98. Haruskah Jujur.

 Bab 98. Haruskah jujur?


★★★★


Lagi-lagi aku bertemu dengan Latifah, gadis cantik, manis serta lembut begitupun tutur katanya.


Entah mengapa Latifah selalu mendekatiku membuatku illfeel, tapi aku tidak mungkin mengusir nya, bilang tidak suka padanya. Aku takut dia akan kecewa dan sedih karena ku usir setiap kali mendekatiku.


"Latif, ada apa mencariku?" tanyaku ingin tahu kepentingannya apa.


"Cuma ingin ngajak kamu ke kantin. Gimana? Maukan,,," bibirnya dimainkan. Jika yang lain mungkin akan merasa gemas tapi aku tidak. Tapi ku buat santai serta nerima apa adanya.


"Oke, aku traktir deh, gimana?" ajaknya, memastikan aku mau apa gak. Tentu saja aku merasa makin tak enak. Gimana nanti pandangan yang lain terhadapku jika ketahuan aku ditraktir oleh seorang cewek. Nanti mereka bilang  ke aku anak orang kere. Mencibirku serta membullyku lagi. Sudahlah, itu dipikirkan nanti saja. Yang penting aku ikut Latif saja, gak enak terus memaksa.


"Baiklah" aku menyerah dan mengikutinya dari belakang menuju ke kantin.


"Yeeee" seru Latif kegirangan seperti dapat durian runtuh. Aku tidak lagi mendengarnya karena pikiranku sedang kalut memikirkan rencana Alex dan ganknya akan merusak para cewek terutama di kelas dua belas. Aku takut masa depan mereka akan hancur karena tidak perawan lagi atau aku takutkan mereka jadi pelacur. Ya Tuhan!


"Bening, husss,,, Be-ningggg,,," teriak Latif membuyarkan lamunanku hingga yang lain menatap kearah kita berdua. Sebenarnya ada yang lain satu meja dengan kami tapi aku tidak begitu mengenalnya, cowok ada cewek juga ada.


"Dari tadi melamun melulu, ada apa sih Bening? Heran dech,,," mulutnya dimonyongkan kesal. Aku tahu Latif tidak benar benar marah padaku, itu hanya ekspresinya saja.


"Mmm,,, Ng,,, gak ada apa apa kok" aku tergagap menanggapinya.


Haruskah aku jujur mengenai apa yang ku dengar dari percakapan Alex dan ganknya yang akan...


"Beninggggg,,,!" Kembali Latif mengagetkanku.


"Latif, gak usah teriak mulu napa-?"


"Lagian, dari tadi kamu tuh ya, melamun melulu, kayak ada yang dipikirkan. Emangnya ada sih Bening, klo boleh tau,,," kini bibirnya dibulatkan dengan mata dikerdilkan. Ih, sumpah bikin aku pengen nampol wajah gemes Latif.


Haruskah aku jujur?


"Latif,,,"


"Ya Bening,,,"


Huh, bikin jengkel. Aku serius, dia tanggepin apa?


Sudahlah, mendingan aku merahasiakan saja.


Maaf ya Latif!


"Hadeh, ngelamun lagi"


"Adaww,,, sakit tau Latif!" Sungutku karena tanganku dicubitnya.


"Habisnya kamu nyebelin, diam kayak mikir gitu?" Latif merengut kali ini.


"Ya maaf. Latif,,, bisa gak selama kamu disekolah, kamu selalu dekat dengan aku"


Bukannya menjawab, matanya berbinar aneh. Padahal aku bermaksud melindunginya dari maksud jahat Alex dan ganknya.


"Coba bilang sekali lagi"


"Terserah!"


"Yah, kok gitu?  Aku kan seneng Bening. Jarang lho ada cewek yang bisa Deket gini sama kamu"


"Hadeh, gak usah lebay. Kayak apa aja aku Latif. Orang penting apa?"


"Ya gak gitu juga keles Bening. Kan memang jarang ada cewek yang bisa deket sama kamu, iya kan"


"Gak juga"


"Lha buktinya, kamu sering sama siapa itu, anaknya yang sombong gak ketulungan, sok kegantengan, sok cool, sok kuasa tapi kena batunya" cerocosnya tanpa jeda.


"Siapa?" ulasku ingin memastikan walaupun aku bisa menduganya. Itu...


"Riko" jawabnya.


Benar dugaanku kalau orang yang dimaksud yaitu Riko.


