35. Dunia Mimpi Yang Baru.

 Warning!


Disini ada adegan anal sex,,,


Buat yang tidak suka, tolong skip.


Thx!


______________


Bab 35. Dunia mimpi yang baru


★★★★


Dunia baru, dunia mimpi...


Alam mimpi yang berbeda, tidak sama halnya dengan alam mimpi untuk balas dendam, atau ruang penyiksaan.


"Dek, dimana ini?" tanya mas Surya dengan keadaan tetap sama yaitu telanjang bulat.


"Ini alam mimpi mas" terangku sekilas.


"Tapi kok indah begini dek. Bahkan di dunia nyata tidak ada tempat  yang seindah seperti ini" kagumnya melihat keadaan alam mimpi yang berbeda.


"Inilah dunia mimpi yang ku ciptakan mas. Tak ada seorang pun yang datang ketempat ini kecuali kakekku" jelasku, mas Surya tersenyum simpul menambahkan ke gantengannya makin membuatku gemes.


"Wah, asik dong, aku betah disini. Rasanya gak ingin pulang" gumamnya membuatku hanya tersenyum.


"Ini bukan dunia mas, mas datang kesini atas seijin ku" balasku, wajahnya mendadak sendu.


"Kenapa mas sedih gitu?"


Kita duduk direrumput hijau nan lembut ditemani kupu kupu berterbangan dengan berbagai warna menambah suasana makin romantis, sesekali ada burung burung kecil pun lewat dengan corak warna yang mencolok membuat mas Surya berdecak kagum.


"Luar biasa tempat ini. Sangat, begitu indah" kagumnya tak henti hentinya mulutnya berucap membuatku tersenyum geli.


"Kenapa kamu terlihat biasa Dek?" tanya mas Surya kemudian karena aku hanya selalu memandang wajahnya yang selalu mengagumi keindahan dunia mimpi saat ini.


Keadaannya memang cerah, tapi tidak ada rasa panas, apalagi gerah yang ada hanya kesejukan. Siapa yang tak betah berlama lama disini.


Mas Surya sedari tidak menyadari keadaannya yang tak memakai apa apa karena selalu kagum dengan keadaan sekitarnya.


Tak hanya itu, semak belukarnya juga nampak indah, pohon pohonnya seperti berada di taman yang indah serta luas, seluas mata memandang suasana hijau terpampang nyata maka mata memandang tak akan bosan. Jika sendirian disini tidak akan merasa bosan untuk memandangi keindahan yang tersungguhkan.


"Mas,,," kataku lirih.


"Hmmm,,," jawabnya berupa gumaman yang kini menatapku dengan senyum tak pernah lepas, seperti hatinya tengah diwarnai dengan kebahagiaan. "Ada apa dek?" Sepertinya terusik juga.


"Mas gak liat keadaan mas itu gimana?"


"Maksud ka- m,,," ucapnya terkejut, tadi mas Surya menatapku kini beralih melihat keadaannya, bukannya panik malah cengengesan sepertinya yang terjadi pada dirinya bukan hal memalukan malah terlihat bangga. "He he,,, kamu seneng kan liat aku kek gini? Kamu juga sama" tambahnya dengan alis di naikkan. Apa coba maksudnya.


Kini malah keadaanya berubah, yang tadinya biasa kini perlahan kontolnya bereaksi. Kini bahkan ngaceng sempurna.


Aku tak sanggup menutupi rasa kegugupanku. Bagaimana pun milik mas Surya sanggup meruntuhkan relung jiwaku menjadi berkeping keping hingga membuat nafasku menjadi sesak.


Pun dengan mas Surya nafasnya sudah berat, bahkan dadanya turun naik, tubuhnya gemetar.


Entah siapa yang memulai, kini kami telah sakit melumat bibir saling berpelukan mesra.


"Andai aku boleh meminta, aku ingin hidup di dunia mimpi ini hingga kiamat datang" gumamnya berbisik disela pagutan kami.


"Ini bukan dunia mas, mas tidak bisa tinggal disini. Mas bisa mati bahkan tidak bisa kesini" terangku. Wajahnya sendu kembali.


"Bisakah aku tinggal disini dengan syarat?"


