71. Perkenalan.

 Bab 71. Perkenalan...


★★★★


"Rikooo,,,!" seruku tertahan. Melotot kearahnya tak percaya. Bisa bisanya dia nyusul kesini padahal tadi aku tidak mengajaknya, bahkan ku larang. Kini dia muncul dengan sen Loyum tanpa dosa.


"Hay semua!" sapa Riko tersenyum ramah, songongnya tidak kelihatan ingin mengakrabkan diri pada teman temanku.


Mereka terdiam, heran pasti ada. Terbengong terlebih melihat Riko yang datang dengan sok.


Aku paham jika teman temanku tidak suka jika ada orang yang sok akrab terlebih orang itu baru seperti Riko tentu bikin heran.


Kalau di kota mungkin itu hal biasa, atau mungkin sudah biasa. Dia tidak sadar ini desa/kampung bila akrabnya dipaksa hanya bisa ketawain.


"Anak kota masuk kampung!" sorak Tono, tumben lemes biasanya paling pasif mungkin tau kalau Riko orangnya itu songong.


Riko terlihat biasa dapat teguran dari Tono yang belum dikenalnya.


"Sok akrab, siapa lho anak kota" imbuhnya terlihat kesal. Aku ingin lihat apakah nantinya disogok oleh Riko apa Tono masih jutek dengan Riko. Tono tidak siapa Riko yang tukang sogok. Lihat uangnya pasti langsung tunduk. Lihat saja nanti aksi Riko.


"Hey sabar bro, damai, damai. Aku kesini tujuannya tadi mencari Bening, terus ku lihat ada kumpul rame rame, karena tadi ku lihat Bening jalannya kesini, sekalian aku samperin buat memperkenal diri" ucapnya ramah, mengakrabkan diri.


"Namaku Riko Danofan Sanjaya" tambahnya sambil ulurkan tangan kearah Tono yang tadi langsung nanggapi sikap Riko yang tidak disukai.


"Tono Al aska" jawabnya singkat mulai irit.


"Riko,,,"


"Sugimen, he he,,,"


"Riko,,,"


"Gilang Dirga"


"Riko,,,"


"Ferdy Alamsyah"


"Riko,,,"


"Dimas Anggara"


Semuanya telah dikenal oleh Riko sambil tersenyum penuh persahabatan.


"Tadi aku dengar kalian mau manggang. Boleh gabung gak. Atau, gini saja,,, aku yang traktir semuanya,,,! Gimana?" Riko mulai melancarkan aksinya, aku tau dia bisa mengambil hati teman temanku hingga tampak mereka menatapku minta persetujuan. Ya, mereka apa apa selalu minta pertimbangan aku dulu jika ingin memutuskan suatu masalah.


Ku mendesah pelan, agak berat, juga rumit.


Kalau aku tolak kasihan Riko tentu temanku akan membencinya, kalau ku terima Riko akan makin unjuksn taringnya serta melancarkan aksinya. Tentu saja aku bingung dibuatnya. Tapi mereka menunggu keputusanku.


"Bening,,," ucap Riko supaya mengatakan iya.


Tentu saja aku makin kalut untuk memutuskannya...


",,, Fer?" Namun dengan cepat Ferdy mengangkat bahunya, tak bisa memberi keputusan. Ku tatap lainya pun sama tatapak mereka seolah terserah aku karena aku yang lebih kenal dengan Riko.


"Gini saja, untuk masalah ini aku bicarakan dirumah. Gimana Bestie?" Ku tatapi para temanku bergantian. Mereka hanya nyengir saja no komen.


"Ning, dapat salam dari Latif" ucap Ferdy ketika aku akan pergi dari rumahnya karena ada urusan dengan Riko.


"Benar tuh, sering nanyain kamu terus" imbuh Gimen.


"Huh, nyariin kamu mulu, tanya kabarmu gimana" tambah Dimas sebel.


"Heran aku sama Latif, gak bosen apa nanyain kabar kamu" sungut Dirga. Tidak komen cuma Tono seakan tidak peduli.


Riko menatap tajam, tak percaya dengar ocehan para temanku.


"Apa yang mereka katakan. Ada cewek yang naksir sama kamu" Riko terlihat bersungut menatapku.


"Bukan urusanmu, kan. Lagian ini hidupku, kenapa kamu yang ribet. Heran..." Kesalku, terlebih dengan para temanku yang kayak ember mulutnya.


"Aku pulang dulu, assalamualaikum,,," pamitku sambil ku tarik tangan Riko dari mereka supaya tidak nyogok karena kebiasaan seperti itu terlebih tadi teman temanku seperti bimbang pasti mereka mudah untuk dijebak oleh Riko dengan iming iming duit.


Kini aku duduk diteras rumah sambil ngobrol...


Hari sudah beranjak sore.


"Sekarang apa maumu?"


"Jelaskan siapa cewek yang tadi mereka sebut?"


"Bukan urusanmu!"


