47. KESAL.

 47. KESAL...


★★★★


Ku tinggalkan mas Xxaqie terikat didalam alam mimpi.


Sengaja aku tahan disana untuk memberi pelajaran padanya.


____________


Kini, aku tengah berada di mimpinya para penjahat cabul yang seakan lenyap ditelan bumi.


Aku tersenyum sinis kearahnya...


Aku sudah tidak basa basi lagi padanya.


Wajah pak Dwi terlihat pucat melihat kehadiranku berada di mimpinya dan itu seperti momok baginya.


"Mungkin di alam nyata kau tidak bisa ditemukan pak. Tapi disini tidak ada yang tidak mungkin" ledekku tersenyum sini.


Aku baru saja mengikat mas Xxaqie dalam keadaan telanjang bulat dikursi penyiksaan dalam keadaan menangis. Hal itu membuatku geleng geleng...


Aku yakin besok rumah keluarga Sanjaya pasti akan heboh mendapati mas Xxaqie tidak bangun-bangun. Aku tersenyum membayang hal itu.


Kini, aku tersenyum miring kearah pak Dwi sebagai guru matematika ku.


Walaupun dia sangat membenciku tanpa ku tau apa sebabnya.


"Oh, ternyata kau berada di kota ini. Ha ha ha,,," aku tertawa bebas hingga suaraku bergema di seantero tempat kami berada. Bagiku sangat merdu, lain halnya bagi pak Dwi makin ketakutan.


"Ku mohon, jangan laporkan aku ke pak Mahendra"


"Kau sungguh keterlaluan. Kau bukan sosok guru kau orang bejat mengatas namakan jabatanmu sebagai guru. Aku tidak akan tinggal diam. Ha ha ha,,,"


"Jangan Bening. Jangan beritahu pada mereka"


"Ooo,,, jadi kau takut. Kenapa sebelum kau melakukan pencabulan, kau tidak pernah mikir"


"Aku khilaf"


"Enak aja kau bilang. Kau tau bagaimana trauma yang di alami oleh Riko. Kau bilang khilaf. Hebat benar kau. Aku tidak perlu menghormati orang sepertimu"


"Aku juga tidak tau kesalahan apa yang ku perbuat padamu, hingga alasannya apa  kau juga Lexi membenciku, selama ini"


"Kau ancaman bagi kami untuk mendapat Riko"


"Jadi untuk alasan itu kalian membenciku"


"Jadi, sekarang tidak ada alasan bila aku laporkan keberadaanmu pada keluarga Sanjaya. Pasti mereka akan membayarku mahal untuk, itu. Jadi, aku akan menahanmu disini dunia mimpi untuk sementara waktu sampai keluarga Sanjaya menemukan mu serta membasmi seluruh keluargamu"


"Hiks hiks hiks,,, jangan lakukan itu Bening. Ampuni aku, aku tau aku salah. Jangan laporkan aku  pada mereka. Kasihan keluargaku Bening"


"Kau baru sadar sekarang, bahwa yang kau lakukan itu ada konsekuensinya, dan konsekuensinya sangat berat"


"Aku akan bernego dengan keluarga Sanjaya. Karena aku selalu di ancam oleh Riko yang arogan itu"


"Jadi, aku tidak peduli"


Pak Dwi ketakutan setengah mati, tubuhnya bergemetar hebat. Dia sudah membayangkan bagaimana nasibnya juga keluarganya.


Hanya itu jalan satu satunya supaya Riko tidak selalu menekanku juga keluargaku selalu di ancamnya. Hal itu yang akan menyebabku nantinya tidak dapat di ancam lagi oleh Riko maupun yang lainnya.


"Lebih baik aku bunuh kau Bening!" sentak pak Dwi kalap. Mungkin pikirannya sudah kacau.


Dia memukulku, tapi tentu saja dia tidak bisa melakukannya. Membuatnya hanya melongo diam ditempatnya bahkan menjotosku hasilnya nihil bahkan dia juga mencekikku tapi lagi lagi usahanya sia sia.


"S, siapa kau sebenarnya?"


"Bagaimana pak Dwi? Silahkan bunuh saja aku. Dengan senang hati aku menerimanya kalau kau bisa melakukannya?"


",,,?"


"Kau masih penasaran, kan?"


",,,,,?"


"Kau bukan manusia"


"Ha ha haa,,,,! Terserah. Yang pasti, kau salah berurusan denganku pak Dwi, ha ha ha,,,,"


Cetek,,,


Kini, didekatnya telah ada kursi untuk menyiksa. Aku tersenyum puas.


Ku dorong tubuhnya hingga terduduk dikursi yang telah ada.


Sekali lagi ku jentikan jariku, tubuh pak Dwi langsung terikat sangat kuat, dan tidak bisa lepas.


