316. S2, Jadi aneh, apa biasa karena semalam, lihat saja.

 316, S2. Jadi aneh, apa biasa karena semalam, lihat saja.

★★★★★


POV author


Dalam tenda kini yang ada hanya Dimas dan Gimen saja, sedangkan yang lainnya sudah pada bangun juga pergi ke sumur buat cuci muka maupun bersih bersih serta mandi. 


Keduanya berdua bangun dalam keadaan letih seperti pengantin baru, tapi wajahnya ceria. 


Entah mengapa baik Dimas maupun Gimen, keduanya selalu terbayang wajah Bening yang telah membuat mereka berdua melayang layang semalam. Keduanya hanya memakai kolor doang karena semalam merasa kegerahan didalam tenda. 


Keduanya saling pandang, dalam diam...


"Dim,,,"


"Gim,,,"


Keduanya sama sama panggil, terlihat aneh. Keduanya tertawa lirih dengan kelucuan yang terjadi. 


"Kamu duluan Dim, ada apa? Apa kamu mau cerita?"


Dimas tidak bisa berkata, diam sesaat. Ia berpikir sejenak, tampak ragu, apa perlu ia cerita tentang semalam. 


Jika dipendam perasaan Dimas makin tak enak. Ia tahu kalau semalam pun Gimen juga melakukan hal yang sama. 


"Gim, semalam aku merasa,,, ah, bukan. Melainkan aku,,,? Apa kamu tau?"


Gimen mengangguk, hal itu membuat Dimas bernafas lega. 


"Aku semalam juga, Dim,,, he heee,,," Gimen hanya bisa nyengir kuda. 


"Entahlah, apa yang kurasakan semalam, aku sampai melakukan itu pada Bening. Aku seolah terhanyut Gim, aku sekarang malah kepikiran terus dengan Bening"


"Aku juga Dim, aku bingung mengapa bisa seperti itu? Aku banyak keluar sampai tiga kali. Kamu berapa Dim?"


"Sama Gim, aku juga tiga kali. Padahal biasanya aku tuh butuh jeda dan waktu jika harus keluar lagi, itu tidak ada jeda waktu"


"Aku juga rasakan hal yang sama, Dim. Yang membuatku gak habis pikir, saat Bening menciumku, aku tidak bisa lepas, dan yang lebih aneh dan gila lagi, bibir Bening itu rasanya manis, tapi bukan rasa gula atau madu. Bikin nagih, dan gak bisa lepas, gak mau lepas, maunya dicium dan cium. Rasanya juga nikmat, tak bisa dilukiskan dengan kata kata"


"Tapi, betul Gim. Kenapa bibir Bening bisa semanis gitu ya, bahkan aku tidak bisa menahan pejuhku lama lama?, urat urat tubuhku langsung reaksi. Dan kamu tahu aku ngecrotnya berkali kali, seperti kencing  biasanya, dan rasanya beuh, nikmat banget. Antara ciumannya serta pejuhku muntah itu sensasinya luar biasa. Aku sampai lemes, lelah tapi terasa nikmat. Aku juga rela mati dengan rasa kenikmatan yang tiada taranya itu, nikmat yang ku rasakan"


"Iya ya Dim, bahkan pancaran pejuhku kayak air kencing. Banyak banget. Padahal selama ini aku tidak pernah sampai seperti itu. Aku sampai detik ini juga kepikiran sama Bening terus. Apa aku jatuh cinta ya Dim"


"Aku pun Gim, aku juga terkenang dan terbayang terus wajah Bening. Aku ingin melihatnya terus, ingin bersamanya terutama aku rela diapain aja oleh Bening. Emutannya sungguh terasa sampai kerelung jiwa"


Dimas hanya mengangguk saja, bahkan tak terasa batang kontol keduanya sudah tegang maksimal,  syahwatnya pun meletup meletup dalam dada.


Keduanya masih keasikan ngobrol, dan pembahasannya mengenai Bening. Hingga sahabat yang lainnya pun datang kedalam tenda. 


"Heh, kalian berdua lagi ngobrol apa?" celetuk Dirga. 


"Serius amat kalian" tambah Tarmuji. 


"Iya, betul. Kayak ada suatu rahasia yang kalian sembunyikan, iya kan Dir, Tar" ujar Supri. 

Tatapan terasa agak berbeda, melihat keduanya tampak serius ngibrolnya. 


Keduanya tentu langsung salting. Untung saja pembahasannya sudah selesai. Jadi mereka berdua berpikir untuk berbohong tidak mungkin mereka jujur dengan kejadian semalam. 


Walaupun hal itu sudah biasa mereka lakukan karena mereka semua sering ngocok bareng, hal itu sudah biasa dilakukan. Tapi, jujur mengenai hal semalam itu pasti terasa memalukan. Terlebih buat Bening, yang nantinya bakal membenci mereka berdua setengah mati. Hal itu tidak mungkin akan dikatakan pada mereka. 


"Kalian berdua ngocok bareng ya barusan. Gak ajak ajak, ha ha haaaa,,," canda Dirga lagi. Bukan candaan sebenarnya. Tarmuji dan Supriyanto pun manggut manggut, ikut ngakak atas guyonan Dirga pada dua orang temannya yang tampak malu dengan muka merah padam. 


Ketika Gimen dan Dimas mengangguk pelan, tertawa ketiganya pun langsung meledak, hingga timbul keramaian serta mengundang yang lain untuk melihatnya apa yang terjadi. 


"Hey kalian semua, disuruh sarapan sama simbah putri, semuanya" datang Alex memberitahu. Bahwa mereka disuruh sarapan oleh simbah putri dan tawa mereka pun terhenti, dengan diam serta tatapan masing masing yang tidak bisa diartikan oleh Alex. 


