153. KEPERGOK?.

 Bab 153. KEPERGOK?.


★★★


*Flash back*


"Aaaarrrrgggggghhhhhh,,," erang kesakitan keluar dari mulut ki Ageng Madyo Santoso ketika mencoba melepaskan tali yang melingkar dileher. Tak pelak, lehernya terasa di cekik kuat hingga tidak bisa nafasnya, membuatnya megap megap untuk beberapa saat lamanya.


Tentu saja nyawa terasa melayang...


"Bagaimana rasanya Ki Ageng? Kau tidak percaya ucapanku. Kau pikir aku seorang pembohong. Kau bisa rasakan akibatnya bukan?" ejekku karena tidak mengindahkan perkataanku tetap ngenyel kalau bisa melepaskan tali dileher hingga berusaha sekuat tenaga, namun akhirnya hanya sia sia. Lagi lagi aku hanya tersenyum dibalik penutup wajahnya.


Tentu saja butuh waktu untuk memulihkan keadaan semula.


"Aku masih berbaik hati padamu Ki Ageng. Andai tidak ku cegah, nyawamu sudah pasti melayang sedari tadi. Kau ku beri kesempatan, jangan sekali kali kau mengusikku, atau hidup ku bakal berakhir. Kau masih memiliki ilmu, aku tidak akan mengambilnya karena tidak butuh. Aku juga tidak memusnahkannya karena aku kasihan padamu. Kau pasti kenal dengan Kharisma bukan, putranya Sarinah mukti, kau tahu apa yang telah ku lakukan padanya, kau pasti sudah tahu sendiri? Dia yang telah menyebabkan simbah kakungku, MUKSA. Tapi dia dapat balasan yang setimpal"


"K- kau..." mata Ki Ageng nampak berkilat penuh api kebencian.


"Orang tua, jangan pernah pancing kemarahanku, aku bisa melakukan apa yang tidak pernah engkau bayangkan sebelumnya" gertakku tidak main main, karena sedari tadi ki Ageng selalu memanas manasiku.


"Atau kau ingin wajahmu ku gores?!" sentakku. "Apa kau tidak merasakan bagaimana rasanya tanganmu yang terluka itu. Apa perlu tambahi"


"Jangan, jangan aku mohon"


Ku cengkram kuat tangannya yang terluka.


"Agghhh,,," ringisnya menahan sakit yang menderu. "Ampun, ampun Penguasa mimpi"


Ku lepaskan cengkaramanku.


Atau itu hanya pura pura supaya aku iba melihatnya. Tapi, sedari tadi seakan memancingku.


Ku dekati lengan nya yang terluka.


Lalu...


"Cuihh,,,!" Ku lidahi.


Bersamaan dengan itu terdengar bunyi.


"Cccessssshhhhh,,," seperti ada benda panas yang didinginkan.


"Aaakkkkkkhhhh!" pekiknya kesakitan luar biasa.


Ku pandangi dengan seksama tingkahnya, seperti setengah pingsan karena matanya mendelik sesaat lalu setengah terpejam dengan tubuh berkeringat dingin.


Ki Ageng pun terkejut mendapati lengannya yang tadi mengepulkan asap putih serta memgeluarkan suara berdesis, menjadi sembuh sediakala.


Tak ada rasa sakit yang dirasa, nampak kelegaan diwajahnya.


"Bagaiama Ki Ageng? Kau kira aku berbohong dengan ucapanku. Tidak bukan"


"Maaf. Ampuni aku Penguasa Mimpi" wajahnya nampak memelas menatapku. Kini dia baru sadar karena aku tidak pernah main main dengan ucapanku.


"Sebenarnya aku kasihan padamu Ki Ageng, tapi-" kini tatapanku berubah sinis.


"Sekali lagi,,, ini pelajaran dariku supaya kau benar benar jera"


Cetek!


Srettt,,,,


Ssseetttt!


Wajahnya ku gores...


Ki Ageng belum menyadari, selanjutnya...


"Arggghhhhh,,," ringisnya dengan wajah tertunduk karena merasakan rasa perih yang teramat sangat di wajahnya yang tergores, merah tanpa mengeluarkan darah.


Blippp...


"MAAFKAN AKU PENGUASA MIMPI. AMPUNI AKU! AKU TIDAK AKAN MENGUSIKMU LAGI!"