"APA MAUMU BENING? LEPASKAN AKU BANGSAT! LEPASKAN AKU!" teriak pak Dwi lantang hingga suara menggema ditempat itu.


"DIAMMMMM,,,!" bentakku emosi.


Sreeetttt,,,


"Bacot!" umpatku, dan wajahnya ku gores dengan pisau yang memang ku bawa kemana mana jika dunia mimpi. Aku bagai seorang psikopat yang haus darah dan nyawa.


Aku sekarang menjadi seorang yang kejam seperti keji, dan itu semua ketika aku berada disini.


Dulu di kampung tidak pernah terbersit aku akan melakukan hal ini.


Karena keadaan lah yang membuatku terjepit serta melakukan semua ini. Aku terpaksa melakukannya karena keadaan.


Ya Alloh, aku seperti pembunuh berdarah dingin!


Aku benci keadaanku sekarang!


Tapi, apa yang harus ku lakukan, karena masalah selalu datang merundung.


Dug, dug, dug,,,,


"Agghhhkkkk,,,!" ringis pak Dwi tak berdaya, terkena tinjuku tiga kali berturut turut mengenai rahangnya tentu saja dia kesakitan. Darah keluar dari sudut bibirnya, meleleh.


Aku tersenyum girang melihatnya...


"Ampuni aku Bening, ampun!"


"Manusia durjana sepertimu apa kenal yang namanya ampun. Hanya ketika nyawamu di ujung maut baru kau menyadarinya. Dasar munafik!"


"Maafkan aku! Lepaskan aku!"


"Jika pun aku melepaskanmu, kau pikir bisa lolos dari sini?" ledekku penuh hinaan sambil tersenyum miring kearahnya.


"Hiks hiks,,, maafku"


"Cowok lebay. Dasar cengeng!" gertak ku keras.


"Apa kau pikir aku iba melihat air mata buayamu, hah? Tidak pak, aku disini penguasa mimpi"


"Selembar nyawamu tidak berharga bagiku"


Pak Dwi hanya menangis pasrah...


"Kau salah berurusan. Kau bisa berkuasa di dunia nyata tapi disini, di dunia alam mimpi aku yang berkuasa, ingat itu"


"Tak ada yang bisa menolongmu pak! Tidak, ada bahkan siapapun itu" teriakku seperti orang kalap terlebih aku ingat perlakuannya yang tidak mengenakan makin membuatku membencinya terlebih disini aku bagai orang yang kehilangan akal warasku bahkan inginnya membunuh.


"Sekalipun  kau ku siksa pun percuma, tidak gunanya. Ini sebagai pelajaranmu, supaya kau tidak lagi bermain main denganku karena kau telah bermain dengan mautmu sendiri!"


"Bening,,,!" teriak pak Dwi sudah tidak punya rasa malu lagi.


"Selamat tinggal. Kau akan selamanya disini hingga nyawamu membusuk!"


Sesaat tubuhku bergetar. Aku telah kembali meninggalkan alam mimpi kembali kedunia nyata.


"Nak, apa yang telah kau lakukan?"


Aku terkejut mendapati ibuku kini duduk didekatku, terlihat kesedihan diwajahnya.


Padahal aku telah menguncinya tapi kenapa ibuku bisa membukanya...


"Apa yang kamu lakukan nak?" tanya ibuku sekali lagi penuh selidik.


"Bening, sekali lagi ibu bertanya, apa yang kau lakukankan?" sentak ibuku emosi.


Air mataku sudah tidak dapat ku bendung lagi, bentakan ibuku bagaikan sayatan sembilu dihatiku.


"Ibu tidak butuh air matamu. Ibuku ingin kejujuranmu"


Ibuku semakin kalap karena aku tidak menjawabnya, hanya bisa menangis tersedu sedu karena hanya itu yang bisa ku lakukan.


Hingga ibuku menjadi tenang, lalu memelukku yang terpaku ditempatku...


Tangisku tak kunjung reda, malah aku semakin menjadi tangisku ketika ibuku ikut menangis saat memelukku sambil berbisik...


"Ibu tidak mengajarimu seperti ini nak!"


"Mereka tidak memberiku pilihan bu,,, hek, hek, hek,,," aku masih terisak saat menjawabnya.


"Apa kamu tidak bisa jujur sama ibu? Apa yang kamu lakukan seperti ini bisa menyelesaikan masalahmu?"


Aku hanya bisa menggeleng pelan...


"Tidak semua masalah itu diselesaikan dengan cara seperti itu nak. Bicaralah pada ibu, ibu akan mendengar keluh kesahmu"


Ucapan ibuku membuatku semakin tersudut, betapa tidak, hal itu makin membuatku semakin tak enak hati.


"Ak- Aku,,,?" aku bisa terbata. Apa yang ku lakukan ibuku telah memergokiku.


"Bu, aku ingin pulang kampung saja!" karena aku tidak punya pilihan lain lagi.


