95. Kalau Memang.

 Bab 95. Kalau Memang...


★★★★


Itu suara Riko.


Wajahnya kucel tidak semangat, namun ada amarah dari pancaran matanya mendengar apa yang ku ucapkan, tak percaya.


Aku tahu apa yang telah dilakukannya dengan kekasihnya Raya...


Karena dilihat saja itu sudah jelas.


Bukan hanya Riko...


Tapi?


Tentu saja seluruh yang ada didapur  menatapku dan langsung ramai terlebih ini saatnya jam makan siang, tentu saja bibi dan pamanku datang untuk makan siang begitupun keluarga Sanjaya semuanya pun berkumpul di dapur.


Aku bagai penjahat yang kepergok...


Semua mata memandang kearahku tak berkedip, seakan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Nak Bening, benar apa yang kamu katakan barusan?" ucap bu Kinasih masih tak pernah atas pendengaran. Padahal selama ini keluarga Sanjaya tidak pernah tahu ceritanya. Atau mungkin yang cerita itu semua adalah Riko karena  hanya Riko  yang tahu semua tentang simbah ketika berada di kampung halamanku.


Air mataku sudah luruh, terlebih aku merasa terpojok dan aku harus jujur terlebih dengan bu Kinasih seperti mendesakku.  Sebenarnya bu Kinasih tidak tahu keadaan dikampung, kenal kakek juga tidak apalagi nenek.


Hanya Riko yang mengenal beliau berdua dikampung dan itu baik kepada Riko. Wajah Riko marah padaku karena aku tidak cerita tentang keadaan kakek nenek dikampung terlebih kakek yang kini sudah tidak ada.


Namun, karena hal yang terjadi tadi membuat niatku urung untuk menceritakan pada Riko.


"Bu, pak, ibu, ayah, paman, bibi, aku pamit dulu, mau istirahat" karena tak ingin tertekan disini. Riko tidak mungkin mencegahku dengan apa yang di lakukannya tadi.


Ayah dan ibuku juga bisa memaklumi keadaanku.


Bu Kinasih dan pak Mahendra menatap kepergian dengan rasa tidak mengerti.


Lebih baik aku cepat pergi karena aku tidak mau terus didesak dan berurusan karena aku belum siap untuk saat ini.


"Beninggggg,,," panggil Riko tidak ku gubris.


"Aku kecewa dengan kamu. Aku berharap kita tidak satu kelas" balasku sudah dibalik pintu karena sudah keluar dari area dapur.


Semua didalam ruangan hanya diam tak ada yang menyahut dan aku cepat berlalu menuju ke paviliun untuk istirahat.


"Aku harus kuat. Harus kuat, aku tidak boleh cengeng dan menangisinya" gumamku dalam kesendirian.


Saat aku berjalan,,,


Aku menuju kearah kamar, untuk istirahat karena aku lelah. Mumpung hari belum  terlalu sore.


Sesaat pintu dengan terdengar dibuka, mungkin ayahku, mataku mulai ku pejamkan karena aku lelah.


Kalau pun memang Riko marah ataupun yang lainnya ikut marah, tak apa karena aku salah karena telah merahasiakan semua yang terjadi karena aku tidak ingin membuat sedih.


Tok, tok, tok,,,


Pintu kamarku diketuk dari  luar, ku yakin itu ayahku karena ingin beristirahat lagi karena harus jaga malam menggantikan pamanku.


"Assalamualaikum,,, nak buka pintunya, ayah ingin bicara"


Namun, aku memilih mendiamkannya karena aku tidak ingin di ganggu. Dan istirahat karena capek dan juga lelah. Lelah dengan sikap Riko yang memilih raya serta meninggalkan aku sendirian di Monas tanpa ada seorangpun yang ku kenal. Hanya rombongan cowok yang menurutku lumayan ganteng sih, tapi dari tatapannya penuh kebencian.


Suatu saat nanti, diantara cowok itu akan jadi musuhku, dan ketika aku menyadarinya semuanya telah terlambat?


_____________


"Nak, nak,,, bangun, sudah sore, sholat asar dulu nak. Kamu belum sholat" panggil ibuku saat aku terlena dalam tidurku.