Tapi ada masalah yang lebih penting dari yang awal mengenai rencana yang mulai detik aku dari toilet Alex akan memulai rencana.


"Aduh, mau pesan gak. Kalau gak aku mau balik ke kelas aja"


"Ih, gitu aja ngambek. Sabaran dikit napa?"


"Yaudah bentar. Eh,,, kamu mau pesan apa?"


"Mie ayam bakso, tapi gak pedas, sedang aja"


"Sip. Aku samain aja sama pesenan kamu"


"Kok gitu" protesku. Mulai gak waras nih cewek.


"Lha, aku yang mau kok"


"Udahlah, terserah kamu" akhirnya aku nyerah dengan keputusannya.


____________


Selesai menghabiskan makan datang rombongan Alex dan ganknya dengan wajah kusut tapi nampak tersenyum penuh kepuasan, sepertinya mereka telah melancarkan aksi bejatnya pada Sarah. Kasihan cewek itu pasti hancur hidupnya karena ulah mereka. Aku prihatin dengan nasib Sarah kedepannya juga cewek cewek yang nantinya jadi mangsa Alex dan ganknya. Keji sekali niat mereka. Ya Tuhan!


"Hushh,,, Bening, kok kamu sinis gitu lihat mereka ada apa?"


"Udah habiskan aja minumanku, kita cabut dari sini, gak usah urusin mereka" sentakku membuat Latif heran dengan sikapku yang serius.


Tentu akan jadi tanda tanya baginya. Tapi, ini juga demi kebaikan Latif supaya tidak kenal dan dekat dengan Alex, bisa berbahaya.


Aku tahu kalau Alex tampan dengan segudang tipu muslihat untuk menjerat korban yang akan jadi mangsanya.


"Kenapa harus buru buru sih Bening?" protes Latif.


"Nanti kamu juga akan tau sendiri" bisikku didekatnya.


Aku tahu Alex sedang memperhatikanku terlebih aku kini sedang dekat dengan seorang cewek cantik dan manis serta lembut bernama Latifah Nur khasanah.


"Tapi kenapa Bening?. Kamu kayak nyembuyiin sesuatu tentang Alex" Latif nampak penasaran dengan sikapku.


Setelah agak jauh dari Alex dan ganknya. Aku mengajaknya dekat lapangan yang agak sepi dan akan membicarakan hal penting padanya.


"Latif, kamu ingatkan pesanku. Kamu saat disekolah jangan jauh jauh dari aku"


"Iya, tapi kenapa? Ada apa Bening? Kamu kayak khawatir tentang aku? Terlebih saat tadi, setelah melihat Alex dan kawan kawannya, kamu seperti ketakutan. Ada apa sebenarnya? Apa yang kamu sembunyikan tentang mereka" tegasnya.


"Tidak ada. Aku hanya ingin menjagamu-!"


"Mas Bening kamu disini?" sapa seseorang yang selama ini ku lupakan. Angga!


"Bagaimana kabarmu mas?" tanya Angga.


Tatapannya penuh kerinduan. Ada kesedihan dari tatapannya yang kini sendu.


"Baik" jawabku singkat. Rasanya hatiku sudah hambar untuk bicara lagi dengan Angga. Selama ini aku berusaha untuk bersikap biasa bahkan sering meminta  atas apa yang ku lakukan jika itu kesalahan ku. Tapi, sikap Angga tidak peduli hingga membuat perasaanku lama lama mati rasa.


Kini, melihatnya lagi membuat moodku jadi turun. Bukannya jengkel dengan sikapnya dulu, tapi aku ingin bersikap biasa. Bertemu pun tidak masalah. Bukannya aku melupakan kebaikan keluarganya yang menampung keluargaku saat baru datang ke Jakarta.


"Mas, aku minta maaf. Aku salah,,,"


Apa gak salah apa yang ku dengar, jika Angga minta maaf. Dulu aku berkali kali minta maaf tapi tidak ada reaksinya sama sesekali bahkan diam, sedikitpun tidak ada respon malah menjauhiku bikin aku sedih.


Kini tanpa angin tanpa hujan datang meminta maaf...


"Buat apa? Kamu tidak salah Angga, aku yang telah melakukan kesalahan. Kamu berhak membenci serta menjauhiku" ulasku, entah mengapa aku melow dan kesedihan menyergapku begitu dalam.