"Nak, apa yang kamu ucapkan?"


"Ibu, aku tidak tahan disini,,,! Aku ingin pulang kampung saja. Aku ingin tenang disana bersama kakek nenek"


"Kamu mau ninggalin ibu sama ayahmu. Kamu tidak sayang lagi sama kami nak"


"Ibu selalu menyalahku. Ibu tidak tau bagaimana posisi serta keadaanku. Apa yang ku lakukan selalu salah dimata ibu" lagi lagi air mataku sudah bisa ku kontrol lagi.


"Sudah banyak air mataku terkuras, merasakan kesedihan yang ku rasakan selama ini"


"Aku manusia biasa, aku punya hati, pikiran dan juga perasaan" sambungku sambil menunduk dalam kesedihan.


"Sayang maafkan ibu. Ibu tidak tau jika masalah mu seberat itu, ibu bisa merasakan hal itu. Tapi, tetap apa yang kamu lakukan itu salah nak"


"Ibu, jika aku tidak terpaksa, aku tidak mau melakukannya. Mereka semua jahat sama aku bu. Apa aku salah membalas mereka. Memberi hukuman pada mereka karena mereka sudah keterlaluan. Jika ibu posisiku ibu pasti merasakan bagaimana rasanya?"


"Bening, ibu tidak mau jika Alloh sampai memberi karma atas perbuatanmu" jika ibuku sudah menyebut namaku itu artinya ibuku dilanda emosi.


"Ibu tidak usah takut. Ibu tidak perlu memikirkan nasibku. Aku akan menanggung semua karma atas apa yang ku lakukankan. Aku tidak takut selama aku tidak bersalah" ku usut air mataku yang mulai mereda. Jelas ibuku sangat mengkhawatirkan keadaanku.


"Alloh tau apa yang ku lakukan itu benar" tambahku. Ibuku terlihat makin sedih.


"Terserah nak, ibu hanya bisa memberimu nasihat"


"Terima kasih ibu. Ibu tetap yang terbaik buatku"


"Apa kamu tetap akan pulang nak?"


"Ibu mengijinkan aku untuk pulang?"


Seketika ibuku menggeleng lemah. Aku tau ibuku berat berpisah denganku. Alasan kenapa disini, itu juga demi aku supaya aku jadi orang sukses.


Orang tuaku semangat untuk jauh jauh dari Palembang datang ke Jakarta supaya aku mengenyam pendidikan yang tinggi juga punya pengalaman banyak. Tapi, pada kenyataan yang ku hadapi tidak sesuai ekspektasi. Ternyata kehidupan di Jakarta itu selain keras juga kejam.


"Ibu ada disini. Ada apa rame rame sepagi ini?" tanya ayahku yang baru saja datang dari sif malam.


"Ini mas, anak kita mau minta pulang. Aku cegah"


"Benar itu nak, ada apa? Kamu tidak betah disini, atau ada hal lainnya?"


",,,,?"


",,,,," Ibuku hanya diam, serta tersenyum.


"Nak" ibuku menatapku sendu.


"Ayah,,," ku peluk ayahku erat. Kehangatan tubuh ayahku membuatku nyaman, seakan melidungi.


Ibuku memilih untuk diam tidak bercerita seperti yang ku ceritakan sebelum.


Mungkin ibuku memberiku  kesempatan supaya aku langsung cerita sama ayahku.


Aku pun bercerita seperti ku ceritakan pada ibuku. Satu hal yang aku belum jujur mengenai apa yang telah ku lakukan di alam mimpi kalau aku sedang mengikat nyawa mas Xxaqie dan pak Dwi.


"Tadi apa yang kamu lakukan nak? Wajahmu tadi membara seperti berapi?" desak ibuku lagi, karena saat ini ada ayahku.


"Nak, jujur sama kami" ucap ayahku tegas walaupun ucapannya lembut.


Tentu ayahku sudah tau maksudnya apa yang dikatakan oleh ibuku makanya ayahku juga ingin mengetahuinya, jadi menanyakan hal itu padaku.


"Ayah,,, aku,,,,?" aku terbata  untuk sesaat, aku berpikir keras bagaimana untuk menyembunyikan hal ini pada mereka. Ya Tuhan, tolong aku.


Hatiku sudah berdebar tak menentu. Takut tentu ada, yang ku takutkan adalah orang tuaku jika mengetahuinya akan marah besar padaku.


"Ayah, ibu,,,, aku,,,?" ku kumpulkan segenap keberanian ku. Sebelum aku mengatakannya pada mereka.


Brakkkk,,,,!


Pintu depan didobrak dengan paksa oleh seseorang?


"BENINGGGG,,,,!"


Semuanya terkejut mendengar teriakannya termasuk aku...


#bersambung,,,,


*****


Ikuti kisah selanjutnya "Duka yang terasa"


Mg 17 Apr 2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.