64. Teror.

 Bab 64. Teror...


★★★★


Bayangan di dinding kini sudah menghilang, aku sudah rebahan didekat Riko jaga jarak. Entah, seperti ada rasa canggung didekatnya, padahal aku pernah tidur cukup lama bersamanya. Tapi disini aku merasa tidak enak terlebih bayangan mas Kharisma seperti membayangi serta mengawasi ku.


Ku lihat mas Kharisma yang seperti bayangan sangat sinis menatap Riko, bahkan saat aku memanggilnya tanpa sadar Riko juga ikut melihat tapi dia terlihat bingung karena tidak melihatnya seperti aku dengan jelas melihatnya. Apa yang telah dilakukannya hingga hanya bayangan yang ku lihat seperti makhluk halus.


Mas Kharisma tersenyum kearahku maka aku pun membalas senyumnya. Sepertinya mas Kharisma akan menggangu Riko karena tatapan serti ingin membunuh Riko sepertinya sangat membenci Riko.


Tak terasa akupun terlelap karena lelah memikirkan semua yang terjadi hari ini terlebih saat ini aku berada dikamar berdua dengan Riko.


Betapa terkejutnya aku ketika aku saksikan Riko dikerja kerja sosok bayangan hitam.


Riko berlari sekencang kencangnya, namun aku seperti berada didekatnya....


Bayangan hitam itu tidak mengetahui kehadiranku terus menggangu Riko.


Hmm,,,


Aku seperti mengenal aromanya, tidak salah lagi kalau makhluk yang sedang mengganggu bukan makhluk asing melainkan sangat ku kenal.


Namun, entah mengapa dia bersikap seperti itu untuk menggangu Riko?


"Tolong! Tolong aku!" teriak Riko ketakutan, ku lihat wajahnya pucat karena takut terlebih dikejar makhluk yang tak berwajah.


Namun, aku sangat mengenali bau keringatnya yang khas. Entah mengapa baunya begitu berbeda. Yang bikin aku tidak habis pikir dia begitu pasrah saat aku sentuh setiap inci bagian tubuhnya bahkan seperti bahagia. Seperti ada misteri yang disembunyikannya.


Kalau menurutku itu bukan ilmu yang ku punyai karena ku lihat dia hanya menakut nakuti Riko saja bahkan saat akan mencekiknya tidak bisa menyentuh Riko, sepertinya itu hanya sukma halusnya sehingga tidak bisa mencelakai siapapun termasuk di alam mimpi.


Bahkan saat aku berdekatan dengan bayangan itu seperti melemah karena aku tidak ingin Riko celaka olehnya.


Cetek,,,,


Aku muncul dihadapan Riko guna untuk membebaskannya.


"Hentikan, aku mohon jangan ganggu dia" pintaku lembut pada bayangan yang membuat Riko ketakutan karena pikirannya telah dipengaruhi oleh bayangan itu.


Bayangan itu berhenti sejenak, aku yakin kalau Riko tidak tau dimana bayangan itu berada karena mukanya rata.


"Pergilah! Aku mohon! Jangan paksa aku melakukan suatu hal padamu" sedikit ku ancam karena Riko sangat ketakutan terlebih keringat telah keluar disekujur tubuhnya sehingga basah oleh keringat.


"Ampun! Maafkan aku! Aku tidak pernah mengganggumu!" raung Riko meminta maaf supaya bayangan itu lekas pergi.


Ku anggukan kepalaku padanya, Riko hanya menatap kosong karena tidak tau keberadaan bayangan itu.


WHUSSSSHHHHHHHH...


Deru angin menerpa sesaat, baru kemudian bayangan itu sirna entah kemana?


Tapi, ku lihat bayangan itu menuju kearah kamar depan, kamu tamu yang ku yakin itu perbuatan dia. Tapi, aku tidak tau ilmu apa yang pergunakan tapi sebenarnya tidak bisa mencelakai Riko hanya membuatnya ketakutan sehingga hal itu, jika dibiarkan membuat mentalnya lemah serta pikiran donw hal itu yang terjadi.