"Entahlah? Disini seperti ada aturan aturan tertentu. Dan hanya kakekku yang tau hal itu?"


"Apa itu, kalau aku boleh tau?"


"Aku sendiri tidak tau? Hanya saja, ada satu hal yang sampai saat ini jadi pikiranku,,,?"


"Apa itu dek?"


"Siapa saja seseorang yang menguasai ilmu Penjerat mimpi, maka selamanya tidak bisa mempunyai,,,?" ucapanku terputus, rasanya aku tak sanggup untuk meneruskannya.


"Selamanya tidak bisa mempunyai apa dek?" ucap  mas Surya penasaran.


"Ah, sudah lah mas, tidak perlu kamu pikirkan. Aku membawaku ketempat ini ada satu hal yang ini ku lakukan padamu. Ku harap kamu tidak kecewa sama aku karena selama ini aku tidak pernah memberimu kebahagiaan. Walaupun ini alam mimpi setidaknya aku telah memenuhi harapanmu" ucapku panjang lebar sambil tersenyum tulus.


"Ap, apa maksudmu dek?"


"Mas akan tau, sekarang pejamkan mata mas, sebelum aku menyuruh mas membukanya jangan dibuka, ya"


"Baiklah, aku nuruti permintaanmu, dek"


Perlahan mas Surya memejamkan matanya masih dalam keadaan terduduk santai.


Ku tatap wajah gantengnya yang selalu membuat aliran darahku semrawutan hingga membuat nafasku tersengal sengal.


Ku lumat bibirnya, sambil ku pegang kontolnya, setelah itu ku kulum kontolnya, bahkan pelernya jadi sasaran ku selanjutnya.


"Oughhhh,,," lenguh mas Surya tertahan.


Setelah kontolnya cukup basah dengan liurku aku pun mendekat kearahnya, dipangkuannya, tepatnya mengarah kearah kontolnya tempat kuarah ke lubangku.


Ujung kontolnya menyentuh kulit lubangku membuatku bergetar untuk sesaatnya. Sensasi aneh ku rasakan. Gemetar indah saat ini ku rasakan.


Mas Surya seperti Manahan nafasnya, menanti momen yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.


Aku sangat hati hati melakukannya, terlebih ini pertama kalinya aku melakukannya dan itu dengan mas Surya yang punya kontol jumbo plus panjang berurat.


"Awwww,,, heesssshhhh,,," ringisku tertahan ketika aku mencoba memasukan kontol mas Surya dilubang milikku yang original.


"Aghhkkk,,,. Ooouuughhhhh,,," lenguhnya tertahan, keenakan. Tubuhnya bergetar hebat.


Sebagian telah masuk...


Aku berusaha untuk menekannya kuat serta hentakan perlahan...


Saat itu tubuh mas Surya menentang hebat, urat ditubunya langsung bertonjolan. Matanya terbuka karena kontolnya seluruhnya telah masuk ke lubang milikku.


Ku rasakan kontolnya tercengkram kuat dilubang milikku, serta berkedut dengan hebat langsung membuat mas Surya ejakulasi dasyat, nafasnya terpompa.


"Aaaggghhhhhh,,,," desahnya panjang dengan tubuh mengejan. Mulutnya langsung ku sumpal dengan mulutku hingga desah nafasnya yang memburu melalui hidung.


Keringatnya sudah tentu keluar dari pori-pori ditubuhnya membuatnya berkilat. Begitupun aku mengalami hal sama, aku berkeringat menahan rasanya yang campur aduk.


Setelah nafasnya tenang barulah ku lepaskan ciumannya.


"Dek, ap- apa  yang telah kamu lakukan terhadapku?"


"Memberimu kebahagiaan mas. Hanya ini yang bisa ku lakukan sebagai penebus pengorbananmu selama ini padaku. Mas puas?" Mas Surya hanya mengangguk dengan rasa puas. Bahkan kontolnya masih menancap dilubangku.


Aku tidak tau apakah jika nantinya aku gerakan akan membuat mas Surya klimaks lagi padahal yang awal tadi hanya ku masukan perlahan mas Surya langsung ngecrot cepat.


Rasa letihnya tidak sebanding dengan rona kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya tampannya bahkan senyumnya mengembang.