Ya Tuhan?


Ku buka mataku, mengerjab untuk menyesuaikan pandanganku. Bangun,,, sambil menguap.


"Iya bu,,," aku pun melangkah perlahan kearah pintu.


Seperti biasanya ayahku pasti sudah bersiap siap untuk berjaga di post menggantikan pamanku. Terkadang pulang terkadang memilih untuk tidur dipost jaga menemani ayahku yang kerjanya sip malam. Mungkin juga kasihan karena ayahku jaganya sendirian.


Terkadang bibiku pulang, terkadang jika malas pulang memilih  tidur disini diruang pembantu yang disediakan yang ada di dapur terkadang ditemani oleh pamanku yang kangen pelukan hangat juga belaian dari bibiku.


"Bu, sudah sore ya,,," ku coba untuk tersenyum pada ibuku yang membangunkanku karena tidurku sangat lelap sampai hari menjelang sore.


"Iya, hampir setengah enam. Ayo cepat wudhu hampir habis waktunya" titah ibuku, sangat tidak suka jika sampai meninggalkan kewajibanku.


"Maaf bu, aku kecapekan"  aku berjalan kearah kamar mandi dan segera ambil wudhu. Mandinya nanti saja keburu gak kebagian waktu buat sembahyang.


Ibuku terlihat menggeleng dengan kelakuanku.


Maaf bu! batinku berbisik.


Aku tahu ini salah, mau bagaimana? Ini keadaan yang mendesak. He he heeee,,,,


"Ibu cuma sebentar, karena sebentar lagi mau menyiapkan makan malam" ucap ibu memberitahu. Aku tahu disini kerjanya tidak terlalu berat. Karena ibuku seorang wanita yang kuat serta pekerja keras, dikampung saja sering membatu ayah diladang buat nampak karet, belum lagi musim tanam padi, ibuku terjun ke sawah buat tanam padi, dengan sawah berhektar hektar karena teman teman ibu semua punya sawah, paling sedikit luasnya seperempat hektar. Jadi, kerja disini tidak membuat ibuku kaget, terlebih untuk adaptasi, ibuku bisa menyesuaikan keadaan. Bahkan ibuku sangat senang bisa bekerja di keluarga Sanjaya.


Bahkan keluarga Sanjaya ingin liburan nanti, pas hari raya Idul Fitri mau berkunjung dikampung halamanku beserta keluarga besar pamanku semuanya akan di ajak kesana.


Sebenarnya, disini banyak pembantu tapi rata-rata mereka yang bekerja itu dari pagi jam enam pulang jam enam. Aku juga tidak tahu berapa orang yang bekerja dirumah keluarga besar Sanjaya yang ku tahu kepercayaan buat memasak cuma bibiku dan ibuku. Terkadang bu Kinasih juga ikut membantu karena memang beliau suka memaksa walaupun ku tahu kalau belaiu wanita sibuk dengan bisnis serta arisan karena klien maupun kerabatnya banyak banget. Rumahnya selalu rame orang orang yang tidak ku kenal, selalu berpesta. Tapi, masih dalam batasan.


"Ayah kemana bu?" tanyaku ingin tahu karena aku tidak melihat sosok ayahku.


Ibuku termangu sejenak....


"Maaf bu, tadi saat aku rebahan mau tidur karena capek, ayah ingin bicara. Aku tidak tahu apa yang mau ditanyakan oleh ayah, bu?" sesalku, mengingat kejadian yang ku alami tadi saat ayah mengetuk pintu kamar.


"Ayahmu sudah dipost, tadi ayahmu sempat bicara sebentar. Sebenarnya ayahmu ingin tahu keadaan bapak dan ibu dikampung. Tapi, karena mungkin kamu capek jadi ayahmu tidak mau mengganggu istirahatmu" jelas ibu, ternyata ayah masih ingin tahu kelanjutannya mengenai kakek yang kini telah tiada.


"Kamu gak usah kepikiran nak, ayah pasti maklum keadaanmu, kok" ibu tersenyum bersahaja. Rasanya aku makin merasa bersalah pada ibuku terutama ayahku terlebih aku tidak berterus terang. Aku memilih untuk diam.


