305. S2. Saat Berada disawah
305, S2. Saat Berada disawah
★★★★★
Entah berapa lama aku ketiduran di gubuk ini, aku tidak tahu apa yang terjadi.
Ketika aku bangun, mas Kharisma tidak ada di dekatku. Akhirnya aku bangun, dan ku perhatikan sekeliling dan ku dapati mas Kharisma berada ditengah sawah.
Entah apa yang sedang dia lakukan, sepertinya sedang SULAM (red: bahasa Jawa). Istilahnya ganti tanaman yang mati digantikan, dan diambil dari semaian maupun dari ambil padi dekatnya yang agak banyak atau sedikit padinya ditambahi.
Selang beberapa saat mas Kharisma datang ke gubuk. Keringat mengalir disekujur tubuhnya langsung melepaskan pakaian atasnya karena basah oleh keringat.
Dia tersenyum kearahku...
"Kamu sudah bangun dek. Tidur kamu pulas banget, jadi aku biarkan kamu istirahat dengan tenang. Tadi aku sulami padi yang mati, serta nambahi yang sedikit, biar nanti kalau berbuah biar rata. Kamu kelihatan cepek banget, dek".
"Aku capek hati mas" jawabku singkat. Lagi lagi mas Kharisma tersenyum simpul sambil geleng kepala.
"Dek, dek, kamu ada ada saja. Ayo pulang".
"Kok pulang sih mas".
"Kamu lihat" tunjuknya pada arah matahari yang sudah tinggi.
Tak sadar jika hari sudah siang.
"Tapi mas baru saja ngaso, masa pulang sih. Sebentar saja, mas kan masih capek" protes ku masih betah berada disini bersamanya.
Lagian, kalau dirumah pasti ketemu sama Alex. Juga yang lainnya, padahal disini hawanya enak, sejuk dan nyaman, tidak berisik, dihati rasanya adem, bawaannya tidak emosian seperti dirumah.
Jika tadi bawa bekal, pasti enak makan di gubuk berduaan, gak bisa ku bayangkan jika hal itu nyata.
"Kok malah ngelamun dek".
Aku hanya nyengir saja.
"Kamu mikir apa dek?" Tanya mas Kharisma.
"Tadi kok gak bawa bekal sekalian ya mas, kan enak bisa makan berduaan gini di gubuk. Aku males mau pulang".
"Tapi ini sudah siang dek. Nanti sore kesini lagi, karena belum selesai" jelasnya.
Mataku langsung berbinar mendengar penjelasannya. Senyumku langsung mengembang.
"Kelihatan seneng banget kamu dek".
"Lagian, aku suntuk dirumah mas" jawabnya.
Dia hanya senyum tanpa menjawab. Aku tahu dia pasti tahu tentang keadaanku.
"Ya sudah, nanti sehabis dzuhur kita kesini lagi, bagaimana?" Tawarnya.
Ku anggukan setuju tanpa ada protes.
Dia memakai pakaiannya kembali. Bersiap...
Ada rasa kecewa sedikit karena tidak bisa menikmati tubuhnya. Walaupun aku sudah tahu semuanya namun entah mengapa aku lebih suka melihatnya berlama lama.
"Kamu kenapa, dek?".
Ku gelengkan kepalaku.
Ku desahkan pelan nafasku.
Akhirnya setelah dalam boncengan, kami pun meninggalkan sawah.
Tentu saja dijalan bertemu dengan orang orang yang lalu lalang.
Tentu saja mas Kharisma menyapa mereka satu pertama sebagai ramah tamah kepada orang orang desa supaya tidak dikatakan SOMBONG.
Sampailah dirumah, seperti agak ramai, entah siapa yang datang. Tentu ada rasa penasaran.
Diluar aku melihat kedalam, ternyata ada Ferdy, juga ada Latifah serta yang lainnya. Itu teman sma ku disini. Pada kumpul disini, dirumahku.
Ada apa mereka pada datang, atau jangan jangan mereka menunggu kedatangan Riko pulang.
Tentu saja aku gak enak hati melihat Latifah berada disini. Tentu saja aku teringat pernyataan ku dulu padanya. Aku jadi malu sendiri terlebih lagi harus bersikap. Terlebih lagi dengan Ferdy lagi berseteru pun dengan Alex juga.
"Itu Bening sudah pulang, kelihatan dari sawah, bersama mas Kharisma" kata Latifah dengan yang lain.
Yang didalam ada yang keluar melihatku, mungkin menyambut. Tapi, mas Kharisma lewat samping, tentu tahu perasaanku. Syukurlah...
"Bening, Bening,,," ada suara teriakan memanggilku, entah siapa yang manggil.
Aku hanya noleh sekilas, serta coba berikan senyumku supaya kesannya aku tidak sombong dalam keadaan baik baik saja. He he heee ...
Karena lewat belakang, jadi sekalian mandi, karena waktu Dzuhur juga sudah.
Sekalian aku sembahyang dulu biar nanti enak ngobrolnya bareng teman dan sahabat sahabatku.