"Oh, jadi kamu sudah punya cewek rupanya. Hebat juga kamu"


"Apa masalahmu. Aku tidak merusak cewekku seperti apa yang kamu lakukan sama Raya, cewek bolong!" cibirku menghina.


"Gak apa apa. Ternyata kamu pintar nyembunyikan identitasmu. Selama ini kamu tidak pernah cerita. Aku tidak tau semua kisahmu disini"


"Untuk apa?"


"Ingin tau"


"Apa kamu lupa, apa yang telah kamu lakukan selama ini" mataku membulat untuk mengingatkan dengan apa yang dilakukan padaku selama di Jakarta. Kini aku dipaksa untuk kembali ke Jakarta.


",,, He he,,, maaf"


"Berapa kali kamu katakan hal itu?" dengusku kesal.


"Sudahlah. Apa yang mau kamu lakukan sekarang?" tanyaku tegas.


"Mau bikin ulah lagi dengan teman temanku disini. Atau ingin aku laporkan semua kebobrokan mu biar kamu dimusuhi oleh teman teman ku supaya kamu dipukuli sampai babak belur" jelasku. Tentu wajahnya langsung kecut.


"Jangan!" serunya tertahan, ketakutan.


"Baik. Sekarang apa maumu. Tapi ku mohon jangan laporkan pada teman temanmu, aku ingin berteman dengan mereka. Aku janji tidak akan macam macam"


"Oke. Kamu beli ayam lima ekor, lengkap dengan bumbunya. Nanti malam kau boleh ikut. Ingat ini rahasia kita berdua. Jika sampai ada yang tau tentang ini atau kau permalukan aku didepan teman temanku, maka kau juga habis dengan mereka. Mereka akan membelaku. Kamu, akan dapat malu"


"Kejam amat kamu"


"Siapa duluan" potongku cepat.


"Oiya, kontol lho harus dipotong ujungnya" imbuhku mengingatkan tanpa terasa Riko memegang bagian bawahnya sambil bergidik ngeri.


"Dari kecil gue takut akan yang namanya sunat"


"Hadeh, ini manusia songong ngakunya pinter, otak ditaruk di dengkul. Sunat atau khitan itu hukumnya sunah bahkan mungkin setengah wajib bagi kaum muslim karena juga untuk kesehatan biar gak kotor kalau ada kulupnya. Ya kalau lho rajin bersihin, kalau jorok aku gak bisa bayangin itu smegma pasti tebal dilipatan kontol kamu"


"Aku udah nyaman seperti ini"


"Ngeyel!" seruku tertahan.


"Terserah, kalau kau tidak sunat jangan harap aku mau comeback to Jakarta. Ingat itu"


"Iya, banyak banget syarat. Kayaknya sekarang yang kejam itu kamu"


"Ya itu gegara kamu"


"Hmmmmm,,," dehem sebuah suara hingga noleh kearah suara.


"Kayaknya serius banget ngobrol dek. Dari mana tadi dek?" tanya mas Kharisma yang baru keluar dari dalam sepertinya istirahat siang.


"Dari rumah teman, namanya Ferdy, ngajak manggang nanti malam. Katanya buat ngerayain kedatanganku mas. Mamas mau ikut" ajakku berharap mau ikut acara nanti malam.


"Tadinya pas mereka sedang ngumpul, bahas tentang aku. Sekalian ngadain acara buat syukuran" imbuhku menjelaskan. Tadinya Riko ingin ikut bicara tapi setelah ku tatap tajam diurungkan niatnya.


"Boleh,,," terlihat mas Kharisma tersenyum ceria.


Wajah Riko langsung kusut.


"Nanti malam mungkin nginap dirumah Ferdy sekalian nostalgia" ulasku karena memang rencananya nginap serta kumpul bareng teman temanku yang sudah lama pisah. Istilahnya kangen kangenan"


"Memangnya ada ya dek. Sekalian lah aku ikut nginep pengen ngerasain kangenan juga" sahut mas Kharisma antusias sepertinya penasaran.


"Aku juga mau nginap lah" akhirnya Riko nimbrung juga.


"Bila kau setujui kesepakatan kita. Terserah kau mau nginap apa mau tidur dirumah"


"Ogah, nanti hantu yang kemarin malam ganggu gimana?" Ulas Riko sepertinya masih mengenang kejadian yang ketika di teror oleh mas Kharisma tentu saja aku dan mas Kharisma langsung tertawa geli.


"Ada apa dengan kalian kok kompakan tertawanya?"


Andai Riko tau siapa bayangan yang menghantuinya mungkin tidak akan ada rasa takut yang menyisa sampai saat, ternyata masih membekas. Kasihan!


Ha ha ha,,,,,


#bersambung...


****


Apakah nantinya acara manggang bisa terlaksana?


Apa mereka akan tidur dan bernostalgia di rumah Ferdy?


Siapa saja, teman Bening selain mereka berlima?


Ikuti kisah selanjutnya "KUMPUL BERSAMA"


Jm 13 Mei 2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.