309, S2. Tidur bareng dengan...
309, S2. Tidur bareng dengan...
★★★★★
Selama mas Kharisma mengijinkan aku tidur bareng bareng dengan temanku dari gesture serta tatapannya, aku terima saja karena aku jaga perasaannya saat.
Bagaimana pun kuatnya hati seseorang, pasti akan ada saat rapuhnya. Sekuat apa pun hati itu.
Hal itu lah yang membuatku berpikir ulang, karena selama ini aku rasa tidak ada orang yang sepengertian seperti mas Kharisma sekalipun Riko telah banyak berkorban untukku.
Pun, dengan Alex yang masih memendam perasaannya untukku, tapi aku sudah tidak berharap lagi padanya. Terlalu egois. Walaupun mungkin aku lebih egois dari mereka.
Tentu, aku memilih tidur bareng Gimen, Dimas, Dirga, Supriyanto dan Tarmuji. Satu tenda. Mereka sangat senang.
Kenapa alasan aku memilih mereka, karena wajah mereka pas pasan, walaupun body bagus, itu rata rata cowok kampung tapi ada hal yang spesial dari yang mereka miliki yaitu kontol mereka yang gede dan panjang. Tapi, tujuanku bukan itu. Niatku hanya untuk tidur bersama, itu saja. Sekalipun mereka punya nilai plus dengan kontol panjang, gede yang mereka miliki, tapi bagiku tak menggiurkan karena ada hari yang ku jaga.
Aku tidak tahu, yang lainnya tidur bareng siapa. Karena aku sudah masuk kedalam tenda. Mereka masih asik ngobrol dengan wajah ceria dan bahagia.
Disini yang banyak ngomongnya Gimen dan Dimas, sedangkan Dirga sesekali, Tarmuji pun sama halnya dengan Supri.
Sebenarnya aku senang bila ngumpul serta ngobrol seperti ini. Tapi, perasaan tak enak, kepikiran terus sama mas Kharisma.
"Ning, dari tadi kamu banyak bengongnya, ada apa Ning?" tanya Gimen penasaran.
Aku langsung nyengir saja...
Saat ini aku kepikiran sama mas Kharisma. Entahlah, pikiranku saat ini dipenuhi oleh sosoknya, bahkan bayangan nya bermain di pikiranku.
"Iya. Nah, tuh ngelamun lagi. Heran? Apa yang dilamuni, Ning?" cerca Dimas.
"Gak ada kok Dim, Gim. Aku lagi mikir aja, kalau nanti setelah lulus mau ngelanjuti kemana, gitu?" balasku sekena. Bohong, tentu. Karena aku tak ingin mereka tahu apa yang sedang ku pikirkan saat ini. Terlebih lagi jika saat ini aku sedang kepikiran mas Kharisma.
"Oalah, gitu. Kirain kamu mikirin apa? Iya sih, lagian pasti kamu pengen ngelanjut kemana. Pasti kamu sudah punya rencana ambil jurusan apa?" sela Dirga.
"Kalau mungkin gak kuliah" celetuk Tarmuji.
"Iya, aku juga. Mungkin gak akan lanjut kuliah. Mau bantu orang tua disawah juga di ladang saja" tambah Supri.
"Yup. Tapi aku ingin kuliah juga nantinya" kini yang angkat bicara Dimas. "Gimana kamu Gim, apa mau lanjut kuliah atau mau jadi orang Sawahan dan ladang saja? Hidup harus lebih baik. Kuliah juga demi masa depan lebih baik. Yah, siapa tahu ada nasib baik bisa kerja kantor. Dimasa akan datang, buat anak anak kita pasti pendidikan akan lebih lagi, tidak hanya lulus SMA saja. Anak kita nanti pasti akan melawan, ' Lawong bapak lulusan SMA kenapa aku harus kuliah' untuk itu aku gak mau nanti dibandingkan dengan anak kita. Wkwkkk..." Kekeh Dimas sudah berpikiran sampai sejauh itu dimasa depan.
Pemikiran yang sangat maju sekali. Yang lain langsung diam, dalam pikiran masing masing. Bukan tanpa alasan apa yang disampaikan oleh Dimas. Biar mereka berpikir lebih maju. Namun, nasib seseorang pasti berbeda beda. Juga tidak bisa dipaksa. Tergantung ekonomi orang tua. Terlebih untuk kuliah butuh biaya yang cukup banyak, bukan seratus, dua ratu ribu, bahkan jutaan rupiah.