"Bu, aku merasa bersalah karena tidak berterus terang. Bukan aku tidak mau cerita tapi karena waktunya tidak tepat. Sebenarnya aku ingin cerita pada ibu juga ayah, tapi karena waktunya belum tepat jadi aku tunda dulu ketika nanti sudah saat untuk cerita semuanya akan ku cerita" ada jeda sejenak. Ibuku ikut termenung.


"Assalamualaikum,,," terdengar salam dari luar, itu suara ayahku. Ada apa?


Ayahku masuk dengan pakaian satpam terlihat begitu gagah dan tampan, sangat macho sekali membuat ibu sampai tersenyum lembut kearah ayahku.


"Ada apa mas?" tanya ibuku mendekat kearah ayah.


"Ehmmm,,,," ayahku terlihat bingung. "Gak ada apa apa dek" kilah ayahku seperti menyembunyikan sesuatu.


"Ayah, bagaimana tentang raport ku? Apa sudah di ambil?" Kini aku teringat tentang raport ku karena kedua orang tuaku seperti bungkam tentang masalah itu.


"Ayah tidak tau nak"


"Iya nak, ayahmu sibuklah"


"Maaf ayah, aku lupa memberikan suratnya, karena surat itu guna untuk mengambil raport"


"Ibu dengar dari den Riko katanya, ah,,,"


"Ada apa bu?" pungkasku penasaran karena ibuku memilih untuk diam.


"Tidak ada apa apa. Den Riko berpesan tidak boleh cerita. Ibu takut nanti den Riko sama ibu"


"Ya nak, kamu tau sendiri den Riko itu orangnya seperti apa,,,"


"Kamu disuruh ambil sendiri oleh wali kelasku.  Itu saja pesan den Riko. Ibu harap kamu mengerti nak"


"Gak apa apa kok bu, aku bisa maklum"


"Oiya, ayah nanti pasti akan ku ceritakan semuanya pada ayah juga ibu terutama mengenai simbah kakung"


"Kalau kamu belum siap cerita kami gak akan memaksa" pungkas ayah dengan senyum machonya.


Ibu ikut menggangguk bahagia melihat tingkah ayah.


"Terima kasih ibu, ayah"


Suara adzan berkumandang dari masjid karena magrib telah menjelang.


"Ayo sholat jamaah dulu" ajak ayahku untuk sholat berjamaah.


"Waduh, aku belum mandi. Sebentar aku mandi dulu. He hee,,,," aku bergegas mengambil handuk untuk mandi secepat kilat.


___________


Kini, terasa sepi karena ibuku telah masuk kamar dan beristirahat karena seharian bekerja didapurnya keluarga Sanjaya.


Aku bisa maklum dan hanya duduk diruang nonton karena tv telah menyalah sehabis ayahku pamit untuk jaga.


Aku sendirian, ku lihat di androidku ada notif masuk.  Aku penasaran, pesan dari siapa?


"Riko,,,?"


Ada apa Riko kirim pesan via WhatsApp. Ku buka pesan yang dikirimnya.


"Kamu segera datang ke taman belakang. Aku tunggu secepatnya, tidak pakai lama, titik"


Huh, enak banget dia nyuruh dan  memaksaku atas kemauannya segera menemuinya ditaman belakang. Dasar anak boss, seenaknya sendiri. Huh, gak apa apa, lebih baik aku menemuinya, aku ingin lihat apa maunya?.


Aku menuju ketempat yang telah ditentukan oleh Riko,,,,


Aku sudah tahu tempatnya.


Riko terlihat duduk di kursi agak panjang, lampu di pasang di berbagai tempat, disetiap sudut sehingga taman begitu terang dan indah karena terkonsep.


"Ada apa, to the point aja?" Setelah aku duduk didekatnya. Jaga jarak.


Ada debaran aneh, tiba tiba ku rasakan, padahal sebelum menemuinya aku biasa saja, tapi kini ada di dekatnya terasa berbeda.


Riko terlihat menarik nafas berat, seperti juga mengalami hal yang sama.


