54. Terkejut.

 Bab 54. Terkejut...


★★★★


Pikiranku tidak mampu mencerna dengan kejadian yang ku alami sungguh suatu misteri yang hingga saat masih ku pikirkan.


Namun, semua ku abaikan, terlebih aku tau namanya juga tujuannya...


Biarlah laki laki yang bernama kharisma menjadi misteri bagiku seumur hidup.


Hari terang ini bagian dari hariku yang harus ku lalui dengan lapang.


Kini semua penumpang lagi istirahat di sebuah rumah makan yang cukup besar. Sebagian ada yang masuk untuk sarapan. Disini seperti prasmanan jadi menu mengambil sendiri apa yang disukai. Minumannya tinggal pesan nanti diantar kemeja yang ditempati untuk bersantap.


Aku ikut ngantri untuk sarapan serta memilih menu yang ku suka. Setelah aku pesan minuman, es campur duduk santai sendiri menikmati sarapan dengan lahap karena dari kemarin belum makan.


Insyaallah mudah mudahan nanti sore sudah sampai dirumah, rasanya aku tak sabar untuk cepat sampai serta bertemu kakek dan nenek.


Ada seorang bapak mendekat, duduk santai sambil tersenyum ramah.


"Sendiri dek, dari mana?" tanya bapak yang aku belum kenal tapi sudah ramah.


"Dari Jakarta pak, ini mau ke Tugu Mulya. Bapak dari mana, kok sendiri?" tanyaku balik ingin tau.


"Darah Jawa tengah, ini mau ke Jambi nyusul anak kesana" jawabnya sambil dengan senyum ramah, sesekali nampak mengunyah makanan.


"Adek sudah lama di Jakarta?"


"Belum pak, ini juga liburan kangen sama kakek dan nenek"


"Bapak tinggalnya dimana?"


"Di Jawa, ini mau merantau ikut anak"


"Nama bapak siapa?"


"Saridin. Adek sendiri namanya siapa?"


"Namaku Bening pak"


"Ooh,,," ada senyum diwajahnya walaupun ramah tapi tersirat kelucuan mungkin setelah mendengar namaku.


Kenapa tolak ukurnya selalu nama, apa namaku memang aneh dan lucu? Karena setiap orang yang ku kenal pasti tertawa geli bahkan mengejek itu sudah lumrah.


Padahal nama itu adalah sebuah doa dari orang tua. Aku yakin kedua orang tuaku memberiku nama tidak ngasal. Orang tua mana yang ingin anaknya namanya jelek pasti jadi cemoohab orang orang disekitarnya.


"Mana keluarga bapak?"


"Aku duda. Istriku sudah lama meninggal dunia" wajah pak Saridin terlihat sedih, kenangan istrinya mungkin terlintas.


"Maaf telah membuat bapak sedih, mengenang masalalu"


"Gak apa apa,,, tidak perlu disesali karena masalalu itu hanyalah kenang, setiap manusia pasti memilikinya serta tidak melupakannya"


Kemudian dari pengeras suara terdengar pemberitahuan kalau bus yang kami tumpangi akan segera berangkat.


_______________


Ku coba untuk memejamkan mata saat bus berjalan dengan kecepatan sedang.


Hingga tak terasa, berhenti dipemberhentian loket dulu aku dan kedua orang tuaku beli tiket.


Mas Pur orang yang menjual tiketnya tersenyum ramah padaku.


"Lha ini adek yang dulu ke Jakarta kan. Kok sudah pulang?" mas Pur terlihat heran. Keneknya sedang menurunkan barang barang bawaan ku dua kardus.


"Liburan semester mas Pur, jadi pulang buat liburan" balasku sekenanya.


"Di Jakarta kan banyak tempat rekreasi, kan malah asik" benar ucapan mas Pur tapi aku nya yang bermasalah.


"Maklum mas Pur, lagi kangen Simbah, pengen ketemu, Ndak tau kenapa pengen pulang aja" balasku mencari alasan yang tepat. Karena orang tuaku berkerja sebagai art. Walaupun gajiannya cukup lumayan tapi untuk ditabung buat masa depan.


"Orang tuanya gak ikut dek?"


"Ndak mas, aku aja yang pengen pulang karena kangen"


"Ada yang jemput ya dek?"


"Teman mas, bentar lagi datang"


Tak selang berapa lama temanku datang dengan senyum lebar, kelihatan bahagia menyambut kedatanganku.


"Wow Bening, kangen nih!" ucap Fendy lebay.


"Ah, sotoy lho. Lagian kan aku sering kontek kamu lewat pesan messenger"


"Bedalah cuy, kalau kopi darat ketemunya, kita bisa enjoy"


"Emang kalau gak ada aku apa gak asik"


"Sepi, semenjak kamu pergi. Kita jarang kumpul, sibuk dengan diri masing masing"


"Pantes, aku liat dipertandingan jarang maen, rupanya jarang ngumpul to"


"Udah, ini ditaruh didepan ya, ini satunya biar aku yang bawa"


"Iya,,, eh, kamu kelihatan beda lho sekarang , kamu terlihat lebih bersih. Kalau dulu kamu agak sawo matang"


"Ah, bisa aee,,,"


"Pasti kamu jarang kena lumpur, gak kayak disini" celoteh Fendy terlihat ceria.


"Udah, cabut yok, aku gak sabar ketemu sama Simbah"


"Eh, Bening ada yang kangen sama kamu. Tuh, Sri Yani, nanyain kamu terus. Atau kamu udah lupa, atau sudah punya pacar baru?" tuduhnya dengan cengengesan.


