87. Detik-detik.

 Bab 87. Detik-detik...


★★★★★★


Adzan subuh berkumandang dari masjid yang jaraknya tiga ratus meter dari rumahku hingga membuatku terbangun dari tidurku.


Namun, saat ku buka mataku ada tangan kokoh yang memelukku sangat hangat hingga ku rasakan kenyamanan itu.


Baru ku teringat seseorang yang semalam ku kerjai bersama Dimas dan Gimen yaitu Ferdy karena selama ini, menurut mereka ceritakan Ferdy selalu luput dari kocokan mereka hingga membuat mereka punya dendam tersendiri hingga tadi malam dendam mereka terbalaskan.


Dimas dan Gimen tersenyum puas, terlihat dari wajah mereka yang terlihat puas.


Namun, aku yang selama ini tidak tahu menahu tentang hal itu terseret dalam arus permainan mereka yang menurutku gila.


Masa harus melonco teman sendiri, bukankah itu tidak wajar alias gila. Tapi, mereka tidak ada yang komplain pada semangat bahkan tertawa kegirangan seperti dapat permainan baru yang mengasikan. Menurut yang ku amati.


Toh, mereka sama sama impas, untung aku tidak diikut sertakan  dalam permainan mereka, kalau sampai aku diikutkan mungkin aku akan malu untuk selama lamanya, terlebih kini perasaanku telah berbeda semenjak aku mengalami hal hal yang buruk selama aku mengenyam bangku pendidikan di SMA Permata Bangsa. Sekolahnya anak orang yang tajir melintir.


Namun, yang membuatku miris kawan kawanku tertarik untuk sekolah disana, namun karena keadaan ekonomilah maka nyali mereka jadi ciut karena sekolah disekolah elite membutuhkan biaya yang lumayan besar karena fasilitasnya sangat memadai dan siapa yang lulusan dari Permata Bangsa selalu jadi orang sukses, kenapa sekolah elite itu banyak peminatnya termasuk mereka yang orang tuanya tajir.


Aku saja beruntung bisa mengenyam pendidikan di Permata Bangsa sekalipun aku mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dan juga hanya mengandalkan beasiswa sekaligus kepintaran.


Setelah ku perhatikan yang semalaman memeluk hangat tidak lain Ferdy adanya. Setelah ku perhatikan dari dekat, Ferdy memang ganteng, sambil ku tersenyum terkulum sendiri.


Lalu...


"Fer, Ferdy,,, bangun, sudah subuh" ku sentuh dadanya yang sedikit terbuka karena semalam dia meronta tinta karena di dipegang dua temanku serta ku pelonco hingga klimaks. Kasihan...


Dua temanku masih asik ngorok, terbuai dalam mimpi indahnya masing masing.


Ku pegang dada Ferdy yang tegap saat bangun karena Ferdy bahkan tidak ada respon saat ku bangunkan.


Ku rasakan debaran jantungnya berbeda, aku tidak bisa menafsirkan apa yang sebenarnya terjadi, bahkan dadanya detak jantungnya kian berpacu.


Aku sudah tidak bisa tidur lagi setelah dengar adzan subuh. Entahlah....


Kini, Ferdy memiringkan tubuhnya serta memelukku, bisa ku rasakan deru nafasnya yang memanas kena wajahku.


Bukan itu saja, Ferdy menciumi wajahku sekenanya, sepertinya sedang bernafsu, nafasnya memburu menerpa wajahku sambil menciumiku sekenanya.


Lalu terdengar bisikan lirihnya...


"Bening,,, hhhh,,,," desahnya tertahan. Bagian bawahnya ku rasakan ada yang mengganjal serta bergerak.


Rupanya Ferdy telah mengenakan celananya lagi, padahal semalam sudah kelenger habis aku pelonco.


Kini aku merasa aneh sendiri dengan sikap Ferdy sepertinya sedang sange berat. Bisa gawat?


Pelukannya makin kenceng, nafasnya makin menderu, hangat menerpa wajahnya.


Ingin rasanya aku menolaknya, aku takutnya nanti Ferdy malu terlebih jika Dimas dan Gimen tahu serta memergoki apa yang dilakukan itu sama mencabuliku.


Aku tidak tahu apakah Ferdy sudah bangun atau hanya pura pura mengigau saja.


Nafasnya makin ngos ngosan serta pahaku jadi sasarannya kontolnya yang tegang, berkedut.


"Hahh,,, enak banget kocokanmu Bening, aku ketagihan, aku mau lagi" racaunya, karena matanya terpejam, sambil menciumiku brutal.


Namun, aku tidak mau pasif saja, apa yang dilakukannya aku agak kesal dan tidak suka, itu sama saja memperkosaku tanpa kompromi. Enak saja...


Tidak bisa...


Maka, detik selanjutnya. Ku pegang wajahnya, lalu ku cium bibirnya yang agak tebal kehitaman mungkin akibat merokok. Tapi tidak apa apa, aku ingin merasakan ciuman Ferdy seperti apa.


Ternyata payah!


Ku lumat bibir bawahnya, lalu lidahku masuk kedalam. Rasain ...


Hal itu membuat Ferdy yang ku cium kelabakan, membuatku tersenyum dalam hati, geli.


Ku lumat habis habisan bibirnya, lidahku bermain main didalamnya, namun tanpa ku duga kini lidahku disambut, hingga kami saling memilin.


Ferdy masih meneruskan aksinya, ngentoti pahaku dengan mata terpejam sambil lumat lumayan hangat.


"Ouggghhh,,, hhoohhhh,,," lenguhnya tertahan.


Aku tahu kalau Ferdy sedang klimaks, ciumannya dilepaskan.


Nafasnya masih memburu, berangsur angsur normal kembali. Setelah itu matanya terbuka perlahan lahan dengan nada lega, kemudian berucap...


