55. Galau, Galau.

 Bab 55. Galau, Galau...


Pov Surya


★★★★


Beberapa hari ini aku sibuk dengan nilai para siswa terlebih dalam setengah bulan semuanya harus kelar, untung aku bukan wali kelas hanya guru mapel.


Dan ku lihat dari nilai yang ku koreksi baik itu nilai ujian ataupun yang lainnya yang paling tertinggi nilainya Bening.


Konsekuensi yang harus ku terima dan itu sebagai syarat agar aku tetap bertahan disini, aku harus terima tawaran dari keluarga Sanjaya termasuk Riko.


Satu hal yang harus ku lakukan tidak boleh dekat dekat lagi dengan Bening, itu sungguh suatu siksaan bagiku. Karena setiap saat aku begitu merindukannya, ingin dekat dengannya.


Bening tidak mengatakan alamatnya dengan detail, sekalipun aku kangen aku pun tidak mungkin mencarinya karena itu sama saja mencari jarum yang jatuh kedalam samudra.


Terlebih liburan kali ini tidak panjang...


Padahal dulu aku berjanji akan mengajak Bening liburan kerumah orang tuaku di Jawa sekaligus wisata jalan jalan ditempat bersejarah.


Namun semuanya kandas dan itu karena ulah Riko dan keluarga Sanjaya yang berduit mereka semaunya memberi peraturan yang tidak masuk akal. Dasar orang kaya tolak ukurnya uang. Mungkin kalau aku kaya juga akan berbuat semena mena terhadap sesama.


Semenjak terakhir ujian, aku tidak mendengar kabar Bening lagi.


Mana kerjaan ku harus selesai minggu minggu ini...


Pikiran itu ku abaikan dulu, kerjaan ku harus selesai dulu baru memikirkan yang lain...


Aku tidak malu jika dirumah sendiri kadang aku malas untuk berpakaian bahkan keadaanku telanjang, bahkan didalam cuma gondal gandil kontolku tanpa penutup. Karena juga jarang ada yang datang ke apartemenku hanya beberapa orang, bahkan yang nginep cuma Bening karena aku tidak suka jika ada yang nginap disini. Bawaannya curiga karena aku jarang bisa percaya dengan orang lain terlebih belum lama kenal. Tapi beda dengan Bening, aku begitu percaya padanya hingga aku mengajak nginap bahkan beberapa kali nginap disini. Aku sangat beruntung mengenalnya bahkan aku juga mencintainya.


Ku buka hpku, lalu wa ku dan ku lihat onlinenya Bening sudah cukup lama, bahkan hampir satu bulan. Aneh? Apa yang terjadi, apa hpnya hilang? Aku lihat memang hpnya itu jadul, kadang aku merasa kasihan melihatnya tapi aku tidak bisa menolongnya.


Ku coba ketik untuk menchatnya siapa tau kapan kapan dibalasnya ketika aktif.


Ada sebuah pesan masuk, setelah ku lihat dari bu Laras. Ada apa chat aku?


[Pak Surya sibuk tidak?]


Aku pun membalasnya...


[Sibuk. Ini masih merekap nilai, apa ada hal penting bu?]


[Tidak, hanya ingin tau kabarnya ma,,, ah,,, eh pak Surya] ada emoji tersipu malu.


Aku hanya tersenyum geli melihatnya. Aku tau kalau bu Laras itu ada rasa sama aku. Tapi, aku tidak ingin kecewa dan terluka untuk kedua kalinya.


[Bolehkan main ketempat pak Surya kalau waktunya sudah senggang]


[Oh, boleh bu, silahkan tempatku terbuka buat bu Laras]


[Terima kasih pak Surya] ada emoji senyum bahagia juga rasa haru.


Sekali lagi aku hanya menggeleng geli padahal aku membalasnya biasa, tapi tidak tau tanggapan bu Laras apa itu spesial baginya. Entahlah?


Aku meneruskan kerjaan ku yang tertunda. Untuk sejenak aku seperti melupakan Bening tapi aku kepikiran dia lagi. Rasa rindu ini begitu menggebu tapi aku tidak bisa berbuat apa apa. Tuhan, maafkan perasaanku jika ini salah.


Pov Surya end!


★★★★


_____________


Pov Riko


★★★


Entah mengapa beberapa hari ini aku selalu uring uringan gak jelas.


Pusing sering melanda, terlebih rasa gelisah yang ku rasakan beberapa hari ini membuatku selalu meluap emosiku.


Namun tak ada tempat buat melampiaskan kemarahanku yang tak beralasan.


Bahkan tidurpun tak nyenyak, gelisah ku rasakan. Hingga membuatku sering terbangun tanpa sebab.


Ya, aku selalu ke pikiran tentang Bening, bayang bayangnya selalu memenuhi pikiranku juga rasa bersalah.


"Aahhhhhh,,,,!" ku jambak rambutku frustasi ketika berada diruang tengah yang luas serta sepi.


"Hey, ada yang lagi stress mikirin seseorang, nih?" suara sindirannya membuatku makin emosi. Aku tau siapa yang sedang mengejekku dikala aku memang lagi stress.


"Kak Xxaqie jangan mulai ya,,," balasku ketus dengan muka muram.


"Jangan muna, lho kan suka kan sama anak kampung itu? Aku sih gak yakin klo dia balik lagi kesini, secara dia sudah tau kelakuan mu" ledeknya membuat mataku membulat marah.


"Hey sabar bro. Gak usah galak gitu. Tenang,,, tahan emosi"


"Kakak yang selalu bikin emosi" tekanku tidak suka.


