314, S2. Kejadian Semalam.
314, S2. Kejadian semalam.
★★★★
Tiba tiba nafas Gimen terengah engah, tersengal, sepertinya sangat KONAK akut melihatnya.
Itu akibat ciumanku. Entah apa yang jadi pemicunya hingga hal itu terjadi. Apakah hanya sebuah ciuman bisa membuat orang sangek, langsung crot.
Tapi, yang dialami oleh Gimen sepertinya terjadi.
Semakin dalam aku cium, serta ku lumat kuat. Tampak tubuh Gimen menegang hebat.
Lalu....
"Oughhh,,,Haahhh,,," desahan lirih lolos dari mulutnya. Nafasnya ngos ngosan, detaknya cepat sekali, perutnya kembang kempis.
"Aku keluar. Aneh,,,?" gumamnya lirih. Ku lepas ciumanku padanya. Dia terlentang menormalkan nafasnya. Sepertinya sangat keletihan.
Senyum licikku terukir, kini menghadap kearah Dimas. Apakah hal yang sama juga terjadi padanya. Rasa penasaran ku makin menggebu serta ingin coba pada Dimas.
Tanpa ragu karena sejajar posisinya juga miring, tepat didepanku.
Ku rasakan hembusan nafas hangat nya. Kesempatan. Karena sudah ngecrot serta sangat menikmatinya tidak mungkin Dimas akan nolak. Entah tidur atau sudah bangun, tapi aku tidak peduli. Karena aku ingin mencoba apa yang terjadi pada Gimen akan dirasakan oleh Dimas.
Reaksinya sama dengan Gimen, Dimas kaget tapi setelah tahu aku, karena dibuka matanya. Ia pun tak nolak. Bahkan saat aku mulai kulum bibirnya, ia terlihat pasrah. Payah sekali ciumannya terasa kaku. Seperti nya tidak pernah ciuman, kesannya. Bahkan ku lumat bibirnya serta ku masukan lidahku dia masih kaku, tapi dia kemudian juga bereaksi.
"Hmm,,, " gumamnya. Lagi lagi tubuhnya menegang persis dialami oleh Gimen.
Bahkan saat ku lumat, serta ku sedot kuat, nafasnya terengah, tubuhnya menegang. Matanya juga terlihat merem melek.
Aku makin kuat melumat. Tubuh Dimas menegang hebat. Hembusan nafas dari hidungnya sangat kuat.
Ku lepas ciuman,,,
Lolos dari mulutnya...
"Oughhh,,, haahh,,," lenguhan lirih tertahan.
Ku yakin pasti Dimas ngecrot sejadi jadinya, keluar banyak. Karena tak sanggup menahan desakan yang kuat dari batang kontolnya.
Kembali Dimas lelah, lemas dengan keadaan terlentang sambil menenangkan degup jantungnya yang berpacu serta nafasnya yang tersendat sendat. Butuh beberapa menit hingga normal kembali.
Sama halnya Gimen, Dimas juga KELENGER sehabis pejuhnya keluar. Dan itu semua akibat ciumanku.
Aku merasa jika ciumanku penuh misteri jika tidak dikatakan, seperti "CIUMAN MAUT''.
Keduanya memejamkan mata. Tidur. Aku bangun, lihat keadaan keduanya terutama bagian bawahnya ternyata disitu terlihat basah dan cukup banyak bahkan bau khas pejuh sampai menguar kehidungku, mungkin juga yang lain merasakannya juga. Ku lirik kearah Dirga, Tarmuji dan Supri yang tertidur pulas, seolah tidak terganggu sama sekalian dengan kejadian yang ada.
Rasanya aku juga malas buat beranjak dari tempatku duduk, walaupun hanya sekedar berdiri. Jadi malas malasan ditempat saja, aku duduk memperhatikan mereka yang terlelap. Satu persatu. Ku hembuskan nafas dalam dalam saat ku perhatikan mereka. Wajah wajah yang tanpa beban, seakan tidak punya masalah berat. Hidup mereka nantinya punya pasangan serta menikah. Punya anak. Pasti hidup mereka diliputi rasa kebahagiaan. Ada rasa iri menyeruak direlung hatiku yang paling dalam. Tetapi tidak dengan nasibku, yang pastinya TRAGIS. Namun, akan aku jalani kehidupanku selanjutnya.
Lebih baik aku mandi dan tunaikan kewajibanku.
Sesaat aku perhatikan Dimas dan Gimen. Ada seulas senyum terukir tentang kejadian semalam. Ku gelengkan kepalaku, menghalau bayangan yang singgah dalam pikiranku tentang kejadian semalam yang begitu lekat. Aku tidak ingin ada cerita yang kisahnya nanti menyedihkan ku karena kejadian semalam.
Aku bangkit, sembari ku pegang dada gempalnya Gimen, dia beraksi lalu menatapku, jadi sedari tadi dia tidak tidur.
"Mau kemana Ning? Masih pagi" ujarnya dengan suara agak serak, ciri khas orang baru bangun tidur.
