53. Cowok Misterius.

 53. Cowok misterius


★★★★


Aku berharap setelah kepergiaanku keadaan kedua orang tuaku baik baik saja, begitu juga bibi Rosmalina dan paman Sarif.


Selamat tinggal semua kenangan buruk, kenangan pahit yang selama ini ku rasakan.


Mungkin aku tidak akan pernah menginjakan kaki lagi di Jakarta yang membuatku selalu menderita.


Biarlah kedua orang tuaku mencari uang di Jakarta dalam ketenangan jika pun suatu saat nanti aku ingin menjenguk ibu dan ayahku mungkin aku akan ke Jakarta lagi, rasanya sudah cukup kepahitan yang ku rasakan selama ini.


Aku naik bus antar kota, nantinya akan melewati Palembang karena tujuannya Pekanbaru.


Setelah tadinya aku pamitan kepada kedua orang tuaku, kamipun menangis saling berpelukan.


Kalau ayahku laki laki yang cukup tegar, hanya menitikan air mata, sedih pasti ada.


Namun, ibuku tidak henti hentinya menangisi akan kepergianku.


"Ibu sama ayah hati hati ya, aku tidak bisa menghibur ibu lagi. Ayah jaga ibu ya" pesanku.


"Setelah ini aku yakin tidak akan ada masalah. Aku yang selalu bikin masalah. Ayah ibu pasti aman, aku yakin. Aku hanya jadi ancaman buat ayah ibu juga paman sama bibi. Jadi aku memilih untuk pulang saja. Aku lebih nyaman di kampung dari pada disini. Ada kakek dan nenek yang menemaniku" jelasku panjang lebar. Pesan terakhir untuk ibu dan ayahku.


Tentu saja ibu makin tersedu sedu nangisnya. Namun aku bisa apa, semuanya akan baik baik saja tanpa aku.


Ku rangkul tas yang ku bawa karena ada hal penting didalam. Untuk tiketnya sudah dibayar di awal jadi sampai tujuan aku tidak memikirkan biaya.


Aku hanya santai di dalam mobil yang ber-AC ...


Semua kenangan yang berlalu kini bagai film yang diputar ulang lagi dibenakku.


Kenangan yang begitu getir ku rasakan, hingga aku juga teringat dengan seseorang yang belum sempat aku berpamitan padanya. Mas Surya, lelaki pejantan yang begitu mudahnya ejakulasi saat aku sangat begitu menikmati tubuh perkasanya. Terlebih kontolnya yang panjang dan besar berurat, kontol yang sungguh luar biasa.


Belum sempat aku di ajaknya liburan ke Jawa menemui keluarganya tapi kini sudah berpisah.


Berpisah pun karena suatu ke egoisan Riko. Kenapa manusia satu itu selalu merusak kebahagiaanku. Walaupun aku tidak ada rasa sama Mas Surya tapi entah mengapa aku begitu nyaman didekatnya, bahkan aku bisa bebas untuk menyentuh setiap inci tubuhnya bahkan ngemut kontolnya sampai puas selama yang ku mau.


Mas Surya maafkan aku! Lirihku dalam hati, rasanya aku begitu banyak bersalah menyia nyiakan orang yang begitu menyanyangiku bahkan mungkin mencintaiku padahal aku seorang laki laki. Sungguh beruntung wanita yang memiliki mas Surya selain kontolnya jumbo juga perkasa orangnya sangat perfect.


Tak terasa air mataku terus bergulir dipipiku. Aku menangisi keadaanku. Menangisi ketidak Adilan yang ku rasakan selama ini. Hingga membuatku terpuruk serta menjadi orang yang berubah dan kejam. Itu semua yang merubah keadaan.


Bus AC yang ku tumpangi terus melaju dengan cepat di jalanan beraspal.


Karena merasa lelah, mataku mulai terpejam sambil ku rangkul tasku dalam pelukan.


Entah berapa lama aku tertidur karena tadi aku hanya sendirian, tapi kini sudah ada seseorang yang duduk didekatku membuatku terkejut.


Seseorang yang mirip seperti mas Surya hanya saja kulitnya lebih coklat kalau mas Surya kulitnya lebih kuning bersih.


Ada kumis yang membuatnya makin nampak macho dan perfect, tersenyum ramah, tapi agak kikuk karena telah mengagetkanku saat tidur.


"Maaf telah membuatmu kaget sampai terbangun,,," suaranya ngebas penuh pesona, santun meminta maaf.