"Dek aku,,," mas Surya seperti terharu dengan apa yang ku lakukan.


"Mas tidak usah merasa bersalah. Ini ku lakukan demi mas" balasku supaya mas Surya tidak dihinggapi rasa bersalah.


"Sudahlah mas nikmati saja. Kesempatan tidak datang kedua kali" lanjutnya sambil tersenyum.


"Apa gak sakit Dek? Punya mas kan gede, panjang lagi" aku- nya. Ku jawab dengan gelengan kalau aku baik baik saja.


"Sudah siap ronde kedua mas?" tantangku. Mas Surya hanya mengendikkan bahu kalau ronde kedua siap dimulai.


Kalau bila aku tidak merasakan rasa sakit itu salah. Tapi, disini rasa itu hanya sebentar karena selanjutnya yang ku rasakan hanya senang. Bahagia, aku tidak tau lukisan kebahagiaan itu seperti apa?


Perlahan, kini aku mulai menggerakkan tubuhku, naik perlahan keatas, lalu turun dengan ritme pelan hal itu membuat mas Surya merem melek.


"Aduh, aduh,,,, oughhh,,," desahnya panjang keenakan. "Kamu apakan kontol mamas dek. Kok nikmat banget. Aw, awww,,, hhoohhhh,,, aku mau ke- keluar,,, lagiii,,,, aaahhh" mata mas Surya mendelik sepertinya sudah tidak tahan. Akhirnya kontolnya berdenyut lagi mengeluarkan pejuhnya banyak.


Aku pun merasakan hal sama, milikpun muncrat kedada serta perut mas Surya.


Kami terengah bersama sama, dalam pelukan mesra hingga nafas kami kembali normal.


Bahkan kontol mas Surya masih berada dilubang milik bahkan tidak kendur sama sekali masih ngaceng maksimal.


Kami mengumpulkan tenaga kami yang seperti terkuras.


"Dek, kamu gak capek?"


"Mas sendiri capek gak?" tanyaku balik karena mad Surya hanya tersenyum bahagia. Bahkan sedikit menggeleng lemah. Itu artinya ada ronde ketiga.


"Apa cuma gaya seperti ini?"


"Maunya?"


"Doggie style"


"Gaya apa tuh?"


"Haduh, penjantan gaya seperti itu gak tau. Katrok"


"Eh, ngeledek ya. Awas ya aku bikin kelenger kamu ya dek"


"Gak salah. Yang ngecrot cepat siapa, wek,,,," ledeknya.


Kami bangkit sama sama, kontol mas Surya masih nancap sempurna...


Kini aku disuruh nungging tak tau harus pegangan dengan apa, karena aku tidak punya tumpuan.


Mas Surya punya inisiatif, maka kedua ranganku dipegangnya erat, dan mulai mengempur lubangku.


Bunyi lubangku dan kontol mas Surya beradu menimbulkan harmoni yang syahdu. Mas Surya makin bersemangat, bahkan seakan bebas menyodomiku hingga puas.


Menghentak dengan kuatnya...


Plok, plok, plok, plokk,,,


Entah berapa lamanya, nyanyian indah terdengar, sampai sampai keringat membanjiri tubuh kami.


Tubuh mas Surya nampak berkilat, keringat makin merembes ditubuhnya, ototnya makin tegang.


Aku merasa seperti mau meledak, rasanya...


"Hessshhhh,,,, ohhh,,, mas aku,,," aku sudah tidak tahan lagi akhirnya crot.


Disaat itulah, mas Surya seperti tersengat, menghujam kontolnya lebih dalam hingga jembut tebalnya menyentuh pantatku. Nafasnya menderu dan dengan hentakan kuat, tubuhnya mengejan hebat.


Pejuh kontolnya menyembur didalam lubangnya, rasanya cukup banyak.


Kami terjatuh bersama sama, dan masih dalam keadaan menyatu....


Mata mas Surya terpejam. Ini saatnya aku melalang buana.


Aku akan menemui seseorang?


Aku tersenyum sinis!


"Tunggu kedatanganku,,,?"


#bersambung,,,,


*****


Ikuti kisah selanjutnya


"Sembuh"


Sn 4 Apr 2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.