77. Berpisah dan Pulang.

 Bab 77. Berpisah dan pulang...


★★★


Seperti yang telah dijanjikan kalau hari ini Riko tetap pulang sekalipun keadaannya belum begitu membaik aku yakin dia kuat untuk pulang.


Terlebih kini ada trevel didepan rumahku yang akan mengantar Riko sampai ke bandara di Palembang. Untuk pulang menuju Jakarta.


Ada dua simbahku juga mas Kharisma juga para sahabat dan tetangga sedang hadir melepas kepergian Riko.


Mereka begitu simpatik dengan Riko karena selama disini banyak membantu warga sekitar, makanya aku heran dengan kehadiran mereka seperti menghadiri artis yang akan show.


Diantara para wanita banyak yang nangis haru, entah apa yang membuatnya menangis dengan pelepasan kepergian Riko dari kampung ini seakan membawa dampak melow para tentangga sekitar.


Ada rasa sedihnya tersendiri kenapa aku memaksanya untuk segera pulang karena masalahnya ada di malam Jumat nanti aku seperti merasakan sesuatu hal besar akan terjadi. Entah apa itu? Namun hatiku merasa tak enak dan berdebar.


"Le maafkan simbah ya, bila disini kamu ndak betah. Karena tempatnya seperti ini.


Terima kasih banyak telah banyak membantu disini. Simbah ndak bisa mbales apa apa,,,! Ini sedikit oleh oleh dari simbah. Salam buat ibu dan bapak ya le,,,," nenek mulai menangis lebay. Aku saja sebel dibuatnya. Nangisi apa coba? Orang kayak Riko ditangisi apanya? Mana ibu ibu dan cewek cewek yang menyaksikan kepulangan Riko pada tangisan penuh haru membuatku hanya tepuk jidat. Mimpi apa semalam aku? He he....


"Maafkan Riko mbah karena telah merepotkan simbah juga yang lain,,,"


",,, Banget!" sahutku cepat mangkel karena dari tadi melirikku.


"Bening maafkan aku karena bikin ulah dan masalah selama ini. Mungkin aku pergi hidupmu akan damai. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui, aku datang kesini karena satu hal,,,"


",,,,?" Ku tatap dengan penuh heran karena dia tersenyum. Getir, itu yang tersirat.


"CINTA,,,!" bisiknya ditelingaku, tegas. Aku shock ditempatku. Menatapnya tajam, tak percaya.


"Gila kamu ya" mataku membulat.


"Tidak,,,! Aku pergi. Aku tunggu kamu kembali ke Jakarta" ucapnya tatkala semua mata tertuju kearah ku disaat Riko memelukku untuk terakhir kalinya. Entah mengapa aku seperti terharu merasakannya.


Hingga tak terasa mataku berair dengan sendirinya...


"Kamu menangis untukku,,,?"


",,," Aku hanya diam. Ke buru membatin. Menatapnya ketika menatapku penuh arti serta tersenyum. Lalu memelukku lagi sambil menciumiku dan itu disaksikan banyak mata.


Semua yang menyaksikan makin menangis kencang...


"Riko,,,!"


"Ai lope pyu Riko,,," teriak ibu ibu yang tidak tau bahasa Inggris yang benar.


"Love you Riko, aku merindukanmu" seru yang lain, kumpulan para gadis gadis yang keganjenan sama Riko. Huh, dasar gadis gadis gatel!


"Sama semua, aku juga minta maaf jika telah berbuat kesalahan!" seru Riko tersenyum cool mereka langsung menjerit histeris. Begitu membius para wanita karisma Riko hingga mereka begitu antusias bahkan saat Riko akan pergi.


Entah apa yang mereka lakukan atau Riko merencanakan sesuatu? Aku masih berpikir, tapi setelah itu aku terkejut karena semua yang ada disekitarku, berteriak ribut sambil merebutkan sesuatu.


Ada yang berseru tak percaya, mengucap syukur juga ada.


Alhamdulillah!


Ya Tuhan!


Aku kaya!


Riko telah menyebar uang begitu banyak dihalaman rumah ini hingga semua orang berebutan untuk mendapatkannya.


"Bening aku pamit, selamat tinggal!"


Cuuupppp,,,!?


",,,????" Rasanya aku langsung blank mendapat ciuman Riko yang begitu dalam dibibirku, tak ada yang tau karena semua orang sibuk memunguti uang. Hanya satu orang yang melihatnya yaitu nenekku. Melotot tak percaya. Aku langsung berlari masuk karena malu kepergok oleh nenek.


Riko melangkah pergi menuju mobil travel yang terparkir.


Mobil perlahan meninggalkan jalan rumahku...


Ada lambaian tangan kearahku...


Kenapa aku tau karena aku ngintip di jendela, Riko mengetahui kehadiranku.


Detak jantungku belum juga berhenti seperti terus berdetak sangat cepat ketika aku dicium tadi, terlihat oleh nenek yang bikin aku malu setengah mati. Bagaimana tanggapan nenek mengenai apa yang telah dilihatnya tadi.


Aku harus menjelaskan apa pada nenek nantinya? Itu pyur Riko melakukannya dengan sengaja dan aku tidak menyadari hal itu terjadi begitu cepat hingga aku tidak bisa menghindar apa lagi nolak.


Travel akhirnya menghilang.


