315. S2. Pembahasan.
315. S2. Pembahasan.
★★★★★
Bahkan senyum pun seakan pelit.
Terlebih saat ini mas Kharisma hanya memakai sarung serta baju pendek, pres badan hingga bentuk tubuhnya tercetak jelas.
Mengenai kejadian semalam tentu hal itu jadi rahasia pribadiku.
"Kamu melamun apa dek?"
Mas Kharisma bertanya sambil memperhatikanku. Dari sikapnya membuatku tak enak hati.
Senyumnya seolah dipaksakan. Tidak seperti biasanya, tulus. Itu bisa ku rasakan.
Hatiku mendadak, pedih. Entah mengapa hal itu langsung ku rasa?. Mungkin karena mas Kharisma yang jadi penyebabnya, hingga aku merasa bersalah.
Atau mas Kharisma tau apa yang terjadi, ku lakukan didalam tenda semalam.
Secara, aku tidak tau dia tidur dimana semalam. Juga, aku tidak mendapat bayangan apa apa tentang kedepannya, hingga aku merasa aman dan lega.
Saat aku akan melakukan, memang, mendadak ku rasakan perasaanku tidak enak. Bahkan, aku sedang kepikiran mas Kharisma saat itu.
Tapi melihat sikap mas Kharisma saat ini membuatku jadi serba salah.
"Mas,,, maafkan aku" pungkas ku.
"Kok kamu bilang seperti itu? Kamu kenapa dek?"
Dahiku sampai mengkerut dengar hal itu. Tapi, ditilik dari mimik wajahnya seolah mengisyaratkan kalau aku punya rasa bersalah yang cukup mendalam padanya, tapi ternyata apa yang aku pikirkan jauh dari ekspektasiku.
Atau mungkin Mas Kharisma sebenarnya tidak tahu apa-apa yang terjadi tentang ku semalam di dalam tenda bersama sahabatku.
"Ak- aku,,, he heee,,, gak ada apa apa mas?" aku hanya bisa tertawa lirih. Kecele. Jadi benar dugaanku kalau mas Kharisma sebenarnya tidak tahu apa apa, hanya perasaanku saja. Karena aku merasa tidak enak dan juga merasa bersalah padanya karena telah menghianatinya. Jika, ia tahu sebenarnya apa tidak marah dan juga membenciku.
Jelas jelas dengan Riko, mas Kharisma tidak apa apa, tapi ini dengan Dimas dan Gimen.
Demi melihat sikapnya tadi membuatku salah tingkah sendiri. Hingga tadi aku ingin berterus terang serta ingin meminta maaf.
Sekali diawal aku sudah minta maaf, tadi persepsinya berbeda, membuatku tidak mengerti apa yang dipikirkannya saat ini.
Tadinya aku ingin menciumnya karena membuktikan hal semalam mengenai ciumanku yang aku sadari jika ciumanku itu CIUMAN MAUT bahkan bisa mengakibatkan kematian.
Benarkah itu adanya, makanya aku ingin sekali membuktikannya jika itu memang benar adanya.
Apa salahnya sekarang aku mencobanya dan membuktikan kebenaran itu, dari pada timbul rasa penasaranku.
"Mas,,,"
Karena mas Kharisma hanya termangu saja.
Maka....
Cuppp....
Ku cium bibirnya, lalu setelah itu ku lumat pelan, perlahan, lalu ku sedot pelan. Pelan sekali. Lebih dalam. Kemudian, ku lumat lebih dalam. Ku gelitik rongganya.
Semula mas Kharisma kaget, tapi menerima perlakuanku. Menikmati. Hingga nafasnya pun kemudian terengah engah, bisa dibilang putus putus.
Hal itu sama persis yang dialami oleh Gimen dan Dimas.
Tubuh mas Kharisma menengang hingga otot ditubuhnya timbul, matanya juga membulat. Bahkan kini ngos ngosan, aku terus menciumnya dalam lumatan yang dalam dan panjang. Matanya memberi isyarat bahkan tak sanggup melepasnya bahkan menolaknya pun tak mampu. Terlebih lagi saat ku takup wajahnya.
"Oughhh,,, hhhaaahhh,,," dengusan panjang lolos dari mulutnya. Tubuh menegang serta mengejan hebat. Terlihat sekali wajah kelelahannya. Lalu ku lepas ciumanku. Dia terlihat KELENGER karena habis ngecrot. Karena dia terengah engah bahkan mulai mengatur nafasnya.
Aroma khas pejuh langsung menguar keindraku.
Rasanya aku tak percaya jika hal ini bisa terjadi.
Sungguh sangat mengerikan sekali akibatnya.
"Hupfff,,," nampak mas Kharisma menarik nafas dalam dalam. Ini seperti ilmu pengikat jiwa yang berasal dari gelang keramatku. Sayang sekali, gelang yang memiliki satu buah bunga kenanga serta lima buah krincingan berbentuk bulat kecil kecil serta memiliki lubang diatasnya. Bila berbunyi gemerincing maka akan sesuatu hal yang akan terjadi disertai dengan bau harum bunga kenangan yang semerbak merasuk kehidung. "Kenapa kamu lakukan itu padaku dek? Kamu ingin membunuhku" tegasnya.
Tentu saja aku terkejut sekali...
