36. Sembuh.
36. Sembuh...
★★★★
Pov Raya
_________
Malam ini dari sore perasaanku gelisah...
Bahkan rumahku agak sepi, hanya ada pembantuku yang sudah dikamarnya.
Tidak biasanya aku resah seperti ini karena sudah lama aku tidak bertemu dengan Bening lagi semenjak malam itu.
Namun, kali ini perasaanku tidak enak. Hatiku ketar ketir, dan aku teringat dengan Bening. Aku menjadi parnoan jika mengingatnya. Terlebih keadaanku saat ini cacat. Cacat permanen, bahkan operasi pernah ku lakukan tapi hasilnya percuma karena luka itu kembali kesemula.
Hidupku rasanya hancur, penyesalan begitu dalam, bahkan aku pernah melakukan pengobatan alternatif hasilnya tetap nihil tidak ada perubahan membuatku putus asa.
Tidak ada yang bisa ku lakukan bahkan sekolah aku tidak berani karena cacat yang ku alami.
Aku lupa duniaku sendiri bahkan aku melupakan pacarku seakan hidupku terpuruk.
Aku tidak tau kabarnya pacar ku Riko bagaimana nasibnya.
Ortuku telah berusaha semampunya tapi mereka angkat tangan karena sudah banyak biaya yang dikeluarkan untuk menyembuhkan lukaku yang membekas.
Rasanya aku lelah, mataku berat...
Saat ku buka mataku betapa terkejutnya aku saat ini, karena kini aku tengah berada di daerah tanah lapang yang begitu luas. Keadaan agak temaram rembang sore.
Hal ini mengingatkanku pada seseorang yang telah membawaku ke dunia mimpi siapa lagi kalau bukan Bening.
Pandanganku ku edarkan, tapi aku tidak melihat siapa pun disini.
"Bening?" gumamku lirih, dengan perasaan kecut. Dadaku bergemuruh, hatiku bergetar.
'Mati aku!' bisik batinku, pasrah.
Angin berhembus hingga membuat bulu kudukku merinding. Aku tau kalau Bening berada sangat dekat denganku tapi aku tidak tau dimana keberadaannya. Karena ini alam mimpi sebab Bening penguasa mimpi membuatku sudah merinding membayangkannya.
Tubuhku gemetar hebat!?
Terdengar,,,
Cetek, cetek, cetek!
Jentikan jari tiga kali...
"Kau mencari ku, Raya. Aku disini" suaranya mengejutkanku, dengan senyum dingin, menatapku tajam tak berkedip.
Ditatap seperti itu membuatku langsung pucat bahkan aku sampai menahan nafas. Aku tidak bisa berbuat apa-apa disini. Aku hanya bisa pasrah dengan nasibku, jika pun hal buruk akan menimpaku.
Yang bisa ku lakukanhanyalah,,, MENANGIS!
"Hiks,,, hiks,,, hiks,,," tangisku pilu, aku sudah membayangkan hal buruk bakal terjadi.
"Hey, Raya. Aku disini. Apa kabarmu, Raya? Kenapa kamu menangis? Aku tidak melakukan apa apa terhadapku, bahkan aku tidak menyakitimu. Buat apa kamu menangis histeris?" Bening tersenyum, namun bagiku senyumnya seperti maut yang setiap saat sedang mengintai nyawaku.
Sosoknya berada dihadapanku...
"Hahh,,,?!" Aku terkejut bukan main karena bagai melihat penampakan. "Ampuni aku Bening!" Mohonku dengan tangis memilukan.
"Lihat kearahku Raya" suaranya lembut namun justru itu yang membuatku makin ketakutan.
Ku tatap wajahnya, aku bagai melihat seperti malaikat maut yang siap mencabut nyawaku.
"Jangan aniaya aku, aku mohon. Ampuni aku Bening" aku sampai bersujud dihadapannya.
"Aku datang menemuimu bukan untuk menyakitimu Raya. Aku sudah memaafkanmu. Tapi aku datang kesini tujuan untuk,,,"
Dadaku berdebar...
"Ap- apa maumu?"
