihat orangnya, dan entah pergi kemana. Hingga akhirnya aku sampai dirumah simbah kakung, aku dibuat kaget dan bertemu cowok misterius. Ternyata dia bernama KHARISMA dan masih saudaraku. Antara kaget, shock juga tak percaya jika cowok itu tujuannya kesini.
Dengan itu, hubunganku makin dekat dan makin dekat seperti sekarang.
Dan ku rasakan kini aku lebih nyaman berada dekat mas Kharisma karena tidak sedikitpun pernah menyakiti aku.
Walaupun dia punya kesalahan yang teramat besar, tapi lambat laun aku bisa memaafkan. Terlebih lagi kini mas Kharisma sangat membenci kelakuan kedua orang tuanya.
Karena ulah orang tuanya hingga menyebabkan keadaan menjadi kacau seperti ini. Hingga harus mengorbankan simbah kakung. Namun, perlahan lahan mas Kharisma bisa meyakinkanku, dengan sikapnya yang tulus.
Tapi, aku tidak tahu apa itu murni atau hanya berkedok. Tapi dari sikapnya selama ini yang begitu menyakinkan hingga tidak ada keraguan lagi aku terhadapnya.
Bahkan mas Kharisma juga menjelaskan bagaimana tentang ilmu Penjerat mimpi dan lain sebagainya, mustahil jika dia mau berhianat lagi.
Terlebih lagi, mas Kharisma memutuskan untuk tetap tinggal disini selamanya dan tak akan kembali lagi ke Jawa untuk menemui orang tuanya karena ulah orang tuanya yang menurutnya sangat keterlaluan.
(Mg 28/5/2023).
Komentar
Posting Komentar