"Tapi kuliah itu kan butuh biaya yang gak sedikit, Dim, Gim?" Kata Tarmuji.
"Iya, betul. Mana biaya mahal. Dari biaya pendaftaran, belum persemesternya, belum lagi ini-itu. Pasti butuh banyak biaya, tuh" tambah Supri yang setuju dengan argumen Tarmuji.
Yang hanya mengangguk angguk.
Kalau aku hanya bisa senyum kecil kearah mereka.
"Enak Bening, lawong ortunya kerja di Jakarta dirumahnya Riko, pasti gak bingung mikirin masalah kuliahnya nanti. Terlebih Bening otaknya encer, pasti dapat beasiswa dari sekolahnya. Secara, sekolahnya Bening sekarang sekolah elite, jadi dapat dukungan dari sekolahnya. Nah, jadi enak tuh Bening buat lanjutin kuliah nanti, dimana? Benarkah itu Bening" tanya Dimas. Sebenarnya otak teman teman itu encer, tapi mereka itu malas mikir, gak ingin maju, buat meraih prestasi.
"Untuk itu aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku yang kerja keras buat cari biaya aku meraih cita cita ku" balasku. Coba buat tersenyum. Sebenarnya ada kegetiran yang terselip. Ada cerita dibalik kehidupanku. Pahit. Namun, aku yang merasakan hal itu.
"Intinya kalian ingin kuliah, juga ada yang tidak kuliah, begitu" seloroh Dirga.
"Yup" sahut Gimen.
"Berarti yang akan kuliah dari kalian itu, Dimas, Gimen, dan Dirga. Terus Tarmuji sama Supri mau bantu orang tuanya saja, begitu,,," ujarku. Memastikannya. Sudah dipastikan jika diantara mereka nantinya akan merubah nasibnya.
Seperti pepatah menyatakan "Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang jika orang tersebut tidak merubah NASIB-nya". Untuk itulah aku akan merubah garis nasibku. Merubah apa yang terjadi bahkan untuk masa depanku nanti.
"Iya" mereka pun hampir berbarengan mengatakannya.
"Kalian akan menikah juga kan?" tanya ku kembali. Tentu aku punya maksud bertanya seperti itu. Karena nasib yang mereka alami tidak sepertiku. Karena aku...
Rasanya jika membahas tentang ku, maka hanya keperihan yang ku rasakan. Hal inilah yang tak bisa ku rubah. Nasib seorang pewaris ilmu Penjerat mimpi.
Banyak hal yang kita bicara dan itu untuk masa depan, dan kedepannya nanti seperti apa, Tuhan lah yang akan mengaturnya. Manusia berencana yang berwenang Tuhan juga.
"Huaaaa,,, Haahhh,,," aku menguap sambil ku tutup mulutku.
"Kamu ngantuk yang Ning. Tidur aja. Aku juga mulai ngantuk" celetuk Dimas menatapku.
"Hmmm,,," gumamku lirih karena sudah tak tahan lagi karena mataku terasa berat.
Yang lainnya juga ngantuk. Pada menguap. Lalu satu persatu rebahan. Tentu aku tidur didekat Gimen karena aku sangat penasaran dengan apa yang dimilikinya. Bukannya aku tidak punya pendirian, tapi rasa penasaran ku begitu tinggi. Terlebih disampingku juga ada Dimas. Yang lainnya juga pada rebah, tapi juga main hp. Juga sedikit obrolan.
Aku mulai memejamkan mata. Bayangan mas Kharisma seolah hilang dari ingatanku setelah obrolan panjang tadi.
Tapi aku lupa tanya soal pacar mereka masing masing. Timbul rasa penasaran.
"Gim, pacar kamu siapa? Dan kamu Dim, pacar kamu siapa? Pastinya bukan salah satu cewek cewek yang di tenda samping kan?" selorohku, bertanya pada keduanya.
Keduanya saat ku tanya langsung terdiam dalam pikiran masing masing. Entah apa benar terka ku atau memang dari cewek cewek satu kelas yang jadi pacar sekaligus incaran teman teman ku.
Malah mereka seolah malas membahasnya. Malahan beda pembahasan.
Yang bikin aku dag dig dug dalam dadaku.
"Huuhhh,,, panas, gerah banget" kata Gimen.
"Iya, gerah rasanya" ujar Dimas. Pun yang lainnya merasakan hal yang sama.
Satu persatu mereka mulai melepas pakaian atas mereka karena suasana gerah, padahal rasanya mulai dingin karena malam semakin larut.
