74. Maaf.
Bab 74. Maaf...
★★★★
Bulan sabit di angkasa bersinar redup seakan enggan untuk menyinari dunia yang luas ini...
Aku berjalan dengan rasa kesedihan yang mendalam, itu semua akibat ulah Riko.
Tentu sahabatku bertanya tanya apa sesungguhnya yang terjadi antara aku dan Riko hingga membuatku semarah dan emosi.
Jika aku tetap bertahan disana, maka Riko akan menunjukan kesombonganya lebih. Makanya aku putuskan untuk pergi saja dari pada menahan perasaan. Nanti setelah Riko pergi mungkin aku akan menginap lagi dirumah Ferdy bersama yang lainnya.
Bahkan langkahku tergesa supaya aku cepat sampai dirumah dan segara istirahat karena lelah pikiran.
Dibelakangku samar ada bayangan yang mengikuti, aku tau siapa itu yang tidak lain Riko yang mengejarku setengah berlari.
Ingin rasanya aku menghajarnya, menonjok muka hingga bonyok atau dadanya biar tersungkur babak belur.
Baru juga sampai dekat rumah Riko sudah memegangku serta menatapku dengan rasa penyesalan.
"Bening, maafkan aku" sesaknya terlihat sedih. Aku tau itu aktingnya supaya aku memaafkannya atas apa yang telah diperbuatnya.
"Buat apa. Kamu selalu bikin ulah. Aku sudah muak dengan kelakuanmu disini" mataku berair kembali. Diterangi lampu neon hingga sinarnya menerpa wajahku. Riko menatapku dalam dengan rasa bersalah.
"Iya, ku akui aku salah. Sekarang apa mau supaya kamu memaafkan aku"
"Lusa kau harus balik ke Jakarta!" Tegasku melangkah pergi sambil menepis tangannya yang memegangku setelah berada didepan pintu rumah.
Tentu pintu tidak di kunci baik dari dalam....
"Ingat! Jika kau tetap disini semua kebusukanmu yang ku tutupi didepan teman temanku akan ku bongkar supaya mereka membencimu seperti apa yang telah teman temanmu lakukan padaku! Jika kau tidak mau aku juga tidak akan kembali lagi ke Jakarta, untuk selamanya!" tegasku menoleh kearahnya sebelum dia masuk dan masih di ambang pintu lalu menutup dan menguncinya.
"Bening, aku,,," ucapnya terbata.
"Simpan rasa maafku, percuma berkali kali minta maaf kalau akhirnya kau melakukan kesalahan lagi" setelah itu aku pergi meninggalkannya diruang tengah dengan tatapan sedih.
Semua gagal karena keangkuhan, keegoisan terutama kesombongan.
Aku masuk ke kamarnya dimana mas Kharisma tidur, tentunya karena kamarin berseteru gegara kamar jadi mas Kharisma mengalah untuk Riko karena tidak mau ribut karena kamar.
"Dek,,," aku dikejutkan dengan panggilan yang ternyata mas Kharisma belum tidur.
Aku memilih untuk diam serta menatapnya sesaat, dia pasti tau dengan arti tatapanku yang sekilas pasti sudah bisa menilainya.
"Kamu terlihat sedih dek" terkanya karena aku memilih untuk diam. Dia masih duduk diranjang dengan menatapku dengan keadaan toples mungkin jika tidak ada aku mungkin sudah telanjang karena aku tau kebiasaanya selalu bugil.
Tak ada ucapan aku mendekat lalu memeluknya dengan erat ku tumpahkan segala perasaanku yang sedang kalut juga galau.
"Mas,,," ucapku lirih, sedih. Percuma selalu menangisi keadaan, tentunya tidak akan merubah apa apa.
"Sudah, tidurlah. Mamas akan memelukmu. Mamas tau kamu sedang lelah" balasnya lirih sambil merebahkan ku masih dalam pelukannya hingga dia pun juga rebahan.
Rasanya nyaman dan damai terlebih rambutku dielusnya.