Aku tidak menyangka jika dapat pernyataan seperti itu dari mas Kharisma.
"Maksud mamas, apa? MEMBUNUH-mu?" ulasku, bertanya.
Mas Kharisma mengangguk pelan, tersenyum getir.
"Iya. Sudahlah, tidak perlu aku jelaskan. Suatu saat nanti kamu pasti akan tahu sendiri jawabannya" tandasnya. Sejenak diam.
Memeriksa dalam sarungnya, dan ternyata disitu tumpah ruah pejuhnya sangat banyak sekali. Seolah itu seperti dikuras dari dalam, habis habisan.
Tadi aku sempat mencium aromanya menguar. Kini melihat dengan jelas.
Aku dibuat merasa bersalah apa yang terjadi padanya. Tidak seharusnya aku membuktikan, jika akan seperti ini kejadiannya.
Tapi, sepenuhnya aku belum mengerti apa yang dikatakan oleh mas Kharisma tadi.
Sudahlah.
Anehnya?
Mas Kharisma terlihat biasa saja, bahkan nampak sehat serta strong.
Terlihat kini baik baik saja, padahal tadi sempat menahan emosi gitu.
Rasanya aku belum puas atas jawabannya, terlebih dia mengatakan suatu saat nanti aku akan tahu sendiri jawabannya. Padahal aku sudah tahu semuanya dan kini aku sedang membuktikannya. Ternyata semua itu benar.
Rasanya aku ingin sekali lagi membuktikannya. Tapi anehnya, saat ku cium, bahkan ku lumat tadi, mas Kharisma sama sekali tak bisa nolak, apalagi melepasnya, inilah yang jadi pertanyaan ku. Apa memang senikmat itu, serta semanis itu hingga ciumanku tak sanggup dilepaskannya.
Aku juga keheranan saat Gimen ataupun Dimas ku cium pun mereka berdua tidak sanggup melepasnya. Bahkan mereka berdua ngecrot di celana sangat banyak sekali sama halnya dengan mas Kharisma.
Sarung disingkap. Hingga kontol panjangnya yang standar masih ngaceng sempurna. Tapi, pejuhnya begitu banyak membasahi sarung.
"Kamu lihat, aku ngecrot sangat banyak. Bila kamu melakukannya sampai lama maka aku akan mati!" tegasnya, tampak begitu seriusnya. Pejuhnya seolah habis diperah hingga keluar begitu banyak padahal aku cuma menciumnya saja. "Bahkan kehabisan pejuh!"
"Kenapa mamas tidak menolaknya? Kan bisa melepasnya?"
Dia menggeleng...
"Andai semudah yang kamu ucapkan maka aku bisa lakukan hal itu, dengan mudah"
"Tapi kenapa mamas, alasannya?" desaknya ingin tahu. Penasaran. Hal itu malah membuatku makin penasaran saja. Ingin tahu jawabannya. Terlebih kebenaran dari apa yang terjadi. Atas apa yang ku lakukan, hanya sebuah ciuman.
"Sulit. Sulit sekali. Dulu pernah ku bilang, bahwa bibirmu itu terasa sangat manis. Nagih. Siapa yang kamu cium pasti akan ngomong seperti itu. Jika kamu yang mencium duluan maka orang itu dalam bahaya maut. Maut sedang mengintai nyawanya. Jika orang itu yang menciummu lebih dahulu maka ia bisa melepaskannya jika kamu duluan maka jika tidak kamu yang melepasnya maka ia akan mati secara perlahan lahan" jelasnya panjang lebar.
"Begitukah. Sungguh mengerikan sekali akibatnya" gumamku. Tak membayangkan jika tadi aku tak melepasnya tentu mas Kharisma akan kehabisan cairannya yaitu pejuhnya, akan tumpah, keluar semua tanpa bisa dikendalikannya. Itu hanya ciuman dariku.
"Tapi mamas baik baik saja. Kuat malah" ulasku, aku hanya tersenyum, nyengir kearahnya. Sekaligus heran sampai mas Kharisma tidak mengalami apa apa. Bahkan tampak sehat sehat saja. Segar bugar.
"Beda. Karena aku akan selalu kuat bila didekatmu. Terlebih lagi jika kamu pegang punyaku. Terlebih kamu emut punyaku, menelan pejuhnya. Maka kekuatanku akan pulih sediakala"
"Sesederhana itukah, dan sesimpel itu? Tidak masuk akal"
"Tapi itulah kenyataannya. Mungkin orang lain akan menemui ajalnya" jelasnya.
Kini aku teringat dengan Dimas dan Gimen. Untung saja mereka berdua aku emut saat terakhir kali hingga pulih kembali kekuatannya, jika tidak, mereka berdua pasti sudah menemui AJAL.
Sebegitu mengerikankah ciuman ku hingga berakibat fatal jika aku lakukan pada orang lain. Pada para sahabatku juga orang terdekatku saja sampai seperti itu yang dialaminya.
Kini aku mengerti dan tau jawabannya dari arti ciumanku yang berbahaya serta mengandung MAUT.
Sebagai permintaan maafku, aku pun mendekat. Tujuanku supaya keadaan mas Kharisma baik baik dan pulih.
"Dek, apa yang kamu lakukan?"
(Rb 14/6/2023).
Komentar
Posting Komentar