"Katakan,,," desakku, karena sebenarnya tak ingin berlama lama disini karena aku ingin cepat berlalu. Ku tekan perasaanku yang jadi aneh ada didekatnya.


Riko masih saja diam, seperti berpikir...


"Aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang ku lakukan tadi siang"


"Lupakan saja" potongku cepat. Alasan klasik. Aku ingin tahu sebenarnya kelanjutan dari dia mengejar Raya. Karena sewaktu pulang tadi wajahnya terlihat kusut, dan masam. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi antara Riko dan Raya.


Ku hela nafas panjang, rasanya dadaku terasa sesak padahal aku telah menghirup udara banyak banyak.


Tak ada balasan dari Riko dan memilih untuk diam...


Dia terlihat menarik nafas dalam dalam dihempaskan nya perlahan.


"Aku tau, aku salah. Aku telah berkencan dengan Raya lagi. Aku tidak bisa menahan hasrat ku untuk bercinta. Terlebih saat kamu jauh dariku, hasratku berkobar kobar dan perlu pelampiasan. Bahkan aku sering bermimpi dan nge-sex dengan Raya. Aku tidak tahan dengan nafsuku. Maafkan aku karena aku tidak bisa memegang janjiku" wajahnya tertunduk tak berani menatapku. Mungkinkah Riko menyesal atau hanya berpura pura dengan perasaannya. Entahlah? Kalau dilihat dari perkataannya tadi ada sesal dari Riko.


"Sudah selesai,,," ucapku menahan geram dihatiku. Entah mengapa aku sampai emosi. Padahal Riko bukan siapa siapa aku. Punya hubungan saja tidak, apalagi sebagai pacar. Aku hanya mengenalnya karena  orang tuaku bekerja disini, selebihnya tidak ada.


"Apa maksudmu?" Riko terlihat sedih dengan balasanku.


"Jika sudah selesai aku akan pergi"


"Bening, aku minta maaf! Aku tau, aku salah. Jadi maafkan aku"


"Aku tau, aku bukan type setia. Tapi, aku masih punya hati dan perasaan Riko. Jika kamu berada diposisiku apa yang akan kamu lakukan ditinggal belantara kota yang belum pernah kau kenal seluk beluknya. Aku bukan manusia suci yang tak punya dosa, mungkin dosaku setinggi langit di angkasa, seluas samudra. Tapi, aku tidak akan menyerah begitu saja, dan berusaha untuk memperbaiki diri, karena aku tau hubungan sejenis itu dilaknat oleh Alloh. Tapi, aku tidak pernah meminta perasaanku seperti ini. Toh, aku menikah tidak akan pernah punya keturunan karena aku keturunan ke tujuh pewaris ilmu penjerat mimpi" jelasku panjang lebar. Riko hanya hanya terdiam termangu ditempatnya tak percaya dengan ungkapan perasaanku.


"Mengenai simbah kakung, kenapa telah muksa, beliau telah kena hantaman ilmu pemusnah jiwa dan raga dari mas Kharisma karena menginginkan kitab ilmu penjerat mimpi yang selama ini dibawa oleh mbah kakung. Kamu tidak usah peduli dengan keluarga, karena kamu bukan siapa siapa aku. Jika pun orang tuaku tidak bekerja disini, kita tidak pernah bertemu, semua ini sudah suratan takdir. Satu hal lagi, pilihlah hidupmu jangan menganggu kehidupanku, karena kali ini aku tidak akan pernah main main lagi. Urusanku sudah selesai, aku pamit. Assalamualaikum,,,"


Aku berdiri, berjalan cepat meninggalkan Riko sendirian yang termangu ditempat.


Tak terasa air mataku luruh tanpa ku sadari. Apa yang ku tangisi, keadaan, atau Riko?


Entahlah...


Perasaanku gundah gulana saat ini.


"BENING,,,, MAAFKAN AKU!"


Terlambat Riko, semuanya tidak bisa diperbaiki lagi, karena kamu telah mengingkari janji.


#bersambung....


________


Bagaimana kisah selanjutnya?


Ikuti kisah selanjutnya....


Selasa 26 Juli 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.