76. Detik Kepulangan.
Bab 76. DETIK KEPULANGAN....
★★★★
Seperti biasanya, setelah sarapan aku dan mas Kharisma pergi keladang melakukan aktivitas.
Nampas!
Selesai nampas, cari rumput cukup banyak supaya tiga hari kedepan tidak cari rumput.
Tidak banyak kata, hanya pandangan yang berbicara...
Aku merasa tidak enak, sama sama tidak enak pastinya terlebih dengan masalah yang terjadi.
Introspeksi diri!
Bahkan sampai pulang pun masih saling diam.
Aku tidak tau bagaimana keadaan Riko karena semenjak insiden di rumah Ferdy aku tidak peduli lagi, terlebih melihat mukanya saja aku ogah. Benar benar aku marah padanya karena selalu membuat kesalahan, ujungnya minta maaf. Sudah berkali kali ku maafkan tapi tetap melakukan kesalahan bahkan itu disengaja.
Saat menurunkan rumput barulah mas Kharisma;
"Kenapa sedari tadi diam dek? Apa kamu marah padaku? Maafkan mamas bila ada salah" lirih dengan tatapan sendu. Ia tau kalau aku pasti merasa tidak enak atas kejadian yang terjadi mengenai dua hal yang pernah dibahas.
"Aku tidak bermaksud membuatmu sedih, atas apa yang pernah ku katakan. Itu semua atas desakan ibuku. Aku harus bagaimana?" Lanjutnya penuh sesal tapi tidak bisa berbuat banyak. Aku mengerti keadaannya. Mungkin kedua benda itu sangat penting buat ibunya. Tapi buat apa? Terlebih kini sudah zaman serba canggih dan modern. Buat apa?
Andai saja aku bukan pewaris ke tujuh mungkin aku tidak akan mau menerima warisan sebuah ilmu yang membuat pemiliknya tidak akan pernah memiliki keturunan. Tapi, kenapa kakekku punya keturunan padahal beliau ke lima, lalu siapa yang ke enam, sedangkan aku keturunan yang ketujuh.
Atau jangan jangan ibuku, atau ibunya mas Kharisma?
Ah, aku bingung sendiri memikirkan hal itu?
"Dek, kenapa masih diam? Kamu marah sama mamas,,,"
Ku gelengkan kepalaku,,,
Sejujurnya, aku marah tapi untuk apa? Dia melakukan atas desakan ibunya. Mungkin, bisa jadi kalau pemilik ke enam yaitu ibunya mas Kharisma tapi kakek sepertinya tidak merelakan jika ibunya mas Kharisma memilikinya.
Ah, pusing!
Kenapa ayahku tidak tau?
Sedangkan ibunya juga tidak peduli, bahkan ibuku terkejut karena aku menguasai ilmu Penjerat mimpi.
Ayahku juga tidak tau dan ibu mungkin tidak pernah cerita, tapi melihat kejadian yang dialami oleh Riko ayahku terlihat biasa. Aku tau kalau ayahku sebenarnya tau tapi memilih untuk diam supaya tidak ada masalah. Bahkan ibuku pun sama memilih untuk diam saja. Bungkam karena itu jalan terbaik.
"Syukurlah. Ku kira kamu marah sama aku dek"
"Gak mas, aku ngerti keadaan mamas seperti apa? Mamas pasti menuruti perintah ibu mas untuk mendapatkan keduanya"
Setelah itu aku pergi ke sumur untuk mandi dibelakangku nyusul mas Kharisma masih menatapku curiga karena aku begitu saja mudah menerima.
"Dek mau mandi bareng" ajaknya tersenyum cool, senyum yang mampu membuatku terhipnotis. Tapi kali ini aku merasa biasa bahkan pesonanya tidak mampu membuatku tertarik lagi.
"Boleh" balasku datar karena aku lebih dulu masuk dan membuka pakaian atasku belum sempat membuka kolorku mas Kharisma sudah didalam sambil tersungging senyum menawan.
"Kenapa senyum senyum" tanyaku heran.
"Mm,,, mamas,,," ucapnya terbata. Aku tau maksudnya tapi tak ku hiraukan.
Sange sangelah situ. Aku tak peduli.
Karena ku lihat kontolnya sudah ngaceng sempurna tapi aku pura pura tidak melihatnya, sesekali ku tatap wajahnya yang tersungging senyuman.
Ku siram tubuhku, dingin, seger, dan rileks rasanya.
"Dek,,," nafas mas Kharisma sudah naik turun.
"Kenapa mas?"
"Bisa minta tolong Ndak?"
"Saat ini, maaf aku tidak bisa"
Terlihat mukanya langsung sedih, aku memang lagi gak mood saat ini. Makanya aku tolak dia, dan aku tau apa maksudnya. Tapi, bukannya loyo tetap saja kontolnya ngaceng sempurna. Aneh?
Ku guyur tubuhku agak cepat karena ingin cepat selesai mandinya serta mau menemui Riko yang entah dimana sekarang?
"Dek, mau kemana, cepat banget mandinya?" tanya Kharisma melihatku heran karena cepat cepat aku mandi.
"Ada hal penting yang ingin ku lakukan"
"Apa?" tanyanya cepat, penasaran.
"Selesai,,," ku ambil handuk, karena aku mandi pakai kolor.
Ku dekati sejenak, ku sentuh kontolnya. Ku kecup bibirnya sekilas.
"Oughh,,,,,!" erangnya lirih setelah itu aku pun cepat berlalu dari sumur yang terlihat mas Kharisma terbengong.
"Asuuu,,," umpatnya lirih, tapi aku mendengarnya jelas. Frustasi sudah tentu. Mumpeng bisa ku pastikan karena hasratnya tak salurkan.
