89. Salam Perpisahan.
Bab 89. Salam perpisahan
★★★★★
Detik-detiknya kembalinya aku ke Jakarta begitu terasa, terlebih kerjaan dari pagi hingga sore begitu melelahkan.
Semua teman-temanku membantuku sehingga terasa ringan, karena dilakukan bersama sehingga tidak begitu terasa yang tersisa kini hanya lelahnya saja.
Aku sangat berterima kasih pada mereka yang telah membantuku terlebih besok aku akan kembali lagi ke Jakarta.
Usai magrib nenek menemaniku menonton tv yang tidak begitu ku pedulikan apa acaranya. Karena aku fokus pada nenekku yang mulai menangis walaupun tidak sepilu ketika kehilangan kakekku tercinta.
"Mbah putri, nanti setelah empat puluh hari kita sambangi kakek. Simbah putri tidak perlu sedih" ucapku coba menghibur nenekku yang mengucurkan air mata deras.
Nenekku cuma mengagguk, pasrah...
"Simbah akan sendirian tanpa kamu cah bagus"
"Kan ada teman temanku yang akan membantu simbah. Jadi simbah tidak perlu khawatir ya"
"Tapi simbah tidak enak, karena merepotkan mereka"
"Mereka ikhlas mbah, jadi mbah gak usah mikirin hal itu lagi ya"
"Iya cah bagus" nenek memelukku hangat penuh kasih sayang. Mungkin ini pelukan terakhir sebelum esok hari aku kembali ke Jakarta.
"Aku sayang simbah putri" lirihku, tak terasa air mataku tak bisa ku bendung lagi. Namun, aku tak ingin menunjukan hal itu pada nenek karena nantinya akan menambah kesedihannya.
Secepatnya ku usut air mataku yang tak terkendali...
"Jangan lupakan simbah yo cah bagus" isak nenek dengan tubuh terguncang. Sepertinya dukanya cukup dalam terlebih sekarang tidak ada disampingnya.
"Gak mbah, aku sayang simbah putri" ku tekan sesenggukanku supaya nenek tidak tambah sedihnya.
Ku akui kalau mataku pasti sembab karena aku juga menangisi keadaan. Meninggalkan nenek sendirian disini. Namun aku bisa apa karena keadaan lah yang memaksaku meninggalkan nenek sendiri sekalipun berpesan pada teman temanku buat jaga dan temani nenek ku namun tak urung aku juga merasa khawatir dan juga sedih.
Biarlah keadaannya seperti ini, nanti setelah sekembaliku ke Jakarta kembali aku akan menceritakan semuanya pada orang tuaku.
Karena, jika aku memberitahu takutnya mereka akan balik lagi kesini padahal disana kerjaannya agak ringan tapi gajinya cukup lumayan besar dan bisa merubah perekonomian keluargaku karena keluarga Sanjaya itu sangat baik-baik juga royal. Kini semua ku tahan dan masih ku rahasiakan.
"Mbah putri sekarang istirahat, tidur, jaga kesehatan supaya tidak sakit ya" pesanku sambil tersenyum supaya nenekku tegar.
Disentuh wajahku tersenyum bersahaja walaupun senyumnya tulus namun kesedihannya tak bisa ditutupi.
"Iya cah bagus"
"Mbah Putri, aku belum mengabari pada ayah dan ibu. Takutnya nanti mereka gak tenang disana"
"Ndak apa apa cah bagus. Nanti saja kamu yang cerita pada mereka, supaya mereka tenang dalam bekerja. Keluarga nak Riko pasti baik karena anaknya saja sangat baik. Simbah bersyukur karena orang tua mu memiliki kerjaan mapan walaupun sebagai babu" ucap nenek tidak tahu bahasa kerennya 'Babu' saat ini yaitu ART.
Nenek berlalu meninggalkan ku sendirian di ruang tengah dengan nyala tv yang aku tidak tahu sedang menayangkan acara apa. Biasa para tetangga ada yang monoton, tapi entah mengapa semenjak ke pulangan Riko mereka enggan datang. Mungkin mereka sudah tahu keadaan yang terjadi pada simbah kakung sehingga mereka menghormati keadaan kami.