"Kau jangan salah sangka Raya!" bentaknya karena aku selalu menyahut membuatku menciut nyaliku.
"Duduklah Raya. Aku bukan Tuhan yang perlu kau sembah. Pejamkan mataku, rentangkan tangan. Jangan sekali kali kau buka matamu, apa pun yang terjadi!" perintahnya tegas, aku tak bisa menolaknya. Entah apa yang akan dilakukan Bening terhadapku. Aku makin ketakutan terus saja menangis. Air mataku bak mata air yang keluar.
"Ba,,, baiklah" suaraku gemetaran menahan rasa takut. Mataku terpejam rapat, aku tidak berani melanggar larangannya, jika tidak maka aku menanggung resikonya. Aku tau konsekuensi jika berhadapan dengan Bening tidak pernah main main.
Aku menunggu dengan berdebar...
Aku tak tau apa yang akan dilakukan Bening padaku dalam keadaan mata terpejam. Keringat dingin keluar dari pori pori ku. Dengan tubuh bergetar hebat.
"Apa pun yang terjadi, JANGAN KAU SENTUH, PAHAM!" kata terakhirnya seperti peringatan buatku. Aku makin bingung dengan apa yang dilakukan Bening. Maksudnya apa?
"Nanti kau akan tau" seakan Bening tau apa yang sedang ku pikirkan.
"Bersiaplah!"
Detik selanjut, aku mendengar Bening seperti meludah.
"Cuih, cuih, cuih,,,"
Entah meludah kemana?
Namun aku merasakan tanganku basah. Yah, dibekas lukaku. Rasa dingin menjalari keseluruh tubuhku, sensasi itu agak lama.
Belum hilang rasa dingin dilenganku kini Bening meludahi wajahku.
Air mataku kembali merembes, aku tidak berani membuka mataku. Aku seperti direndahkan, tapi aku tidak bisa melanggarnya.
Rasa dingin itu menjalar lagi,,,,
Namun setelah itu, rasa itu perlahan berubah?
PANAS!
Rasanya kulit tangan dan wajahku terbakar....
"Awww,,, hiks hiks hiks,,,," aku menangis sejadi jadinya tanpa bisa berbuat apa apa. Aku tidak mungkin melanggar apa yang dikatakan oleh Bening. Tubuhku makin keringatan, membanjiri sekujur tubuhku.
"Aaaakkkkkkkkkk,,,!" Aku menjerit setinggi langit.
Setelah ku buka mataku, sensasi panas luar biasa yang kurasakan itu mendadak kini sirna aku telah kembali keduniaku lagi.
Ku lihat lenganku telah pulih sediakala.
Ku raba wajahku, pun mengalami hal sama, telah sembuh tanpa bekas.
"Alhamdulillah! Bening terima kasih, kamu telah menyembuhkan ku" gumamku dengan rasa tak percaya.
"Sayang, ada apa anak? Hah, kamu sudah sembuh sayang. Apa yang terjadi? Siapa yang telah menyembuhkan mu sayang? Syukurlah" mamaku tadinya nampak panik mendadak terlihat bahagia, mungkin melihat keadaanku telah pulih.
"Mama,,," aku hanya bisa menangis sesenggukan, haru juga.
"Ya Tuhan, syukurlah kamu jadi cantik kembali sayang. Ibu selalu berdoa pada Tuhan supaya keadaanmu pulih" mamaku memeluk ku haru, air matanya sampai berderai dipipinya yang masih kencang karena selalu perawatan.
Isakku makin kencang dipeluk oleh mamaku, dalam hati aku selalu bersyukur jika Bening benar benar telah memaafkanku. Buktinya kini aku telah disembuhkannya kembali.
Perasaanku menjadi tenang, paling tidak aku tidak malu lagi dengan keadaanku. Dulu cacat permanen kini telah pulih.
Namun, untuk sementara satu atau dua hari setelah ini aku tahan untuk tidak sekolah dulu.
Aku mendapat keringan dari sekolah ku belajar setelah mama dan papaku meminta ijin kepihak sekolah.