"Opss, maaf mas,,," seruku tertawa pelan, mengejeknya.
"Deeekkkk,,," teriaknya kesal.
"Ha ha ha,,,,"
"Cah bagus, ada apa to kok ketawa?" tanya simbah putri aku tidak tau dari mana, sepertinya memanaskan air. Tapi buat apa air panas.
"Iya mbah, ada apa? Lha itu air panas buat apa mbah?" tanyaku penasaran. Mbah Putri tersenyum getir.
"O, ini untuk temanmu dari kota itu. Dia lagi gak enak badan" terangnya sambil membawanya kearah kamarku.
Tentu saja perasaanku jadi tak enak. Mana hari ini Riko harus balik ke Jakarta kalau sakit berarti tidak jadi.
Secepatnya aku masuk kamar tamu dan ganti pakaian karena pakaian sebagian ada disana karena tak enak kalau dilihat Riko. Kalau mas Kharisma aku sudah biasa.
Karena tadi simbah putri datang ke kamar Riko berada, aku tidak apa yang terjadi dengannya. Atau,,,
"Mbah,,, mbah,,," rintih Riko sedang berbaring ditempat tidur ditunggui nenekku seperti cucunya kesayangannya.
"Le, makan ya,,, kamu harus sehat. Karena hari ini kamu akan pulang ke Jakarta" ucap nenekku terlihat prihati. Sepertinya keduanya tidak tau kehadiranku. Karena aku hanya diam didekat pintu masuk yang tadi tidak ditutup.
Aku melihatnya prihatin juga, dan sepertinya nenek tau kalau aku telah mengusir Riko supaya pulang hari ini. Tapi, keadaanya sedang sakit. Bagaimana ini? Atau hanya alasannya saja supaya tidak pulang hari ini.
"Mbah Putri, kenapa Riko?" tanyaku segera nenekku menoleh kearahku tersenyum simpul.
Raut wajahnya terlihat sendu menunggui Riko yang terbaring tanpa menjelaskan ketika aku tanya.
Menghela nafas,,,
"Badan panas. Mungkin demam" terka nenekku melihat keadaan Riko yang diselimuti.
Aku mendekatinya. Memperhatikannya...
Bibirnya pucat kebiruan. Benar sedang sakit. Kasihan juga. Tapi, ini sudah nasib mau gimana lagi.
Aku tidak berani memeriksanya.
Teringat kejadian ketika waktu itu dia minta minum melalui mulut. Ach, kenangan itu terulas kembali.
Aku menungguinya cukup lama hingga aku tidak sekolah. Walaupun begitu aku masih minta pelajaran apa yang harus dipelajari juga pr harus di antar kerumah. Karena aku tak mau ketinggalan pelajaran sekalipun aku sedang menunggui Riko yang sedang sakit terlebih dengan mentalnya yang donw.
Kini, melihat keadaan Riko yang terlalu hingga kenangan yang lalu seperti memaksaku mengingat kembali.
Repot?
Ah, sudahlah.
Nanti kalau aku kembali lagi, aku akan mengambil raportku pada bu Laras.
Ini semua karena Riko, aku tidak mungkin akan pergi secara diam diam kalau bukan karena ulahnya. Kini malah dia nyusul kesini. Dan ramalan kakek ternyata terbukti.
Mungkin yang dimaksud oleh kakek yaitu Riko laki laki yang mencintaiku akan datang menemui. Tapi, ketika ku tanya, alasan cuman ingin liburan di kampung itu seperti apa.
Ya Tuhan!
Dulu Riko menghinaku anak kampung, tidak mungkin akan datang kesini. Tapi, Alloh berkehendak lain, takdir membuatnya bertandang ke kampung halaman dengan alasan liburan padahal kakekku mengatakan kalau ada laki laki yang mencintaiku.
Kenapa semuanya seperti sudah di atur?
"Riko, maafkan aku?" Ku sentuh telapak tangannya terasa hangat. Benar dia sedang sakit. Mungkin demam seperti nenek bilang.
"Iya, aku ngerti,,," suaranya agak dipaksakan untuk menjawabku. Kasihan, mungkin karena sikon dirumah ini hingga membuatnya sakit. Bila keluarga Sanjaya tau mengenai keadaan Riko aku tidak tau nasib apa yang akan terjadi dengan keluargaku ini.
Hatiku terenyuh, aku tak peduli jika pun ada nenek didekat kami. Ku cium pipinya penuh haru, ingin aku menangis, tapi ku tahan karena aku tak ingin terlihat lemah melihat keadaannya yang sedang terbaring sakit.
"Mbah, apa perlu dibawa ke puskesmas untuk disuntik"
"Tidak! Aku tidak mau,,," teriak Riko lemah, sepertinya ketakutan mendengar kata suntikan. Mungkin disini beda penangananya dengan dokter Miko dokter pribadi keluarga Sanjaya.
"Biar sembuh nak" mbah Putri membenarkan karena tidak mungkin Riko pulang dalam keadaan sakit.
"Mbah, besok pasti sembuh kok"
Apa?
Besok!
Berarti ketahan satu malam lagi.
Hadeh!
Emang, dasar kadal buntung tak tau di untung!
Aku hanya bisa menerima kenyataan, jika pun dipaksa nanti malah aku yang disalahkan oleh keluarganya.
"Bening temani aku ya,,,"
"Baiklah,,," balasku pasrah.
"Cah bagus, aku tinggal dulu, mau bikin bubur" pamit nenekku hingga tinggal kami berdua. Ada rasa canggung terlebih tatapan Riko yang sendu membuatku tak tega.
"Riko,,,"
"Bening,,,"
#bersambung,,,,
*****
Ikuti kisah selanjutannya "BERPISAH DAN PULANG"
Sabtu 21 Mei 2022
Komentar
Posting Komentar