Sepi....
Tok, tok, tok,,,
Tiba tiba pintu depan diketuk, tentu saja aku agak kaget.
Aku bergegas membukakan pintu, aku ingin tahu siapa orang yang malam begitu bertandang ke rumah.
"Assalamualaikum,,,"
Aku seperti tidak asing mendengar suaranya hanya menduga saja.
"Waalaikum salam,,," jawabku, aku hanya tersenyum dan tahu siapa orangnya. Entah mengapa hatiku begitu senang. Berarti selama ini dugaanku tidak benar mengenainya.
"Ferdy,,," sapaku setelah ku lihat orangnya yang diambang pintu sambil tersenyum cool.
"Bening, kok belum tidur?" sapanya balik, memperhatikan kearahku lagi lagi ada seulas senyum yang sulit ku artikan.
"Yang lainnya mana? Kok gak ikut" tanyaku memastikan terlebih ini malam terakhir buatku berada di kampung halamanku.
"Ngghhmmm,,, mereka sibuk, pada kecapean" jelas Ferdy tak menatapku sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu, entah itu apa. Tapi, aku memilih untuk mendiamkannya saja. Tapi, aku merasakan hal itu. Atau jangan jangan...
Sudahlah....
"Yah,,,," desahku kecewa karena kini akan ku habiskan malam ku bersama Ferdy saja tanpa yang lainnya.
"Ayo masuk" ajakku karena sedari tadi termangu ditempat. Lalu Ferdy menutup pintu serta menguncinya lalu mengikuti ku dari belakang lalu ku matikan tv serta lampu tengah menuju ke kamar karena aku ingin segera istirahat.
Tak ada kata, seperti bisu, Ferdy masih mengekor dibelakang.
Pintu kamar ku tutup tapi tidak di kunci karena masuk belakangan Ferdy hanya ditutup rapat. Toh, nenek jarang sekali masuk ke kamarku kalau tidak ada hal yang penting, lagian kalau subuh aku selalu bangun kepagian karena tidak bisa tidur lagi.
Wajah Ferdy terlihat gugup, aku tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu.
Biasanya tersenyum kini bahkan tidak tampak sama sekali saking gugupnya, seperti mau nembak cewek atau menghadapi malam pertama pengantin baru.
Ku usahakan bersikap biasa, seolah tidak terjadi apa apa, sekalipun kejadian yang pernah terjadi masih membekas. Bahkan tidak bisa terlupakan untuk seumur hidup.
"Yaelah, malah bengong! Kenapa Fer, kok gugup gitu?" Sebenarnya aku juga menekan perasaanku, karena merasa tak enak terlebih melihat sikap grogi Ferdy membuatku berpikir.
"Sss,,, siapa yang gugup. Gak ah, perasaanmu aja" ucapnya terbata tidak menatapku terkadang pandangannya diedarkan untuk mengurangi kegugupannya.
"Kamu ingat kejadian semalam ya,,," tebakku membuat Ferdy salting bahkan nyengir terpaksa.
"Ngh,,, gak juga,,," Ferdy terlihat santai, tetap masih tergagap.
"Kenapa? Gak kayak biasanya? Ayolah Fer, kamu kenapa sih?" ku coba untuk bersikap biasanya walaupun ada rasa tidak enaknya. Namun, sebisanya ku tekan.
Kita saling berdekatan, namun tubuh Ferdy nampak gemetar serta gugup padahal aku bersikap biasa seperti tidak terjadi apa, tapi Ferdy terlihat salah tingkah, terlihat aneh menurut, gesturnya juga berbeda. Kenapa nih anak?
Bahkan ada titik keringat ditubuhnya, grogi...
"Fer, kamu kenapa bisa seperti ini?" ulasku ingin tahu karena terlihat tidak nyaman.
"Lihat ke aku" tatapku pada Ferdy tidak berani menatapku langsung.
Ku pegang tangannya makin gemetar. Ingin aku tersenyum takutnya menyinggung perasaannya jadi aku menatapnya saja.
"Beb, Bening ak-aku,,,"
Bahkan saat bicara pun sering terputus kayak anak kecil yang baru belajar mengeja kata demi kata.