"Hati hati kamu mas, setelah ini aku akan memaksamu untuk memberitahu ilmu apa yang kau pergunakan untuk menakut nakuti Riko" gumamku lirih, mungkin Riko tidak dengar apa yang ku ucapkan.


"Be, Bening,,, ter-ima kasihhhh,,,," ucapnya terbata lalu memelukku.


"Tenanglah Riko kau tidak akan apa apa selama aku ada didekatmu" balasku menyakinkan karena Riko sedang donw.


"Sekali lagi,,, terima kasih" kini lebih agak tenang setelah aku bicara seperti itu karena aku tidak mau terjadi apa apa.


"Si, siapa yang telah menggaguku Bening?" Riko menatap berkeliling dirasa telah aman bernafas lega.


Ku gelengan kepala pura pura tidak tau, jika aku bicara maka aku akan berbohong jika ku gelengan kepala mengurangi kadar dosaku.


"Sudahlah Riko, kamu gak perlu takut"


"Tap, tapi,,, apa nanti bayangan itu tidak muncul lagi"


"Percayalah Riko, bayangan itu tidak akan berani muncul lagi" tegasku supaya Riko lebih tenang lagi karena rasa takut masih ada. Aku tau dia juga ada trauma denganku jika berada di dunia mimpi seperti ini. Tapi aku akan mengembalikannya, supaya tidak berada lama lama disini. Kasihan dia yang selalu ketakutan.


"Bening,,," ucaonya. Aku tidak menyadari kalau Riko akan melakukan hal yang tak terduga.


Hmmm ....


Gumamku lirih karena bibirku telah dilumatnya.


Sebaiknya aku cepat mengembalikannya ke dunia nyata supaya tidak lebih parah.


Cetek, cetek, cetek...


"Hahhh,,,," Riko terbangun gerapan karena yang di alami itu nyata bukan mimpi. Sekalipun itu seperti mimpi tapi bisa membuat nyawanya melayang.


Mukanya masih pucat tanda apa yang di alaminya begitu membekas...


Lagi lagi memelukku karena aku ikut membuka mataku karena aku telah menggunakan ilmu Penjerat mimpi.


"Rik,,, ooo,,, " tentu aku gugup ketika Riko memeluk lagi. Dasar Cemen, kirain keras ternyata kertas. Dongkol ku dalam hati, mana meluknya kenceng lagi bikin nafasku agak sesek.


"Riko,,, lepas, aku gak bisa nafas nih" sungutku kesal.


"Ak, aku masih,,, takut" gumamnya lirih karena tubuhnya bergetar.


"Iya tapi gak usah kenceng Napa, susah nafas nih. Lagian bayangan itu gak akan ganggu lagi" jelasku supaya Riko mau melepaskan pelukannya karena takut.


"Dirumah ini ada hantunya" ulasnya dengan tubuh bergidik ngeri.


"Gak ada kok"


"Buktinya tadi,,,"


"Itukan mimpi"


"Eh, tunggu? Kenapa kamu bisa tau dan masuk ke mimpiku?" tatapnya curiga kini tubuhnya tidak berkeringat lagi. Tapi aroma keringatnya manly hingga untuk sesaat aku lupa berada.


"Kan kamu teriak teriak gitu, jadi aku pengen tau apa sebenarnya yang terjadi di alam mimpiku. Ternyata dugaanku benar, kamu sedang ketakutan. Untung aku menolongmu jika tidak, aku tidak tau apa yang terjadi sama kamu. Kamu akan mati ketakutan" terangku supaya Riko paham. Walaupun aku tau siapa sebenarnya bayangan itu sesungguhnya.


"Aku telah menyelamatkan nyawamu" tambahku membuatnya hanya termangu ditempatnya sambil perlahan melepaskan pelukannya.