"Mas aku salah. Seharusnya aku tidak bersikap seperti itu padamu. Maafkan aku" terlihat wajahnya penuh penyesalan.


"Aku harap mas mau kerumah. Karena sudah lama mas tidak berkunjung kerumah. Putri sering menanyakan mas. Aku dengar mas juga dari kampung. Bagaimana kabar simbah disana?"


Aku tidak tahu harus menjawab apa? Terlebih yang terjadi dengan mbah kakung yang kini sudah tidak ada lagi.


Kenapa aku bisa melupakan janjiku pada nenek kalau setelah empat puluh hari aku akan membawa serta mendatangi kakek di dunia mimpi dimana kakek berada.


"Bening, aku duluan ya" Latif mungkin merasa tak enak dengan kehadiran Angga mungkin juga tidak tahu kalau kalau Angga itu masih saudaraku. Karena aku yakin tidak banyak yang tahu kalau aku dan Angga ada ikatan saudara karena sekolah disini urusannya sendiri tidak peduli dengan urusan yang lain. Jika itu miskin dan lemah mereka tertindas.


"Iya, makasih ya Latif"


"Sama sama, biasa aja, gak usah kamu pikirkan ya, daaa,,," pamit Latif dipadangi heran oleh Angga sampai gadis itu menghilang.


"Itu cewekmu. Siapa dia?" bahasnya, padahal tadi sudah ku sebut namanya, mungkin tidak mengenalnya. Aku sendiri tidak semuanya kenal karena murid di Permata Bangsa ini sangat banyak, mungkin ribuan karena punya jurusan masing masing.


"Aku baru mengenalnya. Tadi namanya sudah ku sebutnya, namanya Latifah. Dia cewek yang baik. Tapi dia sedang teranc-" seketika ucapanku terhenti karena aku tidak sengaja keceplosan.


"Apa mas?"


"Sudah, lupakan. Gak penting. Mengenai cewek, aku belum mikirin"


"Bagaimana kabar Riko?"


"Maksudnya?" Kini ku tatap heran Angga yang penuh tanya. Bukankah selama ini Angga itu kacungnya Riko tapi kini menanyakan kabarnya.


"Mmm, sudah lama aku tidak bertemu dengan Riko semenjak selesai ujian akhir semester" jelasnya. Pastilah, lawong Riko nyusul aku ke kampung buat minta maaf juga ingin tahu keberadaan pak Dwi dan pak Lexi, tapi karena suatu sebab Riko tidak perna menanyakan hal itu padaku.


Riko sangat dengan kepada dua orang itu yang telah merusak hidupnya, dan juga keluarga Sanjaya pun akan mencarinya dan membuat perhitungan pada keduanya.


Keduanya seperti hilang ditelan bumi sampai saat ini. Aku tahu dimana keberadaan keduanya, tempatnya juga berbeda. Aku yakin keluarga Sanjaya tidak bakal menemukam mereka.


"Nghmmm,,, Riko ada dirumah. Kenapa kamu tidak bertandang ke rumah saja Ga?"


",,, Riko tidak pernah mengijinkan siapapun temannya untuk berkunjung kerumahnya. Dia bakal membunuhnya jika berani datang"


"Hah, bener itu,,,?" heranku ternganga mendengar penjelasan dari Angga.


Angga hanya mengangguk,,,


"Bagaimana kabar mbah kakung dan mbah putri?" ulasnya kembali ingin tahu kabarnya nenek dan kakek


"Baik, kamu gak usah memikirkan keadaan mereka. Karena keadaan simbah baik baik saja" ku tekan perasaanku yang tentu menggodok menahan kesedihan yang ku rasakan. Padahal aku berusaha melupakan yang terjadi terutama kakek yang kini sudah muksa.


"Kok gitu mas"


"Kenapa baru sekarang kamu peduli?. Selama ini  apa kamu peduli dengan mereka?"


"Ku harap kamu gak usah mikirkan nasib mereka"


Ternyata aku tidak bisa menahan air mataku.


"Ke-kenapa mas Bening menangis?"


Ku gelengkan kepalaku tak ingin membahasnya lagi.


"Oh, ternyata Lo ada disini!"


Angga menatap kecut orang yang baru datang?


#bersambung....


___________


Bagaimana kisah selanjutnya?


Siapa orang yang membuat Angga begitu terkejut?


Apakah nantinya Bening mau berkunjung kerumah?


Ikuti kisah selanjutnya?


Minggu 10 Juli 2022.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.