70. Teman Yang Terlupakan.

 Bab 70. Teman yang terlupakan...


★★★


Rumah cukup lumayan walaupun terbilang tidak bagus tapi layak untuk ditempati.


Rata rata rumah didesaku tidak terlalu bagus tapi sudah gedung permanen, dan rata rata berbentuk leter L. Jadi dibelakang ada bentuk L-nya untuk meletakan motor atau sepeda ataupun kalau barang lain, termasuk mobil kalau punya.


Ini rumah Ferdy temanku ketika aku balik dari Jakarta dia yang menjemputku keterminal yang jaraknya kisaran setengah jam-an dari desaku. Bahkan di bayarpun tidak mau padahal itu sekedar uang untuk ganti bensin tapi dia menolaknya karena masih penuh bensinnya dan baru di isi padahal satu liter bisa habis dari tempat aku dijemput serta balik lagi.


"Assalamualaikum,,," saat aku berada didepan pintu yang terbuka tapi terlihat sepi. Biasanya Ferdy sering berada dibelakang itu dengan teman teman yang lain. Rasanya gak sopan jika langsung kebelakang. Namun panggilanku tidak menunaikan hasil, hingga akupun memanggil lebih keras namanya.


"Ferdyyyy,,,,,! Ferdyyy,,,,! Ferdyyyy,,," teriakku cukup lantang.


"Woyyy,,,," dari samping ada sahutan.


Setelah ku perhatikan ternyata Ferdy lagi cengengesan.


"Ah, kamu ku kira siapa teriak teriak kenceng banget siang siang gini. Ayo ikut aku,,," ajaknya tak peduli pergi.


Setengah berlari aku mengikutinya.


Benar saja dugaanku kalau dibelakang lagi rame, mereka sedang duduk santai di lincak agak besar ada yang asik maen hp ada yang ngobrol ngobrol hingga melihat kehadiran langsung pada diam mendadak kayak kuburan menatap heran ke arahku ada yang berbisik.


"Hey kawan ada Bening, yang ku ceritakan kemaren" jelas Ferdy tersenyum.


"Yaelah, Bening kenapa baru nongol di?" sahut Gimen. Aku tidak menggambarkan sosoknya karena biasa kayak pemuda pada umumnya karena wajahnya beda beda tipis.


"Yoi, tumben maen, lagi suntuk lho" imbuh Dimas.


Temanku yang kumpul ada empat, lima termasuk Ferdy, enam aku.


Satunya Tono yang main hp sama Dirga, keduanya agak cuek lagi serius main hp mungkin game online karena sering misuh misuh gak jelas.


"Maaf kan aku baru sempat main kesini"


"Biasa aja bro! Yah, kalah lagi, anjay!" sahut Dirga geram.


Kelihatan Tono juga selesai karena natap kearahku seperti heran.


Lalu mereka menyalami aku...


"Wah, kamu kelihatan beda Ning, sekarang. Kulit kamu bersih gak bukukan kayak kita kita" puji Tono.


"Bener, pasti kamu disana gak ngapa ngapain kan" seloroh Dirga, yang orangnya suka bercanda.


"Iya,,," tambah Tono irit. Harap maklum jarang ngomong, tapi suka misuh misuh gak jelas kalau sedang main game online.


"Kita kita ada rencana Ning, gimana? Mau ikut gak? Rencana kita mau mangga disini. Kamu kan baru datang, anggap ini sebagai salam selamat datang buat kamu. Istilahnya ngerayain, gitu" jelas Ferdy.


Aku tau mereka sangat peduli padaku, mereka teman temanku di desa ini.


"Memangnya sudah dibahas? Kok aku gak tau?" balasku karena memang aku keasikan dirumah dan keladang.


"Lagian, kamu sibuk aku perhatikan" sahut Dirga.


"Ada dua orang cowok dirumahmu. Mana ganteng ganteng banget mereka" tambah Dimas.


"Yup, kayaknya temen temen kamu itu" terka Gimen memperhatikan.


"Iya" sahut Tono yang selalu pelit buat ngomong.


Bagaimana ini? Atau aku ceritakan perihal tentang keduanya pada mereka, karena mereka terlihat penasaran. Mana mereka bilang ganteng ganteng lagi. Emang, ku akui kalau Riko dan mas Kharisma itu prefect pake bingits.


"Iya, Ning, siapa mereka?" desak Ferdy yang rumahnya memang paling dekat dengan rumahku tentu dia tau gerak gerik yang ada ditempat tinggalku.


"Jadi gini, kalau yang agak bersih kulitnya itu mamasku namanya Kharisma, kalau yang satunya itu namanya Riko, anaknya bisa ayah dan ibu bekerja di Jakarta" terangku membuat mereka tertegun, ada yang melongo heran.


"Yang putih itu Riko. Pantes keren banget. Walaupun menurutku lebih kerenan mamasku sih" sahut Gimen.


"Bener, kulitnya itu lho eksotis kayak pemain BF gitu" tambah Dimas.


Dancuk! Mereka ngatain mamasku pemain BF, dasar mulut gak pernah ngaji.


"Ngawur! Kamu ngomong apa Dim? Ngomong ya mbok gak usah ngawur! Mamasku dari Jawa, disana sama kayak disini bukan dari kota" jelasku lagi supaya tidak salah persepsi mereka.


"Lagian bodynya bagus gitu Ning, aku aja sebagai laki laki normal aja ngiler, pengen punya body kayak mamasmu" ucap Dirga membenarkan perkataan Dimas.


"Bener" tambah Tono lagi yang irit omongan kini lagi asik main hp.