Lamat lamat ku dengar teriakannya yang memilikukan ketika aku meninggalkan dunia mimpi menuju ke dunia nyata dengan berbagai macam perasaan campur aduk. Terbersit rasa kasihan dan iba, di satu sisi aku merasa was was jika Ki Ageng balik menyerangku ataupun meminta bantuan ke yang lainnya. Tapi sudah ku antisipsi semua itu jika aku dalam keadaan terancam maka aku tinggal bertindak saja.


*Flash back end*


-------------


"Riko,,, " seruku tertahan, sambil ku arahkan pandanganku keliling. Betapa terkejutnya aku karena serombongan Latifah beramai ramai datang mendekat. Tapi ku yakin kalau hanya Latifah yang melihatnya karena yang lain sibuk ngobrol dan bercanda, bersendau gurau, asik dengan dunia ketawa ketiwi.


Tentu saja yang lainnya masih tertawa, Latifah yang dalam mode serius menatapku, walaupun itu tidak ku sengaja tapi tatapan Latifah nampak berubah aneh. Tentu saja aku merasakan perubahan itu.


"Apa yang Lo lihat?" bentak Riko tampak sewot, merasa terganggu.


"Be-Bening,,, ap- apa yang,,, barusan kamu lakukan?, kau,,, men-,,," ucap Latifah tergagap.


"Itu tidak seperti yang kamu lihat, Tif,,," hanya itu yang bisa ku sampaikan, pikiranku benar benar buntu seketika, karena kepergok oleh Latifah padahal aku tidak sengaja melakukannya.


"Heh, perempuan GATEL, pergi Lo dari sini. Ngapain Lo kesini, bikin suasana panas!" seru Riko lagi karena merasa terganggu.


"Hellooo,,, Lo mikir gak, memang ini sekolah milik moyang Lo, punya bapak Lo, ngaca!" semprot Latifah tidak terima.


"Kalau iya kenapa?, masalah buat Lo,,,!" bentak Riko naik pintam tentu saja hal itu tidak diketahui oleh Latifah hingga gadis itupun sedikit shock juga yang lainnya diantaranya Sarah dan Oktavia.


"Ingin Lo pada gue depak dari Permata Bangsa, tinggal bilang aja. Atau detik ini, gue jabanin!" ancam Riko tidak main main lagi.


Wajah Latifah dan kawan kawannya tentu saja jadi kecut lihat ekspresi Riko.


Kini mereka tidak berani main main terlebih mengganggu.


Tidak perlu penjelasan mereka akhirnya pergi.


Keadaan menjadi lengang, setelah kepergian Latifah dan kawan kawan yang tadinya ribut ribut. Hening.


Riko jadi canggung, terlebih aku pun merasakan hal itu.


"Kenapa diam?" cetusku untuk mengatasi kecanggungan.


"Kamu juga diam gitu kok" balasnya.


"Ada yang ingin kamu katakan, ngomong saja"


"Kemarin kamu pergi kemana?" tanyaku karena aku disuruh untuk bertanya lebih dulu.


Nampak Riko diam sejenak,,,


Helaan nafasnya dalam serta panjang.


"Kenapa diam? Malam minggu kamu pergi kemana?" desakku karena Riko nampak berpikir.


"Ak- aku berkumpul dengan teman-teman ku"


"Termasuk Angga" selidikku karena Angga sedikit cerita.


"Angga cerita apa saja" dengusnya nampak geram.


"Kamu jangan menyalahkan Angga. Angga pulangnya juga siang. Tidak banyak cerita. Hanya saja dia cerita pergi sama kamu. Karena adiknya Putri cerita sama aku kalau Angga sering kamu jemput"


"Aku jenuh dirumah. Jadi aku cari suasana baru. Aku kumpul kumpul bareng teman, main game on line. Kita ada pertandingan, hadiahnya cukup lumayan" terangnya. Entah mengapa aku ngerasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Riko.


"Oh begitu,,," kini aku hanya menatapnya sekilas. Jika pengakuannya benar syukurlah. Tapi kenapa aku memikirkannya. Belum tentu juga Riko mikirin aku.


"Kenapa kamu seperhatian itu sama aku, hayo ada apa?"


"Siapa juga yang perhatian sama kamu, ke pede-an" sungutku.