"Kenapa gak kamu susul terus minta maaf, selesai kan"


"Anjir, kamu kira sesimpel itu. Kamu kira enak aku datang ke kampungnya. Lagian, aku gak tau dimana alamatnya?"


"Ini nih, ganteng tapi bloon"


"Bangsat! kau kira kau itu gak bloon. Ngaca,,,! Ngatain aku bloon"


"Setidaknya aku gak sebodoh dirimu"


"Hello, kau itu tertipu tapi pura pura gak tau?"


"Maksud kamu apa?"


"Gak perlu dijelasin. Katanya kau pinter. Nyatanya otak udang!"


"Bangsat!"


"Kau itu yang bangsat! Kenapa masih disini? Sana urusin istri lho yang mandul"


"Dari mana kau tau?"


"Aku gak sebodoh yang kau kira. Aku sudah tau mengenai istrimu. Buka matamu. Apa kau tidak tau siapa istrimu sesungguhnya"


"Jangan macam macam kau!" geramnya matanya membulat tajam.


"Oh, kau tidak terima?" tantangku.


"Seenggaknya aku pernah bercinta dengan wanita tulen. Bukan dengan wanita jadi jadian" sindirku pedas, siapa suruh dia membuatku makin emosi, salah dia sendiri.


"Jaga mulutmu, atau ku bikin mulutmu gak berbentuk"


"Siapa takut!"


"Berani kau!"


"Iya, kenapa? Sekali kau menyentuhku aku pastikan kau ku permalukan didepan semua keluarga. Ingat itu!" ancamku membuat kak Xxaqie mundur bahkan kini sedikit melunak. Karena aku tau siapa istri kak Xxaqie sesunguhnya.


Aku tau kalau orang tua istrinya itu kaya raya diluar negri sana sehingga harta kak Xxaqie tidak pernah kekurangan bahkan menghambur hamburkannya untuk pergi traveling keliling dunia sendiri.


"Liat saja, jika kau berani beberkan rahasiaku aku akan buat perhitungan denganmu!" kak Xxaqie berlalu dari ruang tengah menuju ke kamarnya hingga kini sepi kembali.


Aku harus minta ijin mama buat pergi ke kampung halamannya Bening sekalian juga memberitahukan pada paman Rohman serta bibi Khatijah siapa tau mau nitip sesuatu pada Bening jadi aku ada alasan buat mengunjunginya. Dari pada aku selalu tersiksa batinku dengan rasa bersalah juga rasa kangen ini, lebih baik aku menemuinya meminta maaf serta membujuknya untuk kembali lagi kesini.


Sambil melangkah menuju dapur aku sudah siapkan sesuatu untuk membuat bi Ijah senang.


Ku lihat bi Ijah lagi bebersih, aku tidak melihat bi Ros. Ini saatnya aku bicara dari pada nanti ada bi Ros kan gak enak.


"Bi Ijah, sibuk gak" tanyaku walaupun tidak mungkin bi Ijah tidak berhenti sejenak untuk datang mendekat.


"Ada apa den Riko, kayaknya penting banget?" tanya bi Ijah balik serta heran terlebih tidak biasanya aku memanggilnya.


"Gini bi, sebenarnya saya mau ke kampung bi Ijah untuk menemui Bening sekalian mau minta maaf serta mengajak balik lagi kesini. Aku merasa bersalah karena telah membuat Bening"


"Bi aku benar benar minta maaf. Aku salah bi, untuk itu aku akan menebus semua kesalahanku"


"Ini buat bibi sama paman untuk keperluan sehari hari, anggap ini sebagai permintaan maafku pada bibi juga paman. Harap diterima"


"Den Riko, i- ini berlebihan, saya tidak bisa menerimanya den"


"Bibi mau buat saya sedih karena bibi nolak pemberian saya yang tulus" tentu aku pasang mimik wajah sedih supaya bi Ijah tidak menolak.


"Den Riko saya Ndak enak"


"Tenang bi, inikan untuk permintaan maaf saya pada bibi kepada Bening, karena bi Ijah sebagai ibunya. Tuhan aja bisa memaafkan, kenapa kita sebagai hambanya tidak bisa bi? Tuhan itu kuasa, lha kita,,,"


"Maaf den, bibi terima ini"


"Iya bi sama sama"


"Terima kasih den"


"Iya, boleh minta nomornya Bening, supaya nanti aku ke kampung bibi tidak tersesat buat cari lokasinya bi"


"Iya den, tolong di catat"


Setelah itu bi Ijah menyebutkan nomor Bening yang baru, kalau tidak dalam kesulitan aku tidak akan menghubunginya.


Setelah ku save aku pun tersenyum puas...


"Terima kasih bi, bulan depan gaji bibi akan di naikan dua kali lipat, tenang aja" aku berlalu langsung ke kamarku.


Besok aku bersiap untuk pergi ke kampung halamannya Bening, semoga saja Bening mau di ajak untuk kembali kesini.


Kalau tidak mau aku akan sedih seumur hidupku dan tak akan memaafkan diriku sendiri.


"Bening aku kangen kamu!" gumamku lirih sambil ku rebahkan tubuhku untuk sekedar istirahat.


Pov Riko end!


★★★★


#bersambung...


******


Benarkah nantinya Riko akan ke kampung halamannya Bening?


Maukah Bening di ajak Riko kembali ke Jakarta?


Bagaimana keseharian Bening dikampungnya?


( Ikuti kisah selanjutnya "Kecurigaan" )


Sl 26 Apr 2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.