Rata rata mereka bawa hp juga walaupun hp kelas menengah kebawah.


Ku keluarkan hpku hingga mata mereka membulat takjub...


"Wah, hp kamu bagus banget nih" kini yang berkata Tono, tumben langsung banyak setelah melihat hp baruku.


"Harganya berapa Ning?" Tanya Gimen.


"Iya Ning, kalau murah aku juga mau beli" tambah Dirga.


"Ramnya itu pasti yang delapan kan" terka Dimas penasaran setelah ku mainkan hpku.


"Berapa ramnya Ning?" tanya Ferdy setelah dari tadi aku cuma diam sambil ku mainkan hpku ditangan.


"8/128, soal harga kisaran 4jtan,,," terangku, bukannya sok tapi kan pas beli dapat harga promo jadi lumayan.


"Nanti kalau kamu balik ke Jakarta aku pesen yang kayak gitu ya" ucap Tono pengen setelah aku menjelaskan baik ramnya maupun harganya.


"Oke, nanti aku coba. Lagian, aku beli juga dari hasil menabung" jelasku bangga.


"Hebat kamu, hasil nabung bisa beli hp baru Ning" balas Ferdy kagum denganku.


"Kamu balik lagi ke Jakarta gak Ning?" tanya Gimen penasaran.


"Iya Ning, soalnya aku pengen punya hp yang ramnya delapan gitu" imbuh Dirga.


"Aku juga Ning, hpku lemot" tambah Dimas.


"Hpku sering error. Bahkan sering logout sendiri" cerocos Tono yang kini malah lemes bahkan asik memainkan hpnya.


"Tapi, bener nanti malah jadi manggang kan?" tanyaku karena mereka sedari tadi kagum padaku terlebih hpku. Dasar katrok.


"Benerlah" tanggap Dimas tersenyum.


"Iya, kan ada kamu Ning" sahut Dirga.


"Atau kamu yang mau traktir" ucap Gimen.


"Kamu yang beli ayamnya ya?" tambah Tono berharap aku yang nraktir nantinya.


"Kita sudah sepakat kemarin. Kok yang bayarin Bening" sahut Ferdy kurang setuju.


Aku hanya tersenyum geli...


"Gak apa apa, berapa? Biar aku yang beli. Ini aku ada, gak usah khawatir" ku tengah tengahi debat mereka supaya tidak berlarut larut.


Mata mereka tertuju padaku dengan rasa tak percaya...


"Beneran Ning?" Tatap mereka tak percaya. Namun aku anggukan kepalaku tanda aku menerimanya.


"Hore, kita bisa makan enak" seru Tono girang.


"Ku lihat kemarin kamu mancing sama mamasmu dapat ikan banyak dan besar besar, pasti belum habis" tanya Ferdy penasaran, mungkin dia melihat aku kemarin pulang dari mancing.


Yang lain memperhatikanku...


"Dari dulu kan memang Bening paling jago kalau mancing" sahut Gimen.


"Sering dapat duluan juga paling banyak" tambah Dirga.


"Tau, pake jampi jampi apa kalau mancing sering dapat banyak?" Imbuh Dimas penasaran.


"Ning, ajari aku jampi jampinya dong. Kamu tau sendirikan, kalau aku mancing dapat ikan paling sedikit. Lah kamu dapat berapa renteng, bahkan aku sering kamu kasih karena kasihan aku dapatnya sedikit" cerocos Tono makin lancar terlebih nanti aku yang bayar buat beli ayamnya. Mereka tambah simpati padaku.


Untung tadi aku gak bawa Riko bisa jadi tadi tambah runyam, dan Riko pasti sok sok-an dan cari muka sama temen temenku. Reputasiku pasti langsung jelek terlebih orangnya sombong juga arogan. Tapi kenapa disini sikapnya berubah, malah sering cari muka terlebih di keluargaku.


"Dari tadi ngobrol, haus nih" ucapku karena tenggorokan rasanya kering seketika terlebih suasana agak panas, gerah.


"Itu ada es ekstra Joss, tapi tinggal dikit" belas Ferdy.


Aku pun mengambilnya untuk membasahi kerongkonganku yang kering.


Kita juga masih asik ngobrol dan bercerita....


"Ning nanti malam kita mabar ya, soalnya ada event, hadiahnya bagus bagus lho. Mau ya,,," ucap Ferdy.


"Iya Ning, kan mumpung ada kamu" tambah Gimen.


"Betul itu" sahut Tono cepat.


"Kamu kan top player" puji Dimas.


"Iya, semenjak kamu gak ada, kita jarang Mabar" tambah Dirga.


"Iya, defeat!" Sahut Tono.


"Baiklah. Tapi, aku bukan apa apa tanpa kalian. Aku bukan top player friend" jelasku supaya mereka tidak berlebihan padaku.


"Lha, buktinya! ku lihat di hasil pertandinganmu tak satupun yang kalah, bahkan kamu mvp semuanya" terang Ferdy.


"Iya Ning, aku salut sama kamu, padahal hpmu dulu itu jadul, tapi tetep mainmu bagus, kita yang hpnya mendingan aja masih defeat kalau gak ada kamu" sahut Tono menerangkan panjang lebar.


"Gimana, nanti malam Mabar ya setelah manggang. Pasti ada kopinya" jelas Ferdy antusias.


"Oke" jawabku setuju.


"Aku ikut!" seru suara yang tiba tiba datang. Aku hafal suara siapa itu?


Teman temanku semua menoleh kearahnya....


",,,????"


#bersambung,,,,


******


Ikuti kisah selanjutnyan "PERKENALAN"


Kamis 12 Mei 2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.