"Eh, ooh gak apa apa mas" balasku berbasa basi canggung terlebih senyumnya yang membuatku seperti terhanyut. Apa salahnya aku memanggilnya mas karena dia terlihat nampak lebih dewasa, aku tidak tau berapa umurnya kelihatan seumuran dengan mas Xxaqie. Laki laki arogan itu yang membuatku jadi seperti ini karena kesalah pahaman.


Kami sama sama diam, karena tidak tau apa yang harus dibicarakan lagi...


"Adek dari mana? Kelihatan sedih?" tanyanya dengan tatapan tajam. Matanya begitu jernih, namun senyumnya tak pernah lepas, bahkan kumisnya yang membuatku berdesir aneh. Laki laki yang penuh pesona. Wanita yang memandangnya rela untuk ditidurinya. Aku saja seperti terhanyut kedalamnya. Matanya seperti memancarkan aura magis.


Diulurkan tangannya...


"Namaku Kharisma" memperkenalkan diri.


Ku sambuti dengan debaran hati yang aneh, pria dewasa didepanku mampu membuatku seperti lupa dengan duniaku.


"Bening,,," sahutku, tanpa ku sadari menyebut nama sambil menatap kearah matanya yang penuh pesona.


Tawanya seperti akan meledak setelah ku perkenalkan diri, mungkin lucu mendengar namaku seperti nama seorang cewek. Itu yang terbersit dipikiranku mengenai senyumnya. Setiap orang yang ku kenal ketika memperkenal diri berakhir dengan ejek. Sama hal pria tampan dewasa didekatku masih saja tersenyum senyum, senyum yang mengejek. Tentu saja aku kesal menatapnya walaupun tidak secara langsung tapi lebih meliriknya. Giginya putih, berbaris rapi dengan bibir seksi. Andai dia jelek sudah ku tonjok sedari tadi, untung dia ganteng, malah saat tertawa terlihat makin ganteng. Ya Tuhan, godaan apa lagi ini. Dia terlihat begitu akrab padahal aku agak kikuk didekatnya, malah gak pede didekatnya. Untung hari masih gelap, entah jam berapa sekarang, aku tidak tau?


Bahkan jaketnya agak lusuh, warna biru buluk, kancing bajunya tidak dikancingkan dua, kulitnya mengkilat. Terlihat gempal. Sesaat mataku tergoda.


"Kenapa liat liat?. Melirik lagi. Liat ke aku gratis" celotehnya, tersenyum.


"Siapa juga, kepedean" rutukku tak terima. Aku sadar dia sungguh tampan dengan senyum indahnya. Membuatnya makin terlihat macho.


"Ya, pede. Setiap cewek cewek liat kearahku bilang suka. Ada juga cowok yang bilang suka tanpa rasa malu" jelasnya malah cengengesan.


"Oiya lupa, adek Bening dari mana?" ulasnya masih dengan senyum yang bisa mengalihkan dunia.


"Aku dari Jakarta, mau balik ke kampung" jawabku ketus, karena aku harus mengenang masa lalu.


"Mas Kharisma sendiri dari mana dan mau kemana?" imbuhku menanyakan perihal dirinya.


"Dari hatimu mau ke hatimu. Bercanda,,,! Aku dari Jawa mau ke Sumatera" terangnya. Dasar gila, bercandanya garing. Lagian ngapain ngomong gitu. Apa gak ada cewek yang naksir harus ngomong gitu.


"Kamu masih mikirin ucapanku ya, lupakan saja, aku bercanda kok" ulasnya masih senyum malu malu bahkan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal karena mungkin kelepasan.


"Buat apa? Terserah situ" sungutnya masih kesal.


"Maaf dek Bening"


"Iya,,,"


"Kok jutek?"


"Habisnya ngeselin"


"Apanya yang salah?"


"Gak ada. Kenapa harus kalem gitu nyebut Beningnya, gak enak, risi gitu dengernya"


"Oalah, itu yang buatmu gak nyaman to dek Bening"


Malah logat jawanya kentara...


"Memang mas ke Sumatera mau kemana?"


"Ketempatnya Simbah"


"Mau ngapain?"


"Kok tanya terus,,,"


"Yaudah, kalau gak mau jawab" setelah aku memilih diam. Mana masih ngantuk ingin tidur, tapi kini agak terganggu dengan kehadirannya. Mana sekarang agak sempit, tadi longgar.


"Mau tidur. Tidur aja dipaha mas, gak apa apa kok" tawarnya terlihat biasa. Ini orang masih baru sudah menawarkan diri. Tapi aneh? Kenapa dia mau melakukan hal itu?.


Aku tak curiga apalagi suudhon, bila dia macam macam awas aja, dimanapun berada akan ku cari.


