302. S2, Aku baik baik saja tapi tidak dengan hatiku, mas.
302. Aku baik baik saja tapi tidak dengan hatiku, mas.
*****
Dengan apa yang ku lakukan pada kontol mas Kharisma yang sedang ku emut, membuatnya merem melek dan mulai ada keringat yang merembes di pori porinya hingga terlihat berkilat.
Nafasnya terengah engah karena rangsangan yang mendesak.
"Oughhh,,,!" Lenguhnya tertahan, nafasnya juga putus putus. "Hupfff,,, ough,,, Hahh,,,"
"Emm,,," ku selomoti ujungnya, batangnya yang mengeras ku jilati, seperti menikmati es krim rasa coklat yang nikmati.
Ini kalo kedua aku ngemut kontolnya yang terus saja tegang, tak ada matinya. Padahal yang awal tadi pejuh muncrat begitu banyak, hingga ku lahap sampai tandas. Hingga beberapa saat kemudian dia memintaku untuk mengulanginya lagi.
Terlebih lagi aku memintanya supaya cepat cepat keluarnya jangan lama lama, dia pun pasti melakukanya dengan cepat, kalau yang lain butuh waktu beberapa menit lamanya baru bisa keluar.
Katanya emutanku itu hot tiada duanya, katanya tubuhnya bisa langsung menegang hebat saat ku emut dan itu membuatnya cepat cepat keluar dan klimaks.
Dan itu memang kenyataan karena setiap aku melakukan maka dalam hitungan menit tubuhnya langsung menegang dan CROT.
Tak luput dua bolanya jadi sasaran ku selanjutnya, reaksi yang timbul membuat mas Kharisma kelojotan. Tubuhnya meliuk, nafasnya ngos ngosan. Kepalaku sampai dipegang dan ditahannya. Matanya membulat merah.
"Haahhhh,,, dekkk,,, aku gak tahan. Aku gak kuat, hoohhh,,, ahhhh,,, " mas Kharisma makin tak karuan ketika dua buah bola pompongnya aku emut satu persatu dan air matinya makin tumpah ruah keluar dari lubang kencingnya.
Urat urat ditubuhnya tampak sekali, seluruhnya memegang. Kontolnya makin mengembung.
Maka saat kontol panjangnya ku masukan kedalam mulutku, serta di lesakan lebih dalam hingga ketenggorokanku. Maka saat itu lenguhan panjang nya terdengar.
Seluruh isi dalam isinya pun langsung menyembur keluar banyak dan kental hingga ada yang langsung masuk kedalam tubuhnya juga ada yang tertampung di mulutku.
Berkali kali mas Kharisma menembakan isinya, dengan nafas ngos ngosan, dada bergemuruh, detak jantungnya berpacu sangat cepat.
Mas Kharisma diam sesaat bahkan batang nya yang masih kaku dibiarkannya dalam mulutku, dia juga menenangkan yang memburu untuk beberapa saat lamanya, hingga sampai benar-benar nafasnya kembali normal dan itu butuh waktu untuk beberapa saat lama begitu merasakan hal yang sama dengan nafas terbaik karena hampir saja aku tersedak dan tidak bisa bernapas dan di bawah sana aku sudah hijrah duluan bersama ketika Mas Kharisma juga keluar sperma nya.
"Dek, biarkan saja dulu. Aku senang kontolku kamu emut seperti itu" pintanya, melarangku buat untuk melepaskan batangnya dari mulut yang masih saja tegang.
Aku hanya menurutinya saja atas kemauannya, terlebih lagi dia juga sangat menginginkan hal itu dan tidak ingin aku melepaskannya.
Tentu saja aku tidak bisa menjawab apa-apa karena menurutku penuh dengan batang kontolnya yang masih tegang perkasa.
Kini Mas Kharisma sudah tampak tenang nafasnya pun juga sudah teratur tubuhnya pun tampak berkilat karena tadi juga berkeringat dan juga ngeden, mengeluarkan isi pelernya.
Mas Kharisma hanya setengah memejamkan matanya saat batang kerasnya masih didalam mulutku, yang rasanya sedikit pegal karena menampung kontolnya.
Lama lama, aku pun melepasnya, dan naik berdampingan dengan mas Kharisma, lalu memelukku erat dalam pelukan hangatnya. Bahkan dia polos saja karena merasa gerah. Tentu saja tubuhnya keringat dan tampak mengkilap.
Perasaan tenang dan damai ku rasakan.
"Tidurlah, lupakan semua masalahmu, dek" ucapnya lirih dengan terpejam matanya.
Aku tersenyum, membiarkan dalam pelukannya.
Mencoba untuk memejamkan mataku dan tidur.
"Terima kasih mas, maaf" lirih ku. Ku pejamkan rapat mataku.