"Lha emang kan, atau jangan-jangan kamu sudah nerima aku,,,"


"Maka tuh, suka,,,! Aku pergi,,, assalamualaikum" pamitku pergi meninggalkan sendirian.


"Tunggu jangan pergi. Aku tratik makan dikantin,,," seru Riko berusaha menahanku, sepertinya juga mengikutiku.


"Gak usah. Aku mau balik aja ke kelas. Aku udah kenyang lihat kamu. Kekenyangan karena kepenuhan. Ha ha,,," aku tertawa sambil berlari menjauh.


"Awas saja kamu Bening, kamu harus tanggung nanti"


Sayup ku dengar ancaman nya, buatku tak berarti.


Tapi, Riko terkadang juga tidak pernah main main dengan ancamannya.


Semua sudah terjawab apa yang jadi pikiranku.


Namun masih ada ganjalan di hatiku, benarkah apa yang di katakan oleh Riko kalau aku mulai perhatian dengan Riko.


Pikiranku terus bermain, entah apa yang ku lakukan nantinya?


Ki Ageng Madyo Santoso masih berada dunia mimpi itu pun dalam keadaan terluka di wajahnya, sebenarnya niatku untuk membebaskan tapi disisi lain hatiku masih menahan. Tunggu saat yang tepat.


Suasana kelasku belum begitu ramai, bahkan siswa pun masih jarang.


Aku berjalan santai walaupun aku merasa sedikit haus karena tadi ngobrol sama Riko ada sesal tadi tidak ikut ke kantin bersamanya kini akh merasa kehausan.


"Bening, ini buat kamu,,,"


"Terima kasih" selalu saja ada rejeki buatku ketika aku membutuhkan.


Tentu saja kini kelas sudah agak ramai.


"Bening aku mau tanya nih, soal Alex yang sakitnya kayak orang mati, alias seperti mayat. Pertanyaanku, Alex sakit apa ya,,,?" tanya Sarah penasaran.


"Huh, tingga tanya Alex sakit apa gitu, bertele tele" gerutu Oktaviani.


Yang lainnya juga pada kesal atas sikap Sarah.


Ku gelengkan kepala karena aku pura pura tidak tahu hal yang sesungguhnya terjadi pada Alex.


"Kok tanya ke aku kalian. Atas dasar apa kalian tanya seperti itu ke aku, kayak aku cenayang yang tahu segalanya" protesku karena argumen mereka tidak masuk akal.


"Oh iya, ya,,, tapi, gini lho Bening, aku ingat saat kamu bilang mau nolong kami dari Alex supaya kita kita gak di ancama Alex lagi. Nah, aku ingat waktu itu kamu ngomong, tapi agak lupa, tapi intinya kamu mau nolong dan membebaskan kami dari ancaman Alex, gitu"


"Bukan berarti aku yang buat Alex jadi kayak gitu. Memang aku tukang sihir atau dukun yang bisa bikin orang seperti Alex, gitu?"


"Oh iya ya,,, kan selama ini kan bareng"


"Gini, aku memang cuma nemui Alex supaya kalian tidak di ancam lagi, gitu. Karena Alex punya hutang nyawa sama aku, gegara dia aku tolong saat dia jadi korban tabrak lagi, aku juga minta kepada kedua orang tua Alex supaya Alex tidak meneruskan rencananya. Awalnya Alex nolak tapi dia mau juga, akhirnya walaupun sebenarnya dia tidak mau. Bisa saja kan ada salah dari orang tua kalian yang balas dendam pada Alex hingga ngebuat Alex kayak mayat hidup gitu. Atau mungkin orang lain yang punya dendam pribadi sama Alex. Itu bisa saja terjadi kan,,," ulasku panjang, supaya mereka tidak curiga padaku dan cari cari tahu, aku merasa tidak enak serta merasa di perhatikan, untuk itu aku cari cara supaya mereka tidak menuduhku.


"Lalu,,, kejadian, kamu,,, mencium Riko tadi, gimana?" celoteh Latifah dan hanya di angguki oleh yang lainnya dengan tatapan ingin tahu.


"Hadeh,,,?" Aku getok kepala.


#bersambung...


---------


Rb 21/09/22.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

73. Berakhir.

1. Ilmu Penjerat Mimpi

29. Rasa Bosan.