"Mas, terima kasih" mataku terpejam karena lelah pikiran hari ini karena masalah selalu datang menerpaku.
Selama ada Riko hidupku rasanya tak akan tenang, selalu terusik. Entah mengapa dia selalu membuat masalah denganku. Apa kesalahan ku padanya hingga dia selalu saja bikin ulah. Apa sebenarnya yang dia mau?
Wajahku tepat didada mas Kharisma yang aromanya yang tentunya manly.
Mataku terpejam dan aku pun seperti merasakan sesuatu...
"Simbah kakung?"
"Cah bagus!"
Aku terkejut mendapati kakekku menemuiku dimimpi dan ini terasa nyata, tanpa ragu aku pun memeluknya, sepertinya ada hal penting sehingga kakek menemuiku bahkan aku baru saja lena.
"Syukurlah. Aku telah lama menunggu mu" raut mukanya seperti khawatir, entah apa yang membuatnya begitu khawatir.
"Ada apa Mbah? Kenapa Mbah kelihatan gelisah gitu?" tanyaku setelah tadi memeluknya, seperti biasa simbahku selalu telanjang dada dengan kulitnya yang coklat alot.
"Kamu mungkin tidak akan percaya cah bagus. Kalau mamasmu Kharisma menginginkan kotak yang kamu bawa. Karena dia ingin menguasainya untuk tujuan tertentu juga ingin memiliki kitab Penjerat mimpi" jelasnya terlihat kawatir.
"Benarkah itu mbah? Yang ku tau mas Kharisma, dia cuma mencari keberadaan kitab itu. Bahkan sampai meraga Sukma. Untung aku menolongnya karena jiwanya hampir tidak selamat karena terlalu jauh ke alam mimpi guna untuk mencari keberadaan kitab Penjerat mimpi. Tapi, tidak ketemu. Dia sempat jujur dan menjelaskan. Tapi, aku tidak menanyakan apa tujuannya mencari kitab itu. Aku juga menjelaskan bagaimana akibat memiliki kitab itu dan harus dibayar mahal. Aku sudah menjelaskan semua itu. Kelihatan mas Kharisma mengerti dan cuma tidak ada tanggapan setelahnya. Aku tidak tau kalau tujuannya ingin memiliki kitab itu untuk kepentingannya. Juga kotak yang ku bawa. Dia juga menjelaskan tentang isi kotak yang ku bawa kalau didalam terdapat gelang pusaka, yaitu Gelang pengikat jiwa" ucapku menjelaskan panjang lebar. Kakek hanya mengangguk tanda mengerti sambil menghembuskan nafas berat.
"Kitab itu ada dimana mbah?" tanyaku ingin mengetahui keberadaan kitab yang kini sedang disembunyikan kakek.
"Kotak itu masih kamu bawa, cah bagus?" Kakekku balik bertanya mungkin ingin memastikan.
"Ku sembunyikan ditempat yang aman. Di alam mimpi, ditempat penyiksaan" terangku membuat alis kakek bertaut.
"Ohh, aku lupa seseorang yang selama ini ku dekap diruang penyiksaan karena aku tidak mau dia melarikan diri"
"Siapa cah bagus?"
"Nanti kakek tau. Sekarang ikut aku"
Kakek hanya mengangguk lalu mengikutiku hingga dalam hitungan detik aku telah sampai...
"Tol, tolonggg,,, lep, lep, lepaskannn,,, aku,,," rintih suara sangat memilukan.
"Ooo,,, kasihan sekali kamu pak Lexy aku belum sempat membebaskanmu dari alam mimpi ini. Masih beruntung kamu tidak kemana mana hingga pak Mahendra tidak mencarimu"
"Cah bagus, kenapa kamu seperti ini?" Terlihat kakekku prihatin.
",,, Mbah, manusia ini yang telah menyodomi Riko, hingga membuatnya hampir mati. Kakek merasa kasihan dengan manusia durjana seperti dia?"