******
Seperti biasanya aku terbangun saat adzan subuh.
Masih saja aku dalam pelukan hangat mas Kharisma ternyata semalam aku tidak lepas dari pelukannya hingga pagi menjelang.
Andai mas Kharisma bukan saudaraku, maka akan beda lagi ceritanya.
Namun, aku merasa bahagia karena memiliki saudara yang welcome seperti mas Kharisma.
Sungguh hal yang sangat membahagiakan tersendiri buatku.
Aku juga tidak tahu apakah yang lainnya akan cemburu atas sikap mas Kharisma padaku.
Kalau yang lainnya sikapnya tidak seperti mas Kharisma maka aku tidak akan pedulikan mereka.
Terlebih lagi, Riko juga belum pulang dari puskesmas tempatnya Bu Nur Yanti Edi.
"Mas, bangun mas sudah subuh" ku usap wajah gantengnya. Dalam keadaan telanjang dari semalam tapi tetap tubuhnya sangat hangat.
"Hmm,,," gumamnya, membuka matanya, lalu tersenyum manis.
Masih sempat sempatnya mas Kharisma tersenyum membuat perasaanku hangat dan damai.
"Mas harus mandi ya, karena semalem,,,-" aku tidak bisa meneruskan kata kataku.
Lagi lagi mas Kharisma tersenyum penuh arti sambil kerjab kerjabkan matanya.
Aku sudah duduk disampingnya menatapi setiap lekuk tubuh sempurnanya yang begitu indah ciptaan Tuhan yang dianugerahkan padanya.
Lagi lagi ku lihat bayangan nya yang sedang morning erection.
Tentu dalam hati aku tersenyum saja. Takut jika hal itu terlihat mas Kharisma akan lain tanggapannya.
"Kenapa melirik? Kamu kagum kan lihat tubuh mas mu ini, he he heee,,," lagi lagi mas Kharisma tertawa lirih. Sambil kedipkan matanya.
"Ih, enggak juga-"
"Gak salah, ha ha haaa,,," tawanya meledak. Dengan ejekannya.
"Awas kamu ya mas" ancamku. Aku pun menggelitik sejadi jadinya hingga membuat nya terpingkal pingkal minta ampun karena ku gelitiki.
"Aduh, aduh,,, ha ha haaa,,, ampun. Dek, dek,,, ha ha haaa,,," serunya berteriak teriak saat subuh.
Tentu saja hal itu menimbulkan yang lainnya terganggu.
"Deekkkk,,," serunya tertahan. Kali ini ia memelukku sambil mencium ku lalu melumat bibirku karena tidak ada yang bisa dilakukannya untuk mencegahku maka hal itu dilakukannya untuk menghentikan aksiku.
Tentu saja langsung ku hentikan aksiku menggelitik nya. Hingga sama sama terengah karena lumatan nya yang dalam.
"Dek, nanti hari hari ku akan terasa sepi tanpa kehadiranmu. Aku akan akan merindukanmu jika kamu tak ada disisi ku, dek" kata katanya sungguh membuatku terenyuh, betapa tidak ucapannya begitu puitis.
Aku tidak dapat berkata apa apa tentang pernyataan mas Kharisma yang baik dan pengertian. Jika aku seorang wanita tentu aku akan merasa sangat bahagia mendengarkan hal itu. Namun, sayang aku hanya seorang laki laki dan itu pun sebagai saudaranya.
"Mas, bisa cari pasangan hidup untuk menemani mas, juga demi kelangsungan keturunan mas di masa depan. Mas pasti tahu akan diriku bukan. Tidak punya masa depan, sebagai pewaris ilmu yang hidup abadi, dan aku tidak akan memiliki keturunan akan ilmu itu. Aku berharap suatu saat nanti aku bisa mempunyai keturunan serta tidak ingin mewariskan ilmu yang ku miliki ini. Aku tidak berharap semua itu mas, aku ingin hidup normal, menikmati hidupku seperti manusia pada umumnya" hampir saja air mataku tak bisa ku bendung.
Untuk apa aku sesali yang telah terjadi, Allah pasti sudah mengatur semua ini supaya aku lebih bertawakal dalam menyingkapi hidup yang aku jalani.
"Sejak awal aku sudah bilang, aku tidak akan menikah, aku akan menunggu mu, menemani hari hari mu yang dalam kesendirian, karena aku tahu pasti, kamu berat dengan hidup yang hadapi. Dan itu tidak mudah. Biarlah aku akan menunggumu sampai engkau kembali, kapan pun itu".
"Mas,,," aku tidak dapat berkata kata lagi. Yang bisa ku lakukan hanya memeluknya penuh haru atas ungkap dari kesetiaan mas Kharisma. Aku tahu orangnya tidak akan pernah bermain main dengan ucapannya, karena sebuah ucapannya mengandung arti sebuah janji.