Mataku rasanya juga udah ngantuk, maka tak rasa apa apa pun tidur dipahanya dengan nyaman.


"Enak,,,"


"Hmm,,," aku bergumam lirih. Memang sangat nyaman tidur dipaha kokohnya. Nyaman dan empuk. Tapi kenapa kok mau, dia laki laki baru juga kenal.


Tapi, kok aku ngerasa ada sesuatu yang ganjal....


Suasana makin tambah dingin, selain hari masih gelap juga ac tidak pernah mati. Aku makin merapatkan tubuhku mencari kehangatan.


Ku dengar helaan nafas beratnya...


Detak jantungnya pun kian bertalu...


"Aghhhhhh,,," desahnya tertahan, mirip lenguhan kenikmatan.


Apa mungkin mas Kharisma terangsang ketika aku tidur dipahanya. Sudahlah mendingan aku tidur, ngatuk juga capek, serta lelah pikiran.


Suasana benar benar lengang karena sedari tadi kami berbincang lirih takut mengganggu penumpang lainnya.


Kini setelah rebahan aku dihadapkan sesuatu yang membuatku berdebar tak karuan.


Orang yang baru ku kenal sudah begitu biasa bahkan aku diijinkan untuk tidur.


Namun, kini ada yang lebih membuatku heran, yaitu dibalik celana bahan Levi's ada sesuatu yang mengganjal. Itu yang membuatku terheran.


Kini tangannya aktif membuka resleting celananya karena aku tidur agak kebawah, itu pun terasa nyaman.


"Ahhhh,,," desahnya sekali lagi, tertahan.


Kepalaku dipegangnya untuk mendekat.


Aku yang sedikit ngatuk tidak tau apa yang diinginkannya? Aku seperti menuruti keinginannya...


Dengan pandangan yang tidak begitu awas karena cahaya sangat minim bahkan sangat remang. Aku dihadapkan oleh hal yang menakjubkan.


Kontolnya nampak menjulang keatas serta panjang, kepala jamurnya nampak agak besar, serta berwarna agak gelap mungkin karena cahaya yang kurang.


Kepalaku di arahkan ke kontolnya, mungkin aku disuruh untuk mendeeptroatnya.


Tak ku sia siakan seolah aku tidak bisa menolaknya lagi.


"Oughhh,,,, Gilak,,, oughhh,,," lenguhnya tertahan mungkin takut suaranya terdengar yang lainnya.


Aku hanya ngemut bagian kepalanya,,,


Sungguh, ini rasa kontol yang sangat luar biasa padahal aku baru saja mengenalnya tapi kenapa dia memberikan kontolnya. Ini keanehan yang ku rasakan?


Kepalaku dipegangnya hingga kontolnya turun naik dimulutku.


Rasanya tidak muat, hanya sebagian...


Sebisanya aku menggelitik lubang kencing hal itu membuatnya kelojotan. Bahkan ku kenyot kuat, hingga tubuhnya mengejan hebat.


"Oughhhh,,," desisnya lirih, bahkan perutnya mengempis nafasnya tertahan.


"Ahhh,,,," dihentakan kuat kontolnya melesak lebih dalam hingga hampir membuatku tersedak. Namun ku tahan karena aku takut menimbulkan kecurigaan bagi yang lain.


"Hhmmm,,," gumamku lirih menerima hujaman serta semburan pejuhnya yang hangat serta banyak sekali dan kental, rasanya tidak dapat ku bayang, pergi, nano nano, serta aromanya begitu khas. Khas pejuh seorang pejantan.


Mulutku masih mengulum kontolnya yang sudah menyemprotkan pejuhnya kepala masih dipeganginya, serta ditahannya. Aku hanya berdiam saja menikmati kontolnya yang masih tegang.


Nafasnya memburu, berangsur angsur teratur...


Namun kontolnya tak juga menciut bahkan masih ngaceng sempurna.


"Maukan kamu ngemut selama bus belum berhenti?"


Tak ku jawab, karena aku hanya memegang pahanya tanda mau. Dia mengelus rambutku lembut lalu menciumku lembut pula seperti aku sebagai pemuasnya.


"Terima kasih!"


_____________


Betapa terkejutnya aku ketika bus berhenti, suasana sudah terang benderang sosok laki laki misterius yang semalam berada didekatku sudah menghilang entah kemana?


#bersambung,,,,


******


Siapakah Kharisma sebenarnya?


Misteri apa yang dimiliki laki laki yang penuh dengan pesona itu?


Dapatkah Bening bertemu dengan laki laki itu lagi?


*****


( Ikuti kisah selanjutnya "TERKEJUT" )


Jm 22 Apr 2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.