"Jujur sama aku Fer" desakku karena sedari tadi Ferdy merasa tak nyaman bahkan kikuk, gugup juga keringatan padahal suasana tidak panas tapi keringatan.
Wajahnya ditundukkan, seperti merenung juga sedih. Aku merasa tak enak sendiri dibuatnya.
"Fer, maaf atas kejadian semalam jika hal itu membuatmu kepikiran. Sebenarnya aku bukan bagian dari masalah yang kalian hadapi selama ini. Aku hanya nuruti permintaan Dimas dan Gimen. Aku minta maaf atas apa yang telah ku lakukan padamu" jelasku dengan tulus.
"Bukan itu,,," jedanya sejenak. Kini teihat lebih santai walaupun ada sedikit rasa gugupnya. Keringatnya sudah hilang.
Aku coba untuk tersenyum, ikut santai, mengenyahkan masalah yang pernah terjadi.
"Bening,,,," hembusnya pelan. Nyengir kuda. "Ahhh,,," terlihat gelisah.
"Aku selalu teringat kejadian semalam. Aku sulit untuk menghilangkan dari pikiranku. Tolong aku Bening" curhatnya, bikin aku gak enak hati jadinya.
"Lalu Aku harus menolongmu bagaimana? Aku bingung?" Ku pijit pelipisku karena percuma juga aku menolongnya karena itu ada dipikirannya. Aku dibuat bingung dengan ulah Ferdy yang sekarang tidak biasa.
",,,,?" Ferdy hanya menggeleng, tidak tahu harus melakukan apa.
"Fer, tenangkan hatimu dan pikiranmu. Kamu tidak perlu memikirkan apa yang telah terjadi. Anggap saja itu seperti mimpi" jelasku. Ku lihat Ferdy menghembuskan nafas pelan. Berat. Mungkin itu yang dirasakannya.
Aku pun tak mungkin bisa melupakan kejadian yang telah menimpaku. Termasuk kejadian yang ku alami dengan Riko yang sampai sampai saat ini sangat membekas. Bahkan saat bersama mas Surya yang begitu banyak menolongku serta pada mas Kharisma yang kini menimbulkan dendam tersendiri didalam hatiku. Mungkin aku akan sulit untuk memaafkan mas Kharisma dengan apa yang telah dilakukannya pada kakekku.
Jika ingat hal itu membuatku sedih, aku tidak akan melupakan kejadian itu, sangat membekas bagiku. Bahkan gara gara itu nenek ku kini sangat berduka dan kehilangan sosok kakek yang teramat dicintainya. Aku juga begitu sangat menyanyangi kakek karena begitu menyayangimu.
Padahal kakek juga perlahan menunjukkan rasa sayangnya pada mas Kharisma tapi kepercayaannya telah dihianati dengan ingin merebut serta menguasai dua buah pusaka yang saat itu dibawa oleh kakek.
"Bening kenapa kamu menangis?"
"Tidak, Ku gak kenapa Napa? Aku cuma ingat sama kakek yanv telah muksa. Sayang, kakek tidak bisa kembali lagi kedunia nyata. Itu karena ulah mas Kharisma"
"Kenapa kamu masih menghormati dan menyebut mas pada orang yang telah membuat kakek celaka?"
"Bagaimanapun mas Kharisma itu saudaraku. Dia jahat karena pengaruh ibunya. Tapi, aku telah membuatnya celaka. Aku juga merasa kasihan padanya. Tapi, mengingat apa yang telah dilakukannya, terkadang aku kesal. Namun, mengingat kondisinya saat sekarang, aku ingin melihatnya"
"Aku tidak tau dimana tempat tinggalnya, dijawa. Baik mbah putri maupun mbah kakung tidak pernah bercerita" sambungku. Kembali ingatanku mengenang tentang kakekku. Mataku rasanya panas, sebisanya ku tahan, aku tak ingin terlalu berduka terlalu dalam.
"Kamu jangan bersedih seperti ini. Maaf jika membuatmu teringat pada mbah kakung" hibur Ferdy simpati. Dengan keadaanku sedih membuatnya melupakan masalahnya sejenak.