"Maafkan aku,,," senyumnya kecut.


Aku hanya menggeleng lemah. Ku isyaratkan 'maaf' sambil ku ukir senyum padanya.


Ferdy tersenyum membalas serta berkedip, 'iya'.


"Hah,,,," Desahnya pelan. Lalu bangkit, ku ikuti.


"Apa kamu akan pulang?" tanyaku memastikan, apakah sikapnya akan berubah terhadapku seperti yang ku alami bersama Angga hingga sampai saat ini belum terselesaikan. Sedih, sesal juga ada. Andai aku tidak gegabah, mungkin  kejadian itu tidak akan pernah terjadi. Tapi semuanya sudah terlanjur, itu sesal yang selalu menghantuiku terhadap Angga. Tapi, sudahlah aku tak ingin terpuruk dan memikirkan hal itu terus pada akhirnya hanya membuatku galau. Masih ada persoalan lain yang perlu ku pikirkan. Tentang bagaimana nantinya aku di Jakarta, sekolah juga yang lainnya.


Semoga keadaan akan baik baik saja. Amin,,,!


"Hoy, bangun, bangun, siang,,," sentak Ferdy kasar pada Gimen dan Dimas, aku pun ikut terkejut. Dia meminta maaf pelan.


"Huh,,, berisik banget sih lho,,," gerutu Gimen.


"Iya, ngantuk nih,,," gerutu Dimas juga, tak terima dengan perlakuan Ferdy.


"Dim, Men, bangun dong, bener yang dikatakan Ferdy. Kalian mau bangun jam berapa? Kalian bukannya nampas" sahutku ikut membenarkan Ferdy.


"Tuh denger" balas Ferdy.


"Iya, iya,,," sahut keduanya mengerjakan mata lalu bangun.


Lalu keduanya seperti mengendus, tentu saja Ferdy mukanya kecut, langsung panik.


"Dim, kamu bau sesuatu gak" tanya Gimen membau aroma yang khas.


"Hihhhh,,, ehmmm,,, ini kan pejuh!" serunya sambil mencari cari, kini tatapannya tertuju dari Ferdy begitu Dimas ikut memandang tidak senonoh pada Ferdy yang kepergok.


Mati kau!


"Kenapa mandang aku kayak gitu?" bantah Ferdy tak terima.


"Kau ngecrot lagi ya" tuduh Dimas.


"Iya, baunya sangat santar dari kamu" sambung Gimen menatap Ferdy penuh selidik.


"Bukan urusanmu" Ferdy nampak sewot.


Aku diam anteng wae dengan masalah mereka toh aku sudah tahu hal sebenarnya yang terjadi sebelum mereka tahu yang sesungguhnya, kalau Ferdy jujur, pasti malu sendiri. Aku yakin Ferdy tidak akan ngaku, itu sama halnya membuka aib sendiri. Memalukan...


"Bener dugaanku,,,Dim, periksa" sentak Gimen memberi perintah pada Dimas untuk memeriksa keadaan Ferdy.


Tentu saja Ferdy langsung kaget mendengarnya.


"Huwaaa,,,," Ferdy langsung kabur kalang kabut dibuatnya dari kejaran Dimas dan Gimen karena ingin tahu serta penasaran dengan aroma khas yang tercium.


"Ha ha ha,,,," aku tertawa terbahak bahak melihat tingkah Ferdy yang ketahuan kedoknya, walaupun itu masih tersembunyi.


Mereka keluar sambil lari lari, hingga menimbulkan kegaduhan dipagi hari saat subuh.


___________


Kini suasana telah terang benderang.


Aku tidak tahu kelanjutan dari cerita mereka tadi pagi.


Aku telah selesai membersihkan kandang sapi.


Biasanya yang melakukannya semua aktivitas dikandang kakek.


Tak terasa air mataku mengucur deras mengingat kenangan bersama kakek. Kini telah pergi ke dunia mimpi tidak bisa kembali ke dunia nyata hingga hari kiamat.


"Kakek,,," gumamku lirih, terduduk didekat kandang sapi. Sapi sapi terlihat sedih dan menitikan air mata sepertinya mereka merasakan tidak kehadiran tuannya yang telah pergi.


"Maafkan kakek, jika selama merawat kalian, kakek telah berbuat kesalahan,,, huk, huk, huk,,," aku sesenggukan menangis  saat berkata pada sapi sapi yang kini tinggal sang pemiliknya.


Beda terasa saat merawat mereka ketimbang kakekku yang dengan telaten merawat mereka hingga gemuk gemuk. Untung stok rumputnya masih banyak, karena aku dan mas Kharisma mencari rumput cukup banyak cukup untuk sampai hari Senin. Jadi aku sedikit tenang saat ku tinggalkan mereka karena semua telah ku serahkan pada teman temanku terutama Ferdy yang nanti akan mengurusnya.


"Mas Kharisma, kenapa kamu begitu jahat?. Maafkan aku karena telah membuatmu,,,?" isakku pilu, kembali air mataku merebak tak terbendung.


Kembali ingatan ku mengenang kejadian di alam mimpi saat terakhir tubuh mas Kharisma terlempar dan melayang.


Aku telah melakukan sesuatu padanya hingga menyebabkan dia harus harus kehilangan.


"Itu setimpal dengan apa yang telah kau lakukan pada kakek mas" gumamku, geram karena aku tidak menyangka, dibalik kelembutan sikapnya ternyata menyimpan kejahatan.


#bersambung...


___________


Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Bening pada Kharisma?


Bagaimana nasib kharisma setelah dia terlempar dan melayang keatas?


*******


Ikuti kisah selanjutnya "Dendam Kesumat Sarinah Mukti"


Senin 27-6-2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.