Butuh beberapa menit untuk hal itu, dari mandi dan lain lain walaupun juga merasa lapar, sekali pun disawah tidak ngapa ngapain cuma tidur doang, karena yang bekerja mas Kharisma tentu capek. Aku coba buatkan kopi, juga buat yang lain serta teh, tak lupa aku suguhi camilan buat mereka ku ambil dari lemari dapur.
Setelah rapi, aku pun menuju keluar membawa minuman dingin karena aku kasih es, itu aku kasih ceret biar ambil sendiri sendiri beserta camilannya.
"Huuhh,,, mantap jiwa, tau aja kamu Ning, kalau kita kita kehausan" celetuk Gimen yang berkulit eksotik dan punya kontol gede, hitam serta panjang diantara yang lainnya. Tentu saja aku sudah tahu semuanya kontol kontol satu persatu temanku itu karena rata rata mereka tidak pernah malu memperlihatkan nya padaku disaat tegang atau apa pun bahkan saat sedang pipis sekalipun tak segan segan memamerkan nya padaku. Itu yang menyapaku duluan Gimen.
Entah mengapa Gimen begitu antusias, biasanya Tono yang dulu pendiam juga banyak bicara kini irit bicara belum menyapaku.
"Bening makin ganteng dan bening aja pulang dari Jakarta. Pasti banyak cewek ceweknya sekarang, yaaa,,," celetuk Gimen lagi, dengan cengiran kudanya.
"Sarah, Oktaviani Savitri, Latifah Ariani, Revika Larasati dan masih banyak lagi yang lainnya, yang tak bisa ku sebutkan satu persatu namanya" celotehku sekenanya. Tentu aku tersenyum simpul membuat yang mendengarnya hanya bisa melongo.
"Halah, pasti boong lho kan Ning, mana buktinya?" kata Tono memastikan, yang lain mengangguk penasaran.
Tentu saja aku bersikap biasa, lagi lagi aku tersenyum penuh arti pada mereka termasuk Ferdy.
"Kok ada yang sama dengan namaku" tandas Latif karena namanya hampir mirip walaupun hanya nama depannya saja.
"Ting,,,,!" Ada suara pesan masuk ke hp Gimen karena gak pake lama aku kirim ke dia. Foto para cewek cewek tadi ku sebutkan tadi.
Mata Gimen langsung membulat tak percaya melihat foto foto yang ku kirim, ekspresinya, mulutnya sampai mangap melihatnya sambil geleng geleng tak percaya.
"Gila! Ini bener cantik cantik banget!" dengan ucapan antusias menatap lekat setiap foto itu.
"Kamu bener Ning" kini tatapan Gimen mengarah padaku.
Tentu saja yang lainnya pada heboh tapi tidak dengan Latifah dan kawan kawannya langsung tak bersemangat, terlebih lagi para cowoknya ngerubung Gimen.
'Syukurin, emang enak. Makan tuh gambar' batinnya tersenyum dalam hati melihat sahabat para cowokku yang sedang heboh.
"Kalian kenapa sih?" Tampak Latifah sewot serta cewek yang pada cemburu menanggapi para cowok yang sangat antusias.
Bahkan sampai ada yang membayangkan bisa memiliki pacar cewek kota bahkan bisa memperistrinya, itulah impian mereka.
Lagi lagi aku hanya bisa tersenyum dengan kelakuan mereka tanpa memperlihatkan dihadapan mereka.
Mas Kharisma datang menghampiri tentu saja pandangan para cewek sekitar lima orang tertuju padanya, tersenyum penuh harap, bahkan tak lepas lepasnya mereka menatapnya. Begitu yang lainnya juga ikut memperhatikannya. Sungguh pesona yang dipancarkannya luar biasa hingga mereka yang menatapnya penuh kekaguman.
Para ceweknya klepek klepek dibuatnya, demi melihat pesona mas Kharisma yang begitu menghipnotis kaum hawa. Pun kaum Adam juga sangat antusias melihat kearahnya dengan rasa kagum yang tinggi.
Lagi lagi aku tersenyum penuh arti kali ini, aku acungkan jempol kearah mas Kharisma yang juga tersenyum kearah ku.
Hal itu tidak berlangsung lama, takut menimbulkan kecurigaan pada yang lainnya.
"Kalian pada ngapain kesini?" Tanya mas Kharisma tebar pesona terutama pada para ceweknya yang masih membulat matanya tak percaya akan seorang mas Kharisma yang sungguh mempesona.
"Kami nunggu mas,,," teriak bersamaan seperti paduan suara. Mas Kharisma dapati hal itu hanya tersenyum manis kearah mereka sehingga mereka langsung histeris.
"Dasar cewek ganjen!" sungut Ferdy tak terima melihat tingkah kelakuan Latifah yang begitu mendamba mas Kharisma.
Tentu saja aku senang melihat kejadian itu, aku bersyukur membuat Ferdy marah marah dan cemburu gak jelas, padahal mas Kharisma sebenarnya hanya mempermainkan perasaannya mereka saja.
Ha ha haaaaa,,,,,!
(Sl 30/5/2023).
Komentar
Posting Komentar