Namun, tidak menutup kemungkinan dia akan teringatnya kembali. Setidaknya melupakan sejenak masalahnya karena masalahku juga tak kunjung berakhir, bahkan sering bertambah.
"Bening, gimana kalau kita main mobile legend, pasti seru tuh" ajaknya bersemangat. Aku yang melihatnya sudah ceria tak tega buat menolaknya terlebih malam ini malam terakhir aku disini.
Ku anggukan kepala, hingga senyum sumringah terlihat diwajah Ferdy seperti dapat durian runtuh.
Namun, sebelum aku mulai memencet aplikasi game online aku punya permintaan padanya.
"Fer, nanti kamu yang antar aku ke Bumi agung ya,,,"
"Iya, teman yang lain juga ikut ngatar kamu kok"
"Bisa gak kita tidurnya jangan malam malam, besok aku tak boleh ngantuk"
"Eh, Riko lagi online. Chat lagi" ulas Ferdy setelah login duluan. Aku tidak menanggapi ocehan.
Sudah tentu apa yang di chatkan Riko hanya dibalas oleh Ferdy, Bening hanya sesekali.
Dan tentu dapat skin legend dari Riko karena keinginan Riko terpenuhi berkat kerja sama tentunya Bening yang memang selalu memberikan pulang sesuai keinginan Riko.
Tak terasa waktu berangkat larut, beberapa kali Bening menguap, menahan kantuk.
"Fer, tidur yuk"
"Iya, bentar. Aku belum ngantuk"
"Aku tidur duluan ya"
Tak ada jawaban, namun Ferdy tidak keberatan, terlebih aku sudah rebahan, begitupun Ferdy juga juga ikut merebahkan tubuhnya, dekat sedari hingga kini baru ku cium aroma tubuhnya.
Namun, aku tak ingin berpikir yang aneh aneh terlebih Ferdy seperti melupakan kejadian yang dialaminya.
Ku pejamkan mataku....
Kerincing, krincing, kerincing,,,,
Gelang ku tiba tiba muncul dengan sendirinya, hingga aroma bunga kenangan menguar. Aku takut ini jadi pertanda sesuatu yang tidak baik terutama mengacam jiwaku ataupun nenek maupun orang yang ada dirumah ini. Tapi aku tak boleh suudhon dengan semua itu, semua ku serahkan pada Alloh semoga keadaan baik baik saja.
Aku tidak tahu jika hal yang ku rasakan saat ini akan membawa malapetaka bagiku suatu saat nanti.
Aku terbuai kedalam mimpi namun mimpi yang ku rasakan saat ini terasa berbeda sekali.
Aku seperti melihat keadaan mas Kharisma yang sangat mengenaskan keadaannya. Dia ku lihat seperti anak yang autis atau seperti anak yang cacat mental.
Ku lihat seorang wanita paruh baya sedang menangisinya, dan membuatku terkejut yaitu seseorang yang begitu sangat ku kenal. Mas Surya!
Aku tidak bisa berpikir, kenapa mas Surya ada diantara mereka di dekat laki laki yang wajahnya terlihat agak sangar karena kumisnya yang agak tebal melintang dibawah hidungnya yang agak mancung dengan kulit kecoklatan.
Ibu paruh baya dugaanku itu ibunya mas Kharisma, terlihat wajahnya berapi api penuh dendam.
Lalu matanya merah menatapku, padahal aku merasa wanita bernama Sarinah Mukti itu tidak mengetahui kehadiranku karena saat ini aku sedang bermimpi.
"AKU AKAN MEMBALAS DENDAM PADAMU, BENING ATAS APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRAKU!" serunya dengan mengepalkan tinjunya keatas serta matanya merah menyala.
Seketika aku terbangun terengah-engah mendapati mimpi yang tak biasa bahkan aku tidak pernah menyangka jika aku akan bertemu dengan keluarga mas Kharisma.
Yang membuatku heran dan tidak habis pikir....
Mas Surya?
"Bening kenapa?" tanya Ferdy sepertinya ikut terbangun saat aku teriak dari mimpiku.
