303. S2. Rencana yang akhirnya gagal.
303, S2. Rencana yang akhirnya gagal.
★★★★★
Akhirnya aku dan mas Kharisma pun selesai memasak dan membuat sarapan pagi terlebih lagi sarapan buat nenek yang sedang menunggu Riko di Puskesmas tempat bidan Nuryanti, bersama mas Surya dan Angga.
Mungkin nanti sore Riko sudah boleh pulang karena keadaan sudah lebih baik.
Tentu akan ada baru lagi jika nantinya Riko sehat dan pulang.
"Mas kamu yang bilang ya sama Alex buat ngirim simbah putri dan yang lainnya" tentu mas Kharisma tahu alasannya kenapa, tidak perlu dibahas.
Mas Kharisma hanya mengangguk saja. Tak ia mengerti akan perasaan ku saat ini. Karena aku tak ingin bicara dengan Alex untuk hari ini.
Sama Ferdy saja aku juga tidak ngomong, karena sengaja aku tak ingin bicara dengan dia. Bukan tanpa alasan, itu karena sikap Ferdy sekarang berbeda. Tidak mau terbuka lagi seperti dulu. Atau mungkin karena dia jaga perasaannya dengan Latifah, cewek yang dulu suka padaku dan ku tolak karena alasan tertentu.
Kini aku tahu kalau Ferdy sudah pacaran dengan Latifah, dan aku tahu kalau Latifah itu sangat kecewa padaku. Tapi, apa mau dikata kalau nantinya Latifah tahu keadaanku, pasti dia akan sangat kecewa sekali padaku.
Untuk itu aku melepaskannya dan jangan berharap lagi padaku. Semenjak saat itu Latifah memutuskan hubungan baik dari maupun sosmed, aku terima sebagai konsekuensinya.
"Nanti aku ngomong sama Alex-".
"Sekalian suruh sarapan, biar gak sakit, biar gak merepotkan!" seruku. Sengaja ku merasakan suaraku supaya Alex dengar dari kamar karena sedari tadi tidak keluar keluar dari kamar. Ngapain tuh bocah didalam aja. Sungutnya dalam hati. Biarin, urusan dia, kenapa aku repot repot ngurusin dia.
"Kok kamu begitu dek" seperti memprotesku.
Selebihnya aku memilih untuk diam saja.
"Ayo mas sarapan dulu" ucapku selanjutnya. Mas Kharisma pun sarapan bersama ku dalam diam. Tentu tidak dengan pikirin kami yang mengembara kemana mana, sesekali mas Kharisma menatap, senyum sedikit. Aku mendesah pelan, ku teruskan sarapanku sampai selesai.
Tentu mas Kharisma tahu hal itu jika aku tidak suka jika terus mempermasalahkan tentang Alex.
"Memang nya kamu yang ngajak Alex kesini dek?".
"Sebenar aku mau ngajak dia, karena aku punya rencana, tapi rencana ku gagal. Akhirnya malah pada ikut semuanya" jelasku. Karena aku punya tidak ingin Riko tahu kalau aku pulang ke kampung makanya aku diam diam. Tapi malah, akhirnya ketahuan. Sekalian rame rame pulang bareng.
"Rencana?" tanya mas Kharisma penarasan.
"Bukan apa apa, supaya Riko gak tahu, itu aja".
"Oh, gitu. Kirain apa? Tapi kamu gak punya rencana lainkan gak" sedikit curiga padaku.
"Gak lah, mas. Ngapain juga aku repot repot. Lagian, aku sekolah juga kurang beberapa bulan lagi lulus kok".
"Katanya ada yang kamu takutkan mengenai penglihatan mu itu".
"Sekarang tidak. Dulu aku takut, makanya aku gak ingin ngajak siapa pun kesini. Tapi kejadiannya malah sebaliknya".
"Baguslah, berarti kamu tidak kepikiran lagi tentang hal itu".
"Sedikit sih, tapi aku pasrah jika memang hal itu terjadi. Tapi aku berharap kemampuanku bisa kembali lagi. Itu harapanku".
"Bukankah kamu sekarang punya kemampuan baru".
"Iya, tapi aku lebih suka yang dulu. Aku bisa bebas kemana aku pergi ke dunia mimpi, bisa pergi ke mimpi mimpi orang yang aku maksud" aku hanya bisa nyengir saja. Mas Kharisma hanya geleng geleng kepala.
"Kenapa memangnya?".
"Nggak, he he heee,,,".
"Sudah, sudah, nanti kelamaan, kasihan simbah putri pasti sudah lapar juga yang lainnya" ingatku karena keasikan ngobrol.
"Iya iya,,," katanya, kemudian gegas ke arah kamar memanggil Alex.
Selang mas Kharisma datang tanpa membawa Alex.
"Mana Alex?" Ku endikan bahuku.
"Katanya nanti" jawabnya biasa.
"Mas, ini sudah siang. Kasihan simbah putri dan yang lainnya pasti pada lapar" seruku.
"Tapi Alex belum mau" balasnya tidak bisa berbuat apa apa.
"Setidaknya mas bisa jelasin, terlebih keadaannya ini mendesak. Simbah tentu sedang nunggu" sungutku geram.