Rasanya dadaku sesak seketika, air mataku tak bisa ku bendung lagi, aku menangis dalam pelukannya. Ku tumpahkan seluruh perasaan yang ada.
Tak bisa ku pungkiri jika perasaanku lebih tenang saat bersama mas Kharisma.
"Kamu tidak boleh sedih seperti ini. Jangan pernah sesali apa yang telah terjadi. Jangan pernah sesali takdir ILLAHI, karena itu suatu anugrah".
"Hik, hik, hik,,, tapi, mas anugrah ini seolah melambat laun jadi penderitaan ku yang berkepanjangan".
"Jika kamu bisa gunakan dengan bijak, maka hal itu buka sebuah derita, tapi ladang pahala buatmu. Percayalah Tuhan membuatmu seperti ini pasti punya maksud dan tujuan tertentu. Jangan sia siakan dan jangan pernah sesali. Percaya sama mas, semua akan ada hikmah yang nantinya bakal kamu petik, hmm,,,".
Air mataku makin bercucuran tak karuan, sekalipun tangisku dalam diam, dalam pelukan dada bidang mas kharisma yang berotot tapi dia tidak sedikitpun merasa terbebani, selalu memberi ku nasehat serta menguatkan akan arti kehidupan supaya aku makin kuat untuk hadapi kehidupan ini.
"Terima kasih mas, selama ini hanya mas yang mampu memberiku kekuat dalam hadapi hari hariku".
"Nanti pasti akan mengerti dek".
Kini aku mulai tenang serta menatapnya dengan coba untuk tersenyu manis.
"Udah gede, mau lulus SMA masih suka mewek" ledeknya dengan melihatku sembari tersenyum cool.
"Biarin, apa gak boleh" protesku. Ia hanya mengangguk saja, sambil dia mengusap pipiku yang basah karena air mata.
"Boleh kamu nangis dek, tapi kamu jangan keseringan nangis, nanti kalau air matamu kering bagaimana?".
"Ih, mamas,,, jahat".
"Ha ha haaa,,, becanda. Sini aku peluk" kembali mas Kharisma memelukku hingga bisa ku rasakan debaran dalam dadanya kali ini.
"Udah mau habis subuhnya mas, masyaalloh dosa lho. Ayo sholat mas, jamaah" kataku kaget karena jam sudah setengah enam karena keasikan GUYON.
Maka aku pun cepat cepat bergegas ambil handuk lalu ngibrit ke sumur buat mandi. Kalau dibilang aku gak junub, salah, karena setiap aku emut mas Kharisma aku juga merasakan hasrat yang meledak hingga membuatku muncrat didalam celanaku.
Saat aku menuju sumur kamar Alex tidur masih tertutup rapat.
"Hupfff,,, aman" pikirku. Hingga aku pun gegas buat mandi.
Baru kemudian disusul mas Kharisma di belakangku karena waktunya hampir mau habis.
Tentu saja cepat cepat, baru kemudian gantian mas Kharisma padahal belum kelar dia nyelonong masuk langsung bugil. Aku pun gegas keluar. Dia tersenyum penuh arti karena kontolnya udah mulai tegang lagi.
Aku hanya tersenyum nakal kearahnya, langsung ngibrit.
Pas berada didalam aku tak sengaja hampir menabrak Alex yang baru bangun karena masih ngusap sambil ucek ucek matanya, dia pun dengan tubuh toples tampak cuek. Tapi aku tahu tatapannya itu agak berbeda. Walaupun memperhatikan ku sekilas.
Aku buru buru ke kamar, dibelakang ku mas Kharisma sudah selesai mandi dan memakai handuk dililitkan, terlihat segar wajahnya dan bugar.
Tentu saja Alex langsung menatap curiga tapi aku sudah masuk ke kamar. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya Alex saat ini.
"Kayak pengantin baru, subuh subuh pada mandi" sentak Alex.
Masih bisa ku dengar sayup sayup suaranya, aku tahu dia sengaja ngomong seperti itu supaya aku dengar.
Tentu saja aku yang berada di dalam kamar hanya bisa nyengir dan tertawa geli mendengar semua pernyataan dari Alex sepertinya dia merasa cemburu.
"Syukurin emang enak mampus lho" decihku, mangkel. Ku lihat ekspresiku dari kaca lemari yang sedang sewot dan juga balas dendam dengan apa yang telah dilakukan Alex.
Mungkin mulai saat ini, detik ini aku akan benar-benar merubah sikapku pada siapapun kecuali mas Kharisma.
Karena hanya Mas Kharisma yang selama ini mau mengerti akan keadaanku, tentang perasaan dan juga hatiku.