"Gak Fers. Cuma mimpi buruk saja. Tapi aku lupa" ralatku karena aku tak ingin menceritakan Ikhwal mimpiku pada Ferdy, biarlah itu jadi rahasia seumur hidupku.
"Oh, ya sudah. Kirain mimpi apa, sampai kami teriak gitu. Mana kamu lupa mimpi apa?" pungkasnya terlihat ngantuk. Namun yang membuatku geli melihat ke arah bawah karena ada yang on the. Bikin senyum, geli. Namun aku tidak mau membahasnya.
"Jam berapa sekarang?" Ku alihkan pembahasan ku supaya dia tidak menyadari kalau aku memperhatikannya tadi.
"Uhahhh,,," Ferdy merebahkan tubuhnya lagi sambil menggeliatkan tubuhnya, ingin rilek.
Tonjolan dibalik celana makin menjulang karena Ferdy memiliki senjata bawaan lahir memang sudah cukup lumayan menggiurkan.
"Kok jawab" rutukku agak kesal.
"Iya, aku lihat nih. Hmmm,,, jam setengah tiga" balasnya, agak malas.
"Masih lama" gumamku lirih karena aku terlelap baru dua jam-an, tapi aku bermimpi buruk bertemu bude Sarinah Mukti, mas Kharisma, mas Surya juga tentu itu suami budeku, laki laki berwajah tegas dan sangar.
"Bening, boleh peluk kamu gak. Dingin,,," ekspresi Ferdy seperti sedang sange.
"Boleh. Tapi,,,," inginnya aku mencegahnya supaya tidak terjadi sesuatu, tapi aku tidak enak.
"Tapi,,, apa?"
"Gak jadi,,,"
"Asik" girang Ferdy tersenyum mesum. Hal itu membuatku takut sendiri. Tahu sendirilah jika orang sange itu bisa saja memperkosa. Saat ini aku belum siap ayang Ferdy. Membayangkan hal itu membuatku geli sendiri, kenapa aku bisa mikir hal kayak gitu dan menjadi lebay. Sudahlah....
"Bening, boleh minta tolong" nafasnya sudah tidak normal. Ini yang ku takutkan.
Apa yang ku takutkan jadi kenyataan. Apalagi Ferdy sedang sange, tentu pikirannya akan kacau hal itu menyebabkannya tidak bisa berpikir jernih lagi.
Bahkan tidak ku sadari Ferdy telah melorotkan celana hingga pusaka bawaan lahirnya telah terekspos didepanku. Maksimal ngacengnya bahkan agak bergerak, bikin gemes serta lucu bahkan lendirnya telah ada dibagian ujungnya serta akan meleleh seperti es krim yang sedang mencair.
"Apaaa,,,, maksudmu?" aku langsung tergagap tak menduga jika mendapati hal tersebut.
Bahkan pusaka di elus-elus mengimingiku hingga aku salah tingkah.
Tentu aku yang disungguhi pemandangan yang begitu menggiurkan membuatku tidak fokus lagi. Tadinya pikiran yang jelek ku enyahkan, baru saja tapi kini datang.
"Jangan pura-pura Bening, kamu menikmatinya kan kemarin malam, ngaku aja. Kini aku minta bantuan mu buat kocok milikku"
"Ak-aku,,," aku tak bisa menampiknya, terlebih Ferdy meminta dengan memohon. Wajahnya sudah mupeng tingkat dewa.
"Baiklah,,," desahku berat. Entah mengapa dalam diriku ada desakan kuat hingga milikku pun menggeliat serta sedikit ngilu. Aku ikut merasakan gairah yang tiba tiba datang. Padahal semalam aku tidak berpikir seperti ini, namun kali ini terasa berbeda, jauh dari apa yang ku bayangkan.
Padahal aku ingin bersikap biasa, tak terjadi apa apa, tapi persepsi Ferdy lain. Rasanya aku nolak keinginan tapi aku takut nyinggung perasaannya. Hingga aku biarkan perasaanku hanyut, mau membawaku kemana alurnya akan ku jalani.