"Pasti dia lagi marah dan ngambek" imbuhku lagi.
"Yaudah aku mau ganti baju sawah dulu. Kamu mau pake baju seperti itu kesawahnya?".
"Mau gantilah. Tapi, aku kepikiran simbah putri dan yang lainnya mas. Bener bener tuh anak ya".
Terlihat mas Kharisma tersenyum simpul saat akan pergi ke kamar untuk ganti pakaiannya.
Sebenarnya aku kepikiran, tapi hal itu aku abaikan.
Lebih baik aku nemui Alex dan ngomong sama dia, supaya cepat cepat ngirim simbah putri karena pasti sedang nunggu.
"Huh,,!" dengusku kesal.
Gegas aku ke kamar tamu. Buka pintu, dapati Alex sedang tengkurap, tiduran.
Aku tertegun sejenak...
'Ada apa dengan anak ini, sikap nya kayak gitu?' batinku bingung. Mau dekat, serba salah. Tapi keadaan mendesak. Mas Kharisma ngajak aku kesawah. Karena aku tak ingin ketemu siapa pun, termasuk Alex, biar dia cepat pergi dari sini, atau aku segera ke sawah supaya perasaan ku tenang, tidak GEGANA.
Ku dekati Alex yang dalam keadaan tengkurap. Diam tanpa kata, aku balik tubuh kekarnya yang toples.
Saat tubuhnya ku baliknya, dia cuma nurut saja, hingga dalam keadaan terlentang.
Pemandangan yang ku lihat saat ini tidaklah seperti biasanya, ku dapati Alex sedang menangis dengan air mata basah.
"Bening,,," ucapnya pelan, tercekat di tenggorokan. Lalu dia pun bangkit serta memelukku erat, dia sesenggukan hingga bahu terguncang hebat.
Bisa ku rasakan ada yang basah di bagian bahuku karena air mata Alex.
'Huh, lebay banget. Ini anak kenapa pakai mewek segala seperti ini? Kayak anak kecil' gerutu ku dalam hati.
"Mm- maafkan aku, atas,,, semua sikap ku kamu. Aku terlalu egois untuk perasaanku saat ini. Aku terlalu naif memungkiri hatiku. Maafkan aku, Bening" Alex mengatakan dengan sesenggukan. Selama ini aku tidak pernah melihat Alex menangis seperti ini. Aku tahu Alex laki laki tulen, dia seperti itu penyebabnya adalah aku. Maka dari itu, aku akan memperbaiki semuanya.
Aku pun melepaskan dekapannya, kemudian aku melangkah pergi dari kamar tanpa sepatah katapun.
"Bening, please maafkan aku. Aku mohon maafkan aku. Aku janji aku akan memperbaiki semuanya" suaranya sampai bergetar.
Tentu aku tidak bisa menahan kesedihanku. Ini terlalu berat. Benar ucapan mas Kharisma bahwa aku jangan terlalu berharap pada Alex jika pada akhirnya aku harus menelan kekecewaan.
"TERLAMBAT!" tugasku tanpa melihat kearah.
"Bening, Bening,,, maafkan aku,,," serunya tertahan.
Tak ku hiraukan lagi dia, aku pun menutup pintu kamar.
Maka saat keluar, air mataku yang ku tahan akhirnya tumpah juga.
"Ya Allah ini terlalu berat buat. Tapi aku harus tegas dalam mengambil sikap" gumamku lirih. Ku usap air mataku yang terus menetes. Sedih, memang. Tapi aku harus memutuskan hal ini. Aku tidak mau terlalu lemah dan selalu dipermainkan oleh perasaan yang tak menentu.
Aku tahu Alex pasti kecewa, tapi itu yang harus diterimanya, harus menelan kekecewaan atas sikap nya selama ini.
"Aku sudah memaafkan mu Al, tapi aku berat untuk menerimamu, ataupun Riko. Terlalu berat untuk ku menerima salah satu diantara kalian. Lebih baik aku tidak memilih kalian" gumamku kembali dengan pikiran kacau, serta bimbang.
"Dek,,,".
Aku kaget setengah mati dengan sapaan mas Kharisma secara tiba tiba karena tadi aku tidak melihatnya. Tentu dia melihatku sedang menangis karena baru keluar dari kamar tamu.
"Ya Allah dek, kenapa kamu sedih lagi seperti ini? Anak itu bener bener ya" terlihat mas Kharisma geram pada Alex. Tapi dia tidak tahu sebenarnya terjadi.
Aku hanya sedih seperti ini karena sikapnya, bukan karena kata kata kasarnya. Kalau ucapannya aku sudah terbiasa.
Ku biarkan mas Kharisma mengebu gebu, hingga me jadi tenang kembali.
Aku tersenyum kecut kearahnya. Kembali ku usap air mataku yang menggenang.
"Mas, ayok kita kirim simbah putri, pasti sudah nunggu!" kataku lirih, tapi penuh ketegasan.
Mas Kharisma tanpa komen hanya mengangguk saja. Aku tahu dia pasti kecewa dengan sikap Alex karena tadi yang disuruhnya ngirim itu Alex tapi dia beralasan.
(Jm 26/5/2023).
Komentar
Posting Komentar