Sesaat kemudian mas Kharisma masuk, ada senyum tersungging dibibirnya. Aku tahu apa maksudnya karena tadi jelas ku dengan omongan Alex padanya.
"Sudah cepetan, keburu habis!" seruku membuyarkan lamunannya.
********
Kini kami pun santai sejenak setelah sembahyang ....
"Dek mau ikut gak nanti ke sawah?" tanya mas Kharisma seperti nya tahu suasana hatiku.
"Ngapain mas?" tanyaku balik, karena selama ini aku jarang kesawah. Tapi kali ini mas Kharisma mau mengajakku karena tahu suasana hatiku tidak membaik, ia mau menghiburku menghilang kan rasa suntuk ku.
"Nanti pasti kamu tahu sendiri,,," jawabnya, seperti ada hal yang disembunyikannya. Ada senyum tipis disudut bibirnya yang berkumis.
Aku hanya mengangguk angguk saja, tanda aku mau ikut saja.
"Mas masak dulu yuk, kasihan nenek pasti nanti lapar".
"Ikannya kan masih banyak dikulkas. Nanti biar Alex saja yang ngirim simbah putri, mas Surya dan Angga" ucapnya. Lagi lagi dia tersenyum hingga membuatku berpikir.
Kini aku ingat permintaan simbah putri untuk membikin sayur asam kesukaan. Sayur itu pun juga kesukaanku, kami sekeluarga juga sangat suka. Sebagian ikan digoreng juga ada yang ku sambel goreng nantinya, sekalian untuk makan siang jadi nanti aku double biar sorenya nanti pada makan dirumah saja.
Seperti ini ingatanku tertuju pada Simbah kakung yang berada di dunia mimpi. 'Mbah kakung' batinku sedih, mengingat orangnya. Namun, perasaan itu aku tepis. Sebaiknya aku cepat masak biar cepat kelar, apalagi dibantu oleh mas Kharisma nanti akan terbantu lebih cepat.
Kemarin Alek tidak ikut ke puskesmas, memilih untuk tidur dirumah saja karena nunggu rumah kemaren. Mungkin nanti Alex ikut ke sana.
Lagian mas Kharisma ngajak kesawah. Mau ngapain kesawah? Tak bisa banyangkan jika nantinya ke sawah?.
Sebenarnya ada apa dengan mas Kharisma?.
Apa yang dia sembunyikan dariku?.
Kini aku kepikiran atas ajakannya kesawah.
Aku tidak tahu bagaimana keadaan sawah saat ini, karena sudah lama aku tidak kesawah setelah aku ke Jakarta. Palingan keseringan aku ke ladang, itu pun diajak, serta ke kali MACAK untuk mancing ikan.
Hal itu membuat teringat kenangan ku bersama mas Kharisma ketika aku dan dia sedang mancing, itu pun dalam taruhan hingga dia kalah. Hingga dia pun menuruti keinginanku.
Hal itu membuatku senyum senyum sambil keluar kamar.
"Kok kamu senyum senyum gitu dek, hayo apa kamu pikirkan? Pasti tentang mas kan?" tebaknya.
"Ih, jangan ke pedean-" sahutku cepat.
"Lalu apa? Gak mungkin kamu bisa senyum senyum gitu kalau gak mikirin aku".
"Gak salah, weekkk,,,".
"Oh, kamu ngeledek aku ya, awas kamu ya,,," ancamnya.
Aku pun berlari kedapur. Disaat Alex juga sedang berjalan hingga aku pun menabraknya.
"Ouwhh,,, mata kamu dimana sih, jalan gak liat liat, maen nabrak aja?" kata Alex masih mode sebelumnya.
Bukan aku balas, aku memilih untuk mendiamkannya saja karena mulai saat ini aku tak ingin bicara lagi dengannya.
Bukannya aku marah padanya, tapi aku lagi badmood dengan Alex, jadi aku biarkan saja dia dengan tatapan tajam kearahku.
Mas Kharisma sudah dekat, tentu saja melihat kejadiannya pun tidak komen. Tapi balas tatapan tajam Alex hingga Alex pun menyadarinya.
"Jaga sikapmu!" tegasnya.
Terlihat keduanya bersitegang, tapi aku tak peduli memilih untuk gegas saja buat masak.
"Dek, kenapa kamu sampai ceroboh seperti itu?".
"Kenapa mas memarahi Alex?" tanyaku balik.
Kembali mas Kharisma menatapku sekilas sembari mendesah lirih.
"Wajarlah, sikapnya dia seperti itu ke kamu. Aku tidak suka hal itu".
"Tadi aku gak sengaja, tadi. Memang aku gak lihat situasi".
"Kamu gak apa apa apa kan Dek".
"Gak usah khawatir mas, aku baik baik saja. Tapi, tidak hatiku,,,".
(Km 25/5/2023).
Komentar
Posting Komentar