"Enak aja. Emangnya aku tukang eselingkuh kayak kamu" sahut ku tegas.


"Aku sudah berubah ye"


"Berubah haluan"


"Maksudnya?"


Waduh, aku kok ngomong gitu ya. Aku gak bermaksud apa apa tapi dari ucapanku rasanya jadi aneh.


"Lupakan omonganku"


"Justru kamu yang banyak berubah, Ning"


"Panggil Bening, jangan Ning, berasa kayak cewek"


"Ah, gitu aja sewot"


"Sak karepmu"


"Iya, iya,,,"


Disusuri jalan belum beraspal terkadang ada lubang serta genangan air dijalan yang kita lalui, sampai lima belas menitan lebih akhirnya kita sampai dirumah.


"Alhamdulillah,,," ku ucap syukur karena telah sampai ke kampung halamanku. Tadi dijalan juga ada yang melihatku tersenyum ramah.


"Dy, mampir dulu"


"Nanti aja aku mau pulang. Nyabit rumput, nanti kesini, tadi sudah janjian"


"Oke,,, aku tunggu"


"Yoi,,," Ferdy pun menyalakan motornya langsung pergi.


Aku lupa sesuatu kalau belum aku kasih uang bensin. Aku tepuk jidat sendiri.


"Thole,,, cucuku seng ganteng dewe, bali meneh. Syukurlah,,," seru nenekku lirih dengan mata berkaca, memelukku penuh haru serta hangat.


Kakekku terdiam termangu disamping nenekku bertelanjang dada, memakai celana pendek komprang warna hitam lusuh. Tersenyum ramah. Ada haru diwajah tuanya yang masih nampak samar kegantengannya di masa muda. Tubuhnya masih gagah dan kekar sekalipun sudah tua. Bahkan rambut sedikit ubannya. Aku bangga dengan kakekku yang kuat diusianya yang sudah tidak muda.


Setelah ku peluk nenek penuh haru kini giliran ku memeluk kakekku yang sedari tadi senyum penuh haru.


"Kakek gak kangen ya sama aku?" rajukku karena kakek hanya diam.


"Nanyain kamu terus Le siamg malam, kapan kamu pulangnya"


"Benar itu nek?" nenekku hanya mengangguk membenarkan.


Tanpa ragu ku peluk kakekku, ku dusel dadanya membuatnya terkekeh.


"Aduh, cucuku yang ganteng makin manja" celutuk kakek karena sedari tadi cuma diam.


"Habis kangen kek. Aku selalu memikirkan kakek di Jakarta" mataku berair. Kakekku menatapku tajam.


Nenekku hanya tertawa saja melihat tingkahku lalu masuk kedalam sambil berpesan.


"Le maem, udah nenek bikinin makanan ke sukaanmu"


"Beneran nek, wah bakal lahap makannya" timpalku masih betah memeluk kakekku. Terlebih aroma tubuhnya aku suka dan bikin betah. Entah mengapa kakek punya aroma tubuh yang memikat. Ada aroma bunga kenangan yang membuat menguar dari tubuhnya terlebih saat berkeringat maka aromanya makin enak.


"Ada apa le? Kamu ada masalah?" bisik kakekku lirih karena kakekku tidak akan melepaskan pelukanya sebelum aku belum melepasnya.


"Gak ada kek" desahku panjang. Kakekku punya felling kuat.


"Mungkin kamu belum siap untuk cerita" kakek selalu mengerti keadaanku.


Cukup lama hingga aku perlahan melepaskan pelukanku. Kakekku mendesah pelan hingga ku lihat dadaku naik turun perlahan.


"Maaf kek" tundukku karena tak berani adu pandang dengan kakekku.


"Kamu telah banyak menggunakan ilmu Penjerat mimpi. Untung kamu kuat, kalau tidak nyawamu bisa terancam. Hati hatilah, sekali kamu melakukan kesalahan maka akan berakibat fatal" jelasnya karena hanya melihatku maka kakek akan tau keadaanku yang sesungguhnya itu yang ku kawatirkan jika berhadapan dengannya. Aku hanya mendesah panjang, karena aku tak bisa menyembunyikan rahasiaku dihadapan kakek.


"Ada seseorang yang suka padamu le, bahkan cinta sama kamu. Orang itu akan mencarimu hingga kesini" tebak kakeknya tersenyum aneh. Sepertinya dia tidak ada masalah. Yang masalah itu, siapa orang yang dikatakan kakekku.


Apa orang itu mas Surya? Kayaknya tidak mungkin karena mas Surya tidak tau nomorku yang baru juga tidak pernah ku kasih tau alamatku disini.


Kalau Riko tidak mungkin juga, karena sewaktu berpisah saja kita lagi bertengkar, lagian dia juga tau alamatku disini. Mustahil kalau Riko.


Lalu siapa?


Selama aku tenggelam dalam pikiranku...


"Simbah, makan dulu"


Aku sangat kenal suara yang memanggil kakekku.


Ku lihat kakek tersenyum lebar, bahagia.


Apa mungkin orangnya ini?


Dadaku berdebar, jika benar suaranya yang ku kenal, sangat khas.


Tidak mungkin?


Aku pun menoleh kearahnya... Terkejut?


"Mas,,,?"


#bersambung....


******


( Ikuti kisah selanjutnya "Galau, galau" )


Sn 25 Apr 2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.