Kini berdua terasa berbeda dengan bareng-bareng dan saat kemaren malam aku disuruh melakukan oleh Dimas dan Gimen karena keduanya telah dilecehkan atas perintah Ferdy hingga membuat keduanya dendam hingga kini keduanya merasa dendamnya terbalaskan.
Gugup tentu, karena aku tahu kalau Ferdy itu cowok tulen alias straight, tapi entah mengapa kini sikapnya berubah semenjak semalam.
Tanganku agak gemetaran ketika Ferdy menuntunnya ke pusaka pribadinya yang sedikit bergoyang goyang dengan leleh percumnya yang kini meleleh.
Ku tekan sekuatnya perasaanku yang deg-degan.
Setelah telapakku bersentuhan maka detik selanjutan ada sensasi sengatan listrik.
Mata Ferdy setengah terpejam. Pusakanya makin keras ngacengnya, nafasnya kian tak terkontrol. Ngos-ngosan, dadanya makin bergemuruh. "Leb, lebih,,, keras, B, Bening,,, hupfff,,, Oghhhh,,,!" Tubuhnya menegang hebat. Pusakanya berkedut. Selanjut ...
Entah mengapa tanpa sadar ku dekatkan mulutnya ke pusaka yang ku rasa sebentar lagi memuntahkan larva hangatnya.
"Ap, apa yangggg,,, hhhh kamu,,, lak- lakukan, B, Bening,,, Hessssshhhhh" desisnya tertahan. Mungkin merasakan sensasi yang berbeda saat Pusakanya berada dalam kulumanku. Aku makin semangat buat mengulum hingga sampai pangkal.
Ferdy makin kelojotan...
"Lepassss,,, ahhhh,,, mauuuhhhh,,, kkkeluarrrr" berusaha melepaskan kulumanku. Bukan ku lepas makin ku masukkan lebih dalam hingga Ferdy tak berdaya.
"Aghhhhhhhhhhhh,,,,!" dengan lenguhan panjang Pusakanya berdenyut memuntahkan larva hangatnya. Cukup banyak didalam mulutku hingga semua ku telan tanpa sisa. Tentu air mataku keluar karena Pusakanya menyentuh tenggoraku serta menggelitik.
Masih berkedut pelan,,,
Tak ku sia siakan sisa pejuhnya hingga ku sapu bersih, hingga kembali tubunnya menggelinjang kegelian bercampur ngilu.
"Aaaggghhhhhh,,,, aawwww" keluhnya nikmat tapi matanya terpejam dengan terengah engah. Menormalkan nafasnya yang tadi memburu secara perlahan berangsur normal kembali.
Aku rebahan didekatnya, tak ku sadari Ferdy memelukku hangat, sembari berbisik.
"Terima kasih Bening, ini kenangan yang sungguh luar biasa yang ku rasakan seumur hidupku"
Sepi...
*******
Esoknya harinya aku bangun agak kesiangan, mungkin karena efek happy jadi lupa dengan waktu karena tidak bisa aku bangun sesudah subuh.
Semua barang barangku sudah ku packing jadi aku tidak keburu buru dan panik karena semua sudah tinggal bawa.
Teman temanku semua berdatangan begitupun sebagian tetangga juga hadir akan melepaskan kepergianku untuk meninggalkan kampung halamanku.
Sedari tadi Ferdy wajahnya terlihat kusut, bukan karena habis crot semalam melain ada suatu hal. Tapi, aku merasakan hal itu. Matanya sedikit memerah menahan kesedihan.
Hal itu menyebabkan yang lainnya jadi heran.
"Fer, kenapa kamu nangis, kayak mau ditinggal pacarnya untuk selamanya?" celutuk Tono yang tidak biasanya menyela sepertinya lebih sensitif.
Pletak....
"Adaw,,,, heshhh" pekik Tono sambil meringis kesakitan, karena kena getok kepalanya sama Ferdy tanpa disadari karena dilakukan oleh Ferdy tanpa sengaja.
#bersambung.....
___________
Apa selanjutnya yang akan terjadi?
Ikuti kisah selanjutnya "Meninggalkan kampung halaman"
Sabtu 2 Juli 2022.
Komentar
Posting Komentar