Di garuk kepalanya yang tidak gatal, terlihat cengo sambil cengengesan gak jelas.


"Maaf, aku salah. Aku akan membalas Budi padamu atas pertolonganmu telsh menyelamatkan nyawaku"


"Bisa ku pegang omonganmu,,,?" Ku kernyitkan dahiku karena aku tak percaya dengan ucapannya. Riko mengangguk meng-iyakan.


"Aku pegang janjimu. Jika suatu saat nanti kamu tidak menepati janji, aku pastikan aku yang akan menghukummu dengan tanganku sendiri" tegasku, muka seketika berubah namun hanya sesaat. Setelah terlihat biasa.


"Sudahlah, ayo tidur lagi"


"Rasanya aku gak ngantuk"


"Yang penting rebahan" paksanya.


"Ih, kok maksa,,,"


"Aku takut!"


"Kayak anak kecil"


"Ngeledek nih, gini gini juga udah gede"


"Cuma gede doang, nyali cetek" ejekku menjadi.


"Oh, jadi kamu ngehina,,,! Baik,,, kamu akan tau,,,," ucapannya seperti ancaman.


Tiba tiba aku dipeluknya, bukan hanya itu saja, bahkan Riko telah berani mengecup bibirku namun ragu.


"Kenapa? Kamu ragu? Bukankah kamu selalu teringat tentang ini" pancingku. Dia hanya tersenyum terkulum, kini tidak ragu lagi melumat bibirku lembut.


Riko memang jago dan lihat dalam memagut karena aku telah melihatnya sendiri ketika dia sedang bercinta dengan Raya pacarnya.


Bahkan hampir membuatku kehabisan oksigen ....


Hemmmhhhh,,,


Nafas hangatnya menerpa wajahku begitu nafasku yang tersengal mengenai wajahnya.


Kumisnya masih tipis tidak setebal milik mas Kharisma tapi masing masing punya kelebihan sendiri sendiri.


Entah sejak kapan tubuhnya Riko telah toples...


Aku tau kalau tubuh Riko agak besar dari mas Kharisma, bahkan terlihat bersih makanya cewek cewek sering berseliweran didepan rumah pengen liat Riko yang sok kegantengan, caper.


Bahkan leherku jilatinya lembut. Di kecup pelan seakan tidak ingin membuat kissmart, mungkin takut atau punya alasan lain aku tidak tau. Bahkan kini bagian penutup atasku telah lepas hingga dadaku terekspos bahkan dijilati serta tanpa ragu dikenyot. Sumpah demi Tuhan! Ini nikmat syurgawi yang belum pernah ku rasakan. Kalau kenyotan dipentil bisa senikmat ini, membuatku langsung terbang ke angkasa, melayang layang tanpa ujung.


"Hahhh,,, oughhhh,,, hahh,,, " desisku lirih membuarku kelojotan. Saking gak kuat nahan. Tentu saja ujung kontolku sudah merembes sangat banyak percumnya.


"Be,,, Bening? Ahhh,,, oughhh,,, aku,,, aku suka padamu. Aku sayang padamu. Aku,,, Cin,,, ta,, kamu" ucapnya terbata ketika mengungkapkan perasaannya.


Seketika aku melepaskannya, menatapnya tak percaya ...


'Berarti ucapan kakek benar jika akan ada cowok yang mencariku serta cinta padamu. Kini mengucapkan terus terang. Tapi, kenapa kakek tidak terkejut sama sekali sekalipun telah mengetahuinya, seakan hal biasa' bisik batinku penuh tanda tanya.


Riko hanya termangu menatapku dalam diam...


Kini hanya tersenyum penuh arti!?


#bersambung,,,,


******


Akankah kejadian itu berlanjut lagi?


Bagaimanakah keadaan Kharisma?


Ikuti terus kelanjutannya "PERLAHAN, TERBUKA"


Km 5 mei 2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.