Rasanya aku takut untuk bertatapan muka dengannya.
Ku tatap lekat ke wajahnya.
"Mau mandi. Sembahyang. Kamu tidak mandi Gim?" jawabku lirih takut membangunkan yang lain.
Gimen menjawab dengan geleng pelan. Itu tandanya kalau masih males.
"Oh, ya sudah aku pergi dulu" aku pun bangkit. Terlihat sekali Gimen sangat keletihan terlihat dari rautnya. Pun Dimas kelihatan juga sama. Saat kelirik wajahnya.
Syukurlah, sikap Gimen biasa saja seolah tidak terjadi apa apa. Terlebih lagi kejadian semalam, keduanya alami sampai tiga kali.
"Ning..." Panggil Gimen saat aku keluar.
Sekilas aku toleh, lalu tersenyum. Ku tatap lekat wajahnya, ada isyarat. "Terima kasih ya". Ku balas dengan senyuman dengan isyarat terjemahan kata kata "iya, aku baik baik saja. Jadi tenang saja"
Keluar dari tenda disambutnya dengan dinginnya suasana pagi, udara yang menyegarkan karena tidak terkontaminasi oleh polusi.
Keadaan masih sepi karena mereka masih berada dalam tenda masing masing, masih tertidur pulas.
Aku berlalu, masuk kedalam rumah mengambil handuk buat nanti saat mandi.
Keadaan dalam rumah juga sangat sepi, berarti semalam semuanya tidur diluar, dalam tenda.
Di dapur terdengar suara orang masak, itu pasti simbah putri. Aroma masakan pun sampai tercium.
"Simbah putri, masak apa Mbah? Hmm, harum banget baunya Mbah?" Pujiku dengan masakan beliau terlebih aromanya sangat menggoda.
"Sambel ikan, nasi oyek, ada lalapan, juga sayur bobor daun singkong, ada tempe setengah jadi" jelas beliau. Sangat komplit masakan hari ini. Masaknya juga sangat banyak seperti ada hajat. Atau makanan ini untuk teman dan para sahabatku diluar buat sarapan nanti.
"Wah komplit banget Mbah kayak ada hajat?" tanyaku ingin tahu. Aku masih berdiri sejenak buat ngobrol.
"Iya, ini juga permintaan cah bagus buat masak banyak pagi ini. Kemarin simbah sudah dikasih uang banyak buat belanja, juga kan mau bagi bagi sembako" jelas beliau serta memuji Riko.
Ternyata Riko sudah merebut hati simbah putri. Cari perhatian beliau. Tapi memang sudah sejak dulu. Bahkan simbah kakung juga begitu menyayangi Riko tulus.
Berkat simbah kakung pula, aku mendapatkan pesan bahwa ada seorang anak laki laki yang begitu mencintaiku dan itu Riko. Tapi, sayangnya aku sudah tidak respek lagi dengan Riko perihal kejahatannya dilakukannya padaku. Terlebih lagi kekuatan ku kini tersegel dan itu juga karena ulahnya. Juga atas bantuan, bude Sarinah Mukti dan pakde Ganjar orang tua mas Kharisma dan mas Surya. Juga bantuan Ki Ageng Madyo Santoso, serta dibantu oleh sang dokter.
Sekalipun aku membenci Riko tapi aku masih bisa memaafkannya, walaupun tidak sepenuhnya karena aku belum menerimanya.
Aku pun berlalu dari dapur, buat ku sumur dibelakang rumah.
Selesai mandi aku pun cepat berlalu ke kamar buat sembayang.
Saat dikamar ku dapati mas Kharisma sedang tiduran di ranjang.
Karena waktunya mepet, aku pun buru buru.
Hingga aku pun selesai mas Kharisma sudah tidak ada ditempat. Saat aku selesai sepenuhnyadia sudah kembali sepertinya juga mau sembahyang.
Aku menunggu untuk beberapa saat hingga selesai.
Kini mas kharisma sudah selesai lalu menatap tajam sekali. Ada semburat senyum yang dipaksakan. Aku merasa hawa yang tidak enak. Sepertinya mas Kharisma...
"Bagaimana keadaan mu Dek?" tanya mas Kharisma.
Ku hembuskan nafas lega, padahal aku merasakan dari sorotnya tadi sangat berbeda. Aku sendiri sampai bergidik dibuatnya.
Ku ulas senyum ku untuk mengurangi rasa ke gugupanku.
Tadi aku sudah berpikir tak karuan, dengan tatapan tajamnya. Sungguh, aku merasa tidak enak sendiri mendapatkan tatapan seperti tadi.
Bahkan senyum pun seakan pelit.
Terlebih saat ini mas Kharisma hanya memakai sarung serta baju pendek, pres badan hingga bentuk tubuhnya tercetak jelas.
Mengenai kejadian semalam tentu hal itu jadi rahasia pribadiku.
"Kamu melamun apa dek?"
(Rb 14/6/2023).
Komentar
Posting Komentar