"Cah bagus, tapi apa yang kamu lakukan itu tidak baik. Mbah takut kamu kena tulahnya"
"Mbah, aku memberinya pelajaran seperti ini supaya jera. Kenapa simbah malah kasihan. Andai simbah tau gimana keadaan Riko saat itu mbah gak akan ngomong gitu"
"Tetap itu tidak baik"
"Tujuanku kesini mau membebaskannya"
"Bagus"
Cetek, cetek, cetek,,,
"Kembalilah,,," ucapku setelah ku jentikan jariku hal itu membuat kakekku takjub aku melakukannya dengan mudah bahkan tali yang mengikat guruku terlepas dengan sendiri serta menghilang entah kemana.
"Terima kasih Bening, aku tidak akan mengulangi lagi perbuatanku"
Whussssshhh....
Pak Lexy lenyap dari tempatnya....
Kakekku hanya terdiam tak bersuara menatapku kagum dengan yang ku lakukan.
"Simbah mau disini saja?" ucapku menatap kakek yang termangu.
"Mana kotak yang kamu sembunyikan?"
"Tidak disini. Ayo ikut aku mbah" ajakku karena kakek hanya termangu sedari tadi.
",,,," Ku ajak kakekku untuk menemui seseorang yang satunya. Sebenarnya tempatnya tidak jauh.
"Hikksss, lepaskan aku. Siapapun itu. Tolongg....." Isak suara memelas minta dibebaskan.
Pak Dwi yang terikat dikursi penyiksaan...
Kembali kakekku mengelus dada, tentu sudah tau alasanku hingga hanya terdiam.
Pak Dwi belum tahu kehadiran kami...
"Tolong,,," serunya dengan suara lemah tak bertenaga.
"Jika lebih dari empat puluh hari mbah tidak membayangkan bagaimana nasibnya"
"Aku sudah memperhitungkannya mbah. Makanya sebelum itu, aku dilanda ketakutan karena belum membebaskan mereka. Tapi, kini akan ku bebaskan"
"Bening?"
Cetek, cetek, cetek....
Whuuuushhh....
Pak Dwi lenyap dari tempatnya menuju ke dunia nyata.
Cetek, cetek, cetek,,,
Kini ditanganku telah ada sebuah kotak hitam kecoklatan terbuat dari kayu jati tua dan berukir indah.
Ku serahkan kotak itu pada simbah...
"Ada syarat yang harus kamu penuhi sebelum kamu memakai gelang ini?" Kakek menimang kotak ditangannya sambil memperhatikan dengan seksama, menarik nafas ringan. Lega.
",,,," Aku hanya terdiam mendengar wejangan beliau.
"Yang harus kamu lakukan, kamu harus meminum sari pati kehidupan tiga laki laki yang lahir pada malam jumat Kliwon sasi suro bulan tanggal satu!" tegas kakekku. Jika kamu sudah lakukan hal itu, maka akan ada tandanya" terangnya lagi sambil memperhatikanku dengan seksama.
"Apa? Jadi kamu telah melakukannya,,,?" sentak kakekku setelah memperhatikan keadaanku. Aku sendiri tidak tau apa arti ucapannya.
"Maksud kakek apa? Aku tidak mengerti" ulasku dengan heran atas ucapan beliau.
"Kamu telah melaksanakan syaratnya tanpa kamu ketahui cah bagus. Kamu telah meminumnya tanpa kamu sadari dari tiga laki laki yang lahir malam Jumat Kliwon di bulan suro tanggal satu"
"Mbah, aku gak mudeng?"
"Nanti kamu akan tau. Tunggu saat bulan purnama"
Aku dibuat semakin tidak mengerti dengan ucapan kakekku???
#bersambung,,,,
*****
Apa sebenarnya tujuan dari kakeknya Bening?
Benarkah kotak yang diberikan oleh Bening itu berisi gelang keramat?
Lalu dimana kitab Penjerat mimpi?
Apa yang akan dilakukan oleh Kharisma?
Ikuti terus kelanjutannya "PERNYATAAN"
Selasa 27 Mei 2022.
Komentar
Posting Komentar