Kini menyisakan penyesalan.


Nasi sudah menjadi bubur!


",,,Dek?" Aku kaget setengah mati ketika dibelakangku ada yang memelukku hangat, sangat intens hingga aku hanya pasrah mendapat perlakuanya.


"Mamas,,," rajukku.


"Enak dicium sama Riko, dek?"


Nadanya terdengar cemburu...


"Siapa yang menginginkan? Mamas mau,,,?"


"Ak, akuuu,,,," dia terlihat gugup dengan tatapan sulit diartikan.


Saat ku putar tubuhku menatapnya.


Ada desahan lirih, berat.


Ku pegang wajah tegasnya, kumisnya aduhai.


Tanpa di kasih aba aba, aku pun menciumnya tanpa minta izin mpu-nya.


Tentu hal itu membuatnya gelagapan dengan apa yang ku lakukan.


"Hupfff,,, dek, dek,,," gugupnya ketika aku melepas ciumanku tentu mukanya memerah seperti jatuh cinta. Rasain! Emang enak...


"Kok gak ngomong dek"


"Lagian sih, mamas cemberut gitu"


"Aku kan,,,?" Kembali mas Kharisma kikuk. Lucu. Tapi aku suka dengan sikapnya yang apa adanya.


Suasana diluar sudah sepi, terlihat kedua Simbahku masuk kedalam. Tapi, simbah putri terlihat sedih dengan air mata membasah , kasihan juga aku melihatnya mungkin terlalu sayang dengan Riko karena banyak berkorban juga pulang dalam keadaan masih kurang sehat.


"Hus mas,,," ku peringati mas Kharisma karena meluk dari tadi mana simbah sudah masuk tapi tidak tau aturan. Tapi kedua Simbahku tidak peduli dengan yang dilakukan mas Kharisma, hanya saja aku merasa tidak enak.


"Simbah kenapa masih sedih seperti ini?" Ku peluk nenekku supaya cerita dengan keadaannya yang sedang menangis. Karena sebab apa?


"Cah bagus, simbah ngerasa Ndak enak karena thole Riko belum sehat tapi maksa pulang" curhatnya mengkhawatirkan keaadan Riko.


Semua salahku, karena keegoisanku. Tapi, semua sudah terlanjur karena Riko sudah pergi. Hanya menyisakan kenangan. Karena Riko selalu bikin ulah, selalu bikin masalah. Juga selalu cari perhatian dengan yang baru dia kenal. Menyebalkan...


"Maaf mbah, jika aku telah melakukan kesalahan"


"Sudahlah cah bagus. Ndak perlu disesali semua sudah terjadi. Rumah ini sepi lagi" sesalnya, seperti sangat menyesalkan kepergian Riko, nenek juga pasrah.


Aku berjanji suatu saat nanti akan mengajak Riko kesini untuk mengobati rasa kangen nenek sepertinya kakek juga tidak banyak komen cuman diam dan merenung sesekali menatap tajam kearah mas Kharisma seperti melihat sesuatu hal. Giliran ku tatap dia hanya senyum-senyum saja. Dasar aneh?


"Kenapa dek natap mamas terus? Suka ya. Nanti jatuh cinta lho"


",,, Ih pede banget. Situ yang kesem-sem. Naksir mamas, ogah ya. Yang ganteng juga kaya banyak kale,,," ejekku gak terima membuatnya membulat matanya.


"Eh, gini gini yang ngantri banyak ya, buat ngerebutin cinta ku" timpalnya gak terima.


"Ya udah, kenapa gak diterima kan enak gak bayar" ledekku makin menjadi. Membuatnya bungkam langsung. Nyerah. Siapa suruh debat sama aku.


Tapi ...


Aku merenung untuk sejenak.


Kenapa aku dulu waktu di Jakarta tidak pernah berpikir seperti ini.


Disini aku bisa berekspresi.


Di Jakarta aku jadi anak lugu serta cupu selalu ditindas dan dibully karena mereka rata rata anak orang kaya sedangkan aku hanya orang biasa hidup pas-pasan.


Mendadak hatiku sedih, aku melangkah ke kamar guna untuk menenangkan perasaanku.


Diikuti oleh mas Kharisma, sedang  kedua Simbahku duduk santai sambil menikmati acara tv, entah apa yang sedang diputar. Itupun cukup kenceng. Sebagian tetangga ada yang datang berkunjung buat nonton tv karena disini memang masih jarang yang punya tv apalagi tv ditigal harganya cukup lumayan bagi kita orang kampung yang hidupnya bertani serta pas pasan.


Rumah ini akan selalu ramai oleh tetangga yang datang untuk nonton tv.


Gak apa apa sebentar lagi aku juga akan kembali ke Jakarta. Rasanya aku sudah kangen sama orang tuaku, juga,,,


Ah, sedih bila ingat Angga yang sampai saat ini belum baik hubunganku dengannya.


Kalau sama yang lain biasa-biasa saja tak ada masalah.


Sedari tadi aku melamun, saat ku sadari mas Kharisma sudah...


"Mamas,,,?"


#bersambung,,,,


******


Apa yang dilakukan Kharisma hingga Bening teriak?


Bagaimana keadaan Riko sekembalinya ke Jakarta?


Ikuti terus kisah selanjutnya ("RENCANA SUNAT")


Minggu 22 Mei 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.