Rasanya, mendingan begadang sampai subuh biar lebih enak.
Aku tidak tahu yang lainnya, didalam, seperti Riko, Alex, mas Kharisma, mas Surya, dan Angga serta yang lainnya sudah pada tidur atau tidak. Atau malah akan begadang semalaman.
Tentu saja mereka pada gelisah sendiri sendiri, entah apa yang membuat hal itu. Aku juga tidak mengerti. Bahkan aku juga ikut merasa gelisah terlebih lagi mereka sudah pada toples pamer tubuh tubuh perkasa mereka yang alami.
"Hupfff,,, " rasa gerah ku rasakan. Tapi aku gak enak buat buka pakaian atasku.
Tentu saja pada keringatan, berharap angin malam membuat suasana tidak gerah seperti ini.
Benar saja, angin berhembus dingin. Dinginnya angin malam merasuk melalui tenda, hingga membuat suasana gerah mulai terasa biasa, karena sedang berkumpul jadi hangat saja. Hingga terasa nyaman, saat dingin bersama. Seperti dingin dingin empuk. Ha ha haaa...
"Huh, agak dingin suasananya sekarang ya" keluh Dimas, mulai terasa berbeda disebelahku.
"Iya, tapi agak hangat ada Bening, he he heee...?" Pun dengan Gimen. Disampingku juga.
Mikir apa coba, mereka berdua sekarang. Aku ditengah tengah tidak bisa bergerak. Mau miring ke kiri atau miring ke kanan. Terlebih lagi keduanya pada toples.
Tentu hal itu godaan buatku.
Suasana makin sunyi dan hening, sepertinya semua sudah tidur dan mengembara dialam mimpinya masing masing.
Bahkan ada yang racauam serta ngigauan dari sebelah.
Aku pikir, enak sekali langsung pulas. Dirga, Tarmuji dan Supri. Sudah terbang ke dunia mimpi.
Aku masih agak gelisah, susah untuk segera tidur. Rasanya tidak enak. Ingin keluar. Tapi, entah dimana mas Kharisma tidurnya. Bareng siapa, apa yang sedang dilakukannya? Pun dengan yang lainnya. Tapi pikiranku tertuju pada mas kharisma saat ini. Padahal tadi sudah lupa sejenak.
Padahal aku sudah pejamkan mata, tapi tak lena saat ku rebahkan tubuhku sedari tadi, pun di kedua sampingku terlihat gelisah.
Lampu yang terpasang juga agak temaram, tapi menurutku sangat terang.
Atau gegara lampu itu yang menyebabkan ku tidak lena serta gelisah tak menentu. Bisa jadi. Andai saja ada mematikan.
"Ck,,, silau banget lampunya. Aku matikan " gerutu Dimas. Tapi tak sahutan. Karena aku merasa pun Gimen belum tidur. Tidurnya pada terlentang bahkan bersidakep didepan dadanya, tangannya untuk mengusir hawa dingin yang mulai merasuk ke tulang sumsum. Itu aku juga ikut merasakannya.
"Brrr,,, hhssshhhh,,," tiba tiba aku merasa kedinginan.
Seandainya didekat mas Kharisma tentu aku langsung dipeluk atau aku yang langsung memeluknya. Dalam dekapan dada bidangnya yang gempal dan hangat. Padahal rata rata mereka yang telanjang dada punya dada gempal, membusung indah. Cukup untuk menghangatkan.
Setelah itu, suasana benar hening dan lengang. Sepi. Hanya suara binatang malam yang terdengar. Jangkrik, kelelawar malam mencicit, juga sesekali suara burung malam, tapi bukan suara burung hantu karena saat ini burung hantu sangat langka, bahkan bunyinya pun sangat jarang terdengar. Kecuali bila saat ada tanda tanda orang yang akan meninggal baru suara burung hantu terdengar. Dan itu sangat memilukan, seakan malaikat maut sedang mengintai nyawa.
Kruk, kruk, kruk,,,
Terdengar garukan sangat keras ditelinga ku terlebih suasana memang agak gelap temaram, hanya berupa bayangan gelap seperti seluet yang terlihat.
Itu terdengar dari kedua sisi sampingku, Gimen dan Dimas sedang menggaruk, entah area yang mana yang sedang digaruk.
"Hmm,,, oughh,,, " terdengar gumaman lirih serta lenguhan, atau tidak mirip desahan.
Terlebih lagi suasana dingin seperti ini. Tentu akan mudah membuat SANGE.
(Sb 10/6/2023).
Komentar
Posting Komentar