Alex pun menunggu sampai keluar bersama sama.  


Karena disitu ada berlima, Dimas, Gimen, Dirga, Tarmuji dan Supriyanto. 


Diperhatikan satu persatu satu oleh Alex mereka yang sedang duduk santai sedang ngobrol asik bahkan tadi sempat cerita. 


Tidak ada yang menjawabnya hingga Alex berlalu.


"Tuh anak kenapa si, sewot gitu sama kita kita?" bahas Gimen yang melihat sikap Alex yang terlihat berbeda. 


"Tauk tuh. Udah gak ba-bi-bu, langsung ngeloyor pergi" tambah Dimas, komplain sambil bersungut tak suka. 


"Iya, gak sopan banget. Gak punya adap" sergah Dirga. 


"Kalau bukan temannya Bening sama Riko. Habis!" Kata Tarmuji. 


"Apa orang Jakarta pada gak punya sopan seperti itu ya. Permisi kek, salam gitu. Ini datang, ngomong apa adanya, langsung pergi gitu aja" sambung Supriyanto berapi api. Memang sangat MANGKEL sekali sama Alex. 


"Sudah, sudah, gak penting juga bahas tuh orang, udah pergi juga orangnya. Ayo kita sarapan aja. Simbah putri pasti nunggu, gak enak kan, kita nanti bilang gak sopan karena gak menghargai beliau karena telah memasakan sarapan buat kita"


"Pakai baju tuh, mau kedodoran seperti" celetuk Dirga, di angguki oleh Tarmuji dan Supri. Keduanya nyengir serta memakai baju. Keduanya tidak mandi sama sekali apalagi cuci muka terlebih lagi mandi JUNUB. 


Akhirnya mereka pun berkumpul dirumah buat sarapan pagi bersama. Hingga keadaan rumah itu pun jadi ramai. 


Terlebih akan diadakan bagi bagi sembako siangnya untuk para tentangga sekitar dan orang orang yang sangat membutuhkannya. 


Setelah itu Dimas dan Gimen mandi selesai sarapan. 


Keduanya tidak melihat Bening, hingga mereka berdua sangat penasaran kemana beradanya Bening. Mau tanya pun juga malu hanya mencari keberadaannya saja. Tak jua melihat batang hidungnya.  


Keduanya pun sampai menyerah, hal itu tak luput dari perhatian teman temannya. Namun, mereka memilih untuk diam.


Acara bagi bagi sembako pun berjalan cukup lancar bahkan ada kupon dapat hp bagi yang beruntung juga bagi bagi uang bagi yang menerimanya. 


Tentu saja rumah simbah putri sangat ramai terlebih ada acara seperti itu. 


Simbah putri terlihat sangat gembira dan bahagia sekali terlebih ada dirumahnya,  acaranya begitu meriahnya tentu saja hal itu membuat simbah putri lupa dengan masalahnya. Bisa tersenyum. Karena cucunya semua pada kumpul bareng juga para sahabatnya Bening cucunya. 


Saat siang kembali mereka makan, kali ini Bening hadir tapi tidak banyak bicara. 


Gimen dan Dimas sempat curi curi pandang, serta ingin ngobrol dengannya, karena dari pagi sampai siang tidak kelihatan, baru kali ini ketemu.


Namun, Bening sempat melihatnya sekilas diluar tapi buru buru masuk. 


Tentu saja Bening jadi pusat perhatian. 


"Gim, itu Bening baru kelihatan, entah dari mana anak itu?" bisik Dimas ke Gimen yang ikut memperhatikannya. 


"Iya, bikin kangen saja. Aku pengen ngobrol tapi gak bisa. Acaranya belum selesai juga" jawab Gimen menggerutu. 


Sekilas Bening memperhatikan keduanya, mengangguk lalu tersenyum kemudian berlalu masuk kedalam untuk istirahat. 


Tidak mungkin Gimen atau pun Dimas menyusulnya karena jarang masuk kedalam. Nginap cuma sesekali, itu pun dulu saat Bening masih dirumah, tapi kini sudah berbeda ceritanya. Walaupun sikap Bening tidak pernah berubah bahkan tetap baik sama seperti dulu. 


Sampai siang, hingga acara berakhir. Warga dan tetangga pada pulang dengan rasa gembira dan bahagia. 


Mereka pun pada makan siang bersama sama hingga seluruh acara berakhir. 


Tentu tidak selesai begitu saja karena Riko juga membagi amplop kepada mereka satu persatu dengan jumlah 20 orang per orang satu amplop dengan nominal Rp 2jt. 


Wajah ceria terpancar, dapat hp baru spek dewa dapat pesangon pula. Tentu pulang dengan rasa bahagia. 


"Ku harap saat kita berpisah nanti kita kumpul lagi, gimana?" ujar Riko. 


"Oke. Setuju,,," seru mereka kompak. Hingga menjadi riuh. 


Simbah putri hanya senyum senyum saja, rumahnya akan selalu rame, terlebih mereka disini akan NOBAR, tentu suasana makin SEMARAK. 


Diantara mereka ada rasa kesedihan yang dirasakan oleh Gimen dan Dimas yang ingin ngobrol dengan Bening, tapi tidak ada kesempatan karena Bening sepertinya tidak mau nimbrung, malah seolah menjaga jarak. Yang disesalkan oleh keduanya sampai pulang. 


Bukannya Bening tidak tahu hal itu, karena ia merasa takut jika teman temanya akan berubah terutama Gimen dan Dimas, ternyata sikapnya seperti biasanya tidak ada yang BERUBAH. 


POV author end!


(Km 15/6/2023).



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.