Mamaku perlihatkan kondisiku, itupun dengan kepala sekolah hingga aku diberi ijin untuk tidak masuk sampai waktu yang tidak ditentukan.
Hanya kepala sekolah yang tau kondisiku sebenarnya apa yang terjadi. Karena tidak ada seorangpun yang tau kondisiku yang sebenarnya karena keluargaku merahasiakannya dari siapapun serta hanya orang orang tertentu yang tau kondisiku.
"Sayang, mama harap setelah kejadian ini kamu harus lebih berhati hati. Mungkin ini teguran dari Tuhan buat kamu supaya kamu tidak seperti dulu" ucap mamaku memperingatiku. Mungkin mamaku benar kalau ini adalah ulahku sendiri. Aku memang keterlaluan sama Bening, padahal dia sangat baik bahkan tidak bermasalah. Hanya saja aku yang bikin ulah hingga aku tidak menyangka jika keadaannya akan seperti ini. Aku tidak akan pernah mengusik apa lagi mengganggu Bening lagi. Aku tidak mau hal yang lebih mengerikan lagi menimpaku. Bening ternyata orang yang penuh misteri sekaligus amat berbahaya jika sampai di usik.
"Iya ma" balasku singkat.
"Apakah kamu sudah meminta maaf pada anak yang bernama Bening itu?" tanya mamaku seperti memastika. Ku balas dengan gelengan pelan.
"Ahhh,,," desahku berat. "Ternyata Bening itu anaknya baik ma, aku yang telah berbuat jahat padanya. Aku belum sempat meminta maaf padanya karena sikonku. Tapi, Bening telah menyembuhkan ku melalui mimpi. Ini semua yang melakukan Bening" jelasku membuat mamaku seakan tak percaya.
"Benarkah itu sayang?. Katanya kamu dilukai melalui mimpi dan kini sembuh pun dari mimpi. Tidak masuk akal. Tapi mama bersyukur kamu telah sembuh sayang" mamaku masih terisak. Aku pun sama, air mataku sesekali menetes tanpa bisa ku bendung.
"Apa yang telah kamu lakukan nak, hingga nak Bening sampai membuatmu seperti itu?" tanya mamaku penasaran karena selama ini aku selalu menutupi serta merahasiakan apa yang telah ku lakukan pada Bening.
"Ak- aku,,,?" Aku kebingungan buat menjawab pertanyaan mamaku dan dari mana memulainya karena hal itu berasal rasa tidak suka terhadap Bening.
"Sayang, apa yang telah kamu lakukan padanya? Hingga kamu seperti ini?" desak mamaku tak sabaran, sepertinya emosi.
"Maafkan aku mama, aku hanya tidak suka dan itu juga karena Riko pacarku. Hingga aku membullynya" jelasku dengan air mata berurai.
"Ya Tuhan sayang, ternyata kamu melakukan hal itu terhadap Bening hingga hampir membuat nyawamu melayang. Ingat nak itu perbuatan tidak baik. Jangan lakukan lagi ya,,,"
"Iya ma, maafkan aku,,, maafkan aku!" berulang kali aku meminta maaf pada mamaku atas semua perbuatan yang pernah ku lakukan pada Bening.
"Itu belum cukup. Mama akan menemui nak Bening serta meminta maaf padanya supaya memaafkanmu sayang. Mama tidak ingin hal buruk menimpamu lagi"
"Iya ma. Aku salah!" Kembali mama memelukku kami menangis haru. Rencana mamaku akan meminta maaf pada Bening. Aku sendiri tidak tau dimana tempat tinggalnya Bening. Mungkin saja dirumahnya Angga. Tapi, aku pernah melihat sendiri kalau kalau Angga dan Bening itu ada cekcok. Mungkin Bening marah sama Angga karena mereka jarang bertegur sapa bahkan berangkat pun tidak lagi bersama.
"RA YA,,,," sayup sayup aku seperti mendengar suara memanggilku.
Mukaku langsung memucat?
Pov Raya End.
#bersambung,,,,
*****
Ikuti kisah selanjutnya "STMJ"
Sel 5 